"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1. Surat perjanjian
Harum aroma melati masih menyeruak tajam di dalam kamar berukuran empat kali lima meter itu. Di atas ranjang berkain seprei putih bersih, Fitri duduk sendirian. Jantungnya berdegup kencang, memukul dadanya dengan irama tak beraturan. Gaun pengantin putih yang membalut tubuhnya terasa amat berat, namun rasa bahagia yang membuncah di dadanya jauh lebih mendominasi.
Hari ini, Fitri resmi menjadi istri dari Adam. Pria yang diam-diam selalu ia sebut dalam doa-doanya sejak masa SMA. Pria yang selalu menjadi alasan baginya untuk berjuang melintasi hari-hari berat sebagai mahasiswa kedokteran yang melelahkan.
Cklek.
Suara pintu kamar terbuka membuat Fitri refleks menegakkan punggungnya. Ia meremas jemarinya sendiri, menunduk malu saat langkah kaki teratur itu mendekat ke arah tempat tidur.
"Fitri," panggil sebuah suara bernada datar. Tak ada kehangatan, tak ada nada bahagia yang sejatinya melingkupi seorang pengantin baru.
Fitri perlahan mendongak, menyunggingkan senyum manis yang sejujurnya agak canggung. "Mas Adam... mau aku buatin teh atau kopi?"
Adam tak menjawab. Wajah tampannya terlihat begitu lelah, namun ada sesuatu yang lebih dominan di matanya: rasa bersalah yang teramat dingin. Tanpa mengucapkan patah kata pun, Adam menarik kursi rias dan duduk tepat di hadapan Fitri. Ia meletakkan sebuah map kertas berwarna cokelat di atas meja, tepat di sebelah tumpukan seserahan kosmetik Fitri.
"Ada yang harus kita selesaikan malam ini," ujar Adam tegas. Bariton suaranya terdengar amat asing di telinga Fitri.
Alis Fitri bertaut tipis. Rasa cemas mendadak menyusup, mengikis perlahan sisa-sisa kebahagiaan yang baru saja ia rasakan. "Selesaikan apa, Mas? Ada dokumen penting dari kantor yang belum selesai?"
Adam menghela napas panjang. Jemarinya menarik lembaran kertas putih dari dalam map cokelat tersebut lalu menyodorkannya ke hadapan sang istri. "Ini, kamu baca dulu."
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Fitri meraih lembaran itu. Di bagian paling atas, tertulis judul dengan cetakan tebal yang seolah menghantam dadanya hingga sesak: SURAT PERJANJIAN PERCERAIAN.
Fitri tertegun. Matanya bergetar hebat saat membaca poin demi poin yang tertera di sana. Pernikahan ini hanya akan berlangsung selama satu tahun. Setelah itu, kedua belah pihak sepakat untuk berpisah secara baik-baik tanpa menuntut harta gono-gini.
"Mas... ini maksudnya apa?" suara Fitri bergetar, nyaris bisikan. Kertas di tangannya terlepas begitu saja, jatuh terkulai di pangkuannya. "Kita baru saja akad tadi pagi. Kenapa ada surat cerai?"
"Maafkan aku, Fitri," kata Adam tanpa ragu sedikit pun. Matanya menatap lurus pada Fitri yang mulai berkaca-kaca. "Kamu tahu sendiri sejak awal, pernikahan ini terjadi hanya karena permintaan almarhum Bapak dan harapan Ibu yang makin muram karena sakit-sakitan. Aku tidak bisa menolak keinginan Ibu. Ku juga engga ingin membohongi mu. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Setelah ibu tiada nanti, kamu bisa bebas dan bisa hidup dengan seseorang yang mencintaimu."
Fitri menelan ludah yang terasa begitu pahit. "Lalu... aku? Bagaimana dengan perasaanku, Mas? Tega sekali kamu mas..."
"Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, Fitri. Hati aku sudah milik orang lain," sahut Adam dingin. "Aku mencintai Rosa. Kami sudah menjalin hubungan jauh sebelum perjodohan ini direncanakan. Aku tidak bisa memberikan hatiku untukmu."
Kata-kata itu bagaikan sayatan yang menyayat dada Fitri tanpa ampun. Rasanya batin Fitri diremas hingga hancur. Cinta pertamanya, yaitu pria yang baru beberapa jam lalu berjanji di hadapan Tuhan dan penghulu untuk menjaganya, kini justru menegaskan bahwa hatinya dimiliki wanita lain.
"Kamu tega sekali mas.." ucap FItri, Air mata nya mulai menggenang.
Fitri memejamkan mata erat-erat. Satu tetes air mata akhirnya lolos membasahi pipinya yang masih teroles bedak pengantin. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang masih ia miliki. Fitri bukan wanita lemah yang akan mengemis cinta pada pria yang jelas-jelas menolaknya.
Saat matanya kembali terbuka, tak ada lagi binar kekaguman. Yang tersisa hanyalah sorot mata keteguhan seorang wanita yang terluka. Fitri mencoba menenangkan dirinya dan mencoba berpikir dengan jernih dan dengan logika.
"Baiklah mas Adam.." ucap Fitri singkat. Suaranya kini terdengar tenang, meski di dalam dadanya berkecamuk gempa luar biasa.
Adam agak terkejut dengan respon cepat istrinya. "Ka kamu... setuju?"
Fitri meraih pena yang tergeletak di meja. Namun sebelum menggoreskan tanda tangannya, ia menatap Adam lurus-lurus.
"Aku setuju untuk menandatanganinya, Mas. Tapi aku punya satu syarat."
Adam menaikkan sebelah alisnya. "Syarat apa?"
"Pertama, jaga nama baik keluarga di depan publik. Kedua, jangan pernah bawa Rosa atau wanita mana pun ke rumah ini selama statusku masih menjadi istri sahmu. Di luar rumah terserah kamu, tapi di rumah ini dan di depan Ibu... kita adalah suami istri yang baik," tegas Fitri, suaranya tak memunculkan keraguan sedikit pun.
Adam terdiam sejenak, memproses permintaan Fitri. Tak butuh waktu lama baginya untuk mengangguk setuju. "Baiklah, deal. Aku janji."
Goresan pena Fitri menandai mulainya babak baru dalam hidupnya. Sebuah pernikahan formalitas yang berfondasikan luka, di mana ia harus berpura-pura bahagia demi sebuah rahasia besar.
Malam pengantin itu, berubah menjadi luka dan neraka. Setelah FItri tekan surat itu, kini Fitri menjalani rutinitas biasa di balik luka. Adam keluar kamar pengantin itu dengan senyum puas nya dan berjalan semangat menuju kamar nya. Sedangkan Fitri di tinggal sendiri dengan deru luka dan tangis dari hatinya.
***
(Keesokan hari nya)
Suara dentang jam dinding menunjukkan pukul lima pagi. Udara dingin khas fajar masih menyeruak masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka. Fitri terbangun dengan kelopak mata yang terasa amat berat dan sedikit bengkak. Sisa-sisa tangis semalam masih meninggalkan jejak samar di sudut matanya.
Fitri menghela napas panjang, mencoba mengusir sesak yang menggelayut di dadanya. Ia tidak boleh berlama-lama meratapi nasib. Hari ini, kewajibannya sebagai mahasiswa kedokteran yang sedang menjalani masa koas tetap menunggunya di rumah sakit.
Setelah selesai berwudhu dan menunaikan salat Subuh, Fitri langsung menuju dapur. Mengabaikan hatinya yang remuk, ia mulai meracik bumbu sederhana untuk membuat nasi goreng serta menyeduh teh hangat. Ini adalah bentuk pengabdian terakhir yang ingin ia berikan sebagai seorang istri, setidaknya selama satu tahun ke depan.
Langkah kaki yang pelan terdengar mendekat ke area dapur. Adam muncul dengan kaus santai dan celana kain. Wajahnya segar usai membasuh muka, namun ekspresinya tetap sedingin es.
"Mas Adam sudah bangun?" sapa Fitri berusaha senormal mungkin. Ia menaruh piring berisi nasi goreng hangat di atas meja makan.
Adam menatap piring itu sejenak sebelum mengalihkan pandangan. "Kamu tidak perlu repot-repot masak buat aku, Fitri. Aku bisa beli sarapan sendiri di luar."
~Bersambung~
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.