Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Salju turun deras di alun-alun eksekusi, memutihkan tanah yang sebentar lagi akan berubah merah.
Lin Yuxin berlutut di atas panggung kayu, tangannya terikat di belakang punggung dengan tali kasar yang mengiris kulit pergelangannya. Rambutnya yang biasa disanggul rapi kini terurai lepas, basah oleh keringat dingin dan salju yang mencair di pucuk-pucuk rambutnya. Bibirnya pecah-pecah, bekas tamparan yang diterimanya semalam di ruang interogasi.
Dia tidak menangis. Bukan karena dia kuat. Tapi karena air matanya sudah habis sejak dua hari yang lalu, saat dia masih mencoba menjelaskan pada para penyidik bahwa dia tidak pernah menyentuh racun itu, bahwa dia tidak pernah tidur dengan pria manapun selain dalam fitnah yang dilemparkan padanya. Kata-katanya tersendat-sendat, terbata-bata, seperti anak kecil yang lupa cara bicara. Bertahun-tahun di rusak mental nya dan dipukuli di rumah keluarga Chen telah merenggut kemampuannya untuk membela diri sendiri. Setiap kali dia mencoba bicara lebih keras, tubuhnya langsung gemetar, seolah tau kalau penjelasannya tidak akan di dengar.
"Lin Yuxin anak dari Lin Boqing," suara pejabat pengadilan menggema di antara kerumunan yang menonton dari kejauhan, "dinyatakan bersalah atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Nona Chen Ruoxi melalui media racun, serta perbuatan tidak senonoh yang mencoreng kehormatan keluarga kekaisaran. Di jatuhi hukuman mati."
Di antara kerumunan itu, Yuxin mencari satu wajah berharap ada kesedihan atas apa yang menimpanya. Ayahnya, Lin Boqing, berdiri kaku dengan wajah menunduk, tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Dia tidak menatap ke arah panggung. Ibunya, Nyonya Su, menutup wajahnya dengan kain sutra, bahunya berguncang, tapi entah karena menangisi anaknya, atau karena malu pada orang-orang yang menyaksikan.
Dan di sana, beberapa langkah dari orang tuanya, berdiri Chen Ruoxi. Gaunnya berwarna merah muda pucat, warna yang biasa dipakai gadis-gadis lugu. Wajahnya tertunduk, seolah berduka. Tapi Yuxin bisa melihatnya, sudut bibir Chen Ruoxi yang nyaris tak kentara terangkat, tersembunyi di balik lengan bajunya yang menutupi separuh wajah. Kilat kepuasan di matanya, secepat kilat, lalu hilang lagi di balik topeng kesedihan yang sempurna.
Yuxin ingin berteriak. Ingin menunjuk Chen Ruoxi dan berkata, "Dia yang menyimpan racun itu di kamarnya! Dia yang mengarang cerita tentang pria-pria yang tidak pernah kutemui!" Tapi begitu mulutnya terbuka, yang keluar hanya suara serak yang tenggelam oleh derap langkah algojo yang mendekat.
Bersamaan dengan itu suara lain terdengar, suara yang seperti tersedak, suara seret sepatu yang dipaksa maju meski kaki nya pincang karena pernah di hukum Chen Ruoxi atas fitnah mencuri barangnya.
"Nona Yuxin tidak bersalah! Aku yang melihat sendiri..."
Pelayan wanita itu berusaha menerobos barisan penjaga, wajahnya penuh air mata, tangannya terulur seperti ingin meraih Yuxin dari kejauhan. Tapi seorang penjaga bertubuh besar menghantam perutnya dengan gagang tombak, membuatnya tersungkur ke tanah bersalju.
"Xiao Yan!"
Untuk pertama kalinya sejak diseret ke panggung ini, suara Yuxin keluar, memecah keheningan pagi itu. Tapi teriakannya justru mengundang bencana lain, seorang pria berjubah hitam, salah satu orang suruhan Chen Ruoxi, melangkah mendekati Xiao Yan yang masih tersungkur, mencekik lehernya dengan gerakan cepat dan senyap, tersembunyi di balik kerumunan yang panik.
Yuxin melihat semuanya. Melihat tubuh Xiao Yan melemas. Melihat matanya yang terbuka menatap langit bersalju, kosong.
"Tidak...TIDAK!"
Dunia serasa berhenti berputar. Rasa sakit yang menusuk dadanya jauh lebih tajam daripada tali yang mengikat pergelangan tangannya, lebih tajam daripada dinginnya salju yang menembus kain tipis yang dikenakannya. Xiao Yan, satu-satunya orang yang selalu percaya padanya, yang selalu membelanya meski dia sendiri dipukuli karena membelanya, sekarang dia mati. Mati karena membelanya lagi.
Dia mencari sosok lain di kerumunan, kakaknya, Lin Zhaoyi, yang berdiri dengan rahang mengeras, tangannya bergetar seolah ingin maju tapi tertahan oleh sesuatu yang tak terlihat. Dan lebih jauh lagi, sosok berjubah kebesaran kekaisaran, Putra Mahkota Li Chen yang baru saja tiba, wajahnya tegang, langkahnya dipercepat seolah ingin menghentikan sesuatu yang sudah terlambat dia sadari.
Dan benar saja terlambat. Algojo mengangkat pedangnya. Cahaya pagi memantul di bilah logam itu, menyilaukan mata Yuxin yang sudah basah oleh air mata yang akhirnya kembali mengalir, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk Xiao Yan yang tergeletak tak bergerak di tanah bersalju, untuk kebenaran yang tak pernah sempat dia ucapkan. Untuk hidupnya yang penuh penderitaan dan berujung mati sia-sia.
"Aku... tidak bersalah..." bisiknya, terlalu pelan untuk didengar siapapun.
Pedang itu turun, menebas lehernya. Dan segalanya menjadi gelap.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki di lantai kayu. Lin Yuxin membuka matanya perlahan, dan yang pertama dilihatnya bukan langit bersalju, bukan panggung eksekusi, bukan wajah algojo melainkan langit-langit kamar yang asing, dihiasi ukiran burung phoenix keemasan.
Dia mengangkat tangannya perlahan. Tidak ada tali. Tidak ada luka.
Di depan pintu, seorang gadis muda berdiri gugup, menunduk hormat. "Nona Yuxin, tuan besar memanggil Anda ke aula utama. Hari ini... hari ini Anda resmi diterima kembali sebagai putri keluarga Lin."
Jantung Yuxin berdegup kencang. Suara itu. Wajah gadis muda itu lebih muda, lebih segar, matanya masih penuh kepercayaan yang belum tercemar oleh pengkhianatan.
Xiao Yan. bisik nya lirih.
Lin Yuxin menatap tangannya sendiri yang gemetar, merasa tak percaya atas apa yang terjadi padanya. Ia di beri kesempatan kedua... tepat di awal ia masuk ke kediaman Lin. Dan hari ini lah namanya di ubah dari Chen Yuxin menjadi Lin yuxin.
Lin Yuxin bertekad akan memperbaiki hidupnya, melindungi Xiao Yan agar tidak mati sia-sia karena membelanya.
Dia sudah mati sekali. Dan kali ini, dia tidak akan membiarkan siapapun, terutama Chen Ruoxi merenggut apa yang seharusnya menjadi miliknya lagi.
Kali ini, aku akan membuatnya membayar apa yang telah dia lakukan padaku di kehidupan yang lalu...