"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam.
Ziva tahu rahasia besar yang disembunyikan Keysha, dan dia siap mengubah Rian yang polos menjadi pangeran berdarah dingin untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Rumor Beredar, (Revisi)
Rumor di SMA Taruna Bakti itu mirip seperti tumpahan bensin.
Sedikit saja dipicu percikan, ledakannya langsung menghanguskan satu sekolah.
Ziva tahu risiko itu sejak awal. Menjadi satu-satunya orang luar yang masuk ke lingkaran rumit antara Rian, Keysha, dan Marvel sama saja dengan menaruh satu kakinya di dalam zona perang.
Namun, Ziva tidak pernah menyangka kalau serangan balasan dari kubu Keysha akan secepat dan sekotor ini.
Senin pagi yang mendung.
Koridor lantai dua yang biasanya bising oleh cengkeraman anak-anak cowok yang membahas pertandingan bola, mendadak berubah hening begitu Ziva melangkah masuk.
Arah mata semua orang sinkron. Mereka menatap Ziva, berbisik dengan gestur menutup mulut, lalu saling menyenggol lengan satu sama lain.
Ziva memperlambat langkahnya. Dagunya tetap terangkat, wajahnya sedatar papan tulis, walau telinganya menangkap beberapa pecahan kalimat yang sengaja dikeraskan.
"...ternyata beneran gatel. Gayanya aja yang sok pinter dan dingin."
"Iya, lo tahu kan kaos hitam yang dipakai Rian pas story Instagram-nya bulan lalu? Si Ziva keluar dari rumah Rian malem-malem pake kaos itu. Ada fotonya di grup angkatan!"
"Gila, murah banget. Mau-maunya jadi pelampiasan cowok miskin kayak Rian demi ngerusak hubungan orang."
Ziva menghentikan langkah tepat di depan lokernya. Dia memutar kombinasi kunci dengan jari yang sedikit menegang.
Begitu pintu loker terbuka, sebuah kertas HVS ukuran A4 yang dicetak dengan huruf tebal jatuh ke lantai.
Di atasnya tertulis,
**ZIVA THE HOMEWRECKER. COCOK SAMA COWOK PENGEMIS.**
Di bawah tulisan itu, terpampang foto buram hasil jepretan kamera ponsel dari balik semak-semak. Foto Ziva yang sedang memakai kaos hitam Rian, berdiri di ambang pintu rumah Rian yang terbuka parah pada malam gerimis itu.
Ziva meremas kertas itu hingga membentuk bola kecil, lalu melemparnya akurat ke dalam tong sampah di sudut koridor. Dia tidak menangis. Dia tidak gemetar. Kemarahan di dadanya justru mendingin, berubah menjadi kalkulasi yang tajam.
'Keysha' batin Ziva. 'Atau antek-anteknya yang kurang kerjaan.'
"Heh, piala bergilir."
Sebuah suara cempreng yang sangat familier memecah keheningan koridor.
Gaby, salah satu anggota circle inti Keysha, berdiri tiga meter di belakang Ziva dengan tangan bersedekap.
Di sampingnya ada dua antek lainnya yang menatap Ziva dengan pandangan merendahkan.
"Punya muka juga lo ya buat dateng ke sekolah setelah murahan begitu di rumah Rian?" sindir Gaby, suaranya sengaja dinaikkan agar menarik perhatian satu koridor. "Gak puas lo selalu kalah saing sama Keysha di peringkat paralel, sampe harus jual diri ke Rian buat balas dendam?"
Ziva membalikkan badan dengan santai. Dia bersandar pada loker besi, menatap Fanya dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan tatapan menilai yang sangat mengintimidasi.
"Jual diri?" Ziva mengulang kalimat itu dengan nada seringan angin sore. "Kosakata lo mencerminkan isi otak lo, Gab. Murahan. Dan satu lagi, kalau mau bikin fitnah, tolong sewa fotografer yang lebih modal. Fotonya blur. Gak estetik."
"Lo—!" Wajah Gaby memerah. "Masih bisa sok keras ya lo? Lo udah bikin Keysha nangis semalaman! Rian itu cuma kasihan sama lo, makanya dia mau lo tampung di rumahnya yang kayak kandang burung itu!"
"Kalau rumah Rian kayak kandang burung, terus kenapa sahabat lo yang katanya ratu sekolah itu nangis-nangis di halamannya semalem cuma karena diusir?" skakmat Ziva, suaranya tenang tapi telak. "Oh, atau lo mau gue ceritain detailnya di sini? Gimana Keysha mohon-mohon di depan gue tapi tetep ditendang keluar sama Rian?"
Koridor langsung riuh oleh gumaman tertahan. Anak-anak yang menonton mulai berbisik-bisik, menyadari kalau drama ini punya dua sisi cerita.
Gaby yang merasa posisinya tersudut langsung melangkah maju, tangannya terangkat hendak mendorong bahu Ziva. "Dasar cewek gak tahu diri—"
Brak!
Suara hantaman keras pada pintu kelas XII A yang terbuka membuat semua orang terlonjak.
Rian berdiri di ambang pintu.
Napas cowok itu memburu.
Seragamnya sedikit berantakan, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aura Rian tidak lagi pasif dan mengalah.
Sepasang matanya yang biasa terlihat lelah kini menyala-nyala oleh amarah yang pekat. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang.
Rian melangkah lebar-lebar membelah kerumunan koridor. Aura intimidasi yang dipancarkannya begitu kuat hingga anak-anak yang menghalangi jalannya otomatis mundur teratur.
Dia melewati Ziva, lalu berhenti tepat satu jengkal di depan Gaby.
"R-Rian..." Gaby mendadak ciut. Nyalinya mengkeret melihat tatapan Rian yang seperti ingin menguliti orang hidup-hidup.
"Siapa yang bikin foto itu?" tanya Rian. Suaranya rendah, serak, dan sangat dingin. Menusuk hingga ke tulang.
Gaby menelan ludah dengan susah payah. "G-gue gak tahu... itu beredar di grup angkatan..."
Rian tidak memercayai omong kosong itu. Dia berbalik, menatap seluruh koridor yang kini mendadak hening seperti kuburan. Tidak ada yang berani bersuara. Semua anak yang tadi berbisik-bisik kini menunduk, takut menjadi sasaran amukan.
Rian berjalan masuk ke dalam kelas XII A—kelasnya sendiri, yang juga merupakan kelas sebagian besar anak-anak circle Marvel.
Di dalam kelas, suasana tidak kalah tegang. Marvel sedang duduk di meja paling belakang dengan kaki diangkat ke atas meja, memasang wajah acuh tak acuh, sementara beberapa temannya tertawa kecil melihat layar ponsel.
Rian berjalan lurus ke arah meja tengah.
Meja tempat ketua kelas dan beberapa anak yang dikenal sebagai admin grup angkatan berada.
BARRRR!
Rian menggebrak meja kayu itu dengan kedua tangannya begitu keras hingga botol minum di atasnya terjatuh dan menggelinding di lantai. Suara gebrakan itu menggema, membuat beberapa siswi di barisan depan terpekik kaget.
"Gue nanya sekali lagi," Rian setengah membungkuk, menatap tajam anak-anak di depannya satu per satu dengan napas yang memburu panas. "Siapa yang pertama kali sebar foto itu dan bikin narasi sampah soal Ziva? Maju sekarang sebelum gue cari sendiri dan bikin lo semua gak bisa ikut ujian semester!"
Di ambang pintu, Ziva hanya berdiri diam, melipat kedua tangannya di dada. Sudut bibirnya terangkat tipis, sangat tipis hingga tak ada yang sadar.
Rian yang dulu, Rian si budak cinta yang selalu mengalah demi kedamaian Keysha, hari ini resmi mati. Dan Rian yang sekarang sedang mengamuk demi dirinya.
Di pojok kelas, Marvel perlahan menurunkan kakinya dari atas meja. Matanya menatap Rian dengan kilatan benci yang kentara.
Tensi di dalam ruangan itu mendadak naik ke titik didih, siap meledak kapan saja.
......................
...****************...
Tbc,