Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.
Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Rumah yang Terkunci dari Dalam
Taksi itu melaju terlalu pelan untuk jantung Andien yang berpacu.
"Lebih cepat, Pak, tolong," pintanya untuk ketiga kalinya.
"Macet, Mbak. Jam pulang kantor." Sopir itu mengangkat bahu, tak peduli pada wajah penumpangnya yang pucat. "Mau terbang saya juga tidak bisa."
Andien meremas ponsel hitam di pangkuannya. Layarnya menampilkan pesan terakhir Laras: *Aku sudah di jalan. Jangan masuk sendirian. Tunggu aku di ujung jalan Menteng, dekat pos ronda.*
Tetapi Andien tahu, dengan kepastian yang aneh, bahwa menunggu bukan pilihan. Ia pernah menunggu sebelas hari di teras gubuk. Ia pernah menunggu berminggu-minggu di paviliun. Malam ini, ia sudah selesai menunggu.
Taksi akhirnya berbelok memasuki kawasan Menteng yang lengang. Pohon-pohon tua berjajar di sepanjang jalan, dan rumah-rumah berpagar tinggi tampak seperti benteng yang tertidur. Andien membayar dan turun di tikungan, jauh sebelum nomor yang dikirim Laras.
Udara malam lembap. Di kejauhan, lampu jalan berkedip seperti napas yang tersendat.
---
Rumah keluarga Prasetia berdiri di ujung jalan buntu, bangunan kolonial bercat putih dengan pilar-pilar tinggi dan jendela-jendela gelap. Tak ada satpam di pos jaga. Gerbang besinya terbuka setengah, seperti mulut yang sengaja dibiarkan menganga.
Mobil hitam Carlo terparkir di halaman, mesinnya mati, pintunya tertutup rapat.
Andien menahan napas dan menyelinap di sepanjang pagar tanaman. Kakinya basah oleh rumput yang berembun. Dari salah satu jendela di lantai satu, terlihat cahaya redup, seperti lampu meja.
"Andien."
Bisikan itu hampir membuatnya menjerit. Sebuah tangan menutup mulutnya, lalu melepaskannya cepat-cepat.
Laras berdiri di balik pohon beringin dengan jaket hitam dan sepatu datar, rambutnya diikat seadanya. Napasnya tersengal, dan untuk pertama kalinya Andien melihat perempuan itu tanpa ketenangan sempurnanya.
"Sudah kubilang tunggu."
"Saya tidak bisa, Bu."
Laras menatapnya sepersekian detik, lalu menghela napas pendek. "Aku juga tidak akan bisa." Ia mengeluarkan sebuah senter kecil dari saku. "Pak Darto tidak ada di rumahnya. Ponselnya mati. Dan mobil Carlo di sini tanpa sopir. Artinya Carlo menyetir sendiri."
"Atau Pak Darto sudah ada di dalam."
"Atau itu." Laras menatap rumah itu. "Dengar, Andien. Kita tidak tahu apa yang menunggu di dalam. Kalau Hendra membawa orang, kita tidak akan menang dengan tangan kosong. Aku sudah menghubungi seseorang. Tapi bantuan butuh dua puluh menit."
"Dua puluh menit terlalu lama."
"Aku tahu."
Mereka berpandangan di bawah bayangan beringin. Dua perempuan yang secara hukum dan perasaan seharusnya bermusuhan, kini berdiri bahu-membahu di depan rumah yang sama, mencemaskan pria yang sama.
"Pintu samping," kata Laras akhirnya. "Aku tahu dari kunjungan dulu. Dapur punya akses ke ruang kerja ayah Carlo. Kita masuk pelan, mengintip dulu. Kalau situasi buruk, kita mundur dan menunggu bantuan. Janji?"
"Janji."
"Janji sungguhan, bukan janji versi Carlo."
Andien hampir tersenyum. "Janji sungguhan, Bu."
---
Pintu dapur tidak terkunci. Bau debu dan kayu tua menyergap saat mereka melangkah masuk, bercampur dengan sesuatu yang lain, aroma tembakau pipa yang samar, seolah rumah ini masih menyimpan napas pemiliknya yang sudah tiada.
Mereka merayap melewati lorong sempit. Senter Laras dimatikan, hanya cahaya remang dari ujung lorong yang menuntun langkah. Dari balik pintu ganda ruang kerja terdengar suara-suara.
"... tidak menyangka kamu benar-benar datang, Carlo."
Hendra.
"Kamu bilang ini soal wasiat ayahku." Suara Carlo terdengar tenang, terlalu tenang, seperti orang yang sudah menerima nasibnya. "Ayahku tidak meninggalkan wasiat kedua. Aku sudah memeriksa semua dokumen."
"Kamu memeriksa dokumen yang kuperbolehkan kamu periksa."
Hening. Lalu bunyi laci tua ditarik.
Laras menarik Andien merapat ke dinding. Melalui celah pintu yang terbuka sejari, mereka bisa melihat sebagian ruangan: meja kayu besar, rak buku menjulang, dan dua pria berhadapan di bawah lampu meja. Carlo berdiri dengan tangan di saku. Hendra duduk di kursi kebesaran almarhum, memegang map tebal berwarna biru.
Di sudut ruangan, hampir tersembunyi dalam bayangan, berdiri sosok ketiga. Pria berseragam sopir dengan kepala tertunduk dan tangan gemetar.
"Pak Darto," bisik Andien nyaris tanpa suara.
Laras mengangguk tipis, matanya tak lepas dari celah itu.
"Ini surat ayahmu," kata Hendra, melemparkan map itu ke meja. "Ditulis dua bulan sebelum dia meninggal. Aku menyimpannya karena dia memintaku menyimpannya sampai saatnya tepat."
"Dan sekarang saatnya tepat?"
"Sekarang kamu tak punya pilihan lain selain membacanya."
Carlo mengambil map itu. Ia membuka halaman pertama dan membacanya diam-diam. Wajahnya tak berubah pada awalnya. Kemudian rahangnya mengencang. Jemarinya meremas ujung kertas hingga berkerut.
"Ini palsu."
"Tanda tangannya asli. Notaris yang mengesahkan masih hidup."
"Ayahku tidak mungkin..." Suara Carlo bergetar. "Tidak mungkin memberikan kuasa penuh atas saham keluarga kepadamu."
"Dia melakukannya karena dia tahu," ujar Hendra pelan. "Dia tahu kamu tak akan pernah cukup tega untuk memimpin perusahaan ini. Kamu terlalu lembut, Carlo. Terlalu mudah jatuh kasihan pada gadis desa. Terlalu ingin dicintai."
Andien merasakan kuku Laras menancap di lengannya. Ia tak berani bergerak.
"Jadi kamu mencoba membunuhku untuk ini?"
"Aku tidak mencoba membunuhmu." Hendra tersenyum samar. "Aku hanya ingin kamu menghilang cukup lama untuk meyakinkan dewan bahwa kamu tak layak. Tapi kamu justru ditolong seorang gadis kampung dan kembali dengan tekad baru. Sungguh tak terduga."
"Orang yang menusukku di sungai itu..."
"Bukan aku." Hendra menoleh ke sudut ruangan. "Dia."
Semua mata beralih ke Pak Darto.
Sopir tua itu mengangkat wajah. Matanya merah, pipinya basah. Di tangannya yang gemetar tergenggam sebilah pisau lipat.
"Maafkan saya, Den Carlo." Suaranya pecah. "Anak saya... mereka bilang akan..."
"Pak..." Carlo mengambil satu langkah, tangannya terulur. "Tidak apa-apa. Saya mengerti."
"Jangan mendekat!"
Pisau itu terangkat. Tangan Pak Darto gemetar hebat, ujung mata pisau bergetar di antara dirinya dan Carlo. Air mata mengalir tanpa henti di wajah keriputnya.
"Saya tidak mau melakukannya lagi, Den. Waktu itu saya tikam Den Carlo lalu saya buang ke sungai, saya kira Den sudah mati. Setiap malam saya mimpi..."
"Darto." Suara Hendra dingin dan memerintah. "Selesaikan."
"Saya tidak bisa..."
"Anakmu masih di tanganku."
Pak Darto terisak. Pisau itu naik dan turun, tak tahu harus menuju siapa.
Andien tidak berpikir. Ia mendorong pintu itu terbuka lebar dan melangkah masuk.
"Pak Darto!"
Semua kepala menoleh. Carlo membelalak. "Dien! Pergi dari sini!"
Tetapi Andien tak mendengarnya. Ia berjalan langsung ke arah sopir tua itu, tangan terbuka, suaranya lembut seperti saat ia menenangkan ibunya yang batuk di tengah malam.
"Pak, lihat saya. Saya Andien. Saya yang menemukan Mas Carlo malam itu. Saya yang merawat lukanya."
"Mbak... saya..."
"Saya tidak marah, Pak. Mas Carlo hidup. Lukanya sembuh." Ia berhenti satu langkah di depan ujung pisau, matanya menatap lurus mata lelaki tua itu. "Anak Bapak masih bisa diselamatkan. Tapi bukan dengan cara ini."
Dari balik pintu, terdengar suara langkah mantap. Laras muncul dengan ponsel di tangan, layarnya menyala.
"Pak Darto," katanya tenang. "Anak Bapak, Rizal, sedang bersama polisi sekarang. Saya baru mendapat kabarnya. Dia aman. Ditemukan di rumah kontrakan di Bekasi, sehat."
Wajah Pak Darto berubah. Pisau di tangannya turun satu jengkal, lalu terjatuh berdentang di lantai kayu.
Hendra berdiri perlahan. Senyumnya yang tadi licin kini retak di sudut-sudutnya.
"Laras," katanya. "Kejutan yang menyenangkan."
"Hendra." Laras melangkah ke sisi Carlo, dan tanpa menoleh pada suaminya, jemarinya menyentuh punggung tangan pria itu sekilas. Sebuah isyarat kecil: *aku di sini.* "Aku rasa kita punya banyak hal untuk dibicarakan. Terutama soal rekaman yang kudengar tadi pagi."
Wajah Hendra memucat.
Di kejauhan, sirene mulai terdengar, makin dekat, makin keras.
Hendra menatap pintu, lalu menatap mereka bertiga, Carlo, Laras, dan gadis desa yang tak ia duga akan menghancurkan rencananya. Untuk sepersekian detik, topengnya runtuh sepenuhnya, dan yang tersisa hanyalah wajah seorang pria tua yang kalah.
Lalu tangannya bergerak cepat ke balik jasnya.
"Awas!" teriak Carlo.
Andien merasakan tubuhnya ditarik keras ke samping. Suara letusan memenuhi ruangan, memekakkan, dan dunia berubah menjadi serpihan kaca, bau mesiu, dan jerit yang entah siapa pemiliknya.
---
*Bersambung ke Bab 12...*
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya