Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.
Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.
akankah Bella menemukan sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Tak kehabisan akal, Gilang memanfaatkan karung-karung yang menumpuk di sekitar gang. Ia menarik dan melebarkannya hingga isinya terhambur keluar. Ampas kayu di dalamnya membumbung tinggi, meretas udara dan membatasi jarak pandang para samurai.
Saat para samurai kembali mengayunkan senjata secara membabi buta, Gilang membalas dengan tinjuan mentah yang mendarat telak di wajah musuh. Tak hanya itu, dengan gerakan kilat Gilang bahkan berhasil merebut salah satu katana dari genggaman seorang samurai. Sungguh lihai dan tak terduga!
Gilang terus menghindari serangan bertubi-tubi. Ia menggunakan benda-benda di sekitarnya,termasuk membalikkan tong-tong sampah untuk menahan gempuran.
Namun, pertahanan Gilang akhirnya tembus juga. Sabetan katana menyambar tepat di perutnya,darah mengalir seperti air terjun,disusul pengeroyokan brutal yang membuatnya tersungkur.
Gilang terpaksa meringkuk di atas tanah, menahan gelombang tendangan dan pijakan kaki-kaki perkasa yang menginjak tubuhnya tanpa ampun. Rasa sakit yang membakar menjalar ke seluruh tubuhnya.
Selang beberapa saat, aksi anarkis itu mendadak terhenti oleh seruan tegas patroli Polisi Jepang yang kebetulan melintas.
“Hey, kalian! Ada apa ini?!” teriak polisi itu sambil mengarahkan kilatan lampu senter. Ia mengenakan setelan seragam polisi khas Jepang berwarna hitam legam.
Pertarungan seketika terhenti. Para samurai serentak menoleh ke arah sumber suara.
Gilang perlahan-lahan bangkit berdiri. “Dengarlah… Aku Gilang Fahrezi dari Griya Harta Emas. Preman-preman ini menyerang tanpa alasan jelas. Pak, tolong…” ucap Gilang lirih. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding batu sambil memegangi perutnya yang berdarah dan menunjuk ke arah pengeroyoknya.
Namun, pemimpin samurai itu justru membungkuk sopan pada polisi. “Kami hanya sedang memberi pelajaran pada orang Nusantara yang bebal ini. Jangan cemas, lanjutkan saja perjalanan Anda, Pak.”
“Coba lihat, Pak! Mereka semua membawa pedang! Jika begini, nyawaku bisa melayang, Pak!” bantah Gilang memprotes keras.
Sayangnya, polisi itu tak peduli sama sekali dan memilih berbalik arah. “Jangan membuat masalah lagi. Jangan berlebihan,” ucapnya dingin seraya melangkah pergi.
Para samurai membungkukkan badan kembali dengan patuh. “Iya, Pak.”
“Polisi! Polisi!!” teriak Gilang gusar, namun seruannya hanya berlalu bersama angin malam.
Pemimpin samurai menyeringai puas menatap kepergian aparat tersebut. Ia membalikkan badan, memandangi Gilang dengan raut petantang-petenteng. “Kau lihat itu? Inilah Nusantara tempatmu tinggal. Kau hanya sampah tak berguna yang kebetulan punya banyak uang,” ejeknya pedas.
Samurai itu menyeletukkan bilah katananya ke bahu Gilang, lalu mengetuk-ngetuknya perlahan. “Kau… orang Nusantara yang kotor. Menye… dih… kan,” bisiknya pelan bernada jijik. “Sampah.”
Darah Gilang mendidih seketika. Amarahnya sudah mencapai puncak,bukan hanya karena polisi membela penjahat, tetapi karena harga dirinya terus diinjak-injak. Dikatakan sebagai sampah yang hanya mengandalkan uang sungguh memicu muak yang tak tertahankan.
Bugh!!
Tanpa cemas pada tajamnya katana, tangan Gilang mencekeram bilah pedang di bahunya. Tubuhnya berputar secepat kilat, merelakan luka di tangan demi melepaskan tendangan melingkar yang menghantam keras wajah sang pemimpin samurai. Pria itu mencelat dan tersungkur pingsan seketika!
“Bos!!” teriak para bawahan panik, berhamburan menghampiri pemimpin mereka yang tak berkutik.
Gilang melemparkan katana di tangannya ke tanah. Dengan wajah penuh luka dan darah yang menetes dari sela-sela bibirnya, ia menatap sisa anak buah samurai itu dengan tatapan yang sangat tajam dan membunuh.
“Kau benar, inilah Nusantara tempatku tinggal. Jadi berhenti main-main! Lagipula… aku sudah mulai kesal,” desis Gilang dingin.
Tanpa memedulikan pengeroyok lainnya yang terpaku ketakutan, Gilang membalikkan badan dan berjalan pincang keluar dari gang.
Dari dalam Jeep hitam, Yori dan rekannya terbelalak melihat Gilang berjalan kembali menuju area restoran. Yori sangat terkejut menyaksikan sekujur tubuh Gilang bersimbah darah.
Pria senior di samping Yori terkekeh pelan seraya menikmati sisa martabaknya. “Lihat… Orang Nusantara yang tangguh,” pujinya terkagum-kagum. “Dia benar-benar orang yang tangguh!”
Sementara itu di lantai atas restoran, Salsa sudah selesai bertemu dengan Sachimoto. Ia sempat heran mengapa Gilang tak kunjung naik ke atas.
Namun, ketika Gilang akhirnya berhasil melangkah masuk ke ruangan lantai atas, pertemuan itu rupanya telah usai. Gilang menyibak tirai ruangan dengan napas memburu, tetapi yang ia dapati hanyalah meja kosong. Sachimoto dan Salsa sudah pergi meninggalkan tempat itu. Ini semua gara-gara pengacau bersamurai itu!
Gilang mengepalkan tangannya gusar,gara-gara mereka, ia kehilangan kesempatan emas untuk bertemu Sachimoto,orang penting yang sangat dicari-cari oleh Bella.
*****
Di tempat lain, Bella mengecek arlojinya yang menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit malam. Ia lalu menutup arloji tersebut dan menghampiri ayahnya dengan raut wajah penuh kecemasan.
“Tidak bisa begini, Ayah. Malam akan berlalu dan kita kehilangan waktu yang sangat berharga,” ujar Bella gelisah. Ia akhirnya memutuskan untuk keluar menyisir area Rumah Sakit Jayakarta dan melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi, berawal dari ruang alat kebersihan tempat mereka bersembunyi.
Ayah Bella hanya bisa pasrah dan mengiyakan kemauan putrinya. Mereka keluar ruangan perlahan, memanjat tangga besi yang menempel pada dinding hingga sampai di area atap. Sambil merunduk dan mengendap-endap, mereka berlari menyusuri atap agar tidak memancing kecurigaan penjaga.
Di atas sana, tampak cerobong saluran udara gedung. Mereka mendekati salah satunya, lalu sang ayah membantu membukakan penutup cerobong tersebut.
Saat Bella bersiap melompat masuk, sang ayah menahan lengannya pelan. “Bella, jika situasinya berbahaya, jangan ragu untuk langsung kabur. Kau mengerti?” nasihat ayahnya.
“Aku pasti kembali,” janji Bella mantap sebelum akhirnya menyusup masuk ke dalam lorong cerobong yang gelap gulita.
Hanya Bella yang masuk menerobos saluran udara, sementara ayahnya tetap berjaga di luar. Sang ayah mengawasi situasi sekitar dengan waspada, lalu memasang kembali penutup cerobong dengan hati-hati.
Bella melompat mendarat di dalam saluran udara. Dengan pandangan tajam, ia memindai lorong gelap di hadapannya. Ia merayap dan berjalan membungkuk secara perlahan, sesekali bertumpu pada dinding besi saluran.
Bella sedikit menunduk ketika melintasi sebuah celah ventilasi, lalu kembali berjalan lurus. Setibanya di persimpangan saluran, ia mengambil arah kanan. Bella merayap mendekati lubang ventilasi berikutnya dan mengintip ke bawah.
Di balik kisi-kisi ventilasi itu, tampak gerombolan tentara sedang mengawal barisan tahanan. Para tahanan tersebut dipaksa mengenakan penutup kepala dari anyaman jerami berbentuk kerucut.
Salah seorang tahanan pria sempat membuka penutup kepalanya, mengedarkan pandangan dengan raut bingung menyapu sekeliling sel tahanan. Berada di manakah mereka sebenarnya? Dan hendak dibawa ke mana mereka semua?
“Ayo cepat! Cepat jalan!!” gertak seorang tentara membentak keras saat melihat langkah pria itu terhenti.
Dengan panik, tahanan itu segera memasangnya kembali penutup jeraminya dan terus berjalan patuh.