Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengajak jalan-jalan
"Kakak, Kak Fatma sudah sadar," ujar Nisa saat Ali sedang sibuk mengusir Rangga. Mendengar ujaran sang adik, Ali dengan cepat mendekati Fatma. Ia langsung menyodorkan segelas minuman yang diambilnya tadi dengan buru-buru ke arah Fatma.
"Kamu sudah sadar? Apa ada yang salah Fatma? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Ali khawatir
"Aku ingin pulang Mas," ujar Fatma lirih dengan mata yang masih berair. Dia bahkan lupa tujuannya ke sini yang bermaksud mengajak Ali mencari dan memilah obat yang cocok untuk bahan apoteknya. Kejadian ini benar-benar membuatnya kehilangan tujuannya kemari.
"Apa! Terus bagaimana dengan pemilahan obat untuk apotikmu?" tanya Ali memandang Fatma masih dengan gurat kekhawatiran di wajahnya.
"Kita lakukan itu besok saja. Sekarang aku bahkan tak sanggup berjalan Mas. Tolong antarkan aku pulang mas! Aku mohon." pinta Fatma melas. Suaranya terdengar lirih, wanita itu sepertinya cukup tertekan dengan fakta yang terpampang.
"Baik, aku akan mengantarmu tapi tunggu sebentar." Ali bangkit berdiri dan berbalik, kembali memfokuskan diri kepada Rangga
"Apa kau tuli hah! Aku bilang pergi... cepat pergi! Sebelum aku menghajarmu," ujar Ali keras dan lantang, namun Rangga masih mengokohkan diri tetap berdiri di sana, hingga Ali terpaksa menarik kasar Rangga untuk keluar dari rumahnya.
"Kau tahu, aku sangat membencimu. Jadi jangan pernah menunjukkan diri lagi di depanku dan adikku," ucap Ali setelah berhasil mengeluarkan Rangga dan menutup pintu dengan keras tepat di depan wajah Rangga yang terdiam membeku. Setelahnya Ali bersegera kembali ke dalam di mana adik dan calon istrinya menangis pilu dalam keadaan yang terlalu pelik.
"Maaf, aku benar-benar minta maaf." Rangga berucap lirih dengan wajah yang menunduk penuh penyesalan. Kemudian dia memandang pintu rumah yang kini tertutup saat sebuah tekad kuat telah terbersit dan tertanam di dalam hatinya. Dia belum ingin menyerah.
🍀🍀🍀
Surya masih menghamparkan Sinar hangatnya di Bumi Indah ciptaan Sang Kuasa. Rangga tak henti-hentinya menghembuskan nafas kasar saat mengumpulkan keberaniannya yang berencana akan mengajak Nisa jalan-jalan. Tentu saja itu akan menjadi jalan yang sulit mengingat Ali yang tidak ingin melihatnya lagi. Namun Rangga tak mau patah arang. Dia tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya.
Rangga kini berdiri di depan pagar rumah Ali dalam keadaan siap dan rapi saat melihat kakak beradik itu keluar dari pintu depan. Terlihat Ali yang sudah rapi hendak pergi dan Nisa yang tersenyum cerah walau matanya hanya memandang hamparan kegelapan. Sungguh, itu adalah senyuman yang begitu di rindukan Rangga di wajah mantan istrinya. Senyuman yang dulu selalu dia acuhkan tak peduli, tapi sekarang dia ingin senyuman itu kembali terkembang untuknya. Namun sayangnya, senyuman itu kini bukan lagi miliknya.
"Kakak akan pergi mencari obat dengan Kak Fatma, jadi Kakak harus pergi dulu untuk menjemput Kak Fatma. Kamu tidak apa-apa kan sendirian di rumah?"tanya Ali sekedar memastikan padahal biasanya dia juga selalu meninggalkan Nisa sendirian di rumah saat berangkat kerja.
"Insya Allah tidak apa-apa Kak. Biasanya juga kan aku sendiri di rumah," sahut Nisa masih dengan senyum yang terkembang di wajah chubby-nya.
"Kakak akan berusaha cepat selesai. Mungkin siang akan selesai karena sorenya kakak juga harus ke kantor. Sudah 2 hari kakak tidak mengunjungi kantor. Entah bagaimana Yanda akan mengocehi kakak nanti," kata Ali yang membayangkan Yanda, asistennya yang akan berkicau ria mengeluh tentang banyaknya pekerjaan yang Ali suruh dia selesaikan sendiri.
Obrolan mereka mengalir dengan lancar seperti biasanya tanpa sadar sepasang langkah menghampiri mereka dan mengucapkan salam. Sontak Ali dan Nisa menjawab salam tersebut, namun Ali langsung berang saat melihat siapa yang bertamu
"Buat apalagi kamu kemari Rangga? Apa kamu tidak mendengar perkataanku untuk tidak menunjukkan dirimu lagi di depanku dan Annisa?" tanya Ali dengan nada kasar begitu melihat batang hidung Rangga kembali menghadapnya.
"Aku minta maaf Kak Ali karena aku masih nekat datang kemari walau kak Ali sudah melarangnya, tapi aku tidak bisa menahan diriku untuk melihat Nisa." jawab Rangga jujur. Tapi kalau hanya untuk melihat Nisa, lalu untuk apa dia sampai datang menemuinya seperti sekarang. Bukankah pria itu dapat melihat Nisa dari kejauhan? Lagi pula Nisa juga sudah tidak dapat melihatnya.
"Lalu buat apa kamu kemari?" Ali mencoba meredam kekesalannya pada Rangga.
"Aku ingin mengajak Nisa jalan-jalan. Tolong ijinkan aku mengajaknya sekali ini saja?" pinta Rangga tulus. Namun, permintaannya itu hanya jadi pemantik dalam bensin bagi emosi Ali.
"Kurang ajar!! Kamu benar benar minta dihajar ternyata." Ali kembali kesal mendengar permintaan Rangga yang tidak tahu diri. Emosinya benar- benar di uji oleh pria yang pernah menjadi iparnya itu.
Dia hendak memberi pelajaran pada pria itu saat Nisa dengan cepat menangkap tangan kakaknya itu yang berdiri dekat dengannya.
"Kak Ali, jangan... kumohon jangan Kakak." Nisa menggeleng tanda dia tidak setuju kakaknya menggunakan kekerasan. Dia tahu kenapa Ali seperti itu, karena jelas kakaknya itu begitu menyayanginya. Hanya saja Nisa tidak ingin kakaknya yang baik harus menggunakan kekerasan untuk menghukum Rangga. Bagaimana pun juga, Nisa tidak ingin kakaknya terlibat masalah.
"Tapi Nisa, kakak harus memberinya pelajaran supaya dia tidak kelewatan batas."
"Kak Ali, ku mohon berikan aku kesempatan sekali saja... kumohon Annisa, Kak Ali!" pinta Rangga lagi.
"Tidak, aku tidak akan mengizinkannya. Aku tak rela kau menyakiti Nisa lagi."
Walau Ali sudah sedikit melembut tapi tatapannya pada Rangga sama sekali tidak. Ada bara api kekesalan yang masih membuncah melewati sinar mata Ali. Pria itu begitu membenci pria bernama Rangga itu.
"Kakak, izinkan aku pergi dengan Mas Rangga sekali ini saja. Kami juga harus bicara tentang hubungan kami. Aku akan menjelaskan semuanya dengan jelas dan mengakhiri semuanya. Lagian aku juga bosan di rumah terus, aku ingin jalan-jalan," ujar Nisa masih memegang tangan Ali. Alasan yang dipakai adiknya itu jelas, sangat jelas. Namun Ali masih tidak mau untuk percaya pada Rangga. Apalagi jika harus membiarkan Rangga berduaan dengan adiknya itu. Ali takut Nisa akan luluh dan kembali pada kesalahan yang sama dengan pria itu. Ali tidak mau Nisa kembali terluka dan hidup dalam luka dan tangisan.
Rangga menatap lembut wajah Nisa yang sedang membujuk kakaknya itu. Wajah mungil yang mulai berisi itu terlihat cantik dan manis di waktu bersamaan. Bagaimana bisa Rangga tidak menyadari hal itu selama ini.
"Menjelaskan apa lagi Nisa? Hubungan kalian sudah berakhir. Kakak tidak ingin melihat kamu menangis lagi. Kakak tidak akan mengizinkannya," ujar Ali tetap kokoh dengan jawabannya.
"Aku mohon Kak. Aku merasa bosan di rumah terus. Sekali ini saja! Lagian, kan kakak akan pergi, aku sendirian deh." Nisa mencoba mengeluarkan rayuan dengan suara manjanya. Ia merasa inilah saatnya dia memperjelas semuanya dengan Rangga agar pria itu tidak lagi menemuinya dan bertengkar dengan kakaknya.
Ali menghembuskan nafasnya mendengar nada manja adiknya itu. Tidak biasanya Nisa berucap manja dengannya, dan sekalinya itu terjadi malah karena meminta ijinnya buat jalan- jalan dengan Rangga, pria yang Nota bene-nya adalah sumber lukanya. Tapi Ali pun juga tidak bisa menolak itu sekarang. Dia luluh, karena jarang- jarang adiknya mau mengeluarkan suara manja seperti itu padanya.
"Oke baiklah! Kakak mengizinkannya. Tapi ingat, hanya sekali Ini saja Kakak mengijinkannya. Setelah ini kakak tidak akan mengijinkanmu bertemu dengan Rangga lagi. Kakak tak tahan melihat wajahnya itu, terlebih matanya," ujar Ali memandang Rangga tajam. Dia benar-benar kesal jika mengingat ada bagian dari adiknya di wajah pria itu.
"Terima kasih Kak Ali," kata Rangga senang akhirnya mendapatkan izin Ali.
"Aku mengijinkannya bukan karenamu, jadi jangan berbangga dulu. Dan ingat! Jangan macam-macam pada adikku apalagi sampai membuatnya menangis. Jaga dia baik-baik. Bagaimanapun juga kini dunianya gelap setelah dia memberikan cahayanya padamu." Rangga tertohok mendengar ujaran Ali yang sekilas tampak seperti menyindirnya
"Kakak Sudahlah! Ayo cepat berangkat, Kakak sudah terlambat nanti Kak Fatma marah lho kalau nungguin terlalu lama." nisa mencoba menengahi pembicaraan kakaknya yang akan terus bersitegang dengan Rangga kalau dia belum juga pergi.
"Oh ya ampun! Kakak sudah terlambat. Ya sudah Kakak berangkat dulu ya." Ali cukup terkejut saat memastikan waktu di pergelangan tangannya dimana penunjuk waktu melingkar di sana. Ali mendekati Nisa dan mencium dalam kening adiknya itu di depan Rangga. Tindakan itu jelas membuat Rangga cemburu melihatnya. Seharusnya dia dulu seperti Ali yang akan mencium dalam kening Nisa saat akan berangkat kerja, kalau perlu bibir sekalian. Namun dia malah menyia-nyiakan kesempatan itu dan penyesalannya kini sama sekali tidak berarti.
"Kamu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi Kakak." kembali Ali memperingatkan adiknya. Nisa hanya menggangguk ringan mendengarnya.
"Ingat! Jangan macam-macam sama adikku." bisik Ali lagi di telinga Rangga saat melewati pria itu dan setelahnya Ali memasuki mobil dan mulai melaju pergi setelah mengucapkan salam.
.
.
.
oh tidak bisa
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean