Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CURHAT DAN 'RED FLAG'
"Haahhh..."
Suara helaan napas yang panjang, berat, dan penuh dengan keputusasaan itu menggema di ruang tamu pribadi Vania. Ruang ini terletak di sayap barat mansion, jauh dari jangkauan telinga-telinga iseng Tante Ratna dan bisik-bisik beracun Bibi Marni. Vania sengaja memilih tempat ini karena dia sudah memasang bug detector rakitan di sekeliling ruangan. Tidak ada yang bisa menguping di sini. Ini adalah zona aman. Zona netral.
Larasati, yang duduk di sofa beludru hijau tua dengan postur yang biasanya sangat tegap dan anggun, kini merosot. Pundaknya merosot, kepalanya menunduk, dan tangannya mencengkeram bantal sofa dengan erat. Di hadapannya, secangkir teh chamomile dan piring berisi kue kering sudah hampir dingin, tidak tersentuh sama sekali.
"Dia membosankan, Kak Van," keluh Larasati, suaranya serak. Dia mendongak, menatap Vania dengan mata berkaca-kaca yang biasanya membuat Raka langsung panik dan melakukan apa pun untuk membuatnya tersenyum. Tapi Vania hanya menatapnya datar, menunggu kelanjutan drama ini. "Terlalu sempurna. Selalu sopan. Selalu membuka pintu mobil. Selalu bilang 'tolong' dan 'terima kasih'. Aku merasa seperti berbicara dengan tembok yang sopan. Tidak ada api, tidak ada perdebatan, tidak ada... spice."
Vania menatap Larasati, lalu menoleh ke arah "kamera" imajinernya yang melayang di dekat vas bunga kristal.
Dengar itu? batin Vania pada penonton tak terlihat. Ini adalah momen bersejarah. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah sinetron Indonesia tahun 90-an, seorang Female Lead mengeluh bahwa Male Lead-nya terlalu sopan. Biasanya di episode segini, dia harusnya sedang menangis karena Raka tidak membelikannya kalung berlian, atau karena Tante Ratna menuduhnya mencuri cincin. Tapi ini? Dia mengeluh soal kurangnya 'spice'. Aku bangga padamu, Las. Kau mulai sadar.
"Las," ucap Vania pelan, meletakkan cangkir tehnya di atas meja kopi. "Kau tahu apa yang kau rasakan itu? Itu namanya beige flag. Bukan red flag atau green flag, tapi beige flag. Raka itu terlalu aman. Terlalu terstruktur. Dia itu seperti roti tawar tanpa kulit. Kenyang, sehat, tapi membosankan."
Larasati mengangguk cepat, matanya berbinar karena merasa akhirnya ada yang mengerti. "Tepat sekali, Kak Vania! Roti tawar tanpa kulit! Mas Raka itu roti tawar. Aku ingin... aku tidak tahu, aku ingin pizza! Aku ingin makanan yang berantakan, yang bikin ketagihan, yang bikin pusing tapi enak!"
Vania memijat pelipisnya. Dia lupa bahwa dia sedang berbicara dengan wanita yang tumbuh di tahun 90-an, di mana konsep hubungan asmara hanya berkisar pada tatapan mata yang dalam, hujan-hujanan, dan ciuman di kening.
"Oke, dengar," ucap Vania, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau perlu mengubah dinamika ini. Kau perlu memberinya sedikit kejutan. Sedikit tantangan. Di tempat asalku... eh, maksudku, di buku-buku yang kubaca, kami menyebutnya playing hard to get."
Larasati memiringkan kepalanya, alisnya berkerut lucu. "Playing hard to get? Apa itu? Permainan petak umpet?"
"Bukan," Vania menghela napas, berusaha mencari analogi yang bisa dicerna oleh otak heroine suci ini. "Maksudnya, kau tidak boleh selalu ada untuknya. Kau tidak boleh selalu available. Jika dia menelepon, jangan langsung angkat. Tunggu beberapa menit. Jika dia mengajak keluar, katakan kau sibuk, lalu tawarkan hari lain. Buat dia penasaran. Buat dia berpikir bahwa dia harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan waktumu. Pria seperti Raka, yang terbiasa mendapatkan semua hal dengan mudah karena dia 'anak emas', butuh sedikit frustrasi. Butuh sedikit... manipulasi emosional."
Larasati menatap Vania dengan mata bulat sempurna. Mulutnya sedikit terbuka. Otaknya jelas sedang bekerja keras mencerna istilah-istilah asing seperti available, frustrasi, dan manipulasi emosional.
"Jadi..." Larasati memulai, suaranya pelan dan penuh dengan ketidakpercayaan. "Aku harus pura-pura tidak ada di rumah saat dia datang?"
Vania terdiam. Dia menatap Larasati. Dia menatap wajah polos, tulus, dan sangat suci dari wanita di depannya. Wanita yang di naskah asli akan menangis tersedu-sedu jika Raka terlambat lima menit. Wanita yang rela berjalan kaki lima kilometer hanya karena Raka bilang dia suka bunga di pinggir jalan.
"Tuhan," gumam Vania, memijat pelipisnya lebih keras hingga kulitnya memerah. "Aku sedang mengajarkan manipulasi emosional pada heroine suci. Aku merusak moral sinetron ini. Rating-nya pasti anjlok kalau sutradara tahu."
"Tapi Kak Vania," Larasati menyela, wajahnya kini terlihat sangat serius, seolah dia baru saja menemukan pencerahan hidup. "Jika aku pura-pura tidak ada di rumah, nanti Mas Raka khawatir. Dia akan mencari aku ke seluruh kota. Dia akan menelepon polisi. Itu tidak efisien, Kak."
Vania menatapnya, lalu tertawa kecil. Tawa yang tulus dan renyah. "Kau benar, Las. Kau terlalu murni untuk taktik kotor. Lupakan hard to get. Kita pakai taktik lain. Kita pakai taktik 'kejujuran brutal'. Lain kali dia bilang dia baik-baik saja, kau bilang, 'Mas, muka Mas lagi kusut, Mas lagi marah ya? Ayo cerita, aku dengerin, tapi kalau Mas diem aja, aku bakal makan kue ini sendirian'."
Larasati tersenyum lebar, senyum yang membuat matanya menyipit indah. "Ide yang bagus, Kak! Mas Raka pasti kaget, tapi dia akan suka. Kak Vania, terima kasih. Aku... aku senang bisa cerita sama Kakak. Biasanya kalau aku cerita soal ini ke Bibi Marni, dia malah bilang aku harus lebih banyak berdoa dan merendahkan hati."
"Jangan pernah minta saran hubungan ke Bibi Marni, Las. Suami terakhirnya kabur bawa uang arisan," balas Vania datar, membuat Larasati tertawa terbahak-bahak.
Suasana di ruang tamu itu terasa hangat. Jauh dari intrik, jauh dari racun keluarga besar. Vania merasa aneh. Dia seharusnya menjaga jarak dari Female Lead, tapi melihat Larasati yang sebenarnya hanya gadis muda yang bingung menghadapi ekspektasi menjadi "wanita sempurna", rasa protektifnya muncul. Dia tidak ingin Larasati terjebak dalam hubungan yang membosankan hanya demi naskah sinetron.
"Oke, jadi rencananya," Vania mengetuk meja kopi. "Besok, saat Raka datang, kau tidak akan langsung menyapanya dengan senyum manis. Kau akan..."
Click.
Pintu ruang tamu terbuka.
Vania dan Larasati serentak menoleh.
Di ambang pintu, berdiri Raka. Pria itu mengenakan kemeja putih lengan panjang yang disetrika licin tanpa satu pun kerutan, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel yang mengkilap. Di tangannya, dia memegang sebuah kotak kado berbalut kertas kado merah muda dengan pita emas yang diikat sempurna. Wajahnya datar, tatapannya tajam, dan aura "Male Lead yang tersinggung" menguar dari seluruh tubuhnya.
Raka menatap Larasati yang masih tertawa, lalu menatap Vania yang tangannya masih terangkat di udara.
"Pura-pura tidak ada di rumah?" tanya Raka, suaranya datar, dingin, dan bergema pelan di ruangan yang tiba-tiba terasa sangat sempit.
BERSAMBUNG...