NovelToon NovelToon
Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:18.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.

Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.

Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.

Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Ikut

#29

“Boleh, Pak. Atau Zam, sekalian kamu ikut Pak Darto ke—”

Belum sempat Dina menyelesaikan ucapannya, Pak Hermanto tiba-tiba muncul di gudang.

“Azam? Kok kamu ada di sini? Om, kan, nggak memintamu datang? Lagipula kamu masih meminta Om menunggu solusi darimu.” 

Deg!

Azam kembali kelimpungan. Kali ini, ia harus menjawab bagaimana, sebab ada Dina yang ikut mendengar pertanyaan itu.

“Azam ingin melihat kondisi perkebunan ini secara langsung, Om. Semalam Om sempat bertanya tentang tanaman yang cocok ditanam sambil menunggu pohon buah-buahan tumbuh besar. Jadi, sekalian saja Azam melihat langsung kondisi tanah dan sumber airnya,” jawab Azam sekenanya. 

Untungnya hal itu terdengar masuk akal, hingga Pak Hermanto mengangguk, menerima penjelasan itu tanpa curiga.

“Oh, begitu. Kalau begitu, ayo kita lihat bersama. Kebetulan sekali kamu kesini, Om,kan jadi bisa leluasa ngobrol dan menunjukkan langsung titik masalah yang ada di perkebunan ini.”

Azam menghembuskan napas lega, setidaknya, ia tak perlu mencari alasan tambahan.

Sebelum benar-benar pergi meninggalkan gudang, Azam kembali melirik ke arah Dina yang kembali sibuk melanjutkan pekerjaannya, diam-diam Azam tersenyum senang. 

Tak butuh waktu lama bagi Azam untuk memahami kondisi perkebunan tersebut. Ia memeriksa sumber airnya yang jernih, dan melimpah, belum lagi ada saluran irigasi yang masih berfungsi dengan baik, hingga bisa menyirami seluruh tanaman di kebun tanpa perlu melibatkan banyak tenaga manusia. 

Selain itu, Azam juga memperhatikan tekstur tanah, lalu menanyakan beberapa hal kepada Pak Darto mengenai tanaman yang sebelumnya tumbuh di lahan itu.

“Untuk sementara, Om bisa menanam tanaman sela yang masa panennya lebih singkat. Namun, jenisnya harus disesuaikan dengan kondisi tanah dan ketersediaan air,” jelas Azam. “Yang paling mudah, adalah menanam sayuran, Om. Karena panennya relatif lebih cepat, dan hasilnya juga melimpah. Seperti cabai, tomat, bawang, dan lain-lain.” 

Pak Hermanto mengangguk. “Aku suka idemu, Zam, memang benar, lahan seluas ini, sayang sekali jika dibiarkan kosong selama pohon buah-buahan belum menghasilkan.”

“Betul, Om. Nanti kita pilih tanaman yang tidak terlalu bersaing dengan pohon buah-buahan dalam mendapatkan air dan unsur hara.”

Azam menyampaikan beberapa alternatif lain lagi yang bisa dipertimbangkan. Pak Hermanto mencatatnya, sementara Pak Darto ikut memberikan masukan berdasarkan pengalamannya mengelola kebun.

Setelah mendapatkan gambaran yang cukup jelas, Pak Hermanto mengucapkan terima kasih kepada Azam.

“Kalau nanti sudah ditentukan tanaman yang akan ditanam, kabari saja, Om. Kita bisa membicarakan teknisnya lagi,” ujar Azam. “Kebetulan di perkebunan kami sekarang juga mulai memperjual belikan bibit tanaman. Nanti aku bawakan khusus untuk Om Hermanto. 

“Waduh, jangan begitu, Zam. Meskipun kita sama-sama bertani, tapi Om tak mau mendapat keuntungan dengan cara gratisan,” tolak Om Hermanto, teman adalah tan, dan bisnis tetap harus saling menguntungkan. 

“Gratisan? Tentu saja tidak, Om. Apa yang Dina lakukan untuk anakku, tak akan bisa kubalas dengan air mata darah sekalipun. Tolong jangan menolak, Om. Ini hanya bantuan kecil, karena bantuan Dina jauh lebih besar, melebihi apapun.” 

Pak Hermanto tersenyum haru, tak disangka hari ini ia mendapatkan rezeki luar biasa, padahal yang Dina melakukannya tanpa berharap imbalan jasa. 

Karena semua urusan sudah selesai, Azam pun pamit undur diri, walau belum puas ngobrol berdua dengan Dina. Tapi sementara ini saja sudah cukup. “Kalau begitu aku pamit pulang dulu, Om.” 

“Lho, kok, langsung pamit?”

“Iya, Om. Kan, Om juga tahu aku ayah tunggal, meskipun Ghazi aman bersama orang tuaku, tetap saja hatiku tak tenang,” jawab Azam realistis, perasaannya mengatakan agar ia cepat pulang. 

“Nggak, nggak. Kamu nggak boleh pulang sebelum makan, ayo, Om memaksa!” Pak Hermanto menarik lengan Azam. Namun, Azam benar-benar menolak, karena ia tak bisa lama-lama meninggalkan anaknya. 

Akhirnya Pak Hermanto tak bisa berbuat apa-apa lagi, padahal Azam jauh-jauh datang ke kebunnya. Sekarang pria itu pamit pulang tanpa makan siang. 

“Baik. Lain kali, datanglah lagi. Om masih perlu banyak belajar darimu.”

Azam tersenyum. “Insya Allah, Om.”

“Dina, Azam mau pamit, nih.” 

Dina yang terlalu sibuk dengan komputernya, langsung mengangkat wajah. “Lho, kok, buru-buru. Aku baru pesan makan siang, Mas, eh, Zam. Sebentar lagi sampai.” 

Sekarang Dina yang grogi karena ada Pak Hermanto yang mendengarnya memanggil Azam dengan sebutan Mas. 

“Iya, aku tak bisa meninggalkan Ghazi terlalu lama.” 

“Kalau begitu, mampir ke rumah dulu, sekalian bawa stok ASIP-nya Ghazi,” kata Dina. 

Azam menggaruk keningnya, sekeras apapun usahanya untuk menolak, tetap saja ia harus mendatangi rumah Dina. “Oh, baiklah.” 

“Pa, aku pulang sebentar, ya,” pamit Dina. “Sebentar lagi, nasi bungkusnya tiba, sudah aku bayar juga, kok.” 

•••

Dina telah selesai mengemas ASIP dalam cooler box yang aman, semoga tiba ke pemiliknya dengan selamat. 

“Nah, sudah semua. Mas juga hati-hati nyetirnya, semoga tiba dengan selamat,” kata Dina. 

Azam tersenyum haru, perasaannya menghangat saat menerima cooler box dari tangan Dina. 

“Padahal makan dulu, Zam, tante sudah selesai masak,” cetus Bu Rara menyesalkan keputusan Azam yang ingin buru-buru pulang. 

“Iya, Tante. Maaf banget, karena aku tak bisa lama.” 

Sebelum berpamitan, Azam kembali melirik Dina. Kali ini, wanita itu membalas lirikannya. Ketika pandangan mereka bertemu, Dina kebetulan tersenyum lembut ke arahnya. 

Senyum sederhana itu cukup membuat perjalanan pulang Azam terasa menyenangkan. Namun, belum lama ia meninggalkan perkebunan, ponselnya berdering. Nama Bunda Hilda muncul di layar.

“Assalamu'alaikum, Bund.”

“Wa'alaikumsalam, Zam. Kamu dimana, Nak?” tanya Bunda Hilda. 

“Aku sudah perjalanan pulang, Bund. Ada apa?” Mendadak Azam merasakan firasat tak enak. 

“Ghazi demam.”

Deg! 

Senyum di wajah Azam seketika menghilang, 

Ternyata benar firasatnya, pantas saja ia ingin langsung pulang tanpa makan siang terlebih dahulu. “Demam? Sejak kapan, Bund?”

“Baru terasa siang selesai Bunda sholat dzuhur barusan. Bunda sudah menghubungi dokter. Ayah juga sedang bersiap menemani kita membawanya untuk diperiksa.”

“Bunda dan Ayah tunggu di rumah, jangan panik, dan jangan buru-buru ke dokter. Kita lakukan pertolongan pertama dengan mengompres dulu kening Ghazi, nanti kalau Azam sampai di rumah, masih juga panas anaknya, baru kita bawa ke dokter.” 

“Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati di perjalanan, ya? Bunda jagain anakmu di rumah.” 

“Insya Allah, Bund. Assalamu'alaikum.” 

“Waalaikumsalam.”

Setelah panggilan berakhir, Azam menepikan mobil ia berpikir sejenak sambil menelungkupkan kepalanya di atas bundaran setir. Mumpung perjalanan belum jauh, ia tiba-tiba terpikirkan ibu ASI putranya, lalu memutuskan untuk menghubungi Dina. Sekedar mengabarkan keadaan Ghazi. 

Azam membuka ponselnya, lalu tanpa ragu menghubungi Dina. 

“Halo.” 

“Assalamu'alaikum, Din.” 

“Wa'alaikumsalam, Mas,” jawab Dina, masih kaku saat menyebut Azam dengan panggilan ‘mas'. “Sudah sampai mana?” Dina bertanya karena heran, Azam barusan pergi, tapi baru beberapa menit sudah meneleponnya. 

“Din, barusan Bunda telepon, Ghazi demam.” 

“Ya Allah, Ghazi kenapa, Mas?!” tanya Dina cemas, ia langsung panik dan khawatir, padahal Ghazi bukanlah anak kandungnya. 

“Belum tahu, Din. Aku sih bilang sama Bunda supaya Ghazi di kompres saja dulu sebagai pertolongan pertama. Kalau sampai aku tiba demamnya belum juga turun, barulah ka—”

“Mas, aku ikut, ya? Aku ingin melihat Ghazi, aku janji setelah dia sembuh, aku akan pulang sendiri. Kamu tak perlu mengantarku.” 

“Heh?! Tapi, Din, aku tak berm—”

“Please—” Suara Dina terdengar memelas, Azam bahkan mendengar suara getaran halus seperti tangis yang coba Dina tahan. 

•••

Di kebun, Pak Hermanto menerima telepon dari pengacara yang menangani sengketa saham dan gugatan harta gono-gini antara dirinya, Dina, dan keluarga Permana.

“Bagaimana perkembangan persidangannya, Pak?” tanya Hermanto.

“Perkara sudah masuk ke tahap awal persidangan, kami sedang mengikuti prosesnya dan menyiapkan dokumen yang diperlukan. Untuk sementara, Bapak dan Ibu Dina tidak perlu hadir karena agenda kali ini masih berkaitan dengan pemeriksaan berkas dan keterangan yang sudah diajukan,” jawab pengacara. 

Pak Hermanto mengangguk lega. “Baik. Saya percayakan prosesnya kepada Anda. Tolong kabari saya jika ada perkembangan penting atau jika kehadiran kami memang diperlukan.”

“Tentu, Pak. Kami akan terus mengawal setiap prosesnya sesuai prosedur dan memberi kabar setelah ada perkembangan resmi.”

Tak lama setelah itu, panggilan berakhir, Pak Hermanto memasukkan ponsel kembali ke saku celana. Ia tahu persoalan ini tidak akan selesai dalam semalam, tetapi setidaknya proses hukum sudah berjalan.

Untuk sekarang, ia memilih tidak mengganggu Dina dengan urusan tersebut. Putrinya sedang berusaha menata kembali hidupnya, dan Pak Hermanto ingin memberinya kesempatan untuk fokus pada hal-hal yang membuatnya bahagia.

1
Shee_👚
betul mental dina lebih penting dari apa pun
Shee_👚
ikatan batin orang tua kuat adanya
Shee_👚
inget zam kamu hanya melihat tanah bukan yang lain🤭
vania larasati
lanjut
dyah EkaPratiwi
ghazi kangen dina
Shee_👚
nah loh nah loh🤣🤣🤣
jawab zam ngapain datang🤭
Shee_👚
makanya zam bilang kalau mau di panggil mas😂
Shee_👚
aisha bener banget, urusan ehm ehm sekalian urusan tanah🤭
Shee_👚
alasan itu yah pada hal dia pengin ketemu dina🤣
Dokkan Battle
sedih juga 🥹
Sh
hati ku yang gelusah dan otakku yang ga bisa diam ingat panggilan mas yang membawa kakiku kemari..gitu lho calon ayah mertua
Dokkan Battle
bunuh
Patrick Khan
chat kyk arek enom ae🤣🤣🤣
moon: eeh, eh, eh... dilarang tuman 💃
total 3 replies
Nar Sih
pasti nih azam udah gugup di tanya ayah mu dina ,hahaha ...alasan pgn ketemu ibu susu gazi nih☺️
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
kali ini*
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
apa ini 76 nyempil mi?
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
udang*
Dew666
Wah wah pak dar ga pengertian sama azam kik kik kik
Dew666: Salah pak Hermanto bukan pak darmanto
total 1 replies
vania larasati
lanjut
Shee_👚
liat perkebunan sekalian liat pujaan hati ya zam, sambil berenang minum air🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!