Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Belanja Besar-besaran
"...."
Mendengar jawaban santainya, Risa sedikit terdiam.
Beberapa menit kemudian...
Setelah sekian menunggu, Pramuniaga perempuan itu kembali lagi membawa bungkusan tas khas Armani.
Dia menyerahkan tas itu lalu tersenyum profesional, "Ini pak, Kaos dan Celana Chinos nya ada di dalam. Totalnya 240 juta rupiah, dan kebetulan lagi ada diskon pembelian di atas 200 juta sebesar 15%"
"Total harganya menjadi 204 juta rupiah, mau bayar cash atau bank pak?" Suara pramuniaga itu terdengar sedikit bersemangat karena memikirkan komisi bulan ini bakal naik jauh.
Risa yang mengamati dari samping kembali membuka mulutnya sedikit, '204 juta? Itu pendapatan bersihku jualan online, dan Yuda....'
Dia melirik wajah Yuda berharap ada reaksi ketika mendengar angka 200 juta, tapi dia kecewa.
Yuda masih memasang wajah datar, lalu ia menjawab. "Bank."
Dia mengeluarkan kartu Black Gold dari dompetnya lalu menyerahkannya. "Gesek aja"
Pramuniaga itu menatap kartu ditangannya merasa asing dengan model kartu bank tersebut, tapi ia tahu ini bukan kartu sembarangan.
Tampilan Kartu itu berwarna Hitam pekat, matte, seperti batu obsidian.
Di permukaannya, ada garis-garis emas tipis yang membentuk pola-tidak mencolok, tapi terasa akrab.
Seperti batik yang diabstraksi.
Empat bulatan di tengah, seperti kawung.
Garis awan bergelombang di tepi, seperti mega mendung.
Tapi kemudian dia tersadar, lalu menggesek kartu itu di mesin EDC.
*Ting*
Pembayaran berhasil terlihat di layar mesin edc, lalu pramuniaga itu menyerahkan kembali kartu nya.
"Sudah dibayarkan pak, terima kasih." Pramuniaga perempuan itu membungkuk sedikit padanya.
Yuda memasukkan kembali kartunya ke dalam dompet dan mengangguk puas.
Bukan karena sudah membeli kaos baru, tapi puas karena bersamaan dengan notif bank tentang pembayaran.
Suara notif sistem dibenaknya juga terdengar.
[Ding! Terdeteksi membeli pakaian seharga 204 juta rupiah.]
[Cashback 100x lipat aktif, Selamat Tuan Rumah mendapatkan uang 20.400.000.000 rupiah.]
[Uang akan masuk ke rekening Tuan Rumah dalam waktu 1x24 jam.]
Bersamaan dengan itu, HP disakunya bergetar.
Tanpa melihat pun dia tahu itu adalah notifikasi dari bank uang masuk.
Yuda mengangkat sudut mulutnya, '20 miliar lebih di bank... Untung saja sistem sudah mengganti kartu ATM ku jadi tanpa limit.'
Sementara itu Risa yang masih sedikit terkejut merasa luar biasa, dari mengenal Yuda selama 2 tahun.
Sekarang ia melihatnya membeli banyak barang di Armani, bayar 204 juta penuh, pakai kartu asing tapi terlihat premium kelas atas.
Sekali lagi dia merasa kalau dirinya sepertinya tidak mengenal Yuda sedikitpun sekarang.
Pada saat ia sedang menahan perasaan ragu akan identitas Yuda dan pemikiran liarnya.
Yuda masih ditempat memasang ekspresi wajah seolah melupakan sesuatu, ia menepuk dahinya pelan, "Mbak pramuniaga, aku lupa beli setelan jas, dan jaket, yang terbaik tentunya."
Pramuniaga itu matanya langsung bersinar, ia buru-buru bertanya, "Baik pak, apa warna dan ukuran bapak untuk jas?"
Yuda menyentuh dagunya sejenak, "Warna biru muda, abu-abu dan hitam, aku beli 3 set untuk jaket warna krem aja, ukurannya...."
Pramuniaga itu mengangguk mengerti.
Kemudian dia menuntun Yuda dan Risa yang masih linglung.
...----------------...
Beberapa waktu pun berlalu, langit diluar nampak semakin terang.
Matahari sudah menggantung tinggi di atas kepala.
Setelah membeli jas, jaket.
Yuda membawa Risa ke toko HP Huawei untuk membeli HP impiannya, yaitu Hp tiga lipat, Mate XT hitam varian tertinggi, Laptop terbarunya, lalu earphone.
Begitu dia memborong semua itu, beberapa notifikasi hp bergetar dan notif sistem berdengung saat membayar di benaknya.
[Belanja setelan jas dan jaket Armani total harga 300 juta, mendapatkan cashback 30 Miliar.]
[Belanja produk Huawei total harga 81 juta, mendapatkan cashback 8,1 Miliar.
Saldonya sekarang menjadi Rp58.137.800.000.
Masih ada limit cashback sekitar 41 miliar lebih, dia berniat membeli motor nanti.
Kemudian keduanya pergi ke restoran bergaya modern untuk makan siang.
Duduk di kursi pojok restoran, Yuda memesan rendang dll.
Saat pesanan tiba, Risa akhirnya tersadar.
Mungkin karena perutnya sudah keroncongan atau emang sudah baikan.
Dia menatap banyak makanan di atas meja, lalu menatap Yuda didepannya dengan tatapan bingung, terlihat meminta penjelasan.
Dari awal membeli kaos dan celana Armani seharga 204 juta, terus membeli setelan jas dan jaket harga 300 juta.
Tapi itu belum cukup, Yuda kemudian membeli beberapa produk Huawei 81 juta.
Ia menghitungnya secara tidak sadar, total Yuda belanja adalah 585 juta penuh.
Dia menahan napas, '585 juta, melebihi omset bersih tahunanku yang 300-400 juta. Siapa sebenarnya dia?'
Yuda merasakan ada yang menatapnya lalu mendongak.
Tatapan mereka berdua bertemu, yang satu meminta penjelasan yang satu bingung.
Sembari mengunyah makanan, Yuda mengangkat kepalanya menatap Risa, "Ada apa?"
Sudut mulut Risa berkedut melihat ekspresi santainya, "Yuda.... Sebenarnya kamu siapa sih? Belanja banyak dan bayar 585 juta tanpa berkedip. Cepat katakan, apa kamu benar-benar Yuda yang aku kenal selama 2 tahun?"
Setelah mengucapkan semua itu, ia kembali menatapnya dengan wajah serius.
Yuda terkekeh memandang Risa yang ekspresinya serius nampak menggemaskan. "Kalau bukan?"
"Kau...." Jawaban singkatnya membuat Risa terdiam sejenak, lalu tak bisa menahan diri bertanya lagi "Apa kamu sebenarnya generasi kedua orang kaya? Atau menang lotre 1 Miliar?"
“Bukan keduanya,” jawab Yuda santai.
“Terus apa?”
Yuda mengambil gelasnya, meneguk air pelan, seolah pertanyaan itu bukan hal yang mendesak. “Aku pebisnis.”
Risa mengerjapkan mata. “Pebisnis?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Sudah beberapa tahun.”
“Beberapa tahun?” Risa menatapnya lekat, tak percaya. “Kau bersembunyi begitu dalam...”
Yuda hanya tersenyum tipis, tak membela diri.
Risa meletakkan sendoknya pelan, tapi bunyi dentingnya terdengar jelas.
Melihat wajah Yuda yang tetap tenang justru membuatnya makin kesal.
“Jadi selama dua tahun ini kamu kerja jadi kurir, tinggal di kos, naik Beat sejuta umat...” ia menghitung jari, suaranya meninggi, “sementara diam-diam kamu punya bisnis?”
“Kurang lebih.”
“Kurang lebih apanya?”
“Ya begitu.”
“Yuda!”
Yuda tertawa kecil.
Risa menghela napas panjang, menahan emosi. “Oke, baiklah. Bisnis apa?”
“Ada beberapa.”
“Bidangnya?”
“Macam-macam.”
“Perusahaannya namanya apa?”
Yuda terdiam sebentar, lalu mengangkat bahu. “Rahasia.”
“Rahasia?” Risa menyipitkan mata.
“Bukan rahasia juga sebenarnya. Cuma... panjang kalau dijelaskan.”
Risa menatapnya lama, lalu bersandar di kursi, menyilangkan kedua tangannya di dada besarnya. “Jadi kamu kaya?”
“Lumayan.”
“Lumayan?” Risa hampir tersedak. “Orang yang habisin Rp585 juta sekali duduk bilang ‘lumayan’?”
Yuda tersenyum tenang. “Kalau dibandingkan orang yang jauh lebih kaya dariku, memang lumayan.”
Risa terdiam.
Tidak ada kesombongan, tidak ada pamer — ia bicara seolah angka itu hal biasa.
“Tapi kalau kamu punya uang sebanyak itu...” Risa belum menyerah, “kenapa masih jadi kurir?”
Kali ini Yuda tidak langsung menjawab.
Ia menoleh ke jendela, melihat jalanan yang ramai, motor melintas, pedagang berteriak menawarkan dagangan. “Karena aku suka.”
“Suka?” Risa mengernyit. “Kerja jadi kurir?”
“Iya. Aku bisa saja berhenti. Tapi kalau berhenti, aku cuma duduk di rumah atau kantor seharian.”
“Memangnya kenapa kalau begitu?”
“Aku nggak suka diam di satu tempat terlalu lama.”
Meski mengatakan itu, Yuda dalam hatinya memuji dirinya, 'Sial, sepertinya aku sangat cocok jadi aktor, akting ku bagus banget, padahal aku ngomong asal, tapi dia percaya.'
Risa diam, mendengarkan saksama.
“Jadi kurir bikin aku bisa keliling,” lanjut Yuda pelan, “hari ini ke perumahan mewah, besok ke gang sempit. Ada yang cuma menyapa, ada yang ngajak ngobrol, kadang dapat beberapa surat cinta.”
Alasannya terdengar masuk akal, dalam hati ia menahan tawa melihat ekspresi Risa yang percaya.
Risa tersenyum tipis tanpa sadar. “Yang terakhir itu alasan utamanya, kan?”
Yuda tertawa. “Bisa jadi.”
Suasana sedikit mencair. Risa menghela napas, senyumnya belum hilang. “Tetap saja aneh.”
“Aku memang agak aneh.”
“Bukan agak.” Risa menunjuknya dengan ujung sendok, “kamu memang aneh banget.”
Yuda tertawa lepas, dan Risa ikut tersenyum.
Namun tak lama, tatapannya kembali serius.
Ia menatap laki-laki di depannya ini — dua tahun ia kenal sebagai kurir sederhana, biasa, apa adanya... ternyata ada sisi lain yang tak pernah ia lihat sama sekali.
“Yuda,” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Kamu sebenarnya orang seperti apa?”
Yuda terdiam sejenak, lalu tersenyum lembut. “Bukannya selama ini kamu sudah kenal aku?”
Risa menggeleng pelan, menatapnya tajam namun lembut. “Sekarang aku merasa... aku belum kenal kamu sama sekali.”
Bab Berakhir.