NovelToon NovelToon
CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Ning sopiah

Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.

Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jawabanku

MALAM SEBELUM AKU MENJAWAB

Sebelum aku menjawab "Nggih, Gus... Sopiah siap," ada satu malam yang tidak pernah aku ceritakan ke siapa-siapa.

Malam Jumat Kliwon.

Malam itu Jombang hujan deras. Di kamar peninggalan Abah, aku menggelar sajadah paling lama dalam hidupku. Aku sholat Isya, sholat hajat, dan sholat istikhoroh.

Di sujud terakhir, aku menangis.

"Ya Allah, jika wasiat Abah Yai ini baik untuk dunia akhiratku, dekatkanlah. Jika tidak, jauhkanlah."

Aku tertidur di atas sajadah dengan mukenah masih terpasang.

Dan aku bermimpi.

Aku melihat ndalem terang benderang, harum kasturi. Abah Yai Kholil duduk di kursi rotan kesayangannya, memakai jubah putih bersih, wajahnya bercahaya.

"Sopiah... Nduk... sini..."

Aku bersimpuh di kaki Abah.

"Abah, Sopiah takut..."

Abah mengusap kepalaku lembut.

"Nduk, Gus Azam itu seperti sumur yang kering. Hatinya kering karena tanggung jawab. Ia butuh oase. Oase itu adalah kamu."

"Ummah itu ikhlas, ia butuh adik sepertimu. Latifah itu keras di luar tapi rapuh di dalam, ia butuh kelembutanmu."

"Tugasmu, Nduk... ajari Azam lagi caranya mencintai karena Allah. Jadilah Cinta Ketiga yang menyembuhkan dua cinta sebelumnya."

Aku terbangun jam 03.00 dini hari dengan air mata membasahi mukenah. Tapi hatiku yang tadinya bimbang, kini terasa lapang dan mantap.

Aku sudah mendapat jawabannya.

Dan esok paginya...

...****************...

Pagi ini terasa berbeda.

Ada rasa lega yang mengalir di dadaku, lega karena semalam aku sudah mendapatkan jawabannya langsung dari Abah Yai di dalam mimpi. Namun di balik lega itu, ada rasa takut yang ikut menyelinap.

Takut karena... entah bagaimana caranya aku bisa mengajarkan Gus Azam cara mencintaiku, sedangkan rasa cinta itu pun belum pernah aku rasakan sepenuhnya.

Ya Allah... lagi-lagi aku berserah pada-Mu...

Aku keluar ke teras kecil kamarku. Menghirup udara segar pagi Pesantren yang masih berkabut. Di tanganku ada cangkir teh hangat yang masih mengepul. Kuseruput pelan.

Tiba-tiba dari arah depan, terlihat sosok santri putri berlari kecil. Ratna.

"Assalamualaikum... mboten Ning, kulo mau menyampaikan pesan dari Gus Azam," ucap Ratna dengan nafas agak terengah. "Ning Sopiah ditunggu di Ndalem sekarang. Di sana sudah ada Gus Azam, Ning Ummah dan Ning Latifah. Segeralah, Ning... jangan biarkan mereka lama menunggu."

Jantungku langsung berdebar tak karuan.

"Baik, sebentar saya bersiap dulu ya, Na," jawabku.

Aku pun masuk ke kamar lagi. Entah kenapa, tiba-tiba tanganku bergerak sendiri. Aku membuka laci kecil di meja riasku. Di sana ada Tone Up yang sudah lama tidak kupakai, hadiah dari teman kuliahku di Bandung. Kupoleskan tipis-tipis ke pipiku. Lalu aku ambil lip balm warna peach dan kuoleskan di bibirku yang pucat.

Deg... jantungku berdebar semakin kencang.

Kenapa aku begini? Batin ku memberontak.

Kulihat wajahku di cermin retak itu. Hari ini aku memakai gamis warna moka dengan kerudung senada. Riasan sederhana, tapi entah kenapa pipiku terlihat memerah sendiri.

"Sopiah... Masya Allah, kenapa pipimu tiba-tiba merah sekali..."

Aku menggeleng-gelengkan kepala, mencoba menetralkan debaran ini. Ini bukan aku. Aku yang biasanya cuek.

Di luar, Ratna memanggil lagi.

"Ning Sopiah, ayo kita berangkat!"

Aku pun keluar dengan langkah ragu.

Ratna menatapku dari atas sampai bawah, matanya berbinar.

"Masya Allah... Ning cantik sekali hari ini..."

"Alhamdulillah, jangan menggoda aku, Na," jawabku sambil menunduk menahan malu.

Kami pun berjalan berdua menuju Ndalem utama. Setiap santri yang berpapasan menatapku. Mungkin mereka sudah tau kabar wasiat itu.

Sesampainya di Ndalem, betul saja. Sudah ada tiga sosok yang menungguku di ruang tamu utama.

Ruangan itu wangi kayu gaharu ala Timur Tengah, wangi yang ringan namun sangat nyaman dan menenangkan.

Di sana duduk Gus Azam dengan gamis putih dan sorban hitam melingkar rapi. Di sebelah kanannya ada Ning Ummah yang tersenyum teduh padaku, dan di sebelah kirinya ada Ning Latifah yang menatapku datar.

"Assalamualaikum..." salamku lirih, suaraku hampir tidak terdengar.

Suara Ning Ummah memecah kepanikanku.

"Wa'alaikumussalam... ndok, masuk... sini. Kami sudah menunggumu. Duduklah di pinggir Gus Azam."

Kakiku terasa lemas.

Aku melangkah pelan dan duduk di kursi kosong yang memang sengaja disiapkan di sebelah Gus Azam. Jarak kami hanya sejengkal.

Dari tadi, sejak aku masuk pintu, aku merasakan tatapannya. Gus Azam tidak henti menatapku. Tatapan yang dalam, tajam, namun bukan menakutkan.

Aku semakin gugup. Tanganku dingin.

Tiba-tiba ia menunduk cepat, suaranya lirih namun masih terdengar olehku.

"Astaghfirullah... Azam jaga pandanganmu..."

Namun aku menangkap bisikan batinnya yang tidak sengaja terucap pelan.

"Masya Allah... cantik sekali dia hari ini..."

Wajahku langsung memerah seperti kepiting rebus. Aku yakin Ning Ummah mendengarnya karena ia tersenyum kecil menahan tawa.

Hening beberapa detik.

Akhirnya suara yang lembut namun tegas itu terdengar. Gus Azam menatapku.

"Ning... bagaimana keputusanmu? Sudah adakah?"

Aku mengangguk pelan. Nafasku masih berantakan.

"Ya sudah, Gus..."

Aku pun mulai bercerita. Tentang sholat istikhorohku semalam. Tentang sujudku yang lama. Tentang mimpiku bertemu Abah Yai Kholil di ndalem yang bercahaya kasturi.

Semua yang ada di ruangan itu terdiam mendengarkan.

Ketika aku bercerita bagian Abah berkata "Jadilah Cinta Ketiga yang menyembuhkan dua cinta sebelumnya", aku melihat mata Gus Azam berkaca-kaca. Bulir bening itu tertahan di pelupuk matanya.

"Mbah... Mbah menemuimu dalam mimpi?" tanyanya dengan suara parau, tidak percaya.

"Iya, Gus," jawabku pelan.

"Aku... aku bahkan belum pernah bermimpi bertemu Abah setelah beliau wafat..." Gus Azam menunduk, suaranya bergetar hebat. "Ning Sopiah sudah sedekat itukah kamu dengan Abah?"

Aku tertegun.

Aku bisa merasakan ada rasa iri, ada rasa rindu yang sangat dalam dari seorang anak kepada Ayahnya.

"Entahlah, Gus... yang aku tau Abah sangat menyayangi saya sewaktu saya mondok dulu. Beliau menganggap saya seperti anaknya sendiri."

Gus Azam mengusap wajahnya.

"Masya Allah... pantas saja... Abah memang begitu. Beliau lebih sering menceritakan tentang hafalan Qur'an mu daripada tentang rapat pesantren kepada saya..."

Deg... hatiku terasa tidak enak. Aku takut ucapanku menyakiti hatinya.

Namun ia kembali menatapku, kali ini tatapannya lebih lembut dari sebelumnya.

"Lantas... jawabanmu bagaimana, Ning?"

Aku menarik nafas panjang. Inilah puncaknya.

Semua mata tertuju padaku. Ning Ummah menggenggam tasbihnya erat, Ning Latifah menegakkan duduknya.

Dengan suara yang masih bergetar, aku menjawab.

"Bismillah... aku siap menjalankan wasiat Abah Yai Kholil."

Ning Ummah langsung mengucap "Alhamdulillah..." dengan air mata.

Gus Azam masih menatapku lekat.

"Namun... dengan dua syarat, Gus..."

Ruangan yang tadinya haru, langsung menegang lagi.

Gus Azam mengerutkan dahinya.

"Apa syaratnya, Ning?"

Ning Latifah juga ikut bersuara, penasaran.

"Iya, apa syaratnya, Sopiah? Jangan yang aneh-aneh."

Aku menatap satu persatu wajah di ruangan itu. Menatap Gus Azam yang masih berkaca-kaca.

Aku menguatkan hatiku.

"Syarat pertama..."

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!