NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa

Reinkarnasi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Farel Kurniawan, yang dijuluki Dewa Kesenangan — eksistensi di puncak Tujuh Dunia Tanpa Batas — dikhianati muridnya sendiri dan dibunuh dengan cara menghancurkan sebuah Dunia Kecil menggunakan Pagoda Giok yang meledak. Saat kematiannya, ia bertemu Nyai Sekar Lestari, entitas yang jauh melampaui Dewa Sejati, yang memberinya "hadiah": kesempatan kedua. Ia terbangun di tubuhnya sendiri yang berusia 16 tahun, sebagai murid sampah di sekte kultivasi ganda paling rendah, dengan ingatan utuh dan sebuah segel misterius di jiwanya.

Tujuan Farel bukan hanya menjadi kuat lagi. Ia harus memahami siapa yang membawanya ke sekte ini, siapa Roro Ayu Kinasih sebenarnya, dan siapa Nyai Sekar Lestari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 — TANAH SPIRITUAL

Sebagai kultivator yang hidupnya bergantung pada Qi Spiritual — seperti manusia modern yang hidupnya bergantung pada sinyal WiFi dan saldo e-wallet — sebuah sekte tidak akan pernah didirikan di lokasi sembarangan. Mereka akan selalu menancapkan benderanya di atas tanah spiritual alami, di mana Qi melimpah seperti air sumur di musim hujan.

Lingkungan seperti itu menguntungkan sekte dalam empat hal.

Pertama, efisiensi. Kultivasi di tanah spiritual itu seperti belajar di ruangan ber-AC dengan kopi gratis, jauh lebih cepat daripada di tanah tandus.

Kedua, sumber daya. Tanah spiritual akan secara alami menumbuhkan tanaman obat, pohon spiritual, bijih berharga. Ini adalah ladang cuan bagi para murid cupu yang belum cukup kuat untuk misi berbahaya. Murid memanen, sekte menampung. Tidak ada yang berani tidak setor, karena 90% bahan mentah itu kalau dimakan langsung bisa bikin diare spiritual tujuh hari tujuh malam. Butuh diolah dulu di Aula Alkimia menjadi pil, atau di Aula Penempaan menjadi senjata. Sekte kecil seperti Istana Persatuan Yin Yang yang tidak punya keduanya? Ya dijual saja ke perusahaan dagang, seperti UMKM jual bahan baku ke pabrik.

Ketiga, samsak hidup. Keberadaan alami binatang iblis di tanah spiritual adalah tempat latihan tarung gratis bagi para murid, sekaligus sumber inti monster yang harganya mahal.

Dan keempat, batas wilayah. Di dunia kultivasi, tanah spiritual adalah sertifikat tanah. Kalau ada orang luar ketahuan ngutil rumput di kebunmu, itu sudah dianggap deklarasi perang. Tidak ada sejarah di mana dua sekte berbagi satu tanah spiritual yang sama dengan damai. Pasti berdarah-darah. Persaingan untuk sumber daya itu jauh lebih kejam dari persaingan rebutan promo 11.11.

Karena itulah Farel Kurniawan merasa ada yang sangat tidak beres.

Bagaimana mungkin sekte se-kecil ini, dengan kekuatan keseluruhan yang begitu menyedihkan — di mana Tetua terkuatnya seperti Tetua Candra Prabowo dan Tetua Hadi Saputro saja hanya di Alam Perputaran Qi — bisa dengan santainya menduduki tanah spiritual seluas dan sesubur ini tanpa digusur sekte lain? Ini hanya berarti satu hal: persaingan di sekitar sini tidak sengit. Dunia kultivasi di radius yang bisa dijelajahi ini terlalu... damai. Dan kedamaian di dunia kultivasi itu sendiri adalah hal yang paling mencurigakan.

Hal kedua yang membuatnya bingung adalah kontradiksi Qi. Ketika pertama kali sadar, ia merasakan Qi di dalam Sekte itu tipis dan keruh, seperti polusi Jakarta jam 5 sore. Ia sempat mengira wajar, karena sekte kecil memang tidak mampu menempati tanah spiritual dan harus puas di tanah tandus. Tapi sekarang, setelah ia berjalan beberapa jam keluar dari gerbang, ia merasakan kebalikannya. Di hutan ini, Qi jauh lebih pekat, vegetasinya spiritual, binatang iblis berkeliaran bebas.

Berarti asumsinya salah total.

Jika di DALAM tanah spiritual saja Qi sudah setipis itu, maka Qi di LUAR tanah spiritual pastilah hampir tidak ada sama sekali. Nol. Tandus absolut.

Yang berarti, ini bukan bagian dari dunia yang ia kenal.

'Dunia kecil?' batinnya.

Selain Tujuh Dunia Tanpa Batas, memang ada tak terhitung dunia-dunia kecil tempat para manusia fana tinggal. Tapi ia segera membuang pikiran itu. Semua dunia kecil terhubung dengan Tujuh Dunia Tanpa Batas, membentuk satu sistem besar yang hidup dan bernafas seperti satu tubuh. Tidak mungkin ada kesenjangan Qi sebesar ini.

Lalu sebuah spekulasi yang bahkan membuatnya sendiri merinding muncul.

"Tidak mungkin... sebuah... dunia terpecah?" gumamnya lirih, suaranya nyaris hilang ditelan angin hutan.

Dunia terpecah adalah dunia kecil yang mengalami bencana besar di masa lalu, cukup dahsyat untuk membawanya ke ambang kehancuran total. Akibatnya, dunia itu tertutup total, memutus semua koneksi, tidak bisa dimasuki maupun ditinggalkan. Tentu saja, tidak peduli seberapa parah bencananya, itu masih sangat jauh dari benar-benar menghancurkan sebuah dunia. Kehancuran total dunia kecil hanya terjadi beberapa kali dalam sejarah yang bisa dihitung dengan jari. Tapi kerusakannya cukup parah untuk membuatnya terisolasi selama ribuan tahun.

Penjelasan itu masuk akal. Sangat masuk akal. Dan justru karena masuk akal itulah yang membuat dada Farel sesak. Jika benar ini adalah dunia terpecah, maka berapa ribu tahun telah berlalu sejak Pagoda Giok itu meledak? Apa yang terjadi dengan orang-orang yang ia cintai? Dan Nyai Sekar Lestari... hadiah apa sebenarnya yang ia berikan padanya?

Rasa takut yang dingin, yang belum pernah ia rasakan selama ribuan tahun, kembali menyelinap. Bukan takut mati, tapi takut bahwa ia telah terlambat.

Ia menggelengkan kepala dengan paksa. Tidak. Ia harus fokus. Ia butuh informasi lebih, butuh perpustakaan, butuh peta. Spekulasi liar hanya akan menggerogoti ketenangannya.

Saat ia bangkit dari istirahatnya di tepi mata air, indranya yang masih tumpul menangkap sesuatu. Sebuah kehadiran panas yang mendekat cepat dari balik semak. Aura tingkat pertengahan tier ke-1.

Senyum tipis yang dingin, yang dulu sering membuat musuh-musuhnya salah paham sebagai senyum ramah, muncul di wajahnya.

"Lumayan, ada yang datang mengantar makan siang."

Segera, seekor serigala yang sedikit lebih besar dari serigala biasa, dengan bulu hitam legam dan garis-garis seperti lava yang menyala di seluruh tubuhnya, melompat keluar. Serigala Jantung Membara. Matanya merah, menggeram rendah, langsung mengincar leher Farel.

Jika Farel yang dulu, yang masih menjadi pemuda 16 tahun pemalu itu, mungkin sudah kencing di celana. Tapi Farel yang sekarang hanya memiringkan kepalanya sedikit.

Tangannya yang berada di gagang pedang baja pinjaman bergerak. Bukan gerakan cepat, tapi gerakan yang efisien. Ia melangkah maju setengah langkah ke kanan — gerakan kaki yang ia pelajari dari Roro Ayu Kinasih Wulandari di lapangan latihan — dan menarik pedangnya dalam satu busur anggun yang sedikit miring.

Sring—

Tidak ada drama. Tidak ada adu kekuatan. Hanya satu garis perak di udara.

Beberapa tetes darah yang mendesis dan menguap terbang dari bilah pedangnya. Farel sudah menyarungkan kembali pedangnya dengan bunyi klik yang bersih, sementara serigala itu masih melayang di udara dan mendarat dalam dua potongan yang rapi di belakangnya.

"Hmm, masih muda. Tanpa inti. Yang dewasa biasanya sudah tier 2 level tinggi," gumam Farel dengan nada kecewa seperti seorang kolektor yang menemukan barang KW. Darah serigala itu bahkan menguap begitu menyentuh udara.

Ia tidak berhenti. Ia menatap ke arah dari mana serigala itu datang. Insting lamanya sebagai predator puncak berkata: di mana ada satu, di situ ada sarang. Dan di mana ada sarang, di situ ada harta.

"Mari kita lihat apa yang kau tinggalkan di rumah untuk menyapaku sejauh ini."

Ia berlari. Dengan keterbatasan kultivasi saat ini, indra spiritualnya praktis buta, tapi ia bisa merasakan arah panasnya. Semakin ia mendekat, udara semakin panas, vegetasi semakin jarang, hanya menyisakan tumbuhan tahan api. Akhirnya ia keluar ke sebuah tanah lapang berbatu.

Di tengahnya, tertanam sebuah kristal oranye seukuran kepalan tangan yang memancarkan panas yang intens — sebuah Batu Sumber Api kecil. Dan di sekitarnya, bersantai 12 ekor serigala yang sama, bermalas-malasan seperti keluarga yang sedang piknik.

Satu jantan paling besar di tengah, level menengah tier 2, dikelilingi empat betina level rendah tier 2, dan sisanya tier 1. Mereka sudah menatapnya. Tidak terkejut, karena mereka sudah mencium bau manusia.

Farel menghela napas, ada sedikit rasa tidak tega yang muncul. Bukan karena takut, tapi karena pemandangan itu... terlalu familiar baginya.

"Haah... maaf ya, aku bisa bersimpati dengan posisimu, kawan. Lagi enak-enak dikelilingi harem, tiba-tiba ada tamu tak diundang. Aku paling paham rasanya diinterupsi," katanya dengan senyum getir, setengah bercanda, setengah tulus. Dalam benaknya, ia teringat prinsipnya sendiri — ia tidak pernah suka membuat pasangannya menunggu giliran.

Namun simpatinya lenyap seketika di detik berikutnya.

Serigala jantan itu, dengan insting bertahan hidup yang licik, menunjukkan ketakutan di matanya. Ia menggeram keras, bukan untuk menyerang, tapi memerintahkan semua betinanya untuk maju menyerang Farel, sementara ia sendiri mundur perlahan, bersiap kabur ke arah berlawanan. Menjadikan pasangannya sebagai tameng.

Alis Farel terangkat, lalu matanya menjadi sedingin es.

"Oh, begitu caramu memperlakukan wanitamu?"

Itu adalah salah satu dari sepuluh hal yang paling ia benci di dunia — pria yang mengorbankan wanitanya sendiri untuk menyelamatkan diri.

Tanpa membuang waktu pada para betina, Farel melesat. Tubuhnya yang masih sakit di sana-sini bergerak dengan lincah, menghindari cakaran mereka. Targetnya hanya satu.

Serigala jantan itu mencoba menghindar, tapi Farel sudah menggambar busur di udara. Busur yang aneh, yang seolah membelokkan takdir. Serigala itu justru bergerak sendiri ke bawah bilah pedang, menyodorkan lehernya.

Gedebuk.

Kepala dan tubuh terpisah. Farel berputar dengan satu kaki sebagai poros, menghadap kawanan betina yang kini terpaku melihat pemimpin pengecut mereka mati.

"Pergi."

Satu kata. Dingin. Bukan bahasa binatang, tapi bahasa rasa takut. Bahasa yang dipahami semua makhluk hidup. Aura yang ia lepaskan saat itu bukan aura anak level 3 Alam Transformasi Tubuh, tapi aura sisa-sisa Dewa Kesenangan yang pernah membantai ribuan binatang iblis.

Kawanan itu tidak berpikir dua kali. Mereka lari tunggang langgang ke segala arah, asalkan jauh dari pria ini.

Farel sebenarnya tidak berbaik hati. Ia hanya malas. Hanya si jantan yang punya inti iblis. Mengejar yang lain hanya akan menghabiskan dua pertiga staminanya yang sudah menipis.

Ia mengibaskan darah panas dari pedangnya, berjongkok, dan dengan belati kecil ia membedah kepala serigala jantan itu dengan gerakan yang sangat terampil. Dari dalamnya, ia mengambil sebuah inti bulat sempurna seukuran kacang hazel, merah transparan, hangat, dengan energi kacau yang berputar di dalamnya.

"Haha, keberuntungan masih memandangku dengan baik bahkan di kehidupan kedua ini. Hasil yang sangat bagus dalam setengah hari. Tidak buruk," katanya sambil tersenyum. Senyum itu lalu berubah getir, "Haah, memikirkan inti tier 2 begini sekarang dianggap jackpot. Kalau Tetua Hadi Saputro tahu aku ngeluh soal ini, mungkin dia bakal pingsan."

Inti ini ber-atribut Yang murni. Tidak akan banyak membantu basis kultivasinya, tapi sempurna untuk menempa tubuhnya. Untuk memperbaiki Akar Yang — sumber Qi Yang yang memengaruhi seberapa banyak dan seberapa kuat ia bisa menyimpan dan melepaskan — yang berhubungan langsung dengan perawatan "pedang rusaknya" di masa depan. Bahkan untuk meningkatkan stamina dan daya tahan, agar ia tidak ngos-ngosan lagi hanya karena mengayun pedang dua kali.

Dua gerakan tadi terlihat enteng, tapi sebenarnya sangat melelahkan bagi tubuhnya yang belum terlatih ini. Seluruh lengannya berdenyut nyeri.

Ia menatap kristal oranye di batu besar itu dan menggeleng. "Sayang, kalau dicabut, kau mati. Kau hidup karena terhubung dengan urat bumi di bawah. Seperti hubungan yang toxic, kau tidak bisa dipisahkan."

Ia memutuskan untuk memanfaatkannya di sini saja. Ia duduk bersila dalam posisi lotus, mengambil satu pil puasa dan meneguk air dari kantong kulitnya.

"Heh, lapar. Sudah ribuan tahun tidak merasakan lapar seperti ini. Rasanya... jadi manusia lagi," ia tertawa kecil, ada kehangatan aneh dalam keluhan fana itu.

Setelah pikirannya jernih, ia mengelap inti itu dan menelannya bulat-bulat.

Seketika, perutnya seperti tungku peleburan yang meledak. Panas membara menjalar ke seluruh meridian. Kulitnya memerah padam, mengeluarkan uap putih.

Selama lima jam ia duduk diam, menyerap Qi Spiritual yang dipengaruhi oleh Batu Sumber Api di dekatnya, menjaga keseimbangan panas dari inti iblis itu dengan teknik kultivasinya, Seni Penempaan Tubuh Penyempurnaan Kekacauan.

Perlahan, kemerahan di kulitnya memudar. Uapnya hilang. Ketika ia membuka mata, ada cahaya yang jauh lebih dalam dan stabil di sana. Tubuhnya terasa lebih ringan, lebih padat.

"Bagus," gumamnya sambil mengepalkan tangan, merasakan kekuatan baru mengalir. "Sekarang aku tidak perlu khawatir lenganku akan copot hanya karena mengayun pedang sedikit. Langkah pertama untuk memperbaiki pedang yang rusak... selesai."

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!