Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Matahari pagi belum sepenuhnya naik ketika Keira terbangun oleh suara gemuruh guntur di kejauhan.
Udara di dalam kamar kos terasa dingin dan lembap, sisa hujan lebat yang mengguyur Kota Bimantara sepanjang subuh tadi.
Ia bangkit dari kasur, melipat selimut tipisnya, lalu berniat merapikan sudut meja plastik tempat ia biasa menaruh barang-barang kecil. Saat tangannya merogoh bagian bawah tumpukan buku catatan lama di sudut meja buku-buku harian dan diktat kuliah semasa ia masih tinggal bersama keluarganya jari-jarinya tidak sengaja menyentuh sebuah benda keras yang terselip di balik sampul karton.
Keira menarik benda itu keluar. Sebuah dompet kulit sintetis berwarna hitam milik masa lalunya.
Ia terpaku sejenak, menatap dompet lusuh tersebut dengan perasaan asing, seolah benda itu milik orang lain yang hidup bertahun-tahun lalu. Perlahan, ia membuka resleting dompet itu. Di dalamnya tidak banyak berisi uang tunai, hanya ada beberapa lembar uang ribuan yang sudah lecek, kartu perpustakaan kampus yang masa berlakunya sudah habis, dan sebuah kartu nama kecil berukuran separuh telapak tangan.
Kartu nama itu bertuliskan nama sebuah galeri seni lokal di kawasan pusat kota Galeri Senja Bimantara beserta nomor kontak dan catatan tangan kecil di bagian belakangnya: Penerimaan staf paruh waktu administrasi galeri. Hubungi jika berminat.
Keira menatap tulisan tangan itu lekat-lekat. Ingatannya tiba-tiba melayang ke masa beberapa bulan sebelum hidupnya jungkir balik, ketika ia masih tercatat sebagai mahasiswi tingkat akhir yang sesekali mencari kesibukan di luar kampus karena menyukai hal-hal yang berhubungan dengan seni dan pameran visual. Dulu, dunia terasa begitu luas. Ada banyak pilihan yang bisa ia ambil, banyak tempat yang bisa ia datangi tanpa harus meminta izin atau memikirkan reaksi siapa pun.
Tiba-tiba, pintu ingatan itu terasa diketuk oleh kenyataan pahit. Ia bukan lagi mahasiswi yang bebas melangkah.
Ia adalah Keira yang sekarang hidup di dalam petak tiga kali tiga meter, menggantungkan seluruh hidupnya pada seorang lelaki yang bahkan melarangnya keluar tanpa alasan yang jelas.
Jemari Keira mengusap permukaan kartu nama itu ragu-ragu. Sebuah pikiran melintas di kepalanya bukan pikiran besar, hanya secercah angan kecil yang sudah lama mati. Kalau aku bekerja di sana, setidaknya aku punya penghasilan sendiri. Aku tidak perlu terus-menerus merasa berutang setiap kali Davin membelikan sesuatu. Aku bisa bernapas sedikit lebih longgar...
Baru saja gagasan itu singgah di benaknya, sebuah sensasi nyeri mendadak mencubit ulu hatinya.
Bayangan wajah Davin langsung muncul, menggantikan bayangan galeri seni yang tenang. Suara lelaki itu seolah berbisik di telinganya: “Kamu tidak perlu kerja. Aku bisa ngurus kamu.”
Keira menarik napas tajam. Ia meletakkan kembali kartu nama itu ke dalam dompet, lalu menutupnya rapat-rapat seolah benda di tangannya menyimpan sesuatu yang tidak berani ia hadapi. Dadanya mendadak terasa sesak oleh tarikan tak kasat mata.
Untuk pertama kalinya secara sadar, Keira memperhatikan sebuah pola yang selama ini ia abaikan.
Bukan hanya soal larangan keluar kamar atau teguran tentang Amara. Ia menyadari bahwa dalam beberapa minggu terakhir, tidak ada satu pun keputusan kecil yang ia ambil tanpa lebih dulu menyaringnya lewat bayangan reaksi Davin. Kenapa rasanya sekarang aku selalu harus memikirkan reaksi Davin sebelum melakukan apa pun? Kenapa setiap kali aku ingin sesuatu, hal pertama yang muncul di kepalaku justru rasa takut mengecewakannya?
Semua gerak-geriknya, semua isi kepalanya, bahkan impian-impian kecilnya kini telah diukur berdasarkan satu standar tunggal: Apakah ini akan membuat Davin senang atau tidak?
Keira terdiam kaku di atas lantai karpet. Ada getaran halus yang merayap di dadanya bukan kemarahan, melainkan rasa ngeri yang dingin, sebuah bayangan samar tentang ketidak berdayaan yang selama ini ia bungkus rapat-rapat.
Namun, pikiran itu begitu menakutkan hingga Keira langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak untuk melanjutkan arah berpikirnya.
Gak... Gak mungkin, batinnya mulai memberontak, mencari-cari alasan untuk menepis keraguan yang tiba-tiba bergejolak. Davin sayang sama aku. Dia lakuin ini semua karena dia cuma punya aku. Aku gak boleh egois. Aku gak boleh curiga sama orang yang sudah nolongin aku. Ini cuma perasaanku saja yang terlalu sensitif.
Ia menutup dompet hitam itu, memasukkannya kembali ke dasar tumpukan buku, lalu mendorongnya jauh-jauh ke sudut meja agar benda itu tidak lagi memandangnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang berbahaya.
Ponsel di atas meja bergetar singkat.
Keira tersentak kecil, buru-buru meraih benda itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Nama Davin tertera di layar.
Davin: Sayang, nanti sore aku jemput ya. Kita makan malam di luar, kangen banget sama kamu. Udah lama kita gak jalan berdua.
Melihat pesan itu, ketakutan yang sempat mencengkeram dada Keira perlahan mengendur, digantikan oleh rasa lega yang instan dan memabukkan.
Davin ingin mengajaknya jalan keluar. Davin ingin menghabiskan waktu berdua. Bukankah itu bukti bahwa lelaki itu tidak berniat mengurungnya selamanya?
Bahwa semua keraguannya barusan hanyalah bentuk paranoia konyol dari pikirannya sendiri?
Keira: Iya, Vin. Aku tunggu ya. Aku juga kangen.
Ia mengetik balasan itu dengan cepat, menghapus sisa-sisa keraguan yang tadi sempat bergolak di dalam dadanya. Ia kembali merapikan kerudungnya di depan cermin, meyakinkan dirinya sendiri bahwa hidupnya baik-baik saja, bahwa ia dicintai, dan bahwa bayangan-bayangan masa lalunya kartu nama galeri seni, keinginan untuk mandiri, dan kerinduan pada kebebasan hanyalah angin lalu yang tidak ada artinya dibandingkan kehangatan pelukan Davin nanti malam.