NovelToon NovelToon
Lord Of The Gods

Lord Of The Gods

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:52.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.

Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.

Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Tamu Tak Diundang

Ruang bawah tanah di Markas Jurang Utara dipenuhi bau lumut dan besi berkarat. Di tengah ruangan, dua pengawal elit dari Alam Abadi yang sebelumnya pongah, kini terikat erat pada pilar batu obsidian. Rantai yang mengikat mereka telah dilumuri bubuk pelemah Qi racikan khusus Paviliun Mawar.

Mo Yuan bersandar di dinding batu, melempar sekantung kepingan emas ke udara dan menangkapnya berulang kali. Di sebelahnya, Shen Lu sedang mengasah pedang besinya dengan batu asah, menciptakan suara sring yang nyaring.

"Aku bertaruh dua puluh keping emas," Mo Yuan membuka suara, tersenyum licik. "Mereka akan menangis memanggil ibunya dalam sepuluh tarikan napas setelah Xie Yan menempelkan peliharaannya."

"Terlalu meremehkan ketahanan fisik orang alam abadi," Shen Lu meniup debu dari mata pedangnya tanpa menoleh. "Aku bertaruh lima belas keping emas, mereka bisa bertahan hingga dua puluh tarikan napas."

Di sudut ruangan, Zi Lanying duduk menyilangkan kaki dengan anggun, memakan manisan buah persik sambil mengipasi wajahnya. "Kalian berdua kekanak-kanakan sekali. Tapi... karena aku sedang butuh tambahan dana untuk membeli sutra racun baru, aku bertaruh tiga puluh keping emas mereka akan pingsan mengompol di tarikan napas kelima!"

Kedua pengawal dari Alam Abadi itu akhirnya membuka mata mereka dengan erangan berat. Begitu kesadaran mereka pulih, kesombongan bawaan mereka langsung mengambil alih.

"Beraninya kalian mengikat kami?!" bentak salah satu pengawal, meronta melawan rantai obsidian. "Kami adalah pengawal Sekte Pedang Bintang dari Alam Abadi! Jika Nona Ling'er melapor pada Tuan Muda Jian Wu, sekte sampah kalian ini akan diratakan dengan tanah!"

"Wah, wah. Tamu kita rupanya sangat bersemangat," sebuah suara lembut dan terpelajar terdengar dari balik bayang-bayang.

Xie Yan melangkah maju dengan langkah pelan. Jubah sarjananya berkibar ringan. Tangannya memegang kipas bulu bangau putih, sementara senyum di wajahnya terlihat luar biasa ramah sebuah keramahan palsu yang selalu membuat Mo Yuan merinding.

"Sekte Pedang Bintang. Nama yang sangat agung," puji Xie Yan, menutup kipasnya. "Namun, Tuan-tuan yang terhormat, di ruangan ini, gelar langit kalian tidak berlaku. Aku hanya memiliki beberapa pertanyaan kecil. Jika kalian menjawabnya dengan jujur, aku berjanji teh hangat dan kebebasan akan menanti kalian."

"Cuih!" Pengawal kedua meludah ke arah kaki Xie Yan. "Tikus sepertimu tidak pantas menanyakan apa pun pada kami!"

Xie Yan menghela napas panjang, mengeluarkan saputangan sutra dan mengelap sepatunya yang terkena ludah dengan sangat sabar. "Sayang sekali. Padahal aku sangat membenci kekerasan."

Xie Yan menjentikkan jarinya. Dari balik lengan bajunya, merayap perlahan seekor kadal tanpa kulit berukuran sebesar lengan pria dewasa. Tulang belulang dan organ dalam kadal itu terlihat jelas berdenyut-denyut. Tetesan liurnya jatuh ke lantai batu dan langsung membakar lantai itu hingga mendesis mengeluarkan asap hijau.

Mata kedua pengawal Alam Abadi itu membelalak ngeri.

"Ini adalah Kadal Penghisap Sumsum," Xie Yan memperkenalkan peliharaannya layaknya seorang kolektor seni. "Ia tidak memakan daging. Ia hanya suka melubangi tulang belakang kalian hidup-hidup, dan menyedot sumsum kalian setetes demi setetes. Prosesnya memakan waktu tiga hari tiga malam, dan percayalah... rasanya luar biasa menggelitik."

Xie Yan menempelkan kadal itu ke leher pengawal yang baru saja meludahinya. Kadal itu membuka rahangnya, memperlihatkan ratusan gigi setajam jarum, dan menancapkannya tepat di tulang belakang sang pengawal.

"AARRRRGGGHHHHHH!!!"

Jeritan histeris yang memekakkan telinga meledak di ruang bawah tanah. Pengawal itu meronta dengan kekuatan gila, matanya nyaris melompat keluar dari rongganya, sementara urat-urat di wajahnya menghitam akibat racun korosif.

"Satu," hitung Zi Lanying santai, memasukkan manisan ke mulutnya. "Dua... Tiga..."

"HENTIKAAAN! AMPUN! AKU AKAN BICARAAA!" teriak pengawal pertama yang berada di sebelahnya, tubuhnya gemetar hebat hingga air kencing membasahi celananya melihat rekannya disiksa dengan cara yang tidak pernah ada di kitab suci mana pun.

"Empat... Lima! Hahaha! Aku menang!" Zi Lanying menepuk tangannya kegirangan. "Mo Yuan, Shen Lu, serahkan emas kalian!"

Mo Yuan mengutuk kesal dan melempar kantung emasnya, disusul oleh Shen Lu yang mendecakkan lidah.

Xie Yan menarik kembali kadalnya dengan senyum puas. "Nah, Tuan yang bijaksana. Mari kita mulai dari pertanyaan pertama. Untuk apa bintang-bintang agung seperti kalian repot-repot turun ke dunia lumpur kami?"

Dalam waktu kurang dari sepatu batang dupa, pertahanan mental pengawal itu hancur total. Ia memuntahkan semua informasi yang ia ketahui bagaikan air bah.

Mulai dari "Turnamen Seratus Tahun", rahasia perburuan "Roh Dunia" yang murni akibat kebocoran dimensi, hingga belasan faksi Alam Abadi yang ikut berpartisipasi. Dan yang paling penting... Xie Yan berhasil mengorek hukum mutlak tentang batasan kultivasi.

"Hukum alam semesta membatasi mereka," Xie Yan mencatat informasi itu dengan kuasnya, matanya berbinar licik. "Tidak peduli seberapa tinggi ranah mereka di Alam Abadi, saat mereka menginjakkan kaki di dunia fana ini, langit menyegel Qi mereka di Tahap Pembangunan Fondasi (Foundation Establishment) Puncak. Menarik sekali."

Xie Yan melipat perkamen catatannya, menyegelnya dengan Qi, dan menyerahkannya pada burung gagak spiritual yang telah ia jinakkan. "Kirimkan ini langsung pada Kakak Pertama di Ibukota. Malam ini juga."

Di Ibukota Kerajaan Chen, Aula Bunga Persik masih dipenuhi alunan kecapi yang menenangkan.

Pesta ulang tahun ke-17 Lin Chen telah memasuki penghujung acara. Para bangsawan dari kadipaten tetangga termasuk Kadipaten Salju yang absen karena 'tragedi perampokan' yang sangat memalukan tidak hadir, membuat suasana jauh lebih kekeluargaan dan hangat. Raja Chen sedang berbincang dengan Lin Feng, sementara Lin Xue sedang menyisir rambut adik bungsunya sambil tertawa.

Lin Chen duduk bersandar di kursi ukirnya, menikmati usapan lembut di kepalanya. Tiba-tiba, telinganya menangkap kepakan sayap di atap paviliun. Seutas transmisi bayangan dari Xie Yan masuk langsung ke dalam lautan jiwanya.

Turnamen Seratus Tahun? Roh Dunia? Lin Chen memejamkan mata, membiarkan informasi itu terserap.

Lalu, sudut bibirnya melengkung, membentuk sebuah seringai yang sangat tipis namun memancarkan kezaliman mutlak.

Orang-orang bodoh dari Alam Abadi ini turun ke dunia ini dengan keyakinan bahwa mereka adalah dewa karena mereka membawa pedang tumpul, batin Lin Chen tertawa dingin. Mereka mengira dunia ini tidak memiliki kultivator karena miskin Qi. Dan hukum fana justru mengunci mereka di Foundation Establishment Puncak... ranah yang persis sama denganku.

Bagi kultivator biasa, menghadapi jenius Alam Abadi di ranah yang sama adalah bunuh diri karena perbedaan kemurnian Qi dan teknik mereka. Namun bagi Lin Chen, ranah kultivasi hanyalah pelengkap. Fisiknya adalah Cangkang Dewa dari peleburan Naga dan Phoenix! Pada tingkat kultivasi yang setara, ia bisa merobek tubuh mereka hanya dengan tangan kosong.

Ladang perburuan kalian... akan menjadi pekuburan massal bagi generasi muda Alam Abadi, batin Lin Chen.

"Chen'er, kenapa tersenyum sendiri? Apakah kuenya seenak itu?" tegur Permaisuri Lin Yue dengan nada menggoda, membuyarkan lamunan putranya.

Lin Chen membuka matanya dan tersenyum lugu. "Iya, Ibu. Chen'er sangat bahagia hari ini."

Namun, kalimat itu belum sepenuhnya memudar di udara saat sebuah ledakan dahsyat mengguncang seluruh istana!

BLAAAAAAAAAAARRR!!!

Gerbang utama baja setebal tiga jengkal yang menjaga Aula Bunga Persik hancur berantakan, terlempar ke udara layaknya daun kering. Angin berbau darah dan belerang menyapu masuk, memadamkan seluruh lampion dan lilin perayaan dalam sekejap.

Raja Chen langsung menghunus pedangnya, melompat ke depan untuk melindungi keluarganya. Lin Feng dan puluhan pengawal kerajaan langsung membentuk barisan pertahanan barikade.

Lin Xue menjerit kaget, sementara Lin Yue secara insting langsung memeluk erat tubuh Lin Chen, mencoba menyembunyikan putranya di balik tubuh fananya yang rapuh.

Debu perlahan menipis di ambang pintu aula yang hancur.

Dari balik kepulan debu, melangkah masuk sesosok pemuda berjubah merah darah yang dipenuhi sulaman tengkorak emas. Pemuda itu memiliki mata merah menyala dan taring yang sedikit mencuat. Di belakangnya, selusin pengawal berlapis zirah duri memancarkan aura Foundation Establishment yang mengunci napas setiap manusia fana di ruangan itu.

Pemuda itu adalah Xue Tu, jenius dari Klan Iblis Darah Alam Abadi.

Xue Tu menatap dekorasi perayaan ulang tahun itu dengan pandangan jijik, lalu meludah ke karpet beludru merah. Ia sama sekali tidak mendeteksi fluktuasi Qi yang berarti; di matanya, mereka semua hanyalah semut fana yang menjijikkan.

"Dengar baik-baik, Raja Semut," suara Xue Tu menggema, membawa tekanan spiritual yang membuat pedang baja di tangan Lin Feng retak. "Mulai detik ini, kerajaan kecil yang kotor ini adalah wilayah kekuasaan Klan Iblis Darah! Serahkan seluruh hasil panen kalian, persembahkan seratus perawan setiap bulannya, dan berlututlah menyembahku sebagai dewa baru kalian!"

Xue Tu menunjuk ke arah Raja Chen dengan ujung jarinya. "Jika ada satu saja dari kalian yang menolak... aku akan menjadikan istana ini sebagai lautan darah malam ini juga!"

Di balik pelukan Permaisuri Lin Yue, mata keemasan Lin Chen perlahan berubah menjadi semerah kehancuran.

1
Indah Hidayat
kaisar naga beladirinya kok tiba2 dihapus ?
Raden
luar biasa mantap thor
Raden
mantap💪 lanjut kan 💪
Raden
mantap ratu💪
Raden
hajar bro, mulut kok ga dijaga💪
Raden
seru lagi, mantap💪
Rhaka Kelana
Dan akhirnya, yang diinginkan oleh seorang pria adalah rumah yang penuh dengan kehangatan....😍
Budi Wahyono
kaisar naga nya kok gak ada thor ?
Sang_Imajinasi: ada mas bud, ngulang lgi, karena hilang semua bab
total 1 replies
ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
keren
Puragabaya
KOPLAK
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
DIFAN2: Novel 'SULUNG' hadir dengan keseruan kisah petualangannya, yuk kak merapat.
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Edy Amran. MM
Lanjut.. ceritanya bagus
Rinaldi Sigar
lanjut
EKO BUDI PRASETYO: lha bukannya qingyue di alam abadi SM Lincen, kok BS di alam fana
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Boo Ceng Li
🔥🔥🔥💪💪💪👌👌👌
Tosari Agung
sangat keren imajinasi thor🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!