NovelToon NovelToon
Istri Mafia Memilih Taubat

Istri Mafia Memilih Taubat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Mafia
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Mentari belum lagi menampakkan wujudnya di ufuk timur. Udara dingin khas fajar masih menyelubungi mansion megah keluarga Deluca yang hening. Namun, di dalam kamar utamanya, Zela sudah terbangun sejak pukul empat pagi. Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian kasual yang nyaman sebuah gaun rumahan berwarna krem dengan apron bermotif bunga-bunga lembut Zela melangkah keluar kamar dengan semangat membara.

Ini adalah hari baru, dan Zela bertekad melancarkan strategi keduanya: meluluhkan hati suami mafianya lewat jalur perut.

Ia menuruni tangga marmer yang masih temaram menuju area dapur utama. Dapur berarsitektur modern dengan perlatan memasak berbahan stainless steel premium itu biasanya sudah mulai dipenuhi kesibukan para koki dan pelayan. Begitu Zela melangkah masuk, beberapa pelayan wanita yang sedang merapikan bahan makanan langsung membeku di tempat.

Kepala koki dan tiga asistennya menatap Zela dengan mata membelalak lebar, melongo tak percaya. Tangan mereka yang tadinya sibuk memotong sayuran mendadak terhenti di udara.

Bagaimana tidak syok? Selama dua tahun tinggal di mansion ini, Jangankan memasak atau menginjakkan kaki ke dapur fajar-fajar begini, Nyonya muda mereka itu biasanya baru bangun menjelang siang, lalu memaki pelayan jika sarapan terlambat disajikan semenetar semenit saja. Tapi kini, Zelara Sabiru berdiri di tengah dapur dengan senyum manis dan apron melekat di tubuhnya.

"N-Nyonya?" sapa Kepala Koki dengan suara bergetar panik. "A-apa ada yang kurang berkenan? Kenapa Nyonya turun ke dapur sepagi ini? Jika Nyonya menginginkan sesuatu, biar kami yang—"

"Santai aja, Pak," potong Zela ramah, mengibaskan tangannya santai. "Pagi ini biarkan aku yang masak sarapan buat suamiku. Kalian bisa istirahat dulu atau kerjakan hal lain."

Para pelayan dan koki semakin melongo, saling bertukar pandang dengan raut wajah cemas bercampur bingung. Sejak kapan Nyonya bisa tersenyum ramah dan mau memasak untuk Tuan Bashkar? Apakah bumi sudah berputar terbalik? batin mereka histeris.

Tanpa memedulikan tatapan heran seluruh penghuni dapur, Zela mulai menyingsingkan lengan bajunya. Ia menggeledah kulkas raksasa di dapur tersebut, memilih bahan-bahan segar berkualitas tinggi. Zela memutuskan untuk membuat sarapan hangat yang simpel namun berkelas: Nasi Goreng Spesial dengan bumbu rempah harum, telur mata sapi dengan kuning telur yang meleleh sempurna, serta salad segar dengan dressing minyak zaitun. Tak lupa, ia memeras jeruk segar untuk dijadikan jus.

Dengan lincah, Zela meracik bumbu, menumis bawang putih hingga wangi gurih memenuhi seluruh ruangan dapur, dan membalik telur di atas penggorengan dengan gerakan yang terampil. Para pelayan yang mengintip dari jauh tak henti-hentinya terpukau. Aromanya yang sangat menggugah selera perlahan membangunkan suasana mansion yang tadinya dingin.

Setelah selesai dan menata sarapan itu dengan estetik di atas nampan kayu yang elegan, Zela tersenyum puas. Ia membawa nampan berisi sarapan hangat dan segelas jus jeruk segar itu menuju lantai tiga, tempat kamar pribadi Bashkar berada.

Langkah kaki Zela berbunyi pelan menyusuri koridor yang sunyi. Ia berhenti tepat di depan pintu kayu jati hitam milik suaminya.

Tok! Tok! Tok!

Zela mengetuk pintu secara perlahan. "Bashkar? Kamu sudah bangun?" panggilnya dengan suara lembut.

Hening. Tidak ada jawaban dari dalam.

Zela berkedip, mencoba mengetuknya sekali lagi. Tok! Tok! Tok! "Bashkar... sarapannya sudah siap. Aku bawain ke kamar ya?"

Tetap tidak ada sahutan. Hanya kesunyian yang menyambutnya.

Menggebu oleh rasa penasaran dan enggan membiarkan sarapan buatannya dingin, Zela memutuskan untuk memutar gagang pintu secara perlahan. Pintu yang ternyata tidak terkunci itu terdorong terbuka sedikit demi sedikit. Zela mengendap-endap melangkah masuk ke dalam kamar bernuansa hitam-kelabu yang luas dan dingin itu.

Kamar itu tampak rapi. Kasur berukuran king-size di tengah ruangan sudah tertata bersih tanpa ada riak kusut pada spreinya. Zela meletakkan nampan sarapan di atas meja kecil dekat sofa.

Saat ia berbalik untuk mencari keberadaan suaminya, pendengarannya menangkap sebuah suara samar dari arah pintu kaca buram di sudut ruangan pintu yang menghubungkan ke kamar mandi utama.

Srrr... Srrr...

Suara percikan air yang jatuh membasahi lantai terdengar samar namun jelas. Bintik-bintik uap air hangat terlihat menempel di kaca buram tersebut. Bashkar rupanya sedang mandi di bawah guyuran shower.

Zela berdiri terpaku di tengah kamar. Bayangan siluet tubuh tinggi berotot milik Bashkar yang tercetak samar di balik kaca buram dan suara percikan air yang konstan mendadak membuat tenggorokan Zela terasa kering. Wajahnya perlahan memanas, dan jantungnya mulai berdegup kencang tak karuan.

Zela buru-buru mengalihkan pandangannya dari kaca buram kamar mandi, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdebar kencang. Untuk mengusir rasa canggung, ia melangkah melintasi ruangan, mengamati interior kamar pribadi Bashkar yang jarang sekali disentuh orang.

Kamar itu sangat rapi, serba minimalis dengan dominasi warna hitam, abu-abu charcoal, dan aksen kayu gelap. Tidak ada barang bertumpuk atau ornamen tak berguna. Hanya ada deretan buku-buku tebal ber-sampul kulit di rak dinding, aroma maskulin kayu cendana yang menenangkan, serta kerapian ekstrem yang mencerminkan betapa teraturnya hidup sang pemilik. Zela tersenyum tipis; di balik citranya sebagai ketua mafia yang ditakuti, Bashkar ternyata adalah pria yang sangat disiplin dan bersih.

Klek.

Suara engsel pintu kamar mandi yang terbuka memecah keheningan. Zela refleks memutar tubuhnya.

"Keluar."

Sebuah suara berat, dingin, dan sarat akan nada perintah langsung menyambutnya bahkan sebelum Zela sempat menyapa. Namun, bukannya bergerak melangkah ke pintu, Zela justru membeku di tempat. Matanya membelalak lebar, bibirnya sedikit terbuka—benar-benar melongo tak berkedip.

Bashkar berdiri di sana. Rambut hitamnya yang basah meneteskan sisa-sisa air ke bahunya yang kokoh. Pria itu baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit dari pinggang hingga sebatas lutut. Dada bidangnya yang kokoh terpampang nyata, dihiasi samar beberapa bekas luka lama yang justru menambah kesan maskulin dan berbahaya. Tetesan air mengalir lambat di sepanjang garis perutnya yang terbentuk sempurna (eight-pack).

Anjirrrr... jerit Zela histeris di dalam batinnya, menjerit tanpa suara. Gila, ini visualnya kagak ada obat! Bisepnya tebal banget, garis bahunya lebar, perutnya tajam kek diukir pahat! Ini mah bukan cuma tampan, tapi sudah standar dewa visual! Gila, gila, jantung gue mau copot benaran!

Bashkar yang menyadari tatapan 'tidak sopan' dan tanpa rasa takut dari istrinya itu menyipitkan mata kelabunya. Aura permusuhan dan kecurigaan tebal langsung menguar dari tubuhnya. Dengan langkah lebar dan tegas, Bashkar mendekati Zela. Tanpa mengacuhkan ekspresi cengong wanita itu, jemari dingin Bashkar meraih pergelangan tangan Zela, menariknya dengan tegas namun terkontrol menuju ke arah pintu keluar.

"Tunggu, tunggu! Bashkar, lepas dulu!" seru Zela buru-buru menahan langkahnya, memegangi kusen pintu agar tidak langsung terdorong keluar.

Bashkar menghentikan gerakannya tepat di ambang pintu, menatap Zela dari atas ke bawah dengan tatapan dingin nan menusuk. "Aku sudah memingatkanmu, Zelara. Jangan sekali-kali melangkahkan kakimu ke kamar ini lagi. Apalagi dengan tatapan anehmu itu."

"Aneh gimana maksudnya? Aku kan cuma mengagumi ciptaan Tuhan!" sahut Zela spontan, memamerkan senyum tanpa dosa meski pipinya sedikit merona.

"Keluar," ulang Bashkar, suaranya turun satu oktav, sangat datar tanpa emosi.

"Iya, iya, aku keluar! Tapi dengar dulu," Zela menunjuk ke arah nampan kayu di atas meja kecil tak jauh dari mereka. "Hari ini aku bangun subuh khusus buat bikin sarapan untukmu. Ada nasi goreng spesial sama jus jeruk segar. Aku yang masak sendiri dari awal, tanpa bantuan koki."

Bashkar melirik sekilas ke arah nampan sarapan yang masih membumbungkan uap tipis dan aroma gurih yang menggugah selera, lalu kembali menatap wajah Zela. Tak ada binar tersentuh di matanya hanya rasa tidak percaya yang semakin tebal.

"Aku tidak butuh sarapanmu. Dan aku tidak akan memakannya," jawab Bashkar dingin. "Bawa kembali barang itu dan keluar."

"Kenapa? Kamu takut aku taruh racun di dalamnya, ya?" tebak Zela santai, seolah ucapan itu bukan masalah besar. Ia menatap mata kelabu Bashkar dengan binar ketulusan yang hangat. "Aku nggak setega itu, Bashkar. Aku benaran cuma mau kamu makan makanan hangat pagi ini. Tolong dimakan ya? Sedikit aja nggak apa-apa."

Bashkar menatap Zela lekat-lekat, mencoba mencari celah kebohongan dari sepasang mata bulat nan jernih di depannya. Namun yang ia temukan hanyalah kesungguhan yang membuat hatinya yang beku sedikit terusik. Menguasai dirinya kembali, Bashkar melepas cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Zela.

"Pergi," ucap Bashkar singkat, lalu tanpa menunggu respon lagi, pria itu menutup pintu kamarnya dengan rapat tepat di depan wajah Zela.

BLAM.

Zela berdiri di depan pintu yang tertutup rapat itu, mengedipkan matanya beberapa kali. Namun alih-alih kesal atau menyerah, sebuah senyuman tipis justru terukir di bibirnya.

"Dingin banget kek kulkas dua pintu," gumam Zela terkekeh pelan seraya mengelus dadanya. "Tapi nggak apa-apa. Tembok es kamu perlahan pasti bakal meleleh, Bashkar Deluca!"

1
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut💪
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 💪
Azura75
pisah aja lah.. toh kamu juga nggak hamil. pindah ke luar negri. mulai semua dr awal hidup baru & dgn identitas baru. drpd makan hati dgn suami kyk gitu.
anonim
double up please?🙏
Pelangi Jingga
di tunggu kelanjutannya tor
Apis
ini sebenarnya temanya apa yathor di indo pa di barat, ko manggilnya mas mb tp ada musim saljunya
Gustinur Arofah
karya baru semangat💪💪💪, sdh vote, like, komen, bunga dan kopi biar makin semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!