NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24.Kediaman yang di tinggalkan.

Ketukan pintu terdengar keras, berulang kali memecah keheningan sore di kediaman sayap belakang yang kini begitu tenang dan indah. Suara pukulan itu bergema nyaring, seakan pintu kayu itu sendiri akan hancur sebelum dibuka.

Qiao'er berlari menuju gerbang, jantungnya berdegup kencang. Kakinya melangkah cepat namun ragu — ia tahu siapa yang datang, dan ia tahu niat mereka tidak baik. Tetapi jika ditahan lebih lama, Shi Yin pasti akan melakukan hal yang jauh lebih gila lagi. Dengan tangan gemetar, ia menarik gangang pintu itu dan mendorongnya terbuka.

Di ambang pintu berdiri Shi Yin, tegak dengan kepala terangkat tinggi, wajahnya penuh kesombongan yang tak tersembunyikan. Di kedua sisinya berdiri pelayan-pelayan pribadinya, menatap Qiao'er dengan tatapan meremehkan.

Qiao'er menunduk memberi hormat, berusaha menenangkan suaranya. "Selamat sore, Nona Pertama..."

Namun sebelum ia sempat melanjutkan, salah satu pelayan di samping Shi Yin mendorong bahunya cukup keras hingga Qiao'er terhuyung ke belakang.

"Lama sekali membukanya!" bentak pelayan itu, matanya melotot. "Sedang apa saja di dalam? Menghabiskan waktu bermalas-malasan, hah?"

Qiao'er menegakkan tubuh kembali, menelan ludah. "Saya... tadi sedang membersihkan halaman belakang, Nona. Jadi mohon maaf jika terlambat membukakan pintu."

Shi Yin melangkah masuk, mengabaikan penjelasan itu begitu saja. Matanya menyapu sekeliling — dan seketika langkahnya terhenti.

Halaman depan yang dulunya penuh rumput liar, tanah berlubang, dan bangunan yang tampak hampir roboh, kini berubah sepenuhnya. Air mancur kecil di tengah halaman memancarkan air jernih, suara aliran air dari bambu yang dipasang di sudut halaman terdengar menenangkan, bunga-bunga berwarna-warni tumbuh rapi di sepanjang jalan setapak, dan rumah-rumah kecil yang dulu tampak kumuh kini dicat rapi, atapnya diperbaiki, terlihat bersih dan nyaman. Cahaya matahari sore menyinari tempat itu, membuatnya tampak seperti permata yang tersembunyi.

Shi Yin mengerutkan kening, tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Ia melangkah maju beberapa langkah, menatap sekeliling dengan takjub sekaligus cemburu yang membakar dadanya.

"Ini... ini halaman belakang yang terbengkalai?" tanyanya pelan, suaranya bergetar karena tak percaya.

"Benar, Nona," jawab Qiao'er lembut namun bangga. "Nona Kedua dan saya yang merapikannya. Semua bunga dan tanaman ini kami tanam sendiri. Air mancur itu kami buat dari bebatuan bekas di gudang, dan bambu penampung air itu juga kami ambil dari kebun belakang yang sudah kering. Tidak ada biaya mahal, hanya kerja keras dan ketelatenan Nona Li Hua."

Shi Yin menoleh tajam, senyum sinis melengkung di bibirnya. "Oh begitu. Jadi dia yang mengubah tempat kumuh ini menjadi seindah ini..." Ia melangkah mendekat, menendang kerikil kecil di kakinya. "Tapi sayang sekali, tuanmu tidak akan kembali. Jadi semua keindahan ini sia-sia saja."

Qiao'er memutarkan matanya tak percaya. "Apa maksud Nona?"

Shi Yin mengangkat tangan perlahan, lalu menurunkannya dengan gerakan tegas. "Hancurkan semuanya. Buat tempat ini kembali seperti dulu. Lihat saja bunga-bunga mencolok ini, air mancur yang berisik... semuanya membuatku kesal. Hancurkan!"

Mata Qiao'er membelalak. Ia segera berlutut di depan Shi Yin, memegang ujung gaun gadis itu dengan tangan gemetar. "Jangan, Nona Pertama... mohon jangan lakukan itu! Bagaimana jika Nona Li Hua pulang dan melihat hasil kerjanya hancur? Dia pasti akan sangat sedih..."

Shi Yin menatapnya dengan tatapan dingin, lalu mengangkat kakinya dan menendang dada Qiao'er hingga gadis itu terjatuh ke tanah.

"Dasar pelayan yang tidak tahu diuntung!" bentaknya, suaranya menggelegar. "Kau harus tahu siapa majikanmu yang sebenarnya! Dia tidak akan kembali! Walaupun dia pulang, dia pasti akan diusir dari rumah ini karena dianggap memalukan keluarga! Tempat ini memang pantas kotor dan rusak, sama seperti pemiliknya!"

"Tidak... tidak, jangan lakukan itu, Nona..." Qiao'er menangis, merangkak maju. "Mohon... ini satu-satunya tempat yang Nona Li Hua miliki..."

Shi Yin tidak memedulikannya. Ia melambaikan tangan kepada para pelayan yang berdiri menunggu. "Apa yang kalian tunggu? Lakukan perintahku! Hancurkan semuanya!"

Para pelayan itu segera bergerak. Mereka menginjak hamparan bunga yang indah, memukul dinding air mancur hingga batu-batu kecil jatuh, menarik tanaman dari akarnya, menendang pot-pot bunga hingga pecah bela. Qiao'er berusaha bangkit, berlari mencegah mereka — ia menarik lengan salah satu pelayan, mencoba menyelamatkan sebatang bunga yang tersisa, namun pelayan itu mendorongnya dengan kasar.

"Minggir, pelayan rendahan!"

Tubuh Qiao'er terhantam dinding. Ia berusaha bangkit kembali, namun kaki seseorang menendang perutnya. Ia jatuh kembali, napasnya tercekat. Tetapi ia tidak menyerah — ia merangkak, mencoba menahan tangan yang akan merobohkan pagar bambu, namun ia dipukul di punggung hingga napasnya tertahan.

"Berhenti... tolong berhenti..." isaknya lemah, air mata bercampur debu di wajahnya.

Namun suaranya tenggelam di antara suara pecahan kaca, tumbuhan yang tercabut, dan tawa sinis Shi Yin yang berdiri di tengah halaman, menonton kehancuran itu dengan wajah puas. Tak lama kemudian, tempat yang indah itu kembali berantakan — tanah terinjak-injak, bunga layu berserakan, air mancur miring dan bocor, pot-pot pecah berantakan di mana-mana.

Shi Yin berjalan mendekati Qiao'er yang terbaring lemah di tanah, tubuhnya memar dan kotor. Ia berjongkok sedikit, menatap gadis itu dengan senyum tipis yang mengerikan.

"Sekarang katakan," ucapnya pelan namun tajam. "Di mana kamar Pangeran Li Yun?"

Qiao'er menatapnya dengan mata yang bengkak dan merah, menelan ludah dengan susah payah. "Pangeran... di kamar sebelah kamar Nona Li Hua..."

"Baiklah," Shi Yin berdiri tegak, memberi isyarat pada pelayan-pelayannya. "Ayo kita seret dia keluar dari sana. Sudah saatnya dia tahu siapa yang berkuasa di rumah ini."

Mereka melangkah menuju lorong dalam, namun Qiao'er tiba-tiba bangkit, menahan tubuhnya yang sakit, dan berdiri di depan pintu kamar itu dengan tangan terbuka.

"Jangan!" teriaknya sekuat tenaga. "Sebaiknya Nona Pertama tidak ke sana!"

Shi Yin berhenti, menatapnya jijik. "Kenapa? Apa yang kau sembunyikan?"

"Pangeran sedang sakit," jawab Qiao'er napasnya terengah, berusaha meyakinkan mereka. "Penyakit yang menular, Nona. Tabib sudah mengisolasi kamar ini, tidak boleh ada yang masuk kecuali tabib. Jika Nona masuk, bisa-bisa ikut tertular."

Wajah Shi Yin seketika berubah pucat. Ia mundur selangkah, menatap pintu kamar itu dengan ngeri. Para pelayan di belakangnya juga saling bertukar pandang, mundur perlahan.

"Menular?" bisik salah satu pelayan, suaranya gemetar.

"Benar," Qiao'er mengangguk cepat. "Sangat menular. Sekali menyentuh pintu saja bisa tertular. tabib bilang penyakitnya datang dari negeri jauh, belum ada obatnya di sini."

Shi Yin menelan ludah, rasa takut kini mengalahkan kemarahannya. Ia melangkah mundur lagi, lalu berbalik arah.

"Pergi... kita pergi dari sini!" katanya cepat, menyapu gaunnya seakan ada kuman yang menempel. "Aku tidak mau tertular penyakit aneh begitu!"

"Baik, Nona!" jawab para pelayan serentak, bergegas mengikuti langkah majikannya keluar dari tempat itu.

Gerbang tertutup kembali. Qiao'er berdiri sendirian di tengah halaman yang kini berantakan, tubuhnya sakit, hatinya perih. Ia menatap pintu kamar Li Yun, lalu menunduk, air mata kembali menetes.

"Kembalilah segera, Nona..." bisiknya pelan. "Tempat ini hancur, dan aku sendirian..."

Sementara itu, di sisi lain kota, lampu-lampu rumah hiburan milik Nyonya Li mulai menyala satu per satu, memancarkan cahaya hangat yang memikat. Pintu yang biasanya tertutup rapat kini terbuka lebar. Di depan berdiri para pelayan berpakaian rapi dan cantik, tersenyum ramah kepada siapa pun yang lewat.

"Selamat datang!" seru mereka beriringan. "Malam ini ada pertunjukan istimewa — para Dewi dari seluruh negeri akan menari! Masuklah, jangan sampai terlewatkan!"

Orang-orang yang penasaran berhenti, saling bertanya, lalu berjalan masuk satu per satu. Suasana di dalamnya sungguh berbeda dari biasanya — dinding dihiasi kain-kain berwarna cerah yang bergoyang lembut tertiup angin, aroma bunga melati dan kayu cendana memenuhi ruangan, meja-meja disusun rapi dengan lampu minyak kecil yang memberikan cahaya lembut. Musik yang indah mengalun pelan, menenangkan setiap tamu yang datang.

Di antara kerumunan pengunjung yang masuk, tiga sosok berjalan tenang — tidak mencolok, namun waspada. Mereka mengenakan pakaian biasa, wajah Li Yun tertutup topeng ukiran yang menutupi separuh wajah Li yun dengan pakaian dari sutra, lalu kedua prajuritnya juga menyamar sebagai pedagang yang datang berkunjung.

Mata Li Yun menyapu setiap sudut ruangan. Suasana di sini... berbeda. Lebih tenang, lebih indah, lebih teratur. Seakan ada tangan yang mengatur semuanya dengan teliti.

"Pangeran," bisik salah satu prajurit di sampingnya, suara pelan. "Lihat pengaturan tempat ini... tidak seperti tempat hiburan biasa."

Li Yun mengangguk pelan, hatinya berdebar kencang karena satu dugaan. "Aku tahu..."

Ia melangkah maju, mencari wajah yang paling ingin ia temukan di dunia ini.

​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!