Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Fajar Baru dan Roda Takdir
Kehancuran Grandmaster Gu Feng dan terbongkarnya konspirasi Ordo Mata Dantian di Alun-Alun Utama Luoyang mengubah wajah dunia Murim selamanya.
Dalam kurun waktu kurang dari sebulan, tatanan lama yang dipenuhi oleh monopoli klan-klan elit dan kebohongan para tetua suci runtuh total. Petinggi Aliansi Ortodoks dan Kultus Iblis yang tersisa terpaksa melangkah mundur, membersihkan faksi mereka masing-masing dari sisa-sisa pengikut Gu Feng.
Di tengah kekosongan kekuasaan tersebut, hanya ada satu nama yang berdiri kokoh dan dihormati oleh seluruh benua: Ordo Roda Bintang.
Dua bulan kemudian. Kota Luoyang telah berubah total.
Pasar-pasar tidak lagi dikuasai oleh kartel pemeras. Para pendekar, pedagang kecil, hingga masyarakat awam bisa membeli obat-obatan racikan berkualitas tinggi dan zirah pelindung efisien dengan harga yang adil di Serikat Dagang Roda Bintang.
Di puncak bukit tertinggi yang menghadap langsung ke arah Sungai Luoyang, sebuah markas rahasia sekaligus akademi sains-murni berdiri megah. Bangunan itu dinamai Institut Roda Bintang.
Di dalam laboratorium pusat bawah tanah institut tersebut, bola Inti Reaktor CORE SOVEREIGN melayang stabil di dalam tabung isolasi kaca raksasa. Cahaya biru keemasan memancar tenang, menyalurkan energi listrik dan daya konduksi bersih yang menerangi seluruh kompleks bangunan tanpa perlu menggunakan lilin atau minyak lagi.
Tang Jin-Bao—yang kini menjabat sebagai Pengawas Utama Logistik dan Keuangan Seluruh Benua—sedang memeriksa tumpukan berkas neraca perdagangan bersama puluhan asistennya.
"Bos!" seru Jin-Bao girang saat melihat Cheon Ryeon melangkah masuk ke dalam laboratorium. "Laporan dari lima puluh cabang Serikat Dagang kita di Central Plains dan Pegunungan Shiwan sudah masuk! Pendapatan kita bulan ini tembus seratus ribu koin emas murni!"
Gong Son-mi, yang kini memimpin Garda Pasukan Komposit, melangkah mendampingi Ryeon sambil membawa palu besinya yang telah dimodifikasi total.
"Dua ratus murid baru dari faksi Ortodoks dan Kultus Iblis sudah resmi bergabung minggu ini, Ryeon," tambah Son-mi dengan senyum bangga. "Semuanya sudah dilatih biomekanika tumpuan beban dan prinsip dasar sains."
Baek Hyun, kepala divisi intelijen bayangan, meluncur turun dari kisi-kisi atap tanpa suara. "Ancam-ancaman dari sisa faksi Unortodoks di perbatasan selatan juga sudah dibersihkan total oleh tim bayangan."
Ryeon menyunggingkan senyum tipis, mengangguk bangga menatap ketiga rekan seperjuangannya yang telah mendampinginya sejak dari Asrama Bangsal Bawah di Akademi Kultus.
"Kalian bekerja sangat baik," puji Ryeon tulus.
Sore harinya, di balkon paling atas Institut Roda Bintang.
Angin sore yang sejuk berembus pelan, menyapu dedaunan emas yang berguguran di atas Kota Luoyang. Cahaya matahari terbenam membiaskan warna merah keemasan di atas permukaan Sungai Luoyang yang tenang.
Cheon Ryeon berdiri menyandarkan tangannya di pagar kayu balkon. Ia mengenakan jubah hitam kebesarannya yang bersulam benang perak jernih berlambang Roda Bintang.
Dari balik pintu balkon, suara langkah kaki yang sangat halus dan anggun terdengar mendekat.
Jaegal So-yeon melangkah keluar, menyebarkan aroma wangi Bunga Sutra yang lembut. Ia mengenakan gaun sutra perak yang indah, membawa dua cangkir teh hangat di tangannya. Kipas sutranya tersandar rapi di pinggangnya.
So-yeon menyodorkan satu cangkir teh kepada Ryeon, lalu berdiri di sisinya, menatap hamparan pemandangan Luoyang yang membentang luas.
"Seluruh benua Murim sekarang menyebutmu sebagai Penguasa Tanpa Takhta, Cheon Ryeon," bisik So-yeon dengan suara jernih dan senyum paling indah di bibirnya.
Ryeon menyeruput tehnya pelan, menatap lurus ke garis horison. "Aku tidak pernah tertarik dengan takhta atau gelar Penguasa. Yang kubangun cuma tatanan yang logis, adil, dan efisien."
So-yeon tertawa halus, suara tawa yang sangat jernih bagaikan denting lonceng angin.
"Dan justru karena itulah semua orang bersedia mengikutimu," sahut So-yeon, merapatkan mantelnya saat angin sore bertiup agak kencang. "Kombinasi antara kejeniusan sains milikmu dan jaringan taktik milik Keluarga Jaegal... kita beneran mengubah dunia ini, Ryeon."
Ryeon berpaling, menatap mata indah Jaegal So-yeon yang memantulkan binar cahaya matahari terbenam.
"Aliansi kita belum berakhir, So-yeon," kata Ryeon pelan namun mantap. "Masih banyak rahasia sains kuno dan wilayah baru di luar benua ini yang belum kita jelajahi."
So-yeon tersenyum manis, mengulurkan jarinya dan menggenggam jemari Ryeon dengan erat di atas pagar balkon.
"Aku bakal selalu ada di sisimu buat menyusun papan caturnya, Cheon Ryeon," bisik So-yeon hangat.
Di bawah naungan langit sore Central Plains, roda takdir tidak lagi sekadar berputar... tapi kini telah bergerak sempurna memandu peradaban baru di bawah kepemimpinan Sang Jenderal Sains dan Ordo Roda Bintang.
TAMAT