Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.
Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.
Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.
Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.
Mari mengikuti ceritanya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 Istri Cepat Cemburu
Mobil Ezra berhenti depan lapangan futsal, Refisha yang melihat keluar jendela.
"Kamu yakin akan menemani saya?" tanya Ezra melihat keraguan dari istrinya.
"Saya sudah terlanjur ikut dan tidak mungkin mengurungkan niat," jawab Refisha.
"Ya sudah kalau begitu ayo!" ajak Ezra membuat Refisha menganggukkan kepala.
Keduanya sama-sama turun dari mobil, seumur hidup Refisha ini pertama kali dia menginjakkan kaki di tempat seperti itu. Ezra mungkin bisa memahami terlihat bagaimana istrinya sejak tadi melihat di sekitarnya tampak kurang nyaman.
"Di sana Refisha!" Ezra mengarahkan jalan membuat Refisha menganggukkan kepala dan mengikuti suaminya itu.
Refisha dibawa ke dekat lapangan untuk orang-orang yang menonton pertandingan itu.
"Ezra!" keduanya disapa Yogi yang berlari menghampiri pasangan pengantin baru itu.
"Hey bro!" Yogi dan Ezra tos dan kemudian berpelukan sebentar.
"Ini Refisha, istri!" ucapnya menegaskan dengan nada sangat sombong.
"Hay Refisha!" Yogi mengulurkan tangannya membuat Refisha menyapa dengan menyatukan kedua tangannya.
Ezra sampai harus menurunkan tangan sahabatnya itu, "tidak perlu berlebihan!" tegur Ezra.
"Refisha, sorry ya waktu itu saya tidak bisa hadir di acara pernikahan kamu Ezra, kebetulan saya ada pekerjaan di luar negri, jadi belum sempat mengucapkan selamat," ucap Yogi.
"Tidak apa-apa," sahut Refisha.
"Refisha ini sahabat dekat saya, Yogi!" ucap Ezra.
"Saya sedikit tahu banyak tentang kamu, kamu pernah menganggap Ezra akan melakukan percobaan bunuh diri," ucap Yogi membuat Ezra menyenggol menggunakan sikunya.
"Memang benar!" ucap Yogi.
Refisha menanggapi selorohan dari kedua sahabat itu hanya dengan tersenyum.
"Hmmmm, Refisha kamu tunggu di sini, saya berganti pakaian dulu dan akan langsung bertanding," ucap Ezra.
"Baiklah!" sahut Refisha.
Ezra dan Yogi berlalu dari hadapan Refisha. Refisha melihat di sekitarnya, memang banyak wanita di sana dan mungkin menemani pasangan mereka untuk bertanding, Refisha kemudian mengambil tempat duduk untuk menunggu suaminya.
Akhirnya Ezra sudah berada di lapangan penuh keringat bersama dengan timnya bermain futsal, terdengar juga suara-suarakan wanita-wanita centil mendukung pasangan mereka, sementara Refisha sama sekali tidak mengerti dengan permainan olahraga itu membuatnya hanya menikmati saja dan memperhatikan suaminya.
Ezra bermain dengan sangat baik, bahkan kakinya sudah menendang bola beberapa kali ke dalam gawang yang mendapat sorakan dari para penonton. Nama Ezra juga terdengar banyak disebutkan, mungkin saja Ezra sangat terkenal di lapangan itu.
Refisha mengambil ponselnya dan mengabadikan momen suaminya dalam permainan itu.
Refisha tersenyum melihat bagaimana Ezra terlihat begitu tampan yang menggoyang-goyangkan kepalanya sehingga rambutnya bergerak dan memancurkan keringat.
Dalam video tersebut pertandingan ternyata telah selesai, tetapi rekaman itu masih hidup yang Refisha mengerutkan dahi ketika seorang wanita menghampiri Ezra, memberikan botol air mineral dan kemudian melap keringat Ezra.
Refisha memastikan secara langsung ketika ponselnya sudah dimatikan dan wanita itu sepertinya sangat Ezra, sampai akhirnya Ezra menyadari bahwa ada istrinya di sana yang membuatnya langsung menghindar dan kemudian Refisha.
"Refisha, sorry kamu pasti sudah menunggu lama," ucap Ezra dengan nafas naik turun yang masih terlihat lelah.
"Tidak apa-apa," ucap Refisha dengan santai.
"Hmmmm.... kamu tunggu sebentar di sini. Ya, saya akan berganti pakaian dan kemudian kita langsung pulang," ucap Ezra.
"Baiklah," sahut Refisha.
Ezra buru-buru berlalu dari hadapan Refisha, dia menyadari bahwa istrinya mungkin sudah bosan menemaninya.
"Ezra memang pemain andalan, apa setelah ini dia akan mentraktir kita!" Refisha menoleh ke arah suara gerombolan wanita yang tidak jauh dari tempat duduknya yang membicarakan tentang suaminya.
"Dia hanya akan khusus mentraktirku saja," salah satu wanita itu sangat percaya diri yang Refisha ketahui bahwa wanita itu yang tadi memberi botol air minum dan melaporkan keringat Ezra.
"Heh, tapi siapa wanita itu?" Refisha mengalihkan pandangannya ketika para wanita itu menyadari bahwa sejak tadi Refisha.
"Ezra menghampirinya, apa mungkin itu kekasihnya?"
"Tidak mungkin, mungkin saja wanita itu asisten dari ibunya yang disuruh untuk Ezra atau mungkin Kakaknya, tetapi sepengetahuan Ezra anak tunggal," mereka menduga-duga
Sampai akhirnya Ezra sudah selesai berganti pakaian dan menghampiri Refisha.
"Ayo Refisha!" ajak Ezra.
Refisha menganggukkan kepala dan kemudian mereka sama-sama berdiri.
"Ezra, keduanya tidak jadi melanjutkan langkah ketika wanita itu menghampiri Ezra,"
"Supirku belum datang, aku numpang ya pulang ke rumah," ucap wanita itu.
"Maaf Alexa, aku tidak bisa," ucapnya menggenggam Refisha dan membawa sang istri untuk pulang.
********
Ezra dan Refisha saat ini sudah sama-sama berada di dalam mobil yang terlihat berhenti di lampu merah dengan hujan turun.
Ezra memperhatikan sang istri tampak begitu murung.
"Kamu tidak ingin menilai pertandinganku tadi?" tanya Ezra basa-basi.
"Saya tidak mengerti tentang olahraga futsal, tetapi menurut saya kamu bermain cukup baik," jawab Refisha singkat.
"Kamu pasti menyesal ya karena menemani saya," duga Ezra.
"Saya tidak menyesal," jawab Refisha.
"Lalu kenapa kamu diam saja? Kamu lelah?" tanya Ezra membuat Refisha menganggukkan kepala.
"Kita sebentar lagi akan sampai," ucap Ezra membuat Refisha menganggukkan kepala.
"Hmmmm, Ezra apakah ketika kamu menikah dengan saya, kamu benar-benar tidak punya pasangan?" Refisha tiba-tiba saja ingin menanyakan hal itu Ezra menoleh.
"Ya, saya memang tidak punya pasangan, saya tidak mungkin menikah dengan kamu dalam keadaan memiliki pasangan atau menjalin kedekatan dengan wanita lain," jawab Ezra.
"Jadi menurut kamu berteman terlalu berlebihan dengan wanita lain adalah hal biasa?" tanya Refisha.
Ezra mengerutkan dahi, dia mulai menyadari sepertinya ada yang tidak beres dengan perkataan istrinya ini. Ezra tampak terlihat berpikir.
"Refisha kamu terganggu dengan apa yang kamu lihat tadi?" Ezra ternyata cukup peka dengan maksud sang istri.
"Saya tidak akan mengerti jika tidak diberitahu," jawab Refisha.
"Refisha, itu Alexa teman kuliah saya saat sama-sama menempuh pendidikan di Luar Negri. Kami hanya berteman dan tidak lebih dari itu," Ezra menjelaskan dengan sangat teliti kepada istrinya.
"Jika memang hanya berteman, apakah tadi hal yang wajar dia lakukan dan sepertinya beliau juga tidak tahu jika kamu sudah menikah, sehingga dia bersikap seperti itu kepada kamu," ucap Refisha.
Ezra menarik nafas dan memohon ke depan, kemudian terlihat menggenggam tangan Refisha.
"Kamu cemburu?" tebak Ezra dengan satu alisnya terangkat.
"Bukan cemburu, tetapi karena menurut saya pemandangan itu sedikit berlebihan dan tidak seharusnya membuat saya tidak nyaman," ucap Refisha dengan jujur.
Ezra mendekatkan wajahnya Refisha dengan memegang pipi Refisha.
"Tetapi bagi saya itu adalah sebuah kecewa dan saya sangat menyukai jika kamu mulai cemburu kepada saya," ucap Ezra dengan suara berat.
"Tetapi kamu tidak perlu mengkhawatirkan Refisha, kami benar-benar tidak ada hubungan apapun dan masalah sayap tidak menyampaikan pernikahan saya bukan saya sengaja, tadi memang waktunya belum cukup saja, karena saya tidak ingin kamu bosan berada di sana," ucap Ezra.
Refisha mengangguk pelan, sepertinya dia harus percaya kepada suaminya. Ezra tersenyum, bagaimana tidak melihat seorang Refisha ternyata bisa cemburu juga.
Ezra benar-benar pintar mengambil kesempatan, dalam situasi momen seperti itu Ezra semakin mendekatkan wajahnya Refisha dengan matanya yang tertuju pada bibir kecil seperti buah persik milik istrinya itu dan hampir saja bibir itu dapat dia raih.
Tin-tin-tin-tin.
Suara klakson mobil dari belakang terdengar begitu ribut karena lampu sudah hijau. Ezra menghela nafas, wajahnya mendadak kesal saat orang-orang tersebut menggagalkan rencananya.
"Iya-iya," ucapnya dengan terpaksa menarik gas mobil sebelum diserbu mobil-mobil di belakang yang sejak tadi membunyikan klakson.
Refisha tersenyum tipis, menoleh ke arah sang suami dan melihat kekesalan di wajah suaminya itu yang gagal menjalankan aksinya.
"Kenapa sih pola pikir orang-orang di Indonesia ini tidak pernah berubah, tidak sabaran," Ezra terus ngedumel.
Refisha hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan suaminya, sudah seperti wanita yang mulutnya tidak berhenti merocos, padahal Ezra yang salah mau adegan romantis dengan istrinya tetapi di tempat umum.
Bersambung.....