NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji yang Menguap dan Deru Motor Sport

Clyrine melangkah masuk ke kamarnya, menutup pintu pelan, lalu menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang kokoh. Udara dingin dari penyejuk ruangan langsung menyambut kulitnya, namun rasa hangat di pipinya belum juga surut.

Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengembuskan napas panjang sembari tersenyum lebar sendirian seperti orang linglung.

"Tampan sekali..." gumam Clyrine lirih, menatap pantulan dirinya di cermin lemari dengan mata berbinar geli. "Bisa-bisanya ada cowok sedingin itu tapi perhatiannya bikin jantungan."

Menepis lamunan konyolnya, Clyrine segera membersihkan diri dan berganti pakaian tidur yang nyaman. Setelah itu, ia tidak langsung merebahkan diri di atas kasur empuknya. Kata-kata Damien di perpustakaan tadi masih terngiang jelas di telinganya. Dengan semangat baru yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, Clyrine duduk di meja belajarnya, menyalakan lampu belajar, lalu kembali membuka lembaran catatan tata negara dan sejarah politik untuk mematangkan persiapan ujian susulannya besok.

Sekitar tiga puluh menit larut dalam bacaan, ponsel Clyrine yang tengah diisi daya di atas nakas bergetar pelan.

Bzzzt.

Clyrine menoleh cepat, lalu meraih benda pipih itu. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor Damien tertera di layar.

Damien Vance: Gue udah di rumah.

Hanya kalimat singkat, padat, dan datar tanpa emotikon apa pun—khas seorang Damien Vance. Namun, seringai kecil langsung merekah di bibir Clyrine membaca laporan singkat tersebut. Pria itu benar-benar menuruti permintaannya tadi di pelataran rumah.

Clyrine dengan lincah mengetikkan balasan.

Clyrine: Makasih Kak udah ngajarin aku. Jangan lupa istirahat ya, Kak. Jangan maksain begadang ngurusin kerjaan kantor.

Ia menekan tombol kirim, lalu menatap layar ponselnya menunggu balasan.

Di seberang sana, status di bawah nama Damien mendadak berubah menjadi mengetik...

Clyrine menanti selama beberapa detik. Namun tulisan mengetik... itu mendadak hilang, berganti menjadi online, lalu beberapa detik kemudian muncul lagi tulisan mengetik..., sebelum akhirnya hilang kembali. Pola itu berulang hingga tiga kali, seolah pria di ujung sana tengah berkali-kali mengetik kalimat panjang namun menghapusnya lagi karena ragu.

Clyrine tertawa kecil melihat gelagat pria kaku itu dari balik layar. Tanpa ragu, ia langsung mengirim pesan ledekan.

Clyrine: Mau kirim apa sih, Kak? Kok ngetik terus tapi nggak dikirim-kirim dari tadi? Keburu subuh nih wkwk.

Hening sejenak selama hampir satu menit. Hingga akhirnya, sebuah pesan balasan yang agak panjang masuk ke layarnya.

Damien Vance: Besok mau bareng nggak? Gue mau ke kampus pagi. Kan kampus gue searah sama sekolah lo.

Mata Clyrine seketika membelalak lebar. Rasa kantuk yang tadinya mulai menyerang mendadak lenyap tanpa bekas. Damien mengajaknya berangkat bersama ke sekolah dengan alasan satu arah—sebuah tawaran langka yang jelas-jelas sengaja dibuat pria itu agar Clyrine tidak perlu merasa canggung atau tertekan berangkat bersama keluarga Rexander setelah keributan tadi malam.

Dengan jemari yang bergetar senang, Clyrine membalas cepat.

Clyrine: Mau, Kak! Mau banget!

Jawaban Damien langsung menyusul beberapa detik kemudian.

Damien Vance: Jam 7. Jangan telat. Kalau lo masih molor, gue tinggal.

Clyrine terkekeh pelan membaca ancaman datar tersebut.

Clyrine: Siap, Bos! Nggak bakal telat sedetik pun. Selamat malam, Kak Damien.

Setelah pesan itu terkirim, Damien hanya meninggalkan tanda centang biru ganda tanpa membalas lagi, menandakan pria itu sudah membaca dan menyetujuinya.

Clyrine mematikan lampu meja belajar, menarik selimut tebal hingga ke batas dada, lalu memeluk bantal gulingnya erat-erat. Di balik kegelapan kamar, senyum tipis masih terukir di wajahnya hingga kedua matanya perlahan terpejam, terlelap dalam tidur nyenyak menanti mentari pagi hari esok.

...****************...

Sinar matahari pagi menyinari jendela kamar. Clyrine terbangun jauh lebih awal dari biasanya. Suasana hatinya begitu cerah; setelah mandi kilat, ia bersenandung kecil sambil menyusun buku-buku catatan dan modul ujian susulannya ke dalam tas ransel.

Dengan seragam yang terpasang rapi, ia menuruni anak tangga marmer menuju ruang makan.

Runica yang sedang menata piring buah menoleh dan tersenyum geli melihat binar di wajah putrinya. "Tumben rapi banget dan semangat banget anak Mommy pagi ini."

"Harus dong, Mom," jawab Clyrine riang seraya menarik kursinya. Ia menoleh ragu ke arah Charles yang sedang menyesap kopi hitamnya. "Dad... hmm, hari ini aku berangkat bareng Kak Damien ke sekolah."

Charles menurunkan cangkirnya, mengangguk santai tanpa amarah seperti kemarin. "Iya, nggak apa-apa. Biar Daddy yang antar Claire ke sekolah sekaligus langsung nemuin Pak Antonio buat beresin masalah kemarin."

Mendengar sang ayah turun tangan langsung, Clyrine tersenyum lega. "Makasih, Dad."

Di ujung meja seberang, Claire hanya terdiam membisu dengan kepala menunduk dalam. Tangannya meremas rok seragam di bawah meja, giginya bergemelutuk menahan kesal luar biasa. Gagal mempermalukan Clyrine kemarin membuatnya harus memutar otak mencari rencana baru untuk membalikkan keadaan.

Clyrine mengedarkan pandangan ke kursi kosong di samping Charles. "Kak Alaric belum pulang dari semalam, Mom?"

"Belum, Cly. Katanya lagi penelitian praktikum intensif di laboratorium kampusnya, mungkin mal. nanti," jawab Runica lembut.

"Oh, gitu..."

Begitu sarapan selesai, Charles melirik jam tangannya dan berdiri merapikan jas. "Ayo, Claire. Dan kamu Clyrine, jangan sampai telat nunggu Damien."

"Siap, Dad," angguk Clyrine patuh.

Charles melangkah pergi bersama Claire menuju mobil untuk berangkat ke sekolah. Clyrine segera keluar dan berdiri di dekat pos gerbang utama, menanti sedan hitam yang semalam dijanjikan menjemputnya tepat pukul 07.00.

Namun, menit demi menit berlalu. Jarum jam di pergelangan tangannya sudah bergeser menunjukkan pukul 07.09.

Jalanan depan rumah masih sepi dari tanda-tanda mobil Damien. Rasa cemas mulai merayap di dadanya. Clyrine merogoh ponsel, membuka ruang obrolan, lalu mengetik pesan singkat: Kak, lo di mana? Udah lewat jam 7 nih.

Pesan itu terkirim, namun ikonnya hanya menampilkan centang satu abu-abu. Ponsel Damien tidak aktif atau berada di luar jangkauan sinyal.

"Kok centang satu sih..." gumam Clyrine panik, menggigit bibir bawahnya.

Brummm! Brummm!

Suara raungan knalpot motor sport berkapasitas mesin besar tiba-tiba memecah keheningan jalanan perumahan. Sebuah motor sport hitam-merah metalik melesat cepat dan berhenti tepat di depan gerbang, menahan bodi motornya dengan satu kaki jenjang yang kokoh.

Sang pengendara melepas helm full-face-nya, menyugar rambut gelapnya yang sedikit berantakan tertiup angin, lalu menyunggingkan senyuman lebar yang sangat familier.

Clyrine membelalakkan matanya kaget bukan main. "Adrian?!"

Pemuda di atas motor itu adalah Adrian Vaughan, teman masa kecilnya yang 3 tahun lalu mendadak pindah ke Prancis mengikuti tugas orang tuanya.

"Hai, Cly! Apa kabar?" sapa Adrian riang dengan mata berbinar cerah.

"Adrian Vaughan?! Serius lo?!" seru Clyrine tak percaya, melangkah mendekat ke tepi gerbang. Pandangannya kemudian jatuh pada blazer yang dikenakan pemuda itu. Logo bordir perak di dada kirinya persis dengan miliknya. "Tunggu... lo pindah ke Rexanswood?!"

Adrian tertawa bangga, menepuk logo seragamnya. "Tentu dong. Keren kan?"

"Kok bisa masuk sih? Ini kan udah semester akhir, aneh banget pindahan di waktu kayak gini!" selidik Clyrine heran.

"Bisa dong, kan gue pinter! Jalur tes khusus plus koneksi keluarga bokap," kelakar Adrian percaya diri. Ia menatap Clyrine yang berdiri gelisah menenteng tas. "Ayo bareng gue aja, ntar lo telat. Emang lo lagi nunggu siapa sih di pinggir jalan gini?"

Clyrine menggeleng kaku, melirik jalanan sepi di belakang Adrian. "Nggak usah, lo duluan aja."

Adrian memicingkan mata jahil, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dih, kenapa? Udah punya pacar ya lo sekarang?"

"Mana ada! Ngawur banget mulut lo!" sembur Clyrine sewot.

Adrian melirik arloji di tangannya. "Udah jam 07.15, Cly. Gerbang Rexanswood ditutup jam 07.30 teng. Bisa telat beneran lo kalau nggak bareng gue sekarang."

Pikiran Clyrine mendadak kalut. Hari ini adalah hari penentuan; ia harus menghadapi ujian susulan Sejarah Politik bersama Pak Antonio dan ayahnya sendiri. Jika ia sampai terlambat tiba di sekolah, semua usaha Charles dan pembuktian dirinya tadi malam akan langsung hancur seketika hanya karena masalah disiplin waktu.

Clyrine menghela napas panjang, menatap layar ponselnya sekali lagi yang masih centang satu tanpa kabar dari Damien. Kecewa dan panik bercampur jadi satu.

"Yaudah, gue nebeng," putus Clyrine cepat.

Ia meraih helm cadangan yang diulurkan Adrian dan langsung mengaitkan talinya di bawah dagu, lalu naik ke jok belakang motor sport yang cukup tinggi itu.

"Pegangan, Cly," ujar Adrian seraya menurunkan kaca helmnya.

Clyrine menuruti instruksi itu, mencengkeram sisi jaket Adrian saat motor melesat kencang meninggalkan kawasan kediaman Rexander, membelah kepadatan lalu lintas pagi kota.

Beberapa menit melaju kencang, motor Adrian terpaksa melambat dan berhenti di barisan depan sebuah lampu merah perempatan besar kota.

Clyrine mengembuskan napas lega karena waktu tempuh mereka masih cukup aman. Namun, saat kepalanya menoleh ke arah lajur kanan tepat di samping motor mereka, napasnya seketika tercekat.

Di dalam mobil sedan mewah berjarak hanya satu meter dari tempatnya berhenti, kaca jendelanya tidak sepenuhnya gelap. Di balik kemudi, duduk Damien Vance dengan kemeja rapinya. Namun pria itu tidak sendirian.

Di kursi penumpang depan, duduk seorang gadis cantik berambut gelombang pirang gelap dengan pakaian modis bermerek—Kayvara. Keduanya tampak sedang mengobrol akrab, bahkan Kayvara tertawa lepas sembari mencondongkan tubuhnya ke arah konsol tengah mendekati Damien.

Deg.

Dada Clyrine terasa seperti dihantam palu godam. Rasa perih dan panas mendadak menjalar membakar ulu hatinya.

Panik bercampur malu, Clyrine buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam di balik punggung lebar Adrian, menyembunyikan wajahnya di balik helm agar Damien tidak sempat menoleh dan melihat keberadaannya di sana.

Kedua tangan Clyrine mencengkeram kuat ujung jaket Adrian hingga buku-buku jarinya memutih, giginya bergemelutuk menahan amarah yang meledak di dalam dada.

Sialan lo, Damien Vance... umpat Clyrine pedih dalam hatinya, matanya berkaca-kaca menatap aspal jalanan. Lo sendiri yang semalam mohon-mohon nyuruh gue jangan telat jam tujuh teng, bikin gue panik nungguin lo di depan gerbang... dan sekarang lo malah asyik ketawa-tawa bareng cewek lain di mobil lo?!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!