Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Sebuah Pelarian
Pagi menyingsing dengan sisa kehangatan udara senja kemarin yang masih terasa menghimpit. Begitu gerbang depan berderit pelan tanda Dinda telah berangkat ke kantor, suasana rumah kembali hening.
Winta sendirian di ruang tengah, memandangi cangkir teh hangatnya yang masih berasap tipis.
Ponsel di atas meja bergetar pendek. Sebuah nada dering video call berbunyi, namun kali ini bukan nama Rangga yang muncul, melainkan nama anak bungsunya, Rio.
Winta menggeser tombol hijau. Wajah Rio memenuhi layar, berlatar belakang ruang kuliahnya yang masih remang. Tidak ada raut marah atau mendesak di wajah pria muda itu, hanya ada tatapan tenang yang dalam dan dewasa.
"Pagi, Ma,"
panggil Rio lembut.
"Udah sarapan?"
"Pagi, Rio. Sudah, Nak. Kamu sendiri gimana di sana?"
jawab Winta, mencoba memasang senyum terbaiknya.
Rio tersenyum tipis, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Rio baru selesai kelas. Ma... Rio sengaja telepon sekarang, pas Dinda udah berangkat. Ada yang mau Rio tanyain, tapi Rio mau Mama dengar ini bukan sebagai tuduhan, melainkan sebagai obrolan antara dua orang dewasa."
Hati Winta berdesir pelan. Ia mengangguk, membetulkan letak duduknya.
"Dinda sempat cerita sedikit soal kejadian di restoran minggu lalu, dan kasak-kusuk di kantornya,"
Rio memulai kalimatnya dengan nada teratur dan tenang.
"Rio juga dengar... ada pria muda beristri yang sepertinya punya perasaan sangat dalam ke Mama. Rangga, kan?"
Napas Winta tertahan seketika. Jemarinya yang saling bertaut di pangkuan semakin merapat. Ia menunduk, tak sanggup menatap mata anaknya di layar.
"Mama gak perlu takut atau merasa bersalah sama Rio,"
lanjut Rio, suaranya tetap hangat tanpa nada menghakimi.
"Rio tahu Mama perempuan baik-baik yang gak pernah punya niat merusak rumah tangga orang. Tapi Rio cuma mau ajak Mama melihat ini dari sudut pandang yang lebih jernih."
Rio jeda sejenak, memberikan ruang bagi ibunya untuk bernapas.
"Ma, setiap pernikahan itu rumit. Mempertahankan komitmen bertahun-tahun itu gak mudah, dan selalu ada fase-fase kritis di dalamnya,"
tutur Rio dengan kedewasaan yang melampaui usianya.
"Pria seperti Rangga... saat rumah tangganya sedang dingin, penuh konflik, atau kehilangan kehangatan, dia secara tidak sadar akan mencari 'tempat berteduh'. Dan dia menemukan itu di sosok Mama."
Winta mendongak perlahan, menatap wajah putranya yang tampak begitu bijaksana.
"Mama itu teduh, penyabar, dan memberikan kenyamanan yang mungkin hilang dari hidupnya,"
sambung Rio.
"Tapi Ma, apakah itu murni cinta, atau cuma rasa nyaman sesaat karena rumah tangganya sendiri sedang tidak baik-baik saja? Ketika seseorang merasa terlindungi dan tenang di dekat Mama, sering kali mereka mengira itu adalah cinta sejati. Padahal, bisa jadi itu cuma pelarian dari masalah yang belum dia selesaikan dengan istrinya."
Kata-kata Rio meresap pelan ke dalam dada Winta, menghantam bagian terlembut dari keraguannya.
"Kalau masalahnya dengan istrinya selesai, atau kalau keadaan kembali normal, belum tentu perasaannya akan tetap sama,"
Rio menatap ibunya lekat-lekat.
"Rio gak mau Mama jadi tempat hinggap sementara untuk orang yang cuma sedang terluka. Rio gak mau Mama menanggung beban, rasa bersalah, dan nama baik yang dipertaruhkan hanya untuk ikatan yang tidak punya pijakan kuat. Mama berhak atas ketenangan, bukan kerumitan rumah tangga orang lain."
Winta tertegun. Tidak ada amarah dari Rio, tidak ada larangan protektif yang mengekang seperti kakak kakaknya. Rio menyampaikan segalanya dengan kelembutan yang terukur, mengurai benang kusut di kepala Winta dengan rasionalitas seorang dewasa.
"Rio paham Mama kesepian, dan Rio minta maaf kalau kami belum bisa selalu ada di samping Mama,"
tambah Rio, mengukir senyum tulus.
"Tapi tolong, pertimbangkan ini baik-baik ya, Ma. Beri jarak. Biar pria itu menyelesaikan dulu apa yang harus dia selesaikan dengan istrinya, tanpa melibatkan Mama."
"Rio..."
suara Winta akhirnya keluar, parau dan bergetar.
"Terima kasih, Nak. Mama... Mama mengerti."
"Sama-sama, Ma. Rio tutup dulu ya, mau lanjut belajar. Jaga kesehatan Mama."
Layar ponsel itu menggelap. Winta perlahan menurunkan ponselnya ke pangkuan.
Ia bersandar pada sofa, memandangi langit-langit ruang tengah yang sepi.
Penjelasan Rio yang begitu dewasa dan tidak menghakimi justru membuat dinding keyakinannya runtuh. Kerinduan membara pada Rangga yang menyiksanya seminggu terakhir kini berbenturan hebat dengan kenyataan pahit yang dibeberkan anak laki-lakinya.
Apakah Rangga sungguh mencintainya, atau ia hanya sekadar tempat berteduh sementara di tengah badai rumah tangga pria itu? Hati Winta kini benar-benar bimbang.
Bersambung