Rakanza Elson adalah mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Dingin, tak tersentuh, dan bos terkuat organisasi Teratai Hitam. Namun di balik kekuasaan dan ketampanannya, Rakanza menyimpan dua rahasia. Mysophobia parah dan ketakutan akan sentuhan yang membuatnya menganggap pernikahan sebagai sebuah kutukan.
Hingga suatu malam di Meksiko, sebuah misi membawanya pada Annabella. Gadis misterius yang terkurung di laboratorium eksperimen ilegal. Dipenuhi rasa jijik pada tempat yang kotor dan terkontaminasi, Rakanza seharusnya membiarkan gadis itu tewas. Namun, karena tuntutan orang tuanya untuk segera menikah, Rakanza terpaksa menikahi gadis itu. Namun tak sangka, setelah wajah istrinya disembuhkan, ternyata istrinya mirip dengan adik iparnya.
Di sisi lain, Rafandra, adik Rakanza merasa telah menemukan cinta sejati saat berhasil melamar Luviana Winston. Namun, dibalik senyum manis Luviana sang pianis terkenal, ada kebohongan besar yang siap menghancurkan segalanya. Luviana yang dicintainya ternyata menyimpan agenda balas dendam yang mematikan.
Siapa sebenarnya Annabella? Dan apa hubungannya dengan keluarga Winston?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencintaiku?
"Ada apa?" tanyanya lagi.
"Mau tidur bareng?"
Luviana buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Bukan..." cicitnya pelan. Matanya melirik gelisah. "A-Aku cuma mau minta ponsel baru."
Rakanza menatapnya sebentar, ada rasa kecewa samar yang hinggap di dadanya. Namun ia berusaha menutupi raut wajahnya. "Ponsel baru? Untuk apa?"
"Cuma mau punya saja," sahut Luviana jujur.
"Siapa tahu... aku bisa pakai untuk minta bantuan kalau nanti aku dalam bahaya. Tapi kalau kamu tidak mau... ya tidak apa-apa."
Belum sempat Rakanza merespons, dari balik pintu yang masih terbuka sedikit, dua kepala mungil tiba-tiba menyembul. Lily dan Elio rupanya sedang berdiri di sana sejak tadi.
"Uncle Laka pelit sekali sama Aunty!" celetuk Lily polos sambil melipat kedua tangannya di dada. "Kalau Aunty minta sama Ayah Lily, pasti langsung dikasih sepuluh Aipon telbalu! Ndak pellu mikil-mikil dulu."
Rakanza mengerutkan dahinya, agak kesal.
"Hei, siapa yang pelit?" gumamnya tak terima.
Elio hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan pamannya yang baru mau bergerak setelah nama ayahnya disinggung.
Rakanza mendengkus, lalu mengeluarkan ponselnya dari belakang punggung dan menakan nomor Gavin.
"Gavin," kata Rakanza begitu sambungan terhubung.
"Siapkan ponsel terbaru. Lengkapi dengan kartu dan nomor baru, lalu antar ke kamar saya besok."
Mendengar perintah itu, senyum Luviana merekah indah di balik cadarnya, terlihat jelas dari binar matanya yang berbinar lega. Lily pun ikut tersenyum puas karena berhasil memprovokasi pamannya.
"Terima kasih, Tuan Raka," ujar Luviana membungkuk sedikit. "Kalau begitu, aku izin ke kamar sebelah dulu bersama..."
"Tunggu," potong Rakanza cepat.
Luviana berhenti dan menoleh bingung.
Rakanza menatap Lily dan Elio, lalu beralih menatap Luviana dengan tegas namun lekat. "Tidak ada yang ke kamar sebelah. Malam ini kalian semua tidur di kamar ini."
Luviana ternganga di tempatnya, matanya membulat sempurna di balik cadar karena kaget bukan main.
"T-Tapi... tidak bisa begitu, Tuan," tolak Luviana terbata-bata.
Dalam hatinya, ia merasa heran. Bukankah Rakanza selalu menjaganya di jarak aman? Mengapa pria ini mendadak menyuruhnya tidur di kamar yang sama?
"Kenapa tidak bisa?" tanya Rakanza dingin.
"Ranjang Tuan... nanti bisa kotor kalau kami tidur di sini," cicit Luviana, menunduk melihat piyamanya.
"Lagipula, aku bisa tidur di kamar sebelah."
"Tidur di sini," tekan Rakanza tak mau dibantah. "Di rumah ini ada Annabella. Kamu tahu sendiri betapa nekatnya wanita itu. Aku tidak mau mengambil risiko."
Luviana tertegun. Binar matanya menatap Rakanza lekat-lekat, mencoba mencari kejujuran di balik raut wajah pria itu. "Apa... Tuan khawatir padaku?"
Rakanza tersentak. Ia sempat kehilangan kata-kata, sebelum akhirnya buru-buru membuang muka ke arah lain untuk menyembunyikan wajahnya yang mendadak tegang.
"Jangan kege'eran. Aku khawatir pada Lily dan Elio. Lagipula, di surat perjanjian kita, aku tidak pernah menulis bahwa kita harus pisah kamar," elaknya.
Lily dan Elio yang mendengarnya langsung saling pandang. Tanpa buang waktu, kedua anak kecil itu berlari kegirangan menaiki ranjang dan menyusup ke balik selimut tebal. Mereka bergerak cepat sebelum paman mereka berubah pikiran.
Luviana menepuk jidatnya pelan. Ia belum sempat bicara, tapi dua anak itu sudah bertindak sendiri.
Pasrah, Luviana menunjuk sofa panjang di sudut kamar.
"Kalau begitu, aku tidur di sofa ini."
"Tidur di ranjang," potong Rakanza cepat.
"Biar aku yang di sofa. Dan... lepaskan cadarmu itu. Tidak ada orang lain yang akan melihat wajahmu."
Luviana menggeleng pelan, memegang erat kain hitam yang menutupi wajahnya. "Tidak mau... Tuan pasti nanti jijik melihatku."
Mendengar kata 'jijik' keluar dari bibir Luviana, tangan pria itu mengepal kuat di samping tubuhnya, menahan rasa sesak yang menghantam dadanya. Tanpa bicara lagi, Rakanza berjalan menuju sofa dan membaringkan tubuhnya. Tubuhnya yang menjulang tinggi hingga 190 tampak jelas terlalu besar untuk sofa tersebut, membuat kakinya terpaksa menggantung, namun Rakanza tetap memaksakan diri memejamkan mata di sana.
Luviana mendesah pelan. Ia masuk ke kamar mandi sebentar untuk wudhu dan melaksanakan sholat isya, lalu setelah itu, ia berbaring di sebelah si kembar yang ternyata sudah tertidur lelap.
Di tengah keheningan kamar, Luviana memberanikan diri bersuara. "Tuan Raka..."
"Hmm?"
"Kalau nanti... hasil tes DNA itu sudah keluar, tolong beritahu aku," bisiknya pelan.
Rakanza tidak membalikkan badan, tetap memunggungi Luviana di atas sofa. "Apa yang akan kau lakukan jika hasilnya keluar?"
"Membongkar kejahatan Annabella," jawab Luviana mantap. "Dan kasih tahu semua orang kalau Luviana yang asli adalah aku. Termasuk Rafandra... dia harus tahu secepatnya sebelum Annabella menyakitinya."
Di atas sofa, kepalan tangan Rakanza semakin erat.
Bahkan saat ini pun... kamu masih memikirkan Rafa? Pria yang jelas-jelas membentakmu di dapur tadi?
Batin Rakanza dengan rasa sakit yang menjalar.
Namun Rakanza tidak menjawab sepatah kata pun. Ia memilih pura-pura tidur dan mengatur napasnya tetap stabil.
Melihat respons dingin itu, Luviana hanya bisa cemberut. Ia memeluk selimutnya rapat-rapat. Dalam hati, ia semakin yakin Rakanza amat membencinya.
Bahkan jika dia tahu aku Luviana yang asli nanti, dia pasti tetap akan menyuruhku pergi. Dari dulu... pria ini memang selalu membenciku.
Keesokan harinya.
Tok.
Tok.
Pintu kamar terketuk dua kali. Luviana yang selesai sholat Dhuha bergegas keluar. Mengira itu Rakanza, ternyata asisten Gavin. Entah kemana perginya Bos Mafia itu bersama kedua keponakannya sampai tidak terlihat di manapun.
"Nyonya Luviana, ini ponsel yang diminta Tuan Rakanza semalam," ujar Gavin sopan sambil menyerahkan kotak itu.
Mata Luviana berbinar bahagia. Ia menerima ponsel itu dengan kedua tangannya. "Wah... terima kasih banyak, Gavin! Maaf sudah merepotkanmu pagi-pagi begini."
Gavin tersenyum tipis, lalu mengibaskan tangannya. "Jangan berterima kasih pada saya, Nyonya Muda. Seharusnya Nyonya berterima kasih pada bos saya, Tuan Rakanza."
Luviana menggeleng kecil, raut wajahnya berubah agak ragu. "Aku tidak berani, Gavin. Tuan Raka pasti langsung pergi atau marah kalau aku ajak bicara. Dia itu sangat membenciku..."
Gavin tertegun, lalu menghela napas panjang. "Benci? Astaga, Nyonya! Justru Tuan Rakanza sangat mencintai Anda," ucap Gavin dan langsung saja menutup mulutnya yang baru saja keceplosan.
Deg.
Luviana seketika mendongak kaget, menatap Gavin dengan mata terbelalak di balik cadarnya.
"Raka... mencintaiku?" ulang Luviana, suaranya nyaris tak terdengar karena syok.
__
Mohon dukungannya supaya novel ini cepat teken kontrak ♥️ terima kasih ..
dasar anabella hantu gila astaga 😡😡😡
jangan lama ya thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻