Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rasa penasaran
Aroma gurih saus tiram yang pekat berpadu dengan kelembutan daging abalon hangat menguar dari atas nampan. Bayu melangkah konstan, menjaga keseimbangan tubuhnya agar setiap hidangan tersaji tanpa cela di atas meja kayu sudut VIP itu.
Tak lama... Bayu pun datang membawa pesanan yang dinantikan oleh sang nona elit. Dengan perlahan, dia menata piring saji berisi abalon premium tersebut, bersebelahan dengan segelas jus alpukat kental yang tampak segar.
"Silakan dinikmati, Nona Mita," ucap Bayu sopan, lalu bersiap melangkah mundur.
"Duduk," kata Mita singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari piring saji. Nadanya datar namun terdengar bagai sebuah perintah mutlak yang tidak menerima bantahan.
"Maaf, Nona..." kata Bayu sambil menggelengkan kepalanya perlahan, tetap berdiri kokoh di tempatnya semula. Dia tidak bergeser satu sentimeter pun untuk menarik kursi.
Mita pun mendongak, menghentikan gerakannya yang hendak mengambil sendok. Sepasang matanya yang indah menatap tajam ke arah wajah tenang pelayan di depannya. Ada riak keterkejutan di sana. Baru kali ini ada orang yang menolak perintah dia secara langsung di tempat umum seperti ini. Sebagai direktur muda di perusahaan besar, semua kata-katanya selalu dipatuhi tanpa protes.
Melihat tatapan menyelidik dari Mita, Bayu tetap menjaga ketenangannya.
"Kemarin malam adalah yang pertama dan terakhir, Nona," kata Bayu menjelaskan dengan nada serendah mungkin agar tidak memicu keributan.
"Itu mandat dari manajer restoran ini. Saya tidak ingin kehilangan pekerjaan saya."
"Owh..." Mita manggut-manggut kecil, sebuah senyuman misterius kembali terukir di sudut bibirnya. Dia seketika teringat wajah ketakutan sang manajer kemarin malam saat dia ancam akan memasukkan pelayan ke dalam tagihannya. Rupanya, setelah dia pergi, manajer itu melampiaskannya dengan menekan pria muda ini.
Mita meletakkan sendoknya kembali ke atas meja, lalu melipat kedua tangannya di dada.
"Gaji kamu berapa di sini?" tanya Mita tiba-tiba.
'Aduhhh... wanita ini... kenapa malah tanya hal seperti ini?' keluh Bayu dalam hati. Jantungnya berdegup serba salah. Pertanyaan tentang pendapatan adalah hal terakhir yang ingin dia bahas dengan orang asing, terlebih saat posisinya sekarang berada di titik terendah.
"Maaf, Nona... sepertinya Anda menanyakan hal privasi saya," jawab Bayu menghindar dengan sopan, mencoba membuat batasan yang tegas.
"Bilang saja," desak Mita, sama sekali tidak berniat mundur. Rasa ingin tahunya tergelitik melihat harga diri pelayan ini yang begitu tinggi.
"Di atas atau di bawah UMR?"
Bayu tak menyerah begitu saja untuk menjaga rahasia kemiskinannya. Dia menarik napas dalam-dalam, menatap Mita dengan pandangan profesional. "Standar pekerja restoran biasa, Nona. Cukup untuk menyambung hidup," jawabnya diplomatis.
Tentu saja Mita tidak puas dengan jawaban abu-abu itu. Dia tahu betul standar upah pelayan di restoran tingkat menengah seperti ini pasti berada jauh di bawah kelayakan hidup yang sebenarnya.
Namun dari cara Bayu berbicara, mempertahankan argumennya, dan ketenangannya saat ditekan justru malah membuatnya semakin penasaran.
Ada sesuatu yang besar yang disembunyikan di balik seragam pelayan yang dikenakan pria ini.
Mita mengembuskan napas pelan, lalu pandangannya beralih menatap ke arah pilar tengah, di mana sang manajer restoran sejak tadi pura-pura sibuk memegang catatan sambil terus mengintai mereka.
"Panggil saja manajermu ke sini," perintah Mita dingin kepada Bayu, matanya berkilat penuh rencana.
Bayu tertegun sejenak. Dia tahu, begitu manajer itu melangkah ke meja ini, sebuah badai besar entah berupa berkah atau bencana pemecatan akan segera dimulai malam ini juga.