NovelToon NovelToon
Gadis Galak Milik Tuan Muda

Gadis Galak Milik Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Transmigrasi
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yusriani Yusuf

Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.

Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.

Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengumuman penting

Di saat Ana disudutkan oleh semua orang, tiba-tiba terdengar suara decitan roda di lantai beton. Seseorang datang dengan kursi roda, memecah kepungan orang-orang yang tengah menghakimi Ana.

"Bukan kamu yang memutuskan... tapi aku!" suara berat penuh wibawa itu menggema.

Aksa tersentak. "Kakek?!"

Bimo pun tak kalah terkejut melihat sosok yang baru datang tersebut.

"Ayah? Kenapa Ayah datang kemari?"

Tuan Pramudia menatap Bimo dengan pandangan menghunus.

"Kalau aku tidak datang, apa kamu mengira aku sudah mati? Berani-beraninya kalian semua memperlakukan cucuku seperti ini!"

Ana yang berdiri tidak jauh dari sana bergumam dalam hati dengan sedikit terkejut, ‘Oh, jadi ini kakeknya...’

Kakek Pramudia kemudian mengarahkan pandangannya yang melembut kepada Ana. "Ana, Kakek mau tanya langsung sama kamu. Apa benar kamu ingin membatalkan pertunangan ini?"

"Iya, Kek. Aku memang mau membatalkan pertunangan ini," jawab Ana dengan mantap tanpa keraguan sedikit pun.

Mendengar hal itu, Jesika diam-diam mengumpat di dalam hatinya dengan kesal. ‘Sialan! Semua ini gara-gara orang tua sialan ini. Jadinya Aksa yang malah kelihatan malu sekarang!’’

Kakek Pramudia mengangguk paham, lalu mengedarkan pandangannya ke arah keluarga Aditama dengan tegas.

"Baiklah, kalian semua sudah dengar sendiri, kan? Cucuku ingin membatalkan pertunangan dengan Aksa Aditama. Dan cucuku sama sekali tidak sudi dengan Aksa! Jadi sekarang, Kakek umumkan secara resmi mulai hari ini, pertunangan antara keluarga Pramudia dan keluarga Aditama dinyatakan batal!"

Ana tersenyum tipis, merasa terbebas dari beban yang tidak diinginkannya. "Terima kasih, Kakek."

Nyonya Aditama yang merasa harga diri keluarganya diinjak-injak, tidak bisa tinggal diam.

Dengan wajah kecut, ia mencibir, "Tuan Besar Pramudia, jangan salahkan saya kalau saya lancang, ya. Cucu Anda ini yang memutuskan pertunangan dengan keluarga kami. Nantinya, nggak akan ada orang yang mau dengan dia! Perempuan kayak dia mana ada pria yang bisa atasi? Siapa yang berani menikahinya?!"

"Memang nggak ada yang berani," sebuah suara yang berat dan penuh karisma tiba-tiba memotong kalimat Nyonya Aditama.

Seorang pria matang bertubuh tegap melangkah maju dengan penuh percaya diri. Adrian.

"Tapi saya, Adrian, mampu. Dia nggak perlu diatur oleh siapa pun. Dia cukup jadi dirinya sendiri," lanjut Adrian dengan nada mutlak. Tanpa ragu, Adrian langsung mengulurkan lengannya dan merangkul pundak Ana dengan posesif di depan semua orang.

Nyonya Aditama terheran melihat kedatangan pria asing yang memancarkan aura dominan tersebut.

"Kamu... kamu siapa?!"

Aksa yang langsung mengenali siapa sosok pria itu mendadak pucat. Tubuhnya menegang ketakutan. Ia buru-buru menarik lengan ibunya. "Ma, cukup! Tolong jangan bicara apa-apa lagi!" bisik Aksa panik.

"Kenapa? Kita keluarga Aditama, masa takut dengan dia?!" protes Nyonya Aditama tidak terima.

"Bukan begitu, Ma... tapi dia kemungkinan besar adalah..."

Kalimat Aksa terputus karena Kakek Pramudia langsung mengetukkan tongkatnya ke lantai.

"Sudah cukup!" Potong sang Kakek. "Urusan antara keluarga Pramudia dan keluarga Aditama sudah selesai sampai di sini. Dan sekarang, saya akan mengumumkan satu hal lagi. Mumpung hari ini yang datang adalah para tokoh terpandang, jadi saya meminta kalian semua yang ada di sini untuk menjadi saksi."

Bimo mengerutkan keningnya, menatap ayahnya dengan bingung. "Ayah... saksi untuk apa?"

Adrian yang berada di samping Ana langsung menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Ia menatap ke arah Bimo dan seluruh tamu undangan yang hadir, lalu menjawab dengan lantang, "Tentu saja... saksi untuk pertunanganku dengan Nona Ana!"

Suasana pesta itu seketika riuh. Bisik-bisik yang semula samar berubah menjadi kasak-kusuk yang memenuhi setiap sudut ruangan.

Kehadirannya bagai magnet yang menarik seluruh atensi. "Itu Tuan Muda Adrian!" seru salah satu tamu di sudut ruangan, matanya terbelalak tak percaya.

"Iya, benar! Itu Tuan Muda!" sahut tamu lain di sebelahnya, meyakinkan dengan anggukan mantap.

Di sisi lain, seorang pria paruh baya mengerutkan kening, bingung dengan kehebohan yang terjadi.

"Tuan Muda Adrian yang mana?" tanyanya polos.

Lawan bicaranya langsung menatapnya dengan pandangan remeh. "Memangnya siapa lagi? Presiden Grup Angkasa, Adrian!"

Mendengar nama itu disebut, tubuh Nyonya Aditama seketika menegang. Wajahnya memucat, jemarinya yang dihiasi cincin permata mulai gemetar.

"Tidak mungkin..." gumamnya lirih, berusaha menyangkal kenyataan yang terpampang di depan matanya.

"Tuan Muda Adrian sampai mau datang ke perjamuan ini?" tanya seorang tamu wanita dengan nada penuh kekaguman sekaligus heran.

"Eh, tapi tunggu... Tadi dia bilang pernikahannya dengan Nona Ana? Anak keluarga Pramudia dan Adrian akan menikah?"

Nyonya Aditama yang mendengar celotehan itu langsung menyela dengan suara melengking, kehilangan keanggunannya sesaat. "Mustahil! Mana mungkin Tuan Muda Adrian menyukai gadis liar seperti itu? Kalian pasti salah lihat!"

Tepat saat Nyonya Aditama menyelesaikan kalimatnya, Adrian melangkah. Dengan tatapan mata yang tajam namun tenang, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

Suaranya baritonnya menggema, memotong semua spekulasi. "Pesta hari ini memang aku siapkan untuk tunanganku," ujar Adrian lantang.

Senyum tipis yang penuh teka-teki terukir di sudut bibirnya. "Kalau tidak percaya, buka undangan kalian dan lihat. Ada nama kami berdua kan?"

Bagai dikomando, Nyonya Aditama langsung merenggut paksa sebuah kartu undangan dari meja terdekat. Dengan tangan gemetar, ia membuka lipatan kertas premium tersebut. Matanya membelalak sempurna saat melihat deretan huruf emas yang tertera di sana. Benar. Di bagian bawah, tepat di sebelah kiri undangan, nama Adrian dan Ana tertulis dengan sangat jelas.

Ana menatap pria di hadapannya dengan tatapan tajam. Amarahnya sudah di ubun-ubun akibat tindakan sepihak pria ini.

"Adrian, kamu pikir bisa atur aku?" desis Ana, suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak memancing perhatian.

"Kamu tidak takut akan kubunuh?" Bukannya gentar, Adrian justru tersenyum tipis.

Dengan santai, ia menyandarkan tangannya di bahu Ana, mengikis jarak di antara mereka.

"Kamu tidak akan membunuhku," ucap Adrian tenang, menatap langsung ke dalam manik mata Ana yang berapi-api.

"Kamu pintar. Kamu tidak mungkin mencari masalah, kan? Membunuhku sama sekali tidak ada untungnya buat kamu."

Ana mendengus kasar. Dengan sentakan kuat, ia menghempaskan badannya ke sandaran sofa, melepaskan diri dari rengkuhan Adrian.

"Apa sebenarnya tujuanmu?" tuntut Ana dengan napas memburu.

Adrian memperbaiki posisinya, menatap Ana dengan tatapan yang mendadak serius.

"Tentu saja membantumu. Keluarga Aditama itu buruk. Walaupun kamu membatalkan tunangan dengan mereka, reputasimu di luar sana tetap akan jelek karena kelakuan mereka."

Adrian menjeda kalimatnya, lalu melanjutkan dengan nada penuh kepuasan, "Tapi, kalau kamu jadi tunanganku keluarga Aditama akan benar-benar jadi badut di mata semua orang."

Ana tertawa sinis, memalingkan wajahnya. "Kamu pikir aku bakalan peduli dengan reputasi?"

Adrian tidak langsung menjawab. Ia meraih jemari Ana, menggenggamnya erat sebelum perempuan itu sempat menghindar.

"Tapi aku peduli," bisik Adrian dengan nada rendah namun penuh penekanan yang mutlak.

"Kamu itu tunanganku. Takkan kubiarkan siapapun dapat kesempatan untuk menyakitimu."

1
Syifaa
Jangan lupa komen
yuyusss
greget
yuyusss
😍
yuyusss
uhuyy
yuyusss
lanjuttt
Syifaa
Makin seru nggak
imran
Lanjut kak
imran
Baguss banget
Syifaa
Lanjut nggak
Putri Sajak
kak yuk like punya kuh🤭
imran
Bagus
imran
Lanjut
Syifaa
Maaf yah guys kadang nggak update
Syifaa
Gimana guys lanjut nggak
Syifaa
Nah gimana kelanjutannya suka nggak
Syifaa
Jangan lupa komen yah
Syifaa
Maaf yah guys akhir-akhir ini lagi sibuk banget
imran
Baru update yah
imran
Lanjut kak penasaran banget kelanjutannya
Syifaa
Maksih yah komennya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!