NovelToon NovelToon
0000

0000

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Bad Boy / Kutukan
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: M Rizky Ferdiansyah

Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
​Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
​Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
​Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Menit Menuju Kiamat Digital

Angin di platform puncak menara bertiup kian kencang, merangsek rangka besi dengan deru mengerikan bagaikan raungan binatang buas yang terluka. Di bawah pendar cahaya merah pekat dari pemancar pusat, Hartono Senjaya berdiri sempoyongan di anak tangga teratas pylon. Bajunya yang semula rapi kini terkoyak di bagian bahu, menyingkapkan guratan-guratan urat hitam tebal yang berdenyut aktif menembus kulitnya. Tangannya yang memegang pistol bergetar hebat, namun moncong senjata berbahan baja dingin itu tetap lurus mengarah ke dada Faris.

​Mata Hartono tak lagi memancarkan kearifan seorang taipan media terpandang. Rongga matanya dipenuhi cairan tembaga hitam yang merembes keluar bagaikan air mata membeku, meninggalkan jejak gosong di pipinya. Lehernya berdenyut keras menampakkan rajah kabel serat optik yang tertanam langsung di dalam dagingnya, mengalirkan sinyal-sinyal statis yang terdengar seperti gesekan amplas di dalam kepala.

​"Satu langkah lagi kau dekatkan kabel itu ke soket, Faris... peluru ini akan menembus jantungmu," ancam Hartono dengan suara parau yang bersatu dengan desis statis tek... tek... tek... dari udara malam yang kian membekukan.

​Faris bergeming di samping Amplifier Transmisi Pusat. Napasnya tersengal-sengal, memunculkan uap putih tipis setiap kali ia membuang napas. Pendar hijau dari indikator modul di dadanya kini telah sepenuhnya tergantikan oleh kilatan merah-emas yang menyilaukan. Ia melirik layar indikator panel digital di sebelahnya yang terus berkedip kaku:

​00:02:45 (PERSIAPAN TRANSMISI MASSAL)

​Dua menit empat puluh lima detik.

​"Peluru itu tidak akan mengubah apa pun, Hartono," kata Faris, suaranya terdengar sangat tenang meskipun rasa sakit dari bekas luka di lehernya serasa merobek kesadarannya. "Kau pikir kau mengendalikan frekuensi ini? Kau cuma budak yang diberi ilusi kekuasaan oleh entitas yang bahkan tidak peduli pada nyawamu atau jasad orang-orang di kota ini."

​"Tahu apa kau tentang kekuasaan?!" jerit Hartono histeris, otot-otot lehernya bertambah tegang hingga pembuluh darah hitamnya tampak nyaris meletus. "Manusia adalah makhluk ringkih yang rapuh! Daging kita membusuk, otak kita terbatas! Tapi frekuensi ini... frekuensi ini adalah keabadian! Aku yang membukakan pintunya, aku yang menyediakan jalurnya!"

​"Kau bukan membukakan pintu, kau menjual jiwa seluruh kota ini demi kegilaanmu!" balas Faris seraya menggeser posisi kakinya perlahan di atas lantai pelat besi yang licin oleh embun dan cairan kehitaman.

​"Cukup!" jerit Hartono dengan amarah murni. Tanpa ragu lagi, ia menarik picu pistolnya!

​DOR!

​Dentuman tembakan memecah gemuruh angin malam. Rasa sakit membakar bahu kiri Faris seketika. Dorongan tenaga peluru berkaliber sembilan milimeter itu membuat tubuh Faris terhuyung keras ke belakang, menabrak pagar pengaman besi platform setinggi seratus meter tersebut. Darah segar menyembur basah membahasi jaket dan kain uis gara yang membungkus dada Faris.

​Dunia seolah berputar bagi Faris. Pandangannya menggelap sejenak akibat syok luar biasa. Namun, paksaan adrenalin dan ingatan akan kematian tragis orang-orang di sekitarnya memicu jemarinya untuk mencengkeram erat pinggiran pelat besi platform, menahan tubuhnya agar tidak jatuh terlempar ke dalam kegelapan kota di bawah sana.

​Hartono tertawa menyeringai, sebuah tawa kering penuh kemenangan saat melihat darah Faris menetes ke lantai. Ia melangkah maju menaiki dua anak tangga terakhir platform untuk memastikan tembakan keduanya tepat di dahi Faris. "Kau hanyalah hambatan kecil bagi zaman baru!"

​Namun tepat ketika Hartono mengangkat kembali moncong pistolnya, sebuah bayangan melompat dengan kecepatan penuh dari balik pintu pylon bawah.

​"Hartono!"

​Maya muncul dengan wajah bersimbah darah dan mata bersirat keteguhan tanpa batas. Kunci pas raksasa berbahan baja tempa yang ia bawa di tangan kanannya diayunkan memutar melintasi udara malam!

​CRACK!

​Hantaman telak kunci pas itu mendarat tepat di tulang pergelangan tangan kanan Hartono. Suara gemertak tulang patah terdengar menyayat hati, menyatu dengan jeritan histeris sang taipan. Pistol berkaliber sembilan milimeter itu terlepas dari genggamannya, melayang jatuh menggelincir di pelat besi sebelum akhirnya hilang terlempar ke dalam jurang kegelapan di bawah menara.

​Hartono meraung murka, memegangi lengannya yang terkulai lemah. Namun bukannya menyerah, urat-urat hitam terkutuk di lehernya mendadak berdenyut dua kali lebih cepat. Dengan mata hitam kelam yang memancarkan kebencian murni, Hartono menerjang Maya menggunakan tangan kirinya yang bermutasi—jemarinya telah mengeras bagaikan cakar besi yang terbalut cairan tembaga cair.

​Keduanya bergumul hebat di atas platform besi sempit yang licin dan berayun kencang ditiup angin malam!

​"Faris! Tancapkan modulnya sekarang! Jangan pedulikan aku!" jerit Maya seraya menahan dengan sekuat tenaga sisa cekikan tangan kiri Hartono yang menekan tenggorokannya.

​Faris merayap dengan susah payah di atas lantai platform yang dingin, menahan rasa panas membakar yang merambat dari luka tembak di bahu kirinya. Setiap gerakan terasa begitu menyiksa, menumpahkan darah segar dari tubuhnya yang membasahi pelat besi. Namun, darah dari bahunya dan darah dari telapak tangan kirinya yang robek kini terkumpul dan mengalir deras, membasahi seluruh permukaan modul Sigaik Begu.

​Piringan tembaga merah buatan Guru Tawa menyerap cairan darah murni dari korban selamat pertama tersebut. Sirkuit tembaga dan rajah uis gara yang menyelimuti modul itu mendadak meraung, memancarkan pendar emas keunguan yang begitu terang hingga memotong kegelapan kabut di sekitar puncak menara!

​Layar panel transmisi pusat berkedip-kedip liar saat angka penunjuk waktu memasuki fase kritis terakhirnya:

​00:00:30 (TRANSMISI AUTOMATIS DIMULAI)

​Tiga puluh detik terakhir.

​Di bawah sana, di seluruh penjuru Kota Medan yang tenggelam dalam blackout, ratusan ribu ponsel pintar yang tergeletak di atas meja, di dalam saku, maupun di genggaman warga yang terlelap mulai menyala serentak. Layar-layar kaca itu memancarkan warna merah darah yang menyilaukan, siap menyemburkan nada frekuensi 0000 secara massal untuk merusak jaringan saraf otak penghuninya.

​Faris mengangkat ujung kabel output tembaga murni dengan tangan kanannya yang gemetar. Pendar cahaya emas-merah dari modul Sigaik Begu kini telah menjalar sepenuhnya ke sepanjang urat-urat kabel tersebut.

​Dengan satu jeritan penutup yang menghimpun seluruh sisa tenaga, rasa sakit, dan penderitaannya selama ini, Faris menghantamkan konektor kabel tembaga murni itu lurus ke dalam soket bus utama amplifier transmisi pusat!

​CRACK-BZZZZZZZZT!

​Seketika, gelombang kejutan anti-frequency omnidireksional meledak dahsyat dari puncak menara Senjaya Telecom, menyapu malam dalam dentuman cahaya yang membelah angkasa!

1
M Rizky Ferdiansyah
seru bangettt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!