NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Kehidupan Marko mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Pria yang dulunya kaku, dingin, dan selalu berwajah datar itu kini seperti kembali ke masa usianya awal dua puluhan. Setiap pagi, senyum tipis tak pernah absen dari bibirnya, terutama saat melangkah keluar rumah bersama Aluna.

Di rumah, mereka menjelma menjadi pasangan kasmaran yang sangat romantis. Marko tak segan memeluk Luna dari belakang saat gadis itu menyeduh kopi di dapur, atau Luna yang manja meminta disuapi buah saat menonton televisi di ruang keluarga.

Namun, begitu roda mobil Marko memasuki area parkir gedung Janitra Group, mode backstreet langsung diaktifkan secara ketat.

Di kantor, mereka bersikap layaknya bos eksekutif dan anak magang profesional. Meski begitu, percikan rasa cinta tak pernah benar-benar bisa disembunyikan. Marko sering mencuri pandang ke arah meja kerja Luna saat melewati divisi pemasaran. Sebaliknya, Luna selalu memanfaatkan momen mengantar berkas ke ruang eksekutif untuk melepas kangen.

"Ini berkas laporan mingguan dari tim analisis, Pak Marko," ujar Luna formal seraya meletakkan map di meja kerja Marko.

Begitu pintu ruang kerja terkunci rapat dan tak ada orang lain, Luna langsung melangkah memutari meja, mengikis jarak dan mendaratkan kecupan singkat di pipi Marko.

"Kangen, Om," bisik Luna penuh binar manja.

Marko tersentak kecil, lalu terkekeh rendah. Tangan kokohnya merangkul pinggang Luna, menariknya mendekat. "Kamu ini... kan baru tadi pagi sarapan bareng di rumah. Nanti kalau ada yang masuk gimana?"

"Biarin aja, kan pintunya udah dikunci," jawab Luna santai seraya merapikan dasi Marko.

Momen-momen manis itu tak luput dari perhatian Yoga. Sebagai asisten pribadi sekaligus sahabat karib Marko, Yoga menangkap perubahan drastis pada bosnya.

Di ruang kerja usai Luna keluar, Yoga menyandarkan badannya di depan meja Marko seraya bersedekap dada.

"Gue perhatiin... lu sekarang berasa kayak anak SMA baru jadian ya, Ko?" celetuk Yoga terkekeh. "Muka lu cerah banget tiap hari. Gak pernah lagi gue liat lu merengut pusing mikirin berkas."

Marko bersandar di kursinya, menyunggingkan senyum yang jarang sekali terlihat oleh orang lain. "Gue cuma lagi bahagia, Ga. Rasanya... hidup gue yang sepi belasan tahun ini mendadak penuh warna lagi."

Yoga tersenyum hangat melihat sahabatnya kembali ceria. Namun, raut wajah Yoga perlahan berubah serius. "Gue senang liat lu begini, Ko. Tapi... lu udah siapin strategi buat kemungkinan terburuk belum?"

Dahi Marko berkerut kencang. "Maksud lu?"

"Ardi," bisik Yoga pelan namun penuh penekanan. "Lu tahu sendiri Ardi itu sahabat lu dari jaman susah. Dia percaya seratus persen nitipin anak gadisnya ke lu. Kalau sampai Ardi tahu lu pacaran diam-diam sama Aluna... lu udah siap sama kemarahannya?"

Pertanyaan Yoga bagai kerikil tajam yang menghantam benak Marko. Tatapan mata Marko meredup seketika, dadanya mendadak terasa sesak oleh bayangan wajah Ardi.

Meskipun ucapan Yoga terus membayangi pikirannya, Marko memilih untuk menikmati setiap detik momen bahagianya bersama Luna. Ia tak ingin rasa cemas merusak masa-masa indah kasmaran mereka.

Setiap pulang kantor, alih-alih langsung pulang ke rumah, Marko sering mengajak Luna mampir ke berbagai tempat. Kadang mereka sekadar berburu kuliner malam di pinggir jalan, menonton bioskop di lantai teratas mal, atau jalan-jalan santai menikmati suasana malam ibu kota.

Malam itu, Marko mengajak Luna mampir ke sebuah kedai gelato populer di pusat kota. Tempatnya cukup ramai oleh anak-anak muda dan beberapa wanita karier yang sedang nongkrong.

Saat Marko sedang berdiri di antrean kasir untuk memesan rasa gelato kesukaan Luna, Luna menunggu di meja sudut dekat area outdoor. Tak jauh dari tempat Luna duduk, tiga orang wanita berbaju modis sedang berkumpul seraya melirik ke arah Marko dan Luna bergantian.

Suara bisik-bisik mereka yang agak keras mendadak tertangkap oleh telinga Luna.

"Eh, liat deh cewek itu. Masih muda banget kan?" bisik wanita berambut gelombang.

"Iya, paling masih mahasiswi atau baru lulus," sahut temannya yang berkacamata hitam. "Liat tuh bapak-bapak yang beliin gelato... kelihatan tajir banget, kemejanya aja barang branded. Fix sih, ceweknya pasti sugar baby."

"Zaman sekarang ya... mau barang mewah tapi gak mau kerja keras. Jadi peliharaan gadun deh," timpal wanita ketiga seraya tertawa sinis.

Mendengar kata sugar baby dan gadun, darah Luna seketika mendidih. Wajahnya memerah menahan amarah. Bukan Luna namanya kalau hanya diam ditindas dan dihakimi sembarangan.

Dengan langkah lebar dan tegas, Luna langsung berdiri dan menghampiri meja ketiga wanita tersebut.

Brak!

Luna menepuk meja mereka cukup kencang, membuat ketiga wanita itu tersentak kaget.

"Permisi ya, Mbak-Mbak yang terhormat!" seru Luna lantang tanpa rasa takut sedikit pun, memotong gelak tawa mereka. "Kalau punya mulut itu ditata sedikit! Enggak usah sembarangan menuduh orang lain sugar baby atau gadun cuma karena liat perbedaan usia!"

Wanita berambut gelombang berdiri, mengernyit risih. "E-eh... apa-apaan sih lu?! Nggak usah teriak-teriak ya! Lagian emang bener kan? Cowok lu itu pantesnya jadi bapak lu!"

"Mau dia pantes jadi bapak gue, mau dia pacar gue, itu bukan urusan Mbak!" tembak Luna menatap mata wanita itu tajam. "Gue kerja, gue punya uang sendiri, dan pria yang lagi antre gelato itu pria terhormat yang jauh lebih mulia dibanding mulut-mulut gatal kalian! Lain kali kalau iri sama kebahagiaan orang lain, mending ngaca dulu!"

Pengunjung kedai mulai menoleh dan berbisik-bisik. Ketiga wanita itu mendadak mati kutu, wajah mereka memerah padam menahan malu luar biasa akibat dilabrak habis-habisan oleh Luna di depan umum.

Marko yang baru saja selesai membawa dua cup gelato melangkah cepat menghampiri Luna. Pria itu menyaksikan seluruh adegan pelabrakan tersebut dari jarak dekat.

Bukannya marah atau malu, di dalam hatinya Marko justru merasa sangat bangga dan tersentuh melihat bagaimana Luna berdiri pasang badan membela harga dirinya. Senyum lebar tak tahan meletup di bibir Marko saat melihat betapa pemberaninya sang kekasih.

"Ada apa, Aluna?" tanya Marko berpura-pura tenang seraya merangkul bahu Luna.

"Gak ada apa-apa, Om! Cuma ada beberapa lalat yang kurang bahan di sini. Ayo kita pergi dari sini," jawab Luna ketus, menatap tajam ketiga wanita yang menunduk malu itu sebelum berbalik melangkah pergi.

Marko melirik ketiga wanita itu sekilas dengan senyum tipis kemenangan, lalu melangkah menyusul Luna.

Di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, suasana interior SUV hitam itu dipenuhi oleh omelan Luna yang tak kunjung padam.

"Gak jelas banget deh, Om! Kesel banget aku!" omel Luna seraya menyilangkan tangan di dada dan membuang muka ke jendela. "Masa kita dibilang pasangan gadun sama sugar baby?! Emangnya muka Om kelihatan kayak bapak-bapak kurang belaian apa?! Enak aja mereka asal ngomong!"

Marko yang fokus menyetir hanya bisa terkekeh pelan. Senyum hangat tak pernah lepas dari bibirnya mendengarkan celotehan menggemaskan dari kekasih kecilnya itu.

"Udah, Sayang... enggak usah didengar," tutur Marko lembut, menyempatkan diri menggenggam jemari Luna di atas tuas transmisi. "Saya malah bangga banget lho punya pacar pemberani kayak kamu. Luar biasa galaknya."

Luna menoleh, mengerucutkan bibirnya gemas. "Ih, aku serius, Om Marko! Aku gak terima ya harga diri Om diinjak-injak sama orang yang gak kenal Om!"

"Iya, iya, makasih ya udah belain saya," bisik Marko manis, mengangkat tangan Luna lalu mencium punggung tangannya dengan lembut. "Tapi yang penting kan kita tahu kenyataannya seperti apa. Lagipula... kalau mereka tahu kamu ini anak sahabat saya, makin heboh lagi pasti."

Mendengar kata 'anak sahabat', kekesalan Luna mendadak meredam. Ia menatap wajah samping Marko yang tampak tenang di bawah temaram lampu jalanan.

"Om..." panggil Luna pelan, meremas jemari Marko. "Om gak bakal lepasin tangan aku kan, walau nanti ada masalah besar yang menghadang kita?"

Marko menghentikan mobilnya karena lampu lalu lintas berganti merah. Pria matang itu menoleh penuh, menatap mata Luna dengan keteguhan dan ketulusan yang teramat dalam.

"Enggak akan pernah, Aluna," janji Marko mantap, mengelus pipi halus Luna. "Saya sudah memilih kamu, dan saya akan pertahankan hubungan ini."

Luna tersenyum lega, hatinya menghangat sempurna.

Namun, di saat mobil Marko melaju kembali menembus keheningan jalanan malam menuju rumah, sebuah sedan perak misterius tampak terus membuntuti mereka dari jarak yang aman.

Di dalam mobil itu, sosok misterius yang memegang kamera ponsel menyunggingkan senyum licik seraya menekan tombol perekam video. Video mesra Marko yang sedang menggenggam dan mencium tangan Luna di dalam mobil terekam sangat jelas.

Pria itu menyandarkan badannya, lalu mengetik pesan singkat ke sebuah nomor:

"Bukti video romantis sudah lengkap. Besok pagi, file ini akan terkirim langsung ke email pribadi Ardi."

1
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
A.J Lim
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor
A.J Lim: siap kak, terimakasih udh mampir
total 1 replies
A.J Lim
iya kak, ke makan gengsi nya 🤭
Adiba Adisa
luna bakalan ngaku ngga yaa
Adiba Adisa
panik sendiri kan om marko 😄
Adiba Adisa
hayoh loh ketahuan kan 🤭
Adiba Adisa
bagus ngga ngebosenin, bab awal udh dibikin penasaran kelanjutan nya
Adiba Adisa
bab awal udah bikin panas dingin 😄
Adiba Adisa: lanjutkan kak, ditunggu bab selanjutnya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!