NovelToon NovelToon
Cinta Sang Bos Pada Guru Les Anaknya

Cinta Sang Bos Pada Guru Les Anaknya

Status: tamat
Genre:Duda / CEO / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Puja Mardika

Aelsana Jamira, mahasiswi cerdas yang baru lulus kuliah, menerima pekerjaan di Hanggara Group tanpa menyadari bahwa atasannya, Raksa Hanggara, adalah ayah dari Langit, anak yang selama ini ia rawat sebagai pengasuh sekaligus guru lesnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puja Mardika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Raksa Hanggara, Presiden Direktur Hanggara Group, duduk di ruang kerjanya sambil membaca laporan keuangan perusahaan tahun lalu. Alisnya yang tebal sebentar mengernyit, sebentar mengendur. Dia memperhatikan kinerja perusahaan sampai ke detail terkecil.

Pada saat itu, Satria Kusuma, sekretaris pribadinya, mengetuk pintu dan melapor dari ambang pintu.

"Pak Presdir, Mbak Aelsana Jamira sudah tiba."

"Baik. Bawa dia ke ruang rapat dulu. Saya segera keluar." Raksa menjawab dengan suara berat, menutup laporan keuangannya, dan memberi perintah tanpa ekspresi.

Sekarang pukul 10.35. Satu lagi pelamar yang tidak tepat waktu. Sehebat apa pun orangnya, perusahaan tidak akan menerimanya. Orang yang tidak punya kesadaran waktu pasti punya sikap kerja yang buruk.

Raksa mendengus dalam hati dan berjalan keluar dengan tenang. Dia sudah memutuskan tidak akan menerima Aelsana karena terlambat. Tapi kabar tentang prestasi akademiknya yang luar biasa dan banyaknya perusahaan lain yang memperebutkannya membuat Raksa penasaran.

Karena itu, dia tidak memperlakukannya seperti pelamar terlambat lainnya, yang biasanya langsung dia suruh Satria nyatakan tidak lolos. Dia memilih menemui Aelsana sendiri di ruang rapat.

Tentu saja dia tidak akan menerimanya. Dia hanya ingin melihat apakah kemampuan Aelsana memang nyata atau cuma gosip.

"Selamat pagi... Saya Ael... Sana, Aelsana Jamira..." Sana yang duduk sendirian di ruang rapat menyapa dengan gugup begitu pintu terbuka.

Aneh. Dia jarang segugup ini. Kenapa lidahnya malah kelu begitu melihat pria yang memancarkan aura dingin dan tak acuh ini?

"Kamu Aelsana Jamira?" Tidak terlalu mengesankan, pikir Raksa. Bicara saja terbata-bata, berarti kemampuan mengatur dirinya buruk.

Dalam hati dia kembali mencoret penilaiannya. Dia butuh orang yang efisien dan tertata, dan Aelsana jelas tidak memenuhi syarat.

"Betul, saya Aelsana Jamira."

Kali ini Sana tidak terbata-bata seperti tadi. Dia diam-diam mengatur napas. Dia melihat tatapan Raksa yang penuh keraguan dan kurang percaya, dan itu membangkitkan semangat bersaingnya.

"Saya dengar nilai kamu bagus. Semoga kamu bukan sekadar kutu buku." Raksa tersenyum sinis melihat perubahan sikap Sana yang mendadak.

"Kalau Bapak tidak bisa membedakan saya kutu buku atau bukan, berarti penilaian Bapak terhadap orang lain kurang bagus." Sana paling tidak suka diremehkan, dan dia membalas dengan cara yang sama.

"Oh ya? Coba katakan, kamu bisa apa? Alasan apa yang membuat saya harus memakai jasa kamu?" Raksa kaget dengan jawaban itu dan terpaksa menilai ulang perempuan di depannya.

Dia tampak sangat percaya diri, tapi apakah itu hanya gertakan?

"Maaf, saya sama sekali tidak tahu soal itu. Perusahaan Bapak yang mengirim undangan wawancara, jadi saya datang. Kalau Bapak tanya kenapa Bapak harus menerima saya, itu pertanyaan yang justru ingin saya tanyakan pada Bapak!"

Awalnya Sana menganggap wawancara ini sangat serius. Tapi sikap Raksa yang agresif membuatnya kehilangan ketenangan.

"Menarik! Kamu sadar sedang diwawancarai? Tidak takut dengan akibat dari bicara seperti itu pada pewawancara?"

Raksa memandang Sana dan merasa puas dengan keberanian serta kecepatan reaksinya. Keputusannya untuk tidak menerima Sana mulai goyah.

"Tidak. Saya yakin perusahaan Bapak butuh orang berbakat, bukan cuma karyawan yang pandai menjilat. Saya rasa Bapak bisa menimbang untung-ruginya dengan mudah." Sana mengembalikan pertanyaan itu kepada Raksa dengan tenang.

Bagi Sana, ini bukan lagi soal apakah dia diterima kerja. Ini soal apakah dia bisa menjaga harga dirinya.

"Jadi maksudmu, saya harus menerima kamu, kalau tidak saya kehilangan orang berbakat?" Raksa tertawa. Tapi kali ini bukan tawa meremehkan seperti tadi. Tawanya tulus dan lepas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!