Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALAH PAHAM
Bandung masih berdiri di depan lukisan-lukisannya yang terpajang di dinding galeri. Tatapannya tertuju pada salah satu lukisan, seolah pikirannya sedang berada jauh dari tempat itu.
Luna bangkit dari kursinya, kemudian berjalan mendekat dan berdiri di sebelah Bandung.
Namun, belum sempat mengatakan apa-apa, ponsel Luna tiba-tiba berdering.
Luna mengambil ponselnya dan melihat layar.
Nama kontak yang muncul membuatnya sedikit ragu.
MY HUSBAND
Luna menoleh ke arah Bandung.
“Tunangan gue telepon.”
Bandung menjawab datar tanpa menoleh.
“Angkat aja.”
Luna segera menerima panggilan itu.
“Halo?”
“Luna, lo di mana?”
“Gue lagi ketemu wali murid.”
“Iya, gue tahu. Tapi lo di mana?”
Luna menarik napas sebentar.
“Di bantaran kali, di pemukiman warga.”
“Gila lo! Ngapain lo ke daerah kumuh kayak gitu?”
Luna langsung mengernyit.
“Topan, kok ngomongnya kayak gitu?”
“Itu sarangnya preman, Luna. Sampah masyarakat begitu!”
“Topan...”
“Udah, jangan banyak tanya. Gue jemput lo sekarang.”
“Nggak usah. Gue pulang naik ojol aja.”
“Kok lo aneh sih, Luna?”
“Lo apaan, Topan?”
“Kenapa lo nggak mau gue jemput?”
“Ya menurut gue emang nggak perlu dijemput.”
“Lo pasti lagi sama cowok.”
Luna terdiam sejenak.
“Iya. Gue sama cowok.”
“Apa?”
“Tapi dia bapak-bapak.”
“Udah, lo tunggu di situ. Gue ke sana.”
Sambungan telepon langsung terputus.
Luna menatap layar ponselnya dengan wajah bingung.
“Kenapa Topan tahu-tahu marah-marah, sih? Aneh banget orang ini.”
Bandung yang sejak tadi memperhatikan akhirnya bertanya.
“Ada apa? Tunangan lo marah?”
“Oh, enggak. Mungkin dia cuma khawatir.”
“Ya udah. Kalau gitu gue anter lo ke depan.”
Luna mengangguk.
Dia kemudian masuk ke dalam galeri untuk mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja di sudut ruangan.
Namun, ketika hendak mengambil tas, pandangannya tertuju pada sebuah ruangan komputer.
Beberapa layar monitor masih menyala.
Luna mendekat.
Di salah satu layar tampak diagram dan grafik yang berkaitan dengan blockchain. Beberapa logo digital currency terlihat di sana. Salah satunya membuat Luna langsung mengenali sesuatu.
Bitcoin.
Namun bukan itu yang membuatnya terkejut.
Di sudut layar terlihat nominal saldo yang jumlahnya cukup besar.
Luna menoleh ke arah Bandung.
“Bandung... lo main Bitcoin juga?”
Bandung berjalan mendekat.
“Oh, itu? Gue dulu pernah jadi sales Bitcoin.”
“Sales?”
“Iya. Sekitar tahun 2011. Waktu itu harganya masih sekitar satu dolar.”
Luna kembali melihat layar.
“Sekarang satu Bitcoin aja udah lima digit dolar. Berarti sekarang berapa nominal dolar yang lo punya?”
Bandung mengangkat bahu.
“Itu mah cuma angka doang. Bukan duit nyata.”
Luna langsung menoleh.
“Lo gila? Bitcoin itu ada nilai rupiahnya, Bandung.”
“Udah, Luna. Nggak usah bahas itu. Ayo, buruan ke depan. Tunangan lo udah nunggu. Takutnya dia salah paham.”
Mendengar perkataan Bandung, Luna segera mengambil tasnya dan berjalan keluar dari galeri. Bandung menyusul di belakangnya.
Mereka berjalan melewati gang menuju jalan utama.
Dari kejauhan, sebuah Mercedes hitam berhenti mendadak. Suara klaksonnya terdengar berkali-kali.
Tin! Tin!
Seorang pria menjulurkan kepalanya dari balik jendela pengemudi.
“Luna! Buruan jalannya! Nggak usah di romantis-romantisin!”
Mendengar teriakan tunangannya, Luna langsung terlihat kesal.
Bandung menoleh kepadanya.
“Kayaknya tunangan lo salah paham.”
“Nggak tahu tuh orang. Salah makan obat kali.”
Luna mempercepat langkah.
Begitu sampai di ujung gang, Topan sudah turun dari mobil dan berjalan menghampiri mereka.
Tanpa banyak bicara, dia langsung mendorong tubuh Bandung hingga mundur beberapa langkah.
“Jadi lo yang godain tunangan gue?”
Luna segera berdiri di antara mereka.
“Topan! Jangan gitu. Lo yang sopan dong!”
Namun perkataan Luna justru membuat emosi Topan semakin naik.
Dia menarik kerah baju Bandung.
“Jadi lo belain manusia ini?”
Tanpa pikir panjang, Topan melayangkan tinjunya.
Pukulan itu mengenai wajah Bandung dan membuatnya terhuyung ke belakang.
Beberapa orang yang melihat kejadian tersebut langsung berlari mendekat dan memegangi tubuh Topan.
“Bro, udah, bro! Jangan main hakim sendiri. Ngomong baik-baik dulu!”
Seorang pria setengah baya mencoba menenangkan keadaan.
Luna yang masih terkejut langsung menampar Topan.
“Lo ngapain sih, Topan?! Dia itu wali murid dari murid gue! Ngapain lo main kasar kayak gitu?”
“Udah, lo nggak usah nutup-nutupin!” Topan membentak. “Luna nggak mungkin datang ke kawasan kayak gini kalau nggak ada cowok yang memengaruhinya.”
Bandung melepaskan diri dari orang-orang yang masih menahannya.
“Bos, kayaknya ente salah paham nih.”
Mendengar ucapan Bandung, Topan kembali meronta.
Begitu berhasil melepaskan diri, dia kembali menerjang.
Namun kali ini Bandung sudah bersiap.
Dengan gerakan refleks, Bandung menangkap kaki Topan dan menjatuhkan tubuhnya ke aspal.
“Udah, bro! Udah!”
Beberapa orang kembali berusaha melerai.
“Jangan main kasar. Ngomong baik-baik dulu!”
Topan masih berusaha bangkit.
“Lo dasar laki-laki brengsek! Berani-beraninya lo gangguin tunangan gue!”
Luna mulai menangis.
Dia mendorong Topan menjauh.
“Topan, lo jangan gila dong! Hargai privasi gue! Dia itu ayah dari murid gue!”
“Gue nggak yakin!” Topan membalas. “Pasti kalian punya hubungan yang nggak jelas!”
Luna menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
Dia kemudian membungkukkan badan kepada orang-orang yang berkerumun.
“Maaf ya, Bapak-Bapak. Ini semua salah paham.”
Luna kemudian menoleh kepada Bandung.
“Maaf ya, Bandung. Kayaknya Topan salah paham sama lo.”
Bandung tersenyum datar sambil menyeka darah segar di sudut bibirnya.
“Nggak apa-apa, Bu Guru.”
Dia terdiam sebentar.
“Lagipula kita ini memang cuma sampah masyarakat. Jadi nggak perlu khawatir sama perasaan kita.”
“Bukan begitu, Bandung. Gue bener-bener minta maaf atas kejadian ini.”
Topan masih terengah-engah menahan emosi.
Dia masuk ke dalam mobil dan membanting pintu.
“Luna, buruan masuk! Nggak usah basa-basi sama laki-laki brengsek kayak gitu!”
Luna masih berdiri beberapa detik.
Namun akhirnya dia masuk ke dalam mobil.
Sebelum mobil bergerak, beberapa orang sempat melihat Luna dan Topan kembali berdebat di dalam mobil.
Tak lama kemudian, Mercedes hitam itu melaju kencang meninggalkan kawasan tersebut.
Tidak lama setelah itu, Boril dan kawan-kawannya datang dengan napas terengah-engah. Mereka terlihat seperti baru saja berlari dari galeri.
Boril langsung menghampiri Bandung.
“Ada apa, Bang? Gue dengar katanya lo digebukin orang.”
Bandung mengusap bibirnya.
“Gue bukan digebukin.”
Dia menunjuk sebuah tiang listrik di pinggir jalan.
“Gue tadi kepleset di pojokan situ.”
Boril menatap tiang listrik tersebut dengan wajah tidak percaya.
“Kepleset?”
“Iya.”
Beberapa anak muda yang ikut datang langsung mengerumuni mereka dan menceritakan kejadian sebenarnya.
Begitu mendengar ceritanya, Deden langsung naik pitam.
Dia menggulung lengan bajunya.
“Tunggu, Bang. Gue ambilin mobil. Kita samperin cowok brengsek itu.”
Bandung justru menjawab santai.
“Ya udah, buruan lo ambil. Kuncinya ada di atas galon.”
Deden langsung berbalik.
Dia mengambil skateboard yang ada di dalam tasnya, kemudian melaju dengan lincah menuju galeri.
Beberapa menit kemudian, sebuah Ferrari berwarna merah muncul dari arah gang.
Deden melambaikan tangannya.
“Ayo, Bang! Kita kejar mereka!”
Bandung membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
Namun sebelum mobil itu bergerak, Boril, Cenang, dan Dola buru-buru menyusul.
“Kita ikut ya, Bang. Gatel rasanya tangan gue dengar cerita lo digebukin orang!”
“Nggak usah. Gue bukan mau cari ribut.”
Bandung menatap ke arah jalan yang tadi dilewati Mercedes.
“Gue cuma takut Luna kenapa-kenapa.”
Mendengar kekhawatiran Bandung terhadap Luna, Boril dan Cenang saling berpandangan.
Namun sebelum sempat mengatakan apa-apa, Dola langsung menyela.
“Ya ampun, Bang Bandung! Buruan kejar mereka. Takutnya Kakak Ipar nanti digebukin di sana!”
Boril langsung ikut menimpali.
“Iya, Bang. Buruan! Kasihan Kakak Ipar. Gue nggak tega kalau sampai kenapa-kenapa.”
Cenang mengangguk.
“Bener, Bang. Jangan sampai telat.”
Bandung akhirnya menyerah.
Dia memberi isyarat kepada Deden.
“Den, tancap.”
Deden langsung menginjak pedal gas.
Suara mesin Ferrari meraung, memecah jalanan yang mulai sepi.
Tak lama kemudian, Deden berhasil menyusul Mercedes hitam milik Topan.
Ketika Ferrari berada di samping Mercedes, mereka melihat sesuatu yang membuat Bandung langsung tegang.
Luna sedang menangis di dalam mobil.
Pipinya terlihat memerah, dengan bekas telapak tangan yang masih jelas.
Bandung langsung menatap Deden.
“Den, paksa dia menepi.”
Deden mengangguk.
Bandung membuka kaca jendela.
Luna yang berada di dalam Mercedes melihatnya.
“Bandung!”
Dia segera membuka kaca mobilnya sambil menangis.
Deden dengan sigap memepet Mercedes tersebut hingga berhenti di dekat separator busway. Posisi Ferrari membuat Topan kesulitan membuka pintu.
Deden turun.
Dia membuka pintu mobil dari sisi belakang
Namun pintu terkunci.
Luna yang melihat Deden kesulitan segera membuka kunci dari dalam.
Deden langsung membuka pintu dan masuk.
Dia menarik Topan keluar dari belakang kemudi.
Topan spontan mengayunkan tinjunya.
Deden menghindar.
Tubuh Topan kehilangan keseimbangan dan tersungkur.
Bandung segera turun dan berusaha menahan Deden.
“Den! Udah!”
Namun Topan justru menyerang dari belakang.
Bandung tidak sempat menghindar.
Tubuhnya tersungkur dan kepalanya membentur trotoar.
Melihat Bandung jatuh, Deden langsung kehilangan kendali.
Dia menerjang Topan dan memukulnya berkali-kali sampai pria itu berteriak.
“Ampun, Bang! Ampun! Gue nyerah!”
Deden masih emosi.
“Jadi cuma segini nyali lo? Lo berani nyentuh abang gue, gue kempesin lo di sini!”
Topan yang sudah tergeletak di aspal mengangkat kedua tangannya.
“Ampun, Bang! Gue lepas kendali!”
Sementara itu, Luna langsung berlari menghampiri Bandung.
Air matanya semakin deras.
“Maafin gue, Bandung. Maafin gue. Gara-gara gue lo jadi bonyok begini.”
Luna membAntu Bandung bangkit.
Dia kemudian menopang tubuh Bandung dan menyandarkan kepalanya ke dadanya sambil membersihkan darah yang mengalir dari wajahnya akibat benturan.
Luna menoleh tajam ke arah Topan.
“Udah sana lo pulang! Gue benci lihat lo.”
Topan masih terhuyung-huyung.
Dia berjalan menuju Mercedes, kemudian masuk dan menyalakan mesin.
Beberapa detik kemudian, Mercedes hitam itu melaju meninggalkan mereka hingga menghilang di tikungan.
Luna masih memeluk Bandung.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Bandung yang biasanya tenang terlihat sedikit kesakitan.
Sementara Luna hanya bisa menangis dalam diam.