Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 — Jalan Menuju Pegunungan Aschen
Perjalanan menuju Pegunungan Aschen membawa tim kecil itu melewati medan yang semakin sulit setiap harinya, dari padang rumput yang perlahan berubah menjadi bukit-bukit berbatu, hingga akhirnya jalan setapak sempit yang berkelok di antara tebing-tebing curam.
Pada hari ketiga perjalanan, mereka berhenti untuk beristirahat di sebuah gua kecil yang cukup terlindung dari angin dingin pegunungan yang mulai terasa menusuk meski masih di kaki gunung.
"Ceritakan lebih banyak tentang Lyanna," Kael meminta kepada Theron saat mereka duduk mengelilingi api unggun kecil, mencoba mengalihkan pikiran dari ketegangan perjalanan.
Theron tersenyum tipis, ekspresi langka yang jarang terlihat sejak pertama kali Kael mengenalnya di arena turnamen.
"Dia lebih muda tiga tahun dariku. Sangat pintar, mungkin lebih pintar dariku dalam banyak hal, meski bakat kultivasinya tidak sekuat milikku. Dia selalu bermimpi menjadi ahli alkimia, mengikuti jejak orang tua kami yang meninggal ketika kami masih kecil."
"Kalian hanya berdua?" Aria bertanya, ikut tertarik dengan cerita itu.
"Hanya berdua," Theron mengangguk.
"Aku membesarkannya sejak usia lima belas tahun, bekerja sebagai kultivator bayaran untuk membiayai pendidikannya di Arkhaven. Ketika mereka menculiknya tiga bulan lalu, itu seperti dunia kami runtuh seketika."
Seraphina, yang duduk agak terpisah dari kelompok seperti biasa, ikut bergabung dalam percakapan dengan suara lembut.
"Aku mengerti rasa kehilangan yang kau alami, Theron. Meski dalam bentuk yang berbeda, aku juga pernah kehilangan orang-orang yang kusayangi karena ambisi Dravos."
Theron menatapnya dengan rasa hormat yang tulus. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup dengan beban itu selama seribu tahun."
"Rasanya seperti luka yang tidak pernah benar-benar sembuh," Seraphina mengakui, "sampai kau datang bersama Kael dan memberiku kesempatan untuk akhirnya melakukan sesuatu tentang hal itu, bukan hanya menyimpan dendam dalam kesunyian."
Percakapan itu menciptakan ikatan yang lebih dalam di antara mereka, mengubah tim yang awalnya hanya berkumpul karena kebutuhan strategis menjadi kelompok yang benar-benar saling peduli satu sama lain.
Keesokan harinya, medan menjadi semakin berbahaya.
Jalan setapak yang mereka lalui sering kali hanya selebar satu orang, dengan jurang dalam di satu sisi dan tebing curam di sisi lain.
Tetua Falken dan Miriel, dengan pengalaman mereka yang luas, memimpin di depan untuk memastikan jalan yang mereka lalui aman dari jebakan alami maupun buatan.
"Berhenti," Tetua Falken tiba-tiba berkata, mengangkat tangannya untuk memberi sinyal kepada seluruh kelompok.
"Aku merasakan sesuatu di depan."
Semua orang segera waspada, senjata siap di tangan masing-masing.
Dari balik tikungan jalan setapak, muncul sekelompok makhluk berbulu putih dengan mata biru menyala—Snow Wolf, predator asli pegunungan yang dikenal berburu dalam kawanan besar.
[Snow Wolf Pack — Monster Tingkat Menengah.]
[Jumlah terdeteksi: 8.]
"Delapan ekor," Aria menghitung cepat, mempersiapkan pedangnya. "Cukup berbahaya jika mereka menyerang bersamaan."
"Aku akan menangani ini," Kael berkata, melangkah maju dengan percaya diri yang telah terbukti melalui berbagai pertarungan sebelumnya.
"Kalian jaga formasi di belakang, siap membantu jika diperlukan."
Kawanan serigala itu menyerang dengan koordinasi yang mengejutkan, mengelilingi Kael dari berbagai sisi sekaligus.
Namun berkat pengalaman panjangnya menghadapi Dire Wolf di Death Forest, Kael sudah familiar dengan pola serangan predator berkelompok semacam ini.
[Adaptation terhadap Snow Wolf: 15%.]
Dia bergerak dengan efisien, menggunakan Tebasan Seribu Prajurit untuk menangani beberapa serangan sekaligus, sementara Seraphina dan Aria membantu menangani serigala-serigala yang mencoba menyerang dari sisi yang tidak terlindungi.
Pertarungan itu berakhir dengan cepat, jauh lebih cepat dari yang mungkin terjadi beberapa bulan lalu ketika Kael baru memulai perjalanannya. Seluruh kawanan berhasil diatasi tanpa cedera serius pada anggota tim.
"Kau benar-benar sudah berkembang jauh," Theron berkomentar dengan kagum, mengingat kembali pertarungan mereka di turnamen beberapa minggu lalu.
"Pengalaman adalah guru terbaik," Kael menjawab dengan senyum, membersihkan pedangnya dari sisa pertarungan.
Mereka melanjutkan perjalanan, dan pada hari kelima, medan mulai menunjukkan tanda-tanda kehadiran manusia—jejak kaki yang tidak alami, sisa-sisa perkemahan yang ditinggalkan dengan tergesa-gesa, dan sesekali reruntuhan menara pengawas kecil yang tampak sudah lama ditinggalkan namun masih menyimpan jejak penggunaan yang lebih baru.
"Kita semakin dekat," Tetua Miriel berkata, memeriksa salah satu reruntuhan menara dengan seksama. "Berdasarkan peta dan informasi dari Tetua Elena, benteng seharusnya berada tidak lebih dari tiga hari perjalanan lagi dari sini."
Malam itu, ketika mereka mendirikan perkemahan di tempat yang cukup terlindung, Seraphina mendekati Kael yang sedang duduk sendirian mengamati bintang-bintang yang tampak lebih terang di ketinggian pegunungan ini.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya, duduk di sebelahnya.
"Aku baik-baik saja," Kael menjawab, meski nada suaranya menunjukkan sedikit kegelisahan yang tidak biasa.
"Hanya memikirkan apa yang menunggu kita di depan. Rasanya seperti kita semakin dekat dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar menyelamatkan satu orang."
"Kau benar," Seraphina mengakui, menatap ke arah yang sama dengan Kael, ke arah puncak-puncak gunung yang menjulang gelap di kejauhan.
"Aku merasakan sesuatu di udara sejak kita memasuki wilayah ini. Sesuatu yang familiar, dan tidak menyenangkan."
"Dravos?"
"Mungkin. Atau mungkin sesuatu yang berhubungan dengannya," Seraphina menjawab, kekhawatiran jelas terdengar dalam suaranya.
"Apa pun itu, kita harus tetap waspada mulai sekarang."
Kael mengangguk, merasakan berat tanggung jawab yang semakin nyata seiring mereka mendekati tujuan akhir perjalanan ini—sebuah konfrontasi yang mungkin akan menentukan lebih dari sekadar nasib satu keluarga, tetapi mungkin juga arah masa depan Elyndra itu sendiri.
---
Pada hari kedelapan perjalanan, tim kecil itu akhirnya mencapai titik pengamatan yang memberikan pandangan langsung ke arah benteng yang menjadi tujuan mereka.
Benteng itu berdiri megah namun suram di tengah lembah tersembunyi, dikelilingi tebing curam di semua sisi kecuali satu jalan sempit yang menjadi satu-satunya akses masuk yang terlihat.
Dindingnya terbuat dari batu hitam yang tampak menyerap cahaya di sekitarnya, dan menara-menara pengawas berdiri di setiap sudut dengan penjaga yang terlihat jelas berpatroli bahkan dari jarak jauh.
"Pertahanan yang kuat," Tetua Falken berkomentar, mengamati benteng itu melalui teropong sihir yang memungkinkannya melihat detail dari jarak jauh.
"Aku menghitung setidaknya lima belas penjaga yang terlihat di permukaan, dengan kemungkinan lebih banyak lagi tersembunyi di dalam."
"Bagaimana dengan pertahanan sihir?" Aria bertanya, mengingat pentingnya aspek ini dalam perencanaan infiltrasi apa pun.
Tetua Miriel, yang mengkhususkan diri dalam deteksi sihir, memejamkan mata sejenak untuk merasakan medan energi di sekitar benteng.
"Ada lapisan pelindung di sekeliling dinding luar, cukup kuat untuk mencegah teleportasi langsung ke dalam. Tapi aku tidak merasakan sistem alarm yang terlalu canggih—sepertinya mereka lebih mengandalkan kekuatan penjaga fisik daripada sihir defensif yang rumit."
"Itu kabar baik," Theron berkata, meski wajahnya tetap tegang memikirkan adiknya yang mungkin berada di dalam tembok gelap itu.
"Berarti infiltrasi diam-diam masih mungkin dilakukan."
Mereka menghabiskan sisa hari itu untuk mengamati pola patroli penjaga, mencatat waktu pergantian shift, dan mengidentifikasi titik-titik lemah dalam sistem keamanan benteng.
Kael, dengan indranya yang telah terlatih tajam, memperhatikan sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Lihat itu," katanya, menunjuk ke arah sisi timur benteng yang tampak kurang terjaga dibanding sisi lainnya.
"Sepertinya ada saluran air atau semacam terowongan drainase di sana."
Tetua Falken mengarahkan teropongnya ke arah yang ditunjuk Kael, dan setelah beberapa saat mengamati, dia mengangguk setuju. "Kau benar. Itu kemungkinan besar sistem drainase kuno benteng ini, mungkin dibangun jauh sebelum Dravos mengambil alih tempat ini. Jika kita bisa menemukan jalan masuk melalui sana, kita bisa menghindari sebagian besar penjagaan di gerbang utama."
Rencana mulai terbentuk sepanjang malam itu.
Tim akan dibagi menjadi dua kelompok: kelompok pertama, terdiri dari Kael, Theron, dan Seraphina, akan menyusup melalui sistem drainase untuk mencari dan menyelamatkan Lyanna secara langsung.
Kelompok kedua, dipimpin oleh Tetua Falken dengan Aria dan Tetua Miriel, akan menciptakan gangguan di sisi lain benteng untuk mengalihkan perhatian penjaga.
"Waktu adalah segalanya dalam rencana ini," Tetua Falken menjelaskan sambil menggambar diagram sederhana di atas tanah menggunakan ranting.
"Begitu gangguan dimulai, kalian punya waktu terbatas sebelum penjaga menyadari bahwa itu hanya taktik pengalihan dan kembali memperkuat penjagaan internal."
"Berapa lama perkiraan waktu yang kita punya?" Kael bertanya.
"Paling banyak satu jam," Tetua Miriel menjawab.
"Mungkin kurang, tergantung seberapa cepat mereka menyadari pola serangan kami."
Malam itu, sebelum mereka mulai bergerak menuju posisi masing-masing untuk memulai operasi keesokan paginya, Seraphina menemukan momen untuk berbicara secara pribadi dengan Kael.
"Aku ingin kau berjanji sesuatu," katanya dengan nada serius yang jarang dia gunakan.
"Apa itu?"
"Jika situasi menjadi terlalu berbahaya, terutama jika Dravos sendiri muncul, jangan mencoba menjadi pahlawan sendirian," Seraphina berkata, matanya menatap langsung ke mata Kael dengan kesungguhan yang mendalam.
"Kekuatannya jauh melampaui apa pun yang pernah kau hadapi sebelumnya. Bahkan aku, dalam kondisi terbaikku sekalipun, akan kesulitan menghadapinya sendirian."
"Aku janji akan berhati-hati," Kael menjawab, meski dia tahu janji semacam itu sulit untuk benar-benar ditepati jika situasi memang menjadi genting.
"Itu tidak cukup, Kael," Seraphina mendesak, suaranya bergetar dengan kekhawatiran yang tulus.
"Aku sudah kehilangan terlalu banyak karena Dravos. Aku tidak bisa kehilangan..." dia berhenti sejenak, seolah menahan diri dari mengucapkan sesuatu yang lebih dalam dari yang dia maksudkan.
"Kehilangan apa?" Kael bertanya lembut, merasakan sesuatu yang penting sedang coba disampaikan Seraphina.
Seraphina menatapnya lama, matanya berkaca-kaca dengan emosi yang telah lama dia coba sembunyikan. "Kehilangan seseorang yang telah menjadi begitu berharga bagiku, dengan cara yang bahkan aku sendiri masih mencoba memahaminya sepenuhnya."
Kael terdiam sejenak, merasakan berat dan kehangatan dari kata-kata itu secara bersamaan. "Aku juga tidak ingin kehilangan siapa pun yang berharga bagiku, Seraphina. Termasuk kau."
Mereka berdiri dalam keheningan yang penuh makna, cahaya bulan menyinari wajah mereka berdua, menciptakan momen yang terasa jauh lebih besar dari sekadar percakapan biasa sebelum misi berbahaya.
"Besok," Seraphina akhirnya berkata, suaranya kembali stabil meski kehangatan masih tersisa di matanya, "kita akan menyelamatkan Lyanna, dan kita akan melakukannya bersama, dengan aman."
"Bersama," Kael mengulang, menggenggam tangannya sejenak sebelum mereka berpisah untuk beristirahat menjelang operasi yang akan dimulai saat fajar.
Di kejauhan, tersembunyi dengan sempurna dalam kegelapan malam pegunungan, benteng Dravos berdiri diam, tidak menyadari bahwa fajar esok hari akan membawa tantangan yang akan mengguncang fondasi rencana yang telah disusun dengan hati-hati selama seribu tahun.