JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: KETUKAN DI AMBANG SADAR
Keheningan yang terasa begitu mencekam,Lampu indikator berwarna merah terang di atas pintu ruang operasi utama yang telah menyala selama berjam-jam lamanya itu akhirnya padam secara perlahan, digantikan oleh lampu hijau yang menjadi penanda bahwa seluruh tindakan bedah di dalam sana telah resmi selesai dilakukan oleh tim medis. Kehadiran lampu hijau tersebut seketika membuat jantung Nasya berdegup dengan sangat kencang, memacu rasa cemas yang luar biasa besar bercampur dengan secercah harapan yang saling bergolak di dalam dadanya yang terasa sesak. Setiap detik yang berjalan terasa bagaikan siksaan lambat bagi jiwanya yang sedang terombang-ambing di tengah ketidakpastian.
Pintu besi tebal kedap suara itu terbuka perlahan dengan bunyi gesekan hidrolik yang berat dan lambat. Dokter Surya melangkah keluar dengan pakaian medis berwarna hijau yang tampak sangat kusut, basah oleh sisa keringat, dan menyiratkan kelelahan yang teramat sangat di wajah paruh baya nya setelah berjuang memimpin operasi besar yang mempertaruhkan nyawa pemimpin tertinggi Black Cobra. Ia melepaskan masker bedahnya dengan gerakan pelan akibat tekanan di ruang bedah.
Rangga yang sedari tadi berdiri diam dengan posisi bersandar pada dinding semen langsung menegakkan tubuh dan melangkah cepat ke depan, disusul oleh Nasya yang refleks bangkit berdiri dari kursi tunggu panjang hingga kain selimut abu-abu pemberian Rangga terjatuh begitu saja di atas lantai selasar yang. Wajah Nasya tampak pucat, dengan kedua tangan yang saling meremas satu sama lain untuk meredam rasa gugup yang menjalar karena menunggu hasil operasi.
"Bagaimana dengan kondisi fisik Bos Eksan, Dok? Apakah seluruh pendarahan dalam di perut kirinya berhasil diredam dengan aman oleh tim medis?" tanya Rangga dengan nada suara yang berat, dalam, dan dipenuhi oleh penekanan kecemasan yang mendalam, sebuah ekspresi kekhawatiran yang sangat jarang ia tunjukkan di hadapan orang lain sepanjang sejarah keterlibatannya di dalam gang jalanan.
Dokter Surya menghela napas panjang sekali lagi, lalu mengusap sisa keringat di dahinya menggunakan tangan sebelum menatap mata Rangga dan Nasya secara bergantian dengan raut wajah yang sangat serius. "Operasi besarnya berjalan dengan sangat lancar dari segi teknis medis. Kami sudah berhasil menghentikan pendarahan yang sangat parah di perut kirinya, membersihkan sisa infeksi akibat robekan paksa, dan menyatukan kembali seluruh dinding otot perutnya yang rusak akibat hantaman benda tumpul yang sangat keras dari Rian semalam. Fisik anak itu memang harus kuakui luar biasa kuat bagaikan orang yang tidak mengenal rasa sakit. Jika luka fatal itu terjadi pada orang biasa, mereka pasti sudah mati kehabisan darah di dalam kabin helikopter sebelum sempat mendarat di atap gedung rumah sakit ini."
Dokter Surya menghentikan kalimatnya selama beberapa detik, lalu tatapan matanya perlahan melunak penuh rasa iba saat melihat wajah pucat Nasya yang tampak sangat berantakan dengan seragam sekolah yang kini telah berganti kaus hitam penuh noda merah. "Namun, ada satu masalah besar yang sedang kami hadapi saat ini. Eksan kehilangan terlalu banyak darah sepanjang duel maut di dermaga utara tadi. Tubuhnya saat ini berada dalam kondisi syok klinis yang sangat dalam akibat trauma fisik yang bertubi-tubi tanpa jeda. Secara medis, masa kritisnya belum sepenuhnya lewat dari fase berbahaya. Dia belum menunjukkan tanda-tanda akan terbangun atau merespons rangsangan apa pun pasca-operasi besar ini."
"Maksud Dokter... Eksan bisa saja tidak akan pernah terbangun lagi dari tidurnya?" tanya Nasya dengan suara yang pecah oleh tangis histeris yang kembali menyerang kesadarannya tanpa bisa ia bendung lagi. Rasa bersalah yang sejak sore tadi menggelayuti hatinya kini terasa semakin menghimpit dadanya dengan sangat kuat, hanya untuk sekadar menarik napas di dalam ruangan tersebut. Pikiran bahwa pemuda itu mungkin akan tertidur selamanya membuat seluruh dunianya serasa runtuh seketika.
"Kesadaran seorang manusia yang mengalami trauma fisik sehebat itu sangat bergantung pada keinginan kuat dari dalam jiwanya sendiri untuk bertahan hidup, Nak," jawab Dokter Surya dengan nada suara yang lembut, mencoba memberikan penjelasan psikologis yang rasional agar tidak menambah kepanikan gadis sekolah di hadapannya. "Kami sudah memindahkan tubuhnya ke ruang perawatan intensif khusus di ujung lorong nomor 104 ini. Kalian berdua boleh masuk untuk melihat kondisinya, namun tolong jangan membuat kebisingan yang berlebihan di dalam sana. Teruslah ajak dia berbicara secara pelan dari hati ke hati. Terkadang, getaran suara dari orang yang dianggap paling berharga, paling dicintai, dan suci di dalam hidupnya bisa menjadi sebuah ketukan magis yang merangsang alam bawah sadarnya untuk kembali bangun memeluk kehidupan nyata."
Rangga memberikan kode anggukan kecil yang sarat akan rasa hormat kepada Nasya, menuntun langkah kaki gadis sekolah itu yang terasa sangat berat, lemas, dan seolah tidak memiliki tulang lagi menuju ke arah kamar perawatan intensif nomor 104. Lorong rumah sakit yang sepi itu terasa begitu panjang bagi Nasya, dengan setiap derap langkahnya yang diiringi oleh rasa cemas yang tak berkesudahan. Begitu pintu kayu kamar dibuka dengan perlahan, pemandangan di dalam ruangan itu seketika membuat air mata Nasya kembali menetes deras membanjiri pipinya yang pucat sempurna.
Bagi Nasya, melihat Eksan dalam kondisi tak berdaya seperti ini adalah sebuah yang menyakitkan. Di atas ranjang rumah sakit yang dikelilingi oleh berbagai macam monitor medis yang berbunyi bip dengan ritme yang lambat, Eksan Prasetya tampak terbaring diam tanpa daya. tubuh nya yang dipenuhi tato mawar berdarah kini terbalut penuh oleh perban putih tebal dari batas perut kiri hingga ke dada atasnya. Sebuah selang oksigen transparan terpasang di hidungnya, membantu deru napas pemuda itu yang terdengar sangat pendek, berat, dan satu-satu. Wajah tegas dengan rahang kokoh yang biasanya memancarkan aura yang kuat, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum di jalanan kota kini tampak sangat pucat tanpa warna sedikit pun, menyiratkan sebuah kerapuhan mendalam yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sepanjang hidupnya di dalam gang.
Nasya berjalan dengan langkah yang sangat pelan mendekati sisi ranjang, lalu duduk perlahan di sebuah kursi kecil yang disediakan oleh perawat di sana. Ia mengulurkan kedua tangan mungilnya yang masih gemetar hebat, dengan sangat lembut menyentuh dan menggenggam tangan kanan Eksan yang kasar, dipenuhi kapalan keras akibat terlalu sering menggenggam senjata jalanan, dan memiliki bekas luka goresan baru dari pecahan botol kaca Rian semalam. Telapak tangan besar yang biasanya mencengkeram pergelangan tangannya dengan kekuatan itu kini terasa begitu pasrah, lemas, dan dingin di dalam genggaman hangatnya. Rasa hangat dari kulit Nasya seolah mencoba melawan hawa dingin maut yang menyelimuti tubuh Eksan.
Rangga berdiri diam di dekat daun pintu kamar yang tertutup, menatap momen emosional dan penuh kepasrahan tersebut dengan pandangan mata yang sangat serius. Ia menyadari betul bahwa saat ini, pilihan besar untuk melarikan diri ke luar pulau yang ia tawarkan kepada Nasya beberapa jam lalu di lorong tunggu telah kehilangan seluruh artinya. Nasya tidak akan pernah memiliki keberanian atau ketegaan untuk melangkahkan kaki pergi meninggalkan tempat ini selagi pemuda berbahaya yang mempertaruhkan nyawa demi melindunginya masih terbaring sekarat di atas ranjang medis.
"Eksan... ini aku, Nasya..." bisik Nasya dengan nada suara yang teramat sangat pelan dan bergetar tepat di dekat telinga Eksan, sambil terus memegang lembut jemari tangan pemuda yang sedang koma itu. "Aku ada di sini, Eksan. Aku tidak pergi ke mana-mana atau menghilang seperti yang paling kau takutkan selama ini. Aku berjanji... aku berjanji akan tetap tinggal di sampingmu, di bawah pengawasanmu, di dalam tempat di atas kota, asalkan kau mau berjuang dan membuka matamu kembali untukku. Jangan tinggalkan aku sendiri di duniamu yang asing ini, Eksan..."
Nasya menyandarkan keningnya yang hangat tepat di atas tangan besar Eksan yang dingin, membiarkan aliran air matanya membanjiri permukaan kulit pemuda itu tanpa henti. Penyesalan yang mendalam atas kata-kata yang sempat ia ucapkan di rumah kini membakar jiwanya. Rasa takutnya yang mendalam pada kekerasan dunia hitam jalanan kini telah sepenuhnya melebur menjadi sebuah kepasrahan emosional yang teramat sangat dalam. Ia menyadari sepenuhnya bahwa garis takdir hidupnya telah terikat mati, terkunci rapat, dan tidak akan pernah bisa dilepaskan lagi dari belenggu perlindungan milik sang penguasa tertinggi aspal kota ini.