"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di peringatkan
Kanaya begitu gelisah ketika pagi itu dia akan menuju ke tempat Raditya, Shaquilla bahkan bisa melihat kegelisahan Kanaya itu karena tangan Kanaya begitu dingin. Saat sarapan pun Kanaya terus melamun sampai sampai Zia harus mengambilkan nasi untuk Kanaya.
"Jangan gugup, jin itu akan melihat kegugupan kamu" ucap sosok yang ada di belakang Gerhana.
"Siapa kamu? kenapa kamu bisa masuk ke sini?" tanya Kanaya lewat batinnya.
"Namaku Hala, raja jin dari rawa congkrang, aku jin pelindung keluarga Raharja, ini adalah cucuku Gerhana Gibran Raharja, aku bisa masuk karena aku jin Islam" jawab Hala sedangkan Gibran sama sekali tidak terganggu dengan obrolan batin Hala dan Kanaya.
"Maafkan saya raja" ungkap Kanaya dan itu membuat Hala tersenyum karena Kanaya ternyata tahu tata Krama berhadapan dengan seorang raja.
"Tidak apa apa, panggil aku Opa sama seperti Gerhana memanggilku Opa" jawab Hala lalu kembali masuk ke dalam tubuh Gerhana.
Kanaya merasa lebih tenang, dia lalu melanjutkan makannya dan kembali bersikap ramah pada semua orang, Shaquilla juga mengobrol dengan Gerhana yang ternyata datang ke sana untuk sebuah proyek dan dia ikut membantu mengajar para santri di pesantren itu di malam hari, meskipun hanya mengawasi para santri junior yang ingin setor hafalan sebelum mereka tidur.
"Kami pamit Abah yai, terima kasih sudah di ijinkan untuk menginap di sini" ungkap Kanaya
"Sama sama, Abah tidak bisa meminta kalian tinggal di sini karena pasti akan sulit untuk kalian melakukan tugas kalian, jadi Abah hanya ingin mengingatkan kalian untuk tetap shalat meskipun nanti gangguan di tempat baru kalian begitu berat" ungkap Adrian ketika mereka akan berangkat.
"Insya Allah Abah yai" jawab semuanya
"Dan untuk kamu Irsyad dan Sultan, Sultan Abah tahu kamu sebenarnya sudah lulus sejak tiga tahun yang lalu, kamu ke sini hanya untuk menemani Shaquilla magang saja dan Abah mau kamu langsung pulang setelah pekerjaan di pabrik itu selesai" ucap Adrian membuat Kanaya terkejut karena setahunya Sultan adalah mahasiswa juga.
"Baik Abah, harusnya Abah yai jangan buka kartu Sultan dong, kan Sultan malu" keluh Sultan.
"Akan lebih malu lagi kalau kamu merasa muda padahal kamu sudah tua" cibir Adrian
"Sultan masih dua puluh empat tahun Abah yai" jawab Sultan
Plak.
"Sudah pergi sana!" gerutu Adrian menggeplak kepala Sultan.
Tak ada yang tahu kalau Sultan memang sudah lulus bahkan dia juga sudah lulus S2, tapi dia begitu mengkhawatirkan Shaquilla yang memilih kuliah di Jakarta hingga dia ikut pindah ke Jakarta bersama Shaquilla yang asli dari Bogor. Sultan berpura pura menjadi mahasiswa di kampus itu karena dia juga kenal dengan pemilik kampus yang merupakan sahabat dari ayahnya. bahkan dia di ijinkan untuk ikut masuk bersama mahasiswa lain untuk menjaga Shaquilla.
"Jangan kaku begitu, gue tahu gue bohong tapi nggak usah kucilin gue juga!" gerutu Sultan di perjalanan.
"Ya kita hanya kaget saja Abang" jawab Irsyad malah di piting Sultan hingga Irsyad memekik.
"Gue bukan Abang Lo ya, panggil gue seperti biasanya saja" gerutu Sultan.
"Nggak sopan bang" jawab Irsyad membuat Shaquilla tertawa.
"Kamu juga malah diam saja padahal kita sudah temanan sejak ospek hari pertama loh" keluh Kanaya
"Maaf, aku juga sudah menolak kak Sultan, tapi dia malah maksa bahkan meninggalkan tugasnya demi menemani aku di Jakarta, maaf ya" bujuk Shaquilla memeluk Kanaya yang hanya bisa mengangguk pasrah.
Mereka sekarang sudah sampai di depan rumah Raditya, Kanaya terus menghela nafasnya, dia juga mulai menetralkan emosinya supaya Raditya tidak bisa melihat Sanca dan juga merasakan keberadaan Sanca di dalam tubuhnya.
"Kalian Kanaya, Shaquilla, Irsyad dan Sultan?" tanya Eva yang sudah ada di depan pagar rumah Raditya.
"Iya Bu" jawab mereka
"Baiklah, ayo masuk dulu karena suami saya sedang sarapan" ajak Eva melirik Kanaya dengan tatapan tajam tapi sebisa mungkin Kanaya tetap bersikap ramah.
"Assalamu'alaikum" sapa semuanya ketika mereka masuk ke ruang tamu dan tiba tiba saja figura foto Raditya jatuh.
Prang.
"Jangan sapa menggunakan bacaan salam, kami tidak pernah melakukan itu, silahkan duduk saya akan panggil suami saya" ucap Eva membuat Shaquilla merinding.
"Wa'alaikumussalam, sudah jangan takut ada aku" bujuk Sultan
"Dia menakutkan" bisik Shaquilla
Kanaya fokus ke figura foto Raditya yang sudah pecah, matanya menangkap sesuatu dan itu seperti energi berwarna hijau yang tertutup asap hitam pekat dan membuat foto Raditya terlihat seperti orang mati.
"Tolong...."
Samar terdengar suara minta tolong dan Kanaya mengedarkan pandangannya ke setiap arah di rumah itu tapi tidak ada siapapun kecuali figura pecah itu.
"Kenapa?" tanya Irsyad karena Kanaya terlihat tidak tenang.
"Kamu dengar suara orang minta tolong nggak?" tanya Kanaya
"Nggak, aku nggak dengar apa apa" jawab Irsyad juga melihat keluar tapi di depan terlihat sepi.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan saja Raditya" sapa Raditya yang sudah menyambut mereka.
"Selamat pagi pak" jawab ke empatnya berdiri dan mencium tangan Raditya bergantian.
"Aakhh!"
"Kenapa mas?" tanya Eva khawatir ketika Raditya memekik setelah bersalaman dengan Kanaya.
Kanaya tersenyum tipis karena dia merasa puas melihat ayahnya itu meringis kesakitan setelah Kanaya secara sengaja menancapkan jarum ke telapak tangan Raditya.
"Aku tidak tahu, tanganku seperti tersengat sesuatu setelah berjabatan dengannya" jawab Raditya
"Hei kamu! bawa jimat apa kamu!" bentak Eva melotot pada Kanaya.
"Saya tidak membawa apapun kecuali pakaian saya Bu, tadi mungkin pak Raditya terkena jarum di gelang saya, tadi saya di pesantren pakai hijab tapi di buka saat ke sini" jawab Kanaya
"Bagus, jangan berhijab di sini, saya takut di anggap teroris" sinis Eva
Sultan merasa kesal, dia khawatir jika membiarkan Shaquilla dan Kanaya tinggal di sana, tapi Adrian memintanya untuk tetap membiarkan para gadis itu di sana karena Adrian ingin membuat sesuatu yang sudah selama dua puluh tahun menguasai rumah juga Raditya di tempat itu ketakutan dengan datangnya Kanaya yang menjadi kutukan untuk mereka.
"Tunggu saya ambilkan minum dulu, mas kamu ngobrol dengan mereka tentang tugas mereka di pabrik" ucap Eva dan Raditya mengangguk.
"Baiklah, saya akan menjelaskan tentang tugas kalian di pabrik saya, pak Darius pasti sudah menjelaskan tentang pabrik roti dan kue milik saya sebelumnya karena beliau sudah menelpon sejak beberapa minggu lalu" ungkap Raditya terus menatap Kanaya yang punya wajah begitu mirip dengan dirinya.