Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.
Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.
Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.
Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.
Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.
Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.
Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Terima Dikatain Benalu Oleh Ku
Malam pun berlalu.
Waktu seakan berjalan tanpa berhenti hingga langit yang semula berwarna jingga, akhirnya tergantikan dengan warna hitam yang di hiasi oleh bintang yang berkedip pelan.
Dan setelah kejadian yang menguras emosinya tadi pagi hingga sore, suasana dalam rumah akhirnya kembali sunyi, meski suara orang-orang di lantai bawah terdengar samar.
Perlahan, gelapnya malam perlahan berganti dengan semburat cahaya keemasan di ufuk timur. Suara burung mulai terdengar bersahutan, disusul aktivitas orang-orang yang sejak pagi sudah sibuk mempersiapkan berbagai keperluan di halaman rumah.
Seperti biasa, Raya bersiap untuk berangkat bekerja. Bahkan sejak pagi, kediamannya sudah mulai ramai dengan orang-orang yang memasang tenda untuk acara Rara besok hari.
Setelah memastikan penampilannya rapi, Raya keluar dari kamar dan berjalan menuju tangga.
Di ruang tamu, seperti biasa, sekelompok benalu berkumpul layaknya sebuah keluarga harmonis. Seakan-akan mereka lupa siapa sebenarnya yang memiliki rumah tersebut.
Mereka hanya orang-orang yang menumpang.
Raya menghela napas panjang. Ia memilih tidak memperpanjang pikirannya dan kembali melanjutkan langkah menuruni anak tangga dengan langkahnya yang terasa berat.
“Eh, mau berangkat kerja, Ray…”
Raya menghentikan langkahnya sejenak, setelah suara ibu mertuanya menghentikan langkahnya.
“Kenapa?” tanyanya sambil menoleh.
“Raya, nanti tolong carikan MUA buat Rara, ya,” ucap Bu Riana santai. “Rara harus tampil cantik di acaranya besok.”
Raya mengangguk. Tangannya kemudian terulur ke hadapan Bu Riana.
“Apa?” tanya Bu Riana dengan dahi berkerut.
“Uangnya mana?” tanya Raya.
“Ya pakai uangmu, lah, Ray.”
Raya mengembuskan napas pendek.
“Ibu jual cincinku, pasti uang yang ibu dapatkan sangat banyak, kan…” Raya melipat kedua tangannya. “Sekarang bayar MUA pun masih pakai uangku. Tamak sekali ibu mertua satu ini.”
“Ya ampun, Ray. Kok perhitungan banget, sih? Ini anakmu juga, Ray,” suara Bu Rodiah yang sejak tadi diam akhirnya terdengar.
Raya menatap mereka bergantian.
“Ya sudah,” ucapnya akhirnya. “Nggak ada uang, barang pun nggak ada. Jadi Makeup saja seadanya, dulu aku juga gitu. Nikahannya pakai makeup seadanya.”
“Kok kamu bahas yang dulu-dulu sih, Ray. Kan dulu Zevan belum kerja, jadi wajar dong,” ucap Bu Riana.
“Bedanya sama sekarang apa, Bu?” tanya Raya. “Ibu saja minta modalnya masih minta ke aku, bahkan sampai curi cincinku.Terus, kalau misalnya sampai sekarang Mas Zevan nggak kerja, ibu akan ngomong begitu?” tanya Raya.
Raya masih menatap mereka.
Bahkan beberapa menit berlalu, namun sampai sekarang pun dirinya tak mendapati jawaban.
“Jadi nggak? Kalau jadi sini uangnya. Kalau enggak, buang waktuku saja. Waktuku lebih berharga ketimbang mengurus benalu seperti kalian.”
“RAYA!” suara Zevan menggema memenuhi seluruh ruang tamu. “Tutup mulutmu, Raya. Kami ini keluargamu, dan aku suamimu.”
Raya hanya menatapnya dengan dingin.
“Kalau gitu, ya sudah,” ucap Raya.
Ia berbalik dan kembali melangkah.
Namun, baru dua langkah berjalan, suara Bu Riana kembali terdengar.
“Yasudah, ini uangnya.”
Raya menghentikan langkahnya.
Ia tidak langsung berbalik. Justru sebuah senyum miring perlahan muncul di sudut bibirnya.
Kemudian, ia berbalik sembari mengubah ekspresinya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
“Nah, gitu dong. Masa ngandelin menantu? Ibu mertua apaan itu? Kayak vampir saya.”
“Apa maksudmu?” tanya Bu Riana, tidak terima.
Raya tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat hingga berhenti tepat di hadapan Bu Riana. Tubuhnya sedikit mencondong ke depan.
“Suka menghisap,” ucap Raya sembari tersenyum saat melihat wajah wanita paruh baya itu yang tampak menahan marah.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Raya mengambil uang yang disodorkan ibu mertuanya. Ia kemudian menghitungnya satu per satu dengan teliti.
“Buat apa dihitung?” tanya Bu Riana lagi, mulai merasa heran.
Raya menatap wanita paruh baya itu sekilas, lalu kembali menghitung uang di tangannya.
“Ya, soalnya aku nggak mau nombok, Bu. Makanya aku hitung lagi.”
Beberapa saat kemudian, Raya selesai menghitung. Ia kembali menatap ibu mertuanya dengan wajah tenang.
“Masih kurang seratus ribu, Bu.”
“Cuma seratus ribu saja, kamu mau minta lagi?” Bu Riana mendengus kesal.
“Kan aku lagi menghemat, Bu.” Raya mengangkat bahu ringan. “Lagian, koin kuno dari Majapahit saja masih berharga buatku. Apalagi uang seratus ribu.”
Dengusan kesal kembali terdengar dari wanita paruh baya itu.
Raya berusaha menahan senyum agar tidak terbit.
Tak lama kemudian, selembar uang berwarna merah disodorkan ke hadapannya dengan gerakan sedikit kasar.
Raya menerimanya dengan santai.
“Terima kasih, Bu. Nanti kucarikan MUA yang profesional.”
Tanpa menunggu jawaban wanita itu, Raya memasukkan uang tersebut ke dalam tas. Setelah itu, ia berbalik dan kembali melangkah menuju pintu keluar.
.
Melihat Raya menghilang di balik pintu, Riana mendengus kesal. Tatapannya mengikuti kepergian menantunya sebelum akhirnya ia memalingkan wajah.
“Pelit banget. Semoga rezekinya dipersulit, biar tahu rasa!”
“Bu, sabar. Ini salah Rara, karena hanya diam saat kalian menindas Mbak Raya,” ucap Rara.
Riana menatap lirih ke arahnya. “Sudah tepat, Ra. Kamu diam saja, apalagi membela Mbakmu.”
Sementara itu, Rara hanya terdiam. Tangannya perlahan mengepal di atas pangkuannya. Ia menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan kekesalan yang mulai memenuhi hatinya, sejak Raya pergi meninggalkan rumah.
‘Mbak Raya, penghinaan ini akan ku balas suatu saat nanti. Akan kuambil apa pun yang kamu miliki. Karena akulah yang berhak bahagia di sini.’
.
Kini Raya sudah berada di luar rumah.
Namun, baru beberapa langkah berjalan, langkahnya terhenti ketika melihat sebuah mobil yang terasa familiar terparkir di depan gerbang rumahnya.
Kening Raya langsung berkerut.
‘Itu kan mobilnya Pak Kansa...’
Tak lama kemudian, pintu mobil tersebut terbuka. Seorang pria keluar dari dalamnya, persis seperti sosok yang baru saja terlintas dalam benaknya.
Kansa terlihat melepas kacamatanya, kemudian mengangkat tangan tinggi-tinggi dan melambaikannya ke arah Raya.
Raya yang melihatnya sontak menepuk kening.
“Ya ampun, aku sampai lupa kalau mobilku rusak.”
Ia pun segera berjalan menghampiri Kansa.
Sesampainya di depan gerbang, aroma maskulin pria itu langsung tercium oleh Raya.
“Pak Kansa...”
“Sudah lima belas menit saya menunggumu. Bahkan saya sudah mengirimimu pesan, tetapi tidak ada balasan. Kenapa lama sekali?” tanya Kansa.
Raya menunduk sejenak. Tangannya kemudian bergerak menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal.
“Maaf, Pak. Saya tidak melihat ponsel tadi. Selain itu, ada sedikit masalah di dalam.”
Kening Kansa mengernyit. Tatapannya menyipit, seolah ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
“Masalah apa?” tanyanya penasaran.
“Ya, hanya hal kecil. Ibu mertua menyuruh saya mencarikan MUA untuk Rara.”
Kansa mengembuskan napas kesal.
“Mereka tidak tahu malu. Sudah menindasmu, sekarang mereka malah mau merayakan kehamilan adikmu. Parasit sekali mereka.”
Raya sampai mengangkat alis. Ia justru merasa heran melihat Kansa yang tampak jauh lebih emosi daripada dirinya.
“Seharusnya saya yang emosi. Kenapa malah Bapak?” tanyanya.
Kansa terdiam sesaat, lalu mengalihkan pandangan.
“Ah, sudah. Ayo, berangkat.”
Raya mengangguk. Senyum tipis muncul di wajahnya. Ia berusaha menahan kekehan yang hampir saja lolos.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam mobil.
Tak lama kemudian, mesin mobil menyala. Kendaraan itu perlahan bergerak meninggalkan kawasan kompleks perumahan.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sunyi. Tidak ada percakapan di antara mereka.
Raya memilih menikmati perjalanan dengan memandang ke luar jendela. Sesekali, hembusan angin pagi masuk melalui celah jendela yang terbuka dan menerpa wajahnya.
Hingga suara Kansa tiba-tiba memecah keheningan.
“Raya.”
Raya tersadar dari lamunannya. Ia segera menoleh.
“Iya, Pak.”
“Jam berapa acaranya?” tanya Kansa.
Raya kembali mengarahkan pandangan ke jalanan di depan.
“Saya dengar besok acaranya jam sepuluh. Ada apa, Pak?”
“Saya ingin melihatnya. Sekalian memberikan surat persetujuan perceraian yang harus ditandatangani.”
Raya sontak menoleh.
“Eh, secepat itu? Perasaan saya baru mengajukan.”
“Karena saya membayar lebih agar surat cerai kamu bisa diproses lebih cepat.” Kansa tetap fokus mengemudi. “Kalau terlalu lama, apa kamu bisa bertahan?”
Raya terdiam sejenak. Kemudian, ia menggeleng pelan.
“Tidak, Pak.”
“Makanya saya bayar lebih kepada mereka supaya surat itu segera keluar. Kalau tanpa saya ikut campur, mungkin prosesnya baru selesai beberapa minggu lagi, atau bisa sebulan lebih.”
Raya kembali diam. Perkataan Kansa membuatnya menyadari satu hal.
‘Benar juga. Semakin cepat prosesnya, semakin cepat pula aku lepas dari pernikahan yang nggak masuk akal ini.’
Pandangan Raya perlahan turun. Ada senyum tipis yang mulai terukir di wajahnya.
‘Berarti sekarang tinggal satu misi lagi.’
Tanpa sadar, Raya terkekeh pelan.
“Kenapa tertawa?” tanya Kansa.
Raya menatap Kansa sekilas.
“Tidak, Pak.” Raya menggeleng sambil menahan senyum. “Saya cuma nggak sabar menunggu besok. Bukannya Bapak pernah bilang kalau ada drama?”
“Tentu.”
Jawaban singkat itu justru membuat senyum Raya semakin lebar.