Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Darah Pertama di Ujung Hutan
Udara subuh di luar gerbang Rustwood terasa sedingin es. Kabut tebal mengambang setinggi mata kaki, menyamarkan jalan setapak berlumpur yang mengarah langsung ke dalam mulut Hutan Kuno.
Langkah sepatu bot mereka berirama pelan. Arya berjalan di tengah, diikuti Max, Josh, Willi, Erson, dan Kin. Begitu mereka melangkah melewati garis batas vegetasi pertama, sinar remang matahari subuh seolah terputus. Tajuk pohon-pohon raksasa berbatang hitam di atas mereka begitu rapat, mengubah pagi menjadi senja yang suram.
Bau udara seketika berubah. Bau tanah membusuk, lumut basah, dan kotoran hewan liar langsung menyengat hidung.
Arya mengangkat sebelah tangannya. Formasi berhenti seketika.
"Rapatkan jarak, lima langkah. Max, Erson di depan. Josh, Willi, jaga sayap. Kin di belakang," perintah Arya. Suaranya ditekan, nyaris berbisik. "Mulai dari titik ini, jangan ada yang bicara kecuali memberi tanda bahaya. Perhatikan pijakan kalian."
Mereka bergerak maju menembus semak pakis setinggi dada. Ketegangan menggantung tebal di udara. Tangan Max mencengkeram gagang pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ini bukan lagi halaman berumput di baroni. Setiap bayangan di balik pepohonan seolah mengawasi mereka.
Tiga jam pertama berlalu dengan lambat. Keheningan hanya dipecah oleh suara gemerisik daun dan derak ranting yang terinjak. Keringat dingin mulai merembes di balik punggung zirah Max dan kawan-kawannya. Mempertahankan kewaspadaan penuh ternyata menguras tenaga jauh lebih cepat dari sekadar berlari.
Memasuki tengah hari, di dekat sebuah aliran sungai dangkal yang airnya berwarna kecokelatan, ujung telinga Erson menangkap suara ranting patah yang tidak wajar.
Krek.
Erson menahan napas, matanya menyapu rimbunan semak di seberang sungai. Bau busuk—lebih tajam dari tanah basah, mirip seperti bau daging busuk dan kotoran—mendadak tercium kuat.
"Di depan!" desis Erson.
Srak! Srak!
Dari balik semak, tiga sosok melompat keluar dengan pekikan melengking yang menyakitkan telinga. Tubuh mereka setinggi dada pria dewasa, berkulit hijau kotor yang dipenuhi kutil bengkak. Mata kuning mereka menatap liar. Goblin Hutan.
Mereka berlari menerobos air sungai setinggi mata kaki, mengacungkan gada kayu beralaskan batu tajam.
"Tahan garis depan!" bentak Max, menancapkan kaki kirinya ke lumpur.
Goblin terbesar menerjang lebih dulu. Ia melompat, mengayunkan gada batunya ke arah kepala Max dengan kekuatan primitif.
Duk!
Max mengangkat lengan kirinya, menangkis gagang kayu senjata itu dengan pelat besi di zirahnya. Benturannya kasar dan berat. Kaki Max tergelincir sejengkal di atas lumpur, rahangnya terkatup rapat menahan ngilu di tulangnya.
"Mati kau!" raung Josh. Ia melesat dari sisi kanan Max, menusukkan pedangnya lurus ke arah leher goblin itu.
Srat!
Ujung pedang menembus kulit kasar dan urat leher makhluk itu. Darah berwarna hitam pekat muncrat deras, membasahi zirah lengan Josh dan wajah Max. Goblin itu tersedak darahnya sendiri sebelum ambruk menimpa air sungai.
Di sayap kiri, Willi tidak seberuntung itu. Ia terlambat menangkis. Gada goblin kedua menghantam bahunya.
"Argh!" Willi terhuyung mundur. Sebelum goblin itu sempat mengayunkan gada untuk kedua kalinya, sebatang anak panah melesat menembus pelipis makhluk hijau tersebut. Kin memegang busurnya dari belakang dengan napas memburu.
Melihat dua rekannya tewas dalam hitungan detik, goblin ketiga memekik panik. Insting binatangnya mengambil alih. Makhluk itu berbalik, bersiap melarikan diri ke dalam semak.
Namun, sebelum kakinya sempat menginjak tanah kering, sesosok bayangan sudah berada tepat di belakangnya.
Arya.
Tidak ada suara pedang yang dicabut dengan gaya. Arya menarik belati pendek dari pinggangnya, meraih rahang goblin itu dari belakang dengan tangan kirinya, menarik kepalanya ke belakang, dan menggorok leher makhluk itu dalam satu gerakan cepat dan kotor.
Cras!
Arya melemparkan mayat yang kejang-kejang itu ke tanah basah. Ia membersihkan belatinya di rerumputan panjang tanpa ekspresi sedikit pun.
Napas kelima prajurit itu tersengal-sengal. Jantung mereka berdegup liar. Mereka menatap mayat-mayat hijau yang mengotori aliran sungai dengan darah kental. Bau anyir kini bercampur dengan bau lumpur. Tangan Josh yang memegang pedang terlihat bergetar ringan.
Itu adalah pembunuhan pertama mereka di pertempuran sesungguhnya.
"Kalian terlalu kaku," suara datar Arya memecah ketegangan. Ia berjalan menghampiri mayat goblin terbesar. "Willi, jangan pernah menahan hantaman senjata tumpul dengan bahu, kau hampir membuat lenganmu sendiri patah. Geser posisimu, biarkan senjatanya meleset, lalu potong urat tangannya."
Arya berjongkok di atas genangan air yang memerah. Tanpa ragu, ia menancapkan belatinya tepat di tengah dada goblin tersebut.
Terdengar bunyi tulang rawan yang dipatahkan secara kasar. Arya mengoyak dada makhluk itu, memasukkan tangannya ke dalam rongga daging yang masih beruap hangat, dan menarik keluar sebongkah kristal buram sebesar kelereng.
Bau isi perut yang menguar membuat perut Max bergejolak hebat. Erson terpaksa memalingkan wajahnya sambil menahan mual.
Arya melemparkan kristal berlumpur darah itu ke tanah.
"Ambil kristalnya dari dua sisa mayat itu. Potong juga telinga kanan mereka," perintah Arya santai, beranjak berdiri. "Benda ini berharga dua keping perak di kota. Bergerak cepat. Darah ini akan mengundang pemakan bangkai."
Dengan tangan gemetar dan wajah pucat, Max dan rekan-rekannya terpaksa berlutut di lumpur, menahan rasa mual yang mencekik tenggorokan saat mulai membedah dada mayat-mayat goblin itu.
Menjelang senja, setelah mengamankan jarahan pertama mereka dan membersihkan darah di aliran sungai, Arya menunjuk sebuah cekungan besar di dekat dinding bebatuan yang kering.
"Kita berkemah di sini malam ini," putus Arya. "Tidak ada api besar. Makan dendeng kering kalian dan bagi jadwal jaga menjadi dua shift. Besok pagi, kita masuk lebih dalam."
Malam pertama di Hutan Kuno dilalui tanpa kenyamanan. Kegelapan hutan terasa menekan, suara lolongan jauh dari zona tengah terus menguji keberanian mereka, memaksa Max dan kawan-kawannya menyadari bahwa tempat ini bukan sekadar hutan—melainkan ladang pembantaian yang sesungguhnya.
👍