Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Pria Sama Saja
Seluruh tubuh Yueli masih terasa lemas tatkala Pei Chanqing membawanya keluar dari kediaman, menaiki kereta kuda menuju toko pakaian terbesar milik Tuan Huo. Agenda hari ini sebenarnya sangat penting: memilih dan membeli pakaian pengantin untuk upacara pernikahan mereka. Sesuai kesepakatan sebelumnya, Yueli dan Chanqing memutuskan untuk memilihnya sendiri. Di tengah ketegangan konspirasi yang baru saja terjadi, pikiran Yueli—atau tepatnya jiwa Alya yang kini menghuni raga tersebut—juga mulai meraba-raba dan menyusun teka-teki, sebenarnya kehidupan rumit seperti apa yang selama ini dialami oleh sang pemilik tubuh asli.
Ia duduk di sudut kereta kuda dengan kepala menunduk. Sedikit saja ia bergerak gelisah, Pei Chanqing yang duduk tepat di sebelahnya langsung memperhatikan. Pria itu menyadari Yueli tengah menggigit ibu jarinya, sebuah gestur cemas yang jarang terlihat.
"Ada apa, Yueli?" tanya Pei Chanqing lembut namun penuh perhatian.
Pertanyaan itu sontak membuat Yueli terkejut dan mengangkat wajahnya. "Ah... tak apa... Hanya saja..." ia tampak ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Hanya apa?" desak Pei Chanqing penasaran.
Yueli mengangkat kedua tangannya, menunjukkan gestur kikuk. Dua jarinya—ibu jari dan telunjuk—saling mendekat membentuk garis tipis di udara, sementara matanya memicing dan bibirnya sedikit mengerucut.
Pei Chanqing mengernyitkan dahi dalam-dalam. Ekspresi dan gestur yang ditunjukkan Yueli tampak begitu asing, sangat tidak wajar, dan jauh di luar kebiasaan para gadis bangsawan pada umumnya.
"Sedikit apa?" tanyanya sekali lagi, setengah kebingungan.
"Hanyaaaaa sedikiittt..." ucap Yueli memanjang, sementara celah garis di antara kedua jarinya kian menipis hingga hampir bersentuhan. "Aku... sepertinya melupakan sesuatu yang penting."
"Apa?" desak Pei Chanqing, tatapannya tak lepas dari wajah gadis itu.
"Sebenarnya..." Yueli terdiam sejenak, merangkai kata-kata di dalam kepalanya agar terdengar wajar. "Bagaimana aku menurutmu?" tanyanya sambil menggerakkan tangan pelan ke arah tubuhnya sendiri.
Pei Chanqing terdiam. Alisnya bertautan semakin dalam, sementara roda pemikirannya mulai meragukan kewarasan situasi ini—ia mulai menyadari ada sesuatu yang ganjil dan berbeda dari gadis di hadapannya.
"Ya... seperti Yueli," jawab pria itu hati-hati.
Yueli menghela napas panjang, lalu menggigit bibirnya pelan, ragu-ragu melontarkan pertanyaan yang sebenarnya menggelayut di benaknya. "Begini maksudku... menurut penilaianmu secara keseluruhan."
"Cantik."
Mendengar jawaban itu, rona merah seketika merambat naik di wajah Yueli. Sensasi panas langsung berdesir dari jantungnya, menjalar cepat hingga ke kedua pipinya yang merona malu.
"Bukan itu maksudku!" sangkalnya cepat, buru-buru menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Kau... ya, seperti ini. Hanya saja, dulu kau jauh lebih banyak diam dan pendiam."
Mulut Yueli terbuka membentuk huruf 'O', lalu ia menganggukkan kepalanya dengan khidmat. "Jadi, menurutmu sekarang aku cerewet?"
Pei Chanqing tersenyum tipis, sudut bibirnya terangkat sebelah. "Sedikit lebih banyak bicara, dan jauh lebih sulit ditebak."
"Ohh... begitu..." cicit Yueli pelan, mencoba mencari alasan yang masuk akal di dunia ini untuk menutupi jiwanya yang berasal dari dunia lain.
Pei Chanqing mencondongkan sedikit tubuhnya, menatap lekat-lekat ke dalam mata gadis itu. "Memangnya kenapa?"
"Tidak, hanya..." Yueli meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, menyusun kata-kata dengan hati-hati. "Aku takut selama insiden tenggelam itu, kepalaku terbentur sesuatu dan membuatku tiba-tiba jadi aneh... seolah-olah... aku bukan aku yang dulu."
Pei Chanqing terdiam sejenak, mengamati ekspresi penuh kekhawatiran di wajah gadis di hadapannya. Alih-alih terlihat curiga secara berlebihan, sudut bibirnya justru sedikit terangkat membentuk senyuman tipis yang menyebalkan namun menenangkan.
Pria itu menggelengkan kepalanya pelan. "Kau memang sedikit lebih aneh sekarang," balasnya jujur tanpa keraguan.
"Apakah kita..." Yueli menunjuk dirinya dan Pei Chanqing secara bergantian dengan ragu-ragu. "Memang sudah seakrab ini dari dulu?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Yueli itu kian membuat Pei Chanqing mengernyit dalam. Pria itu menatapnya dengan tatapan menyelidik sebelum menjawab, "Keluarga kita sama-sama berasal dari kalangan militer besar, dan kita sudah dijodohkan sejak lama."
Yueli menghela napasnya pelan, merasa antara lega karena mendapat penjelasan dan jengkel karena jawaban itu terdengar begitu kaku serta monoton. "Begitu... kalau begitu, Tuan Pei..."
Melihat lirikan tajam dari mata Pei Chanqing, suara Yueli mendadak menciut dan menghilang. Dengan terpaksa ia meralat panggilannya, "Maksudku... Pei Gege, menurutmu gaun pengantin yang bagus itu harus seperti apa bentuknya?"
"Itu seleramu," jawab Pei Chanqing singkat tanpa beban.
Jawaban spontan itu kontan meluruhkan semangat Yueli. Pikirannya seketika melayang jauh pada masa lalunya—pada bayang-bayang kehidupannya sebagai Alya di dunia modern, saat ia juga sempat bersiap menyambut pernikahan. Ternyata, mantan calon suaminya di dunia modern dulu sama saja persis dengan Pei Chanqing: sama-sama hampir tidak peduli dengan kerumitan persiapan pernikahan.
"Ya... setidaknya katakan kau ingin aku terlihat cantik seperti apa?" desak Yueli tidak terima.
"Itu penilaianmu, bukan pilihanku."
Tangan Yueli langsung meremas erat kain gaun yang ia kenakan di pangkuannya. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk meredam gejolak di dadanya yang sudah ingin sekali melempar umpatan kemarahan.
“Sabar, Yueli... sabar...” ia bergumam pelan, sangat pelan hingga hampir terdengar seperti gumaman ngaco yang samar di telinga Pei Chanqing.
Suara kusir kereta mendadak berteriak dari luar, mengumumkan bahwa mereka telah sampai di tujuan. Baru saja Yueli mengangkat satu kakinya bersiap untuk turun, sebuah anak panah berlesat kencang menembus dinding kayu kereta.
Besssh!
Panah itu melesat melewati depan wajah Yueli begitu dekat hingga ia bisa merasakan terpaan anginnya, lalu menancap dalam-dalam di dinding kayu tepat di sebelah kepalanya. Seketika, Yueli membelalakkan matanya lebar-lebar. Rasa takut yang luar biasa merambat cepat ke seluruh tubuhnya, membuat lututnya mendadak lemas tak bertulang.
Belum sempat kesadarannya pulih dari keterkejutan, Pei Chanqing yang berada tepat di sampingnya langsung bergerak sigap, merengkuh tubuh Yueli sambil berteriak keras menembus keheningan jalanan.
"Penyerangan!"
"Kau tak apa, Yueli'er?" suara Pei Chanqing terdengar begitu dekat, penuh kecemasan yang tertahan.
Gadis itu meneguk ludahnya dengan susah payah, wajahnya kian pucat pasi. Ia hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan, masih terkejut. Kesadaran pahit mulai menghujam benaknya: hidup di dunia ini sebagai seorang bangsawan, ditambah lagi akan menikah dengan seorang pria terkemuka yang dikelilingi konflik berbahaya melawan pihak tak dikenal, ternyata benar-benar mempertaruhkan nyawanya di ujung tanduk.
"Nona... Nona!" Suara panik Bai Ting terdengar dari luar kereta.
Bai Ting segera menerobos masuk untuk memeriksa keadaan Yueli, sementara Pei Chanqing langsung melompat keluar kereta untuk memimpin pengamanan. Tak berselang lama, pengawal pribadi Pei Chanqing menghadap dan melaporkan hasil penyisiran singkat di sekitar lokasi.
"Lapor, Tuan Muda. Tidak ada jejak siapa pun yang menembak; pelaku tampaknya sudah kabur setelah melepaskan tembakan," lapor sang pengawal dengan nada tegang. "Hanya saja... kami menemukan ini."
Sang pengawal mengangkat anak panah yang tadi nyaris merenggut nyawa Yueli. Di pangkal kayunya, terukir simbol "Panah Api" sebuah pasukan milik keluarga Shen sendiri.
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu