NovelToon NovelToon
System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Gen-1

Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.

Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.

Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.

Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Belanja Besar-besaran

"...."

Mendengar jawaban santainya, Risa terdiam, kehabisan kata-kata.

Beberapa menit berselang, pramuniaga itu kembali membawa tas belanja elegan khas Armani.

Ia menyerahkannya dengan senyum profesional yang merekah.

"Ini, Tuan. Kaus dan celana chinos sudah dikemas rapi. Total pembelanjaan 240 juta rupiah, namun kami memiliki potongan harga lima belas persen untuk transaksi di atas 200 juta."

Pramuniaga itu menatap Yuda dengan mata berbinar. "Total akhirnya menjadi 204 juta rupiah. Pembayaran melalui tunai atau kartu?"

Di samping Yuda, napas Risa tertahan. '204 juta? Itu hampir se-pendapatan bersihku dari berjualan daring selama setahun!'

Ia melirik Yuda, berharap melihat setidaknya kilat keraguan atau keterkejutan di wajah pria itu.

Namun, Yuda tetap datar.

"Kartu," jawab Yuda tenang.

Ia mengeluarkan sebuah kartu Black Gold dari dompetnya dan menyerahkannya.

Pramuniaga itu menerima kartu tersebut dengan sedikit bingung.

Ia tidak mengenali jenis banknya, tetapi teksturnya yang pekat bagai batu obsidian matte.

Dihiasi guratan emas tipis bermotif kawung dan awan mega mendung di tepiannya, sudah cukup menjelaskan bahwa itu bukan kartu sembarangan.

Mesin EDC memproses transaksi tanpa kendala.

"Pembayaran berhasil, Tuan. Terima kasih." Pramuniaga itu membungkuk hormat seraya mengembalikan kartu tersebut.

Yuda mengangguk puas.

Kepuasannya bukan sekadar karena pakaian baru, melainkan rentetan suara mekanis yang berdengung di kepalanya.

[Ding! Terdeteksi pembelian pakaian seharga Rp204.000.000.]

[Cashback 100x lipat aktif. Selamat, Tuan Rumah mendapatkan Rp20.400.000.000.]

[Dana akan ditransfer ke rekening Tuan Rumah dalam waktu 1x24 jam.]

Bersamaan dengan itu, ponsel di sakunya bergetar singkat.

Notifikasi bank.

Yuda menarik sudut bibirnya tipis. '20 miliar. Untung saja sistem sudah meningkatkan status rekeningku menjadi tanpa batas.'

Sementara itu, Risa masih tenggelam dalam keterkejutannya.

Pria yang ia kenal sebagai kurir selama dua tahun, kini menggesek kartu bernilai ratusan juta tanpa berkedip.

Pemikirannya menjadi kacau.

Namun, sebelum Risa sempat menenangkan diri, Yuda tiba-tiba teringat. "Ah, aku lupa membeli setelan jas dan jaket. Berikan yang terbaik."

Mata pramuniaga itu seketika berbinar semakin terang. "Baik, Tuan! Untuk warna dan ukurannya?"

"Biru muda, abu-abu, dan hitam untuk jas. Untuk jaket, warna krem. Ukurannya..."

Pramuniaga itu mengangguk cepat, lalu segera menuntun Yuda.

Risa hanya bisa mengikuti dari belakang dengan tatapan kosong.

Matahari sudah menggantung tinggi.

Setelah menghabiskan 300 juta untuk setelan jas, Yuda tidak berhenti.

Ia membawa Risa ke gerai Huawei, memborong ponsel lipat tiga Mate XT varian tertinggi, laptop seri terbaru, beserta aksesorisnya senilai 81 juta rupiah.

Notifikasi sistem terus berdengung di kepala Yuda, mengumpulkan total cashback hingga puluhan miliar.

Kini, saldo di rekeningnya telah menyentuh angka Rp58.137.800.000.

Masih tersisa limit cashback sekitar 41 miliar yang ia rencanakan untuk membeli kendaraan nanti.

Puas berbelanja, keduanya melangkah menuju sebuah restoran modern bernuansa tenang.

Yuda memesan beberapa hidangan kelas atas.

Saat makanan tiba, aroma rempah yang menguar akhirnya menarik Risa kembali ke dunia nyata.

Namun, alih-alih menyentuh hidangannya, ia menatap lurus ke arah Yuda.

Pikirannya masih menghitung angka secara tidak sadar. '

Armani 204 juta... jas 300 juta... barang elektronik 81 juta... 585 juta rupiah dalam setengah hari.'

Angka itu melampaui omzet bisnisnya selama setahun penuh.

Merasakan tatapan tajam di depannya, Sembari mengunyah makanan, Yuda mengangkat kepalanya menatap Risa, "Ada apa?"

Sudut mulut Risa berkedut melihat ekspresi santainya,

"Yuda.... Sebenarnya kamu siapa sih? Belanja banyak dan bayar 585 juta tanpa berkedip. Cepat katakan, apa kamu benar-benar Yuda yang aku kenal selama 2 tahun?

Melihat ekspresi serius di wajah Risa, Yuda justru tertawa pelan. "Bagaimana menurutmu?"

"Kau.." Jawaban singkatnya membuat Risa terdiam sejenak, lalu tak bisa menahan diri bertanya lagi "Apa kamu sebenarnya generasi kedua orang kaya? Atau menang lotre 1 Miliar?"

"Bukan keduanya," jawab Yuda santai, lalu meneguk air dari gelasnya.

"Aku seorang pebisnis."

"Pebisnis?" Risa mengerutkan kening. "Sejak kapan? Perusahaan apa yang kau jalankan?"

"Sudah beberapa tahun. Bidangnya beragam," Yuda mengangkat bahu ringan. "Untuk rinciannya, bakal terlalu panjang untuk dijelaskan."

Mendengar itu, Risa menyadari bahwa bertanya soal bisnis orang lain secara spesifik itu tidak sopan, jadi ia memilih tidak bertanya lagi.

Kemudian ia menyandarkan punggungnya, melipat kedua lengan di depan dada.

Melihat wajah Yuda yang tetap tenang, entah kenapa justru membuatnya merasa kesal.

"Jadi selama dua tahun ini kamu kerja jadi kurir, tinggal di kos, naik Beat sejuta umat..." ia menghitung jari, "Sementara diam-diam kamu punya bisnis?

"Kurang lebih seperti itu." Yuda mengangguk.

Risa menghela napas kasar.

Tidak ada nada kesombongan dari cara Yuda berbicara, tetapi justru ketenangan itulah yang membuatnya frustrasi.

"Lalu kenapa kau masih menjadi kurir?" tanya Risa dengan bingung. "Untuk apa bersusah payah mengantar barang jika kau bisa membeli apa saja?"

Yuda tidak langsung menjawab.

Ia menoleh ke arah jendela kaca, menatap lalu lintas jalanan dan orang-orang yang berlalu-lalang.

"Karena aku menyukainya," ucap Yuda pelan.

"Jika aku berhenti, aku hanya akan diam di rumah atau terpaku di kursi kantor. Aku tidak suka terkurung di satu tempat."

Risa terdiam, mencoba mencerna kata-kata itu.

"Menjadi kurir memberiku kebebasan," lanjut Yuda, dan matanya masih menatap ke luar.

“hari ini ke perumahan mewah, besok ke gang sempit. Ada yang cuma menyapa, ada yang ngajak ngobrol, kadang dapat beberapa surat cinta."

Alasannya terdengar masuk akal, dalam hati ia menahan tawa melihat ekspresi Risa yang percaya.

'Bualanku spontan ini terdengar sangat meyakinkan, aku sendiri bahkan merasa akan percaya jika mendengarnya.'

Risa tersenyum tipis tanpa sadar. "Yang terakhir itu alasan utamanya, kan?"

"Bisa jadi." Yuda tertawa.

"Kau memang sangat aneh," Nada suara Risa pelan.

Tatapan Risa ke Yuda yang dulunya biasa aja, sekarang tergantikan oleh sorot mata yang rumit.

Ia menatap pria di hadapannya lekat-lekat. "Yuda..." suaranya lirih.

"Hm?"

"Sebenarnya, orang seperti apa dirimu ini?"

Yuda menatapnya dengan senyum tipis. "Bukannya Mbak sudah mengenalku selama dua tahun?"

Risa menggeleng pelan. "Hari ini aku merasa... aku belum mengenalmu sama sekali."

Bab Berakhir.

1
Gege Mas
uwaaasyeekk
Gege Mas
luncurkan 10k katanya thor...gassa...
Gege Mas
yaaah masih kelas bsd...pikir otor beli rumahnya mc di pik 2 yang ada private jetty buat naruh kapal pesiar mini..baruu howrang kayah rayah..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!