NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27: Fakta Baru Akhirnya Diketahui

Aku berjalan di belakang Jefry yang mendorong Shinta menuju mobil pakai kursi roda. Kondisinya sudah membaik, tapi ia masih merasa lemas.

Sedangkan Jefry terlihat menahan emosi karena belum terlampiaskan. Hendra berlari sedikit di sisi lain, aku segera menyusul, membuka pintu belakang mobil agar Jefry bisa memasukkan Shinta dengan cepat.

Seorang sekuriti rumah sakit mengikuti kami, Sigit. Nama itu tertulis jelas di papan namanya. Ia ikut membantu menyingkirkan kursi roda setelah Jefry mengangkat tubuh Shinta.

Usai memastikan Jefry dan Shinta masuk ke dalam mobil, Sigit menoleh padaku.

Aku langsung memahami maksud dari pandangan itu. “Mari, Kang.”

Kami berjalan berdampingan menyusuri lorong menuju loket. Rumah sakit terasa sunyi. Lampu-lampu putih berkedip halus, tapi entah kenapa, langkah kaki kami seperti menggema panjang.

Sigit tiba-tiba bicara pelan.

“Maaf ya, A’ Bagas.”

Aku menoleh. “Iya, Kang,” jawabku mengerti tujuan permintaan maaf itu.

Ia kemudian berbicara tanpa melihat. Matanya melirik tidak jelas, seperti ada rasa tak nyaman, “Tadi soal pengusiran. Bukan maksud kita tidak ingin membantu. Tapi kita punya aturan tidak tertulis, kita memang tidak boleh menerima pasien dari apartemen sebelah.”

Aku berhenti melangkah. “Maksudnya, apartemen Spring Town?”

Sigit menatapku lama, sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Iya, apalagi..” ia menelan ludah. “Kalau dari lantai delapan.”

Mendengar ucapan Sigit, jiwaku terasa bergetar sedikit.

“Memangnya ada apa dengan lantai delapan?” tanyaku hati-hati. Berpura-pura tidak tahu.

Ia tak langsung menjawab. Langkahnya pelan, tatapan lurus ke depan, seakan takut kalau ada yang mendengar kami.

“A’ Bagas.. Punten, saya boleh kasih saran?” suara terdengar kecil. Aku hanya diam, memberikan tanda agar ia melanjutkan kalimat. “Sebaiknya, kalian segera pergi dari sana. Jangan sampai ada kejadian yang lebih berbahaya.”

Aku menarik nafas panjang. “Kang, tolong ceritakan ke saya, sebenarnya ada apa? Kenapa dengan lantai delapan?” mengulangi pertanyaanku.

***

Sekarang aku berjalan keluar lobi rumah sakit. Langkah terasa lebih cepat, ingin segera memberitahukan fakta baru yang dikatakan Sigit.

“Nuhun ya, Kang,” ucapku kepada Sigit saat mengantar hingga keluar.

Ia mengangguk, lalu aku bergegas menghampiri mobil. Letaknya berada di dekat lobi.

Begitu masuk ke dalam, Hendra langsung bertanya, “Gimana, Gas? Beres?”

“Aman,” kataku singkat lalu memberikan kartu atm kepada Jefry. Meskipun aku yang mengurus pembiayaan tindakan IGD barusan, tapi bukan menggunakan uangku. Tentu saja, karena aku tidak punya uang.

Setelah Hendra menjalankan mobil, aku mempertanyakan tujuan, “Jadi, kita kemana?”

“Kayaknya kita nggak mungkin balik ke apartemen deh,” ujar Hendra.

Aku menoleh ke belakang, memperhatikan Jefry yang sedari tadi hanya diam. Lalu semakin menengok, aku melihat ke arah Shinta, tepat duduk tepat di belakangku.

Ia terlihat sedang memejamkan mata, tapi aku tahu ia tidak sedang tidur.

Teringat tentang apa yang diucapkan oleh Sigit, aku langsung membuka obrolan.

“Gua udah tau, alasan kenapa teror jam tiga selalu datang tiap malam di apartemen itu.”

Mobil terparkir di halaman restoran Waroeng Kayoe. Langit sudah terang meski matahari belum muncul. Suasana masih sepi. Hanya ada satu sekuriti yang tadi menyambut kedatangan kami dengan heran.

Kami duduk tanpa banyak bicara.

Shinta dibaringkan di sofa panjang dekat jendela. Wajahnya pucat, bibir pecah-pecah terlihat kering. Jefry duduk di samping, satu tangan menggenggam kaki Shinta, tangan sebelah memijat pelipis sendiri. Hendra menjatuhkan tubuh di kursi kayu, nafasnya berat.

“Bang,” suara Hendra memecah sunyi. “Jadi gimana nasib kita?” bertanya ke Jefry.

Aku menyimak.

“Nggak tau juga gua, bro” jawabnya.

Semuanya diam, tapi kemudian Hendra mengalihkan pertanyaan tajam kepadaku.

“Eh ya, Gas. Lo kayaknya ada yang disembunyiin ya?” hardik Hendra sambil membetulkan posisi duduk.

“Maksudnya, Bang?”

Aku masih tidak mengerti karena banyak kejadian yang telah terjadi. Rupanya ia mengungkit soal ucapan Shinta saat kerasukan.

“Tadi waktu Shinta nggak sadar, dia nunjuk lo kan? Dia bilang, lo udah tau, apa maksudnya?”

Sekarang mulai paham tapi juga bingung bagaimana untuk menjelaskannya.

“Gas, lo kalo tau sesuatu, ngomong. Jangan ada rahasia-rahasiaan lah!” Jefry mendadak emosi.

Ia melepaskan tangan dari Shinta, lalu mendekatkan tubuh ke meja. Tatapannya tajam, meski terlihat sangat lelah.

“Coba deh lo ceritain semua ke kita. Mulai dari yang tadi lo bilang di mobil, soal teror jam tiga. Gua nggak terlalu dengerin banget soalnya sambil nyetir,” pinta Hendra.

Aku menarik nafas cukup panjang, lalu menghembuskannya. “Iya, Bang. Jadi gini..”

“Seperti yang udah kita tau, waktu covid kemarin, di apartemen itu banyak penghuni yang meninggal. Ternyata memang disengaja. Ada yang sabotase.”

Mungkin karena ingin mendengar ceritaku, Shinta memaksakan diri untuk bangun. Ia membuka mata sambil merintih.

“Kenapa, Dek?” tanya Jefry.

Ia menggelengkan kepala, pelan. “Lanjut Mas,” katanya memintaku meneruskan cerita.

Aku menuruti.

“Ternyata kejadian itu nggak sesederhana yang kita bayangkan, karena melibatkan banyak pihak, termasuk rumah sakit tadi kita datangi. Mereka juga terlibat.”

“Terus, soal teror jam tiga?” ucap Hendra, sepertinya lebih tertarik dengan hal itu.

Sejenak aku berpikir untuk memilih kata yang tepat. “Kalo itu..”

“Mhh..”

Hening kembali mulai menyelimuti. Mereka semua menunggu lanjutan kalimatku.

Namun akhirnya aku berusaha mengatakan apa saja yang selama ini ada di kepalaku.

“Dulu kan waktu covid, ada pemberlakuan lockdown. Masyarakat tidak boleh beraktivitas di luar rumah. Begitu juga di apartemen Spring Town. Tapi yang berbeda, di sini mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan baik, karena pembatasan sangat ekstra.”

“Para petugas yang berjaga, hanya datang setiap jam tiga dini hari untuk memberikan mereka makanan dan obat seadanya, sebelum mereka benar-benar diabaikan,” beberku dengan nada mulai terbata.

Aku tidak tega membayangkan betapa sengsaranya para korban dibiarkan sakit dan kelaparan hingga menuju ajal.

“Mereka.. Para petugas itu.. Berasal dari rumah sakit tadi,” tutupku.

Dengan posisi masih rebahan di atas sofa, aku melihat Shinta menangis sesenggukan. “Kasihan sekali mereka,” lirihnya.

“Terus hubungan sama teror jam tiga apa?” Hendra masih belum mengerti.

Meskipun belum yakin sepenuhnya, tapi aku punya asumsi bahwa, “Mungkin karena para penghuni selalu bangun jam tiga dengan penuh harap. Makanya ini berlanjut, hingga setelah mereka meninggal dunia, jam tiga dini hari tetap menjadi sesuatu,” tutupku.

Jefry masih duduk dengan wajah tegang. Tangan bertumpu di alas meja, nafasnya sedikit terengah. Hendra menatapku tanpa berkedip, sementara Shinta entah sejak kapan sudah membuka mata dengan lebar menoleh pelan ke arahku.

Tatapannya kosong, tapi tegas . Terlalu tajam untuk orang yang baru saja pingsan.

“Terus kalo alasan kenapa arwah tadi bilang, kamu udah tau, apa maksudnya, Gas?” tanya Hendra.

Lagi-lagi aku harus memikirkan kalimat yang tepat untuk menjelaskan.

“Jadi waktu Shinta pertama kali pingsan. Ternyata dia sempat mengetik sesuatu di laptopnya. Sebuah pesan rahasia, tebakan gua, ditulis sama arwah yang ngerasukin Shinta.”

“Ratna namanya.”

Aku berusaha mengingat nama tiongkoknya, tapi aku lupa.

“Ratna? Siapa tuh?” tanya Jefry.

“Penghuni apartemen itu, Bang. Salah satu korban,” ujarku.

Hendra langsung bereaksi. “Lo tau darimana dia yang nulis?”

“Ya di dalam tulisan, dia ngasih tau, Bang.”

Belum sempat aku melanjutkan, Jefry tidak sabar. Ia minta agar aku memberitahukan apa isi pesan tersebut. “To the point aja, Gas.”

“Lo jangan muter-muter mulu. Jangan ada lagi yang lo tutup-tutupin.”

Meskipun rasanya aku ingin mengeluh karena jika ditarik ke belakang, ini semua terjadi karena rencana Jefry. Tapi aku tahu sekarang hal tersebut tidak lagi penting.

Untuk kesekian kali, aku menarik nafas panjang.

Menguatkan keberanian untuk memberitahu apa yang ditulis oleh Ratna.

“Isinya soal tiga tuntutan mutlak,” kataku singkat.

Mereka bertiga menyimak. Bahkan Shinta bergerak, mencoba duduk agar bisa mendengarkan lebih seksama.

Jefry ikut membantunya.

“Tuntutan? Ke siapa?” ucap Hendra penasaran.

“Nah itu yang gua bingung, Bang. Awalnya dia bilang pesan ini rahasia, jadi waktu itu gua mikirnya, ya pesan ini cuma buat gua. Tapi tadi dia malah ngasih tau ke kalian, gua nggak ngerti apa maksudnya,” jelasku.

Dengan suara serak basah, Shinta ikut bicara, “Isi tuntutannya apa, Mas Bagas?”

Tak mau langsung menjawab, aku mengingat kembali apa yang ada di dalam tulisan itu. Aku tidak mau salah bicara.

Suasana kembali sepi.

Menambah keraguan dalam hati, tapi aku tak dapat mengabaikan tiga orang di dekatku, tengah menunggu penjelasan.

“Untuk pastinya, nanti kita bisa lihat di laptop gua. Cuma seinget gua, isinya itu..”

“Yang pertama, mereka ingin pemakaman layak. Kedua, keadilan, mereka mau pelakunya ditangkap. Dan terakhir, mereka nuntut pembangunan apartemen diselesaikan, supaya ahli waris mereka bisa tinggal di situ,” beberku.

Jefry langsung bereaksi keras, “Gila kali! Memangnya mereka kira, kita siapa? Bisa ngelakuin itu.”

Tapi Shinta justru tertarik dengan tuntutan poin pertama.

“Pemakaman yang layak? Berarti? Jenazah mereka?” ia tidak melanjutkan kalimat.

Mungkin ia tidak tega untuk meneruskan. Tak kuat membayangkan apa yang terjadi pada jasad para korban penghuni apartemen itu.

Aku pun berpikir demikian. Kalau mereka menuntut pemakaman layak, artinya hingga sekarang, mayatnya belum dikuburkan dengan baik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!