NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Pertama di Tanah Pesisir

Sabtu pagi disambut oleh kabut tipis yang masih menggantung rendah di atas dermaga utama. Bau garam yang tajam bercampur dengan aroma solar kapal perintis yang menderu pelan di tepi dermaga. Langit timur baru saja meneteskan warna jingga keperakan saat armada tim medis bakti kesehatan menyusun perbekalan terakhir mereka.

Valen mengencangkan tali ransel besarnya. Di sampingnya, Kevin tampak sibuk membantu beberapa petugas mengangkat boks rantai dingin (cold chain) berisi vaksin dan serum anti-bisa ular ke atas geladak kapal. Kaos polos hitam yang dilapisi jaket angin berwarna biru tua membuat Kevin terlihat jauh lebih santai dibanding biasanya, namun ketelitian dan fokus di matanya tak berkurang sedikit pun.

"Jangan dipaksa kalau berat, Kevin!" seru Valen saat melihat pria itu mengangkat kotak kayu berisi cairan infus steril.

Kevin terkekeh pelan setibanya di atas geladak, menyeka keringat tipis di dahi dengan punggung tangannya. "Cuma dua puluh kilo, Dokter Valen. Masih sanggup. Yang penting vaksin dan cairan infus ini selamat sampai tujuan tanpa ada boks yang pecah."

Perjalanan laut menuju Desa Tanjung Karang salah satu desa pesisir terisolasi yang menjadi pusat penugasan mereka memakan waktu hampir empat jam. Gelombang air laut yang cukup tinggi membuat kapal perintis beberapa kali berguncang hebat. Sebagian anggota tim medis yang belum terbiasa mulai terserang mabuk laut, tetapi Valen dan Kevin memilih duduk di bagian geladak luar, membiarkan angin laut menerpa wajah mereka untuk mengusir rasa mual.

"Minum dulu," Kevin menyodorkan botol air mineral hangat yang sudah ia siapkan dari termos kecilnya. "Wajahmu agak pucat. Kamu mual?"

Valen menerima botol itu dan meminumnya perlahan. "Sedikit. Tapi melihat pemandangan laut seluas ini... rasa mualnya agak berkurang. Aku cuma deg-degan, Kevin. Ini benar-benar pertama kalinya aku bakal memegang pasien secara mandiri tanpa ada dokter penanggung jawab langsung yang berdiri tepat di sampingku."

Kevin menggeser duduknya mendekat, merapatkan bahu mereka di bawah terik matahari pagi yang mulai menghangat. Tangannya terulur meraih jemari Valen, menggenggamnya hangat di dalam saku jaketnya.

"Ingat evaluasi klinismu kemarin?" bisik Kevin lembut namun penuh penekanan. "Kamu lulusan terbaik, Valen. Insting medismu tajam, dan ketenanganmu di bawah tekanan itu luar biasa. Aku ada di sampingmu. Kalau ada kondisi darurat yang bikin kamu ragu, kita diskusikan bersama. Kita ini tim."

Valen menoleh, menatap mata cokelat Kevin yang selalu berhasil menyalurkan rasa percaya diri padanya. Senyum tipis mengukir bibirnya. "Terima kasih, Kevin. Aku beruntung banget punya kamu."

Menjelang tengah hari, suara deru mesin kapal melambat. Dari kejauhan, pemukiman rumah panggung kayu khas masyarakat pesisir mulai terlihat berjejer di sepanjang garis pantai. Dermaga kayu yang agak lapuk menyambut kedatangan mereka, lengkap dengan puluhan warga lokal dan anak-anak kecil yang berlarian gembira menyambut kedatangan 'tim dokter dari kota'.

Kepala Desa Tanjung Karang, seorang pria paruh baya bernama Pak Bahri, menyambut mereka dengan senyum lebar dan pelukan hangat.

"Selamat datang, Dokter-Dokter sekalian! Kami sudah menyiapkan Puskesmas Pembantu (Pustu) di ujung desa. Memang fasilitasnya seadanya, tapi warga sudah tidak sabar untuk berobat," ujar Pak Bahri penuh semangat.

Namun, kenyataan di lapangan rupanya jauh lebih menantang daripada yang mereka bayangkan saat rapat persiapan di rumah sakit.

Pustu desa itu berupa bangunan kayu sederhana dengan tiga ruangan kecil. Penerangan listrik hanya mengandalkan generator genset yang suaranya meraung-raung di luar, dan pendingin udara sama sekali tidak ada. Suhu udara pesisir yang menyengat membuat keringat langsung membasahi seragam medis mereka begitu boks peralatan dibongkar.

"Sistem triage kita bagi dua," instruksi Kevin cepat begitu melihat puluhan warga mulai berkumpul di teras Pustu. "Valen, kamu pegang poli umum dan pemeriksaan anak di ruangan dalam. Aku pegang tindakan darurat, bedah minor, dan rujukan di ruang depan bersama Mbak Nita. Biar alurnya tidak menumpuk."

"Siap, Kevin," sahut Valen tegas. Ia segera memakai stetoskop di lehernya dan menyiapkan lembar rekam medis sederhana.

Ujian pertama Valen datang lebih cepat dari dugaan. Baru dua jam pemeriksaan berjalan, seorang ibu setengah baya berlari histeris menerobos antrean sambil menggendong seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun yang terkulai lemas dengan bibir kebiruan dan napas tersengal-sengal.

"Dokter! Tolong anak saya, Dok! Tadi dia main di pantai terus tiba-tiba sesak dan muntah-muntah!" ratap sang ibu panik.

Suasana Pustu seketika menjadi riuh. Valen berdiri refleks, jantungnya berdegup kencang. Ia segera mengarahkan sang ibu untuk meletakkan anak itu di atas tempat tidur periksa kayu yang dilapisi sprei putih.

"Mbak Nita, tolong ambilkan tabung oksigen portabel dan set suction!" panggil Valen lantang, mencoba menguasai rasa paniknya.

Kevin yang mendengar teriakan itu langsung bergegas masuk dari ruang tindakan. Ia berdiri di samping tempat tidur, namun sengaja tidak langsung mengambil alih. Kevin menatap Valen dengan pandangan tenang, memberikan ruang bagi Valen untuk memimpin penanganan.

"Valen, evaluasi jalan napasnya dulu (Airway)," ujar Kevin pelan namun tegas dari sampingnya.

Valen menarik napas dalam, berusaha menenangkan badai kecemasan di dadanya. Ia kembali fokus pada ilmu kedokteran yang telah dirajah di kepalanya selama bertahun-tahun.

"Suara napas stridor dan ada pembengkakan di area bibir serta leher... Ini respons reaksi alergi berat, syok anafilaktik!" diagnosa Valen cepat setelah memeriksa denyut nadi dan mendengarkan dada anak itu menggunakan stetoskop. "Kemungkinan tersengat ubur-ubur atau memakan sesuatu di pantai."

"Langkahmu?" tanya Kevin menguji ketenangan Valen.

"Epinefrin intramuskular segera! Injeksi Decsametason dan Antihistamin!" perintah Valen pada perawat di sampingnya tanpa ragu. "Pasangkan oksigen empat liter per menit!"

Dengan jemari yang cekatan namun stabil, Valen menyiapkan jarum suntik, membersihkan paha luar anak itu dengan kapas alkohol, dan menyuntikkan dosis epinefrin dengan tepat.

Dua menit pertama terasa seperti keabadian yang menyiksa. Valen tidak melepaskan pandangannya dari dada anak kecil itu, terus memantau irama napas dan warna kulitnya. Kevin berdiri tegak di sisinya, menepuk pelan punggung belakang Valen untuk menyalurkan kekuatan mental.

Hingga akhirnya, anak laki-laki itu terbatuk pelan. Tarikan napasnya yang tadinya berat dan berbunyi menyayat hati perlahan mulai melonggar. Warna kebiruan di bibirnya berangsur pudar, berganti rona merah muda tipis.

"Napasnya mulai stabil, Dokter..." bisik Mbak Nita lega.

Valen menghela napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya. Lututnya sempat terasa agak lemas, namun kepuasan dan keharuan yang luar biasa mendadak memenuhi dadanya saat melihat anak kecil itu pelan-pelan membuka matanya dan memanggil ibunya.

Sang ibu menangis terharu, meraih tangan Valen dan menciumnya berkali-kali. "Terima kasih, Dokter! Terima kasih banyak sudah menyelamatkan anak saya!"

"Sama-sama, Ibu... Ini sudah tugas kami. Tolong biarkan adiknya istirahat dulu di sini sampai kondisinya benar-benar pulih," jawab Valen lembut sambil mengusap kepala anak tersebut.

Belum sempat Valen bernapas lega, kekacauan kembali terjadi di luar Pustu. Suara jeritan warga membahana dari arah dermaga. Dua orang nelayan berjalan tergesa menggotong seorang pria tua yang kakinya bersimbah darah segar.

"Dokter! Ada kecelakaan di kapal nelayan! Kaki Pak Rahmat kena sabetan mesin perahu!" teriak salah satu nelayan.

"Bawa ke ruang tindakan sekarang!" panggil Kevin tegas.

Valen menyeka keringat di pelipisnya dan langsung mengangguk pada Kevin. "Aku bantu, Kevin!"

Di ruang tindakan sederhana, Kevin dan Valen bekerja bahu-membahu dalam ritme yang sempurna. Luka sobek di betis Pak Rahmat cukup dalam dan pendarahannya masif. Tanpa perlu banyak kata, Valen bertindak sebagai asisten bedah yang tanggap menyiapkan tourniquet untuk menghentikan pendarahan, mengoleskan antiseptik, serta menyerahkan alat-alat bedah minor seperti pinset dan jarum jahit tepat saat Kevin membutuhkannya.

"Tenang ya, Pak Rahmat. Kami obati lukanya. Bapak tahan sedikit," ucap Valen lembut, menggenggam tangan Pak Rahmat yang bergetar menahan sakit untuk mengalihkan perhatian sang pasien.

Dengan ketelitian seorang calon spesialis bedah, jemari Kevin menari lincah melakukan pembersihan luka dan menjahit lapisan demi lapisan jaringan kulit yang robek. Sepuluh jahitan rapi berhasil menyelesaikan penanganan trauma tersebut.

Ketika pendarahan berhenti total dan luka telah terbalut kasa steril, Kevin menatap Valen dan mengangguk pelan. Tidak ada kata-kata rumit yang terucap, namun binar lega dan kekaguman terpancar jelas di antara keduanya. Kemitraan mereka di ruang tindakan terasa begitu alami dan solid.

Sore harinya, setelah gelombang pasien pertama berhasil ditangani dan genset dimatikan sejenak untuk menghemat bahan bakar, Pustu kembali tenang. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan warna merah keemasan yang memantul sempurna di atas permukaan laut pesisir.

Valen duduk di tangga kayu teras Pustu, meluruskan kakinya yang pegal setelah berdiri hampir lima jam nonstop. Angin sore yang sepoi-sepoi membawa rasa lelah yang nikmat.

Langkah kaki terdengar dari belakang. Kevin mendekat membawa dua kaleng minuman nutrisi dingin, lalu duduk tepat di samping Valen. Ia menyerahkan satu kaleng pada Valen.

"Diagnosis dan penanganan yang sangat bagus tadi, Dokter Valen," ucap Kevin tulus, menatap wajah Valen dari samping. Senyum bangga terpancar jelas dari matanya. "Penanganan reaksi anafilaktik-mu cepat, tepat, dan sama sekali tidak ragu-ragu. Begitu juga pas bantu aku jahit luka Pak Rahmat tadi. Kerja samamu luar biasa."

Valen tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya pelan di bahu kokoh Kevin. "Jujur, tadi waktu anak kecil itu datang, jantungku rasanya mau melompat keluar, Kevin. Tapi pas aku lihat kamu berdiri di sampingku... aku merasa punya pijakan. Aku tahu kalau aku salah atau bingung, kamu bakal ada di sana buat mengoreksi."

Kevin terkekeh pelan, melingkarkan tangannya di bahu Valen dan menarik perempuan itu lebih rapat ke pelukannya.

"Aku memang akan selalu ada di sana, Valen. Tapi tadi, kamu menangani pasien itu murni karena kehebatan dan ketenanganmu sendiri. Kamu bukan lagi sekadar mahasiswa bimbinganku atau adik tingkat di kampus. Kamu sudah jadi dokter yang hebat," bisik Kevin hangat di telinga Valen.

Valen mendongak, menatap paras Kevin yang diterpa sinar tembaga matahari terbenam. Rasa lelah akibat perjalanan laut dan padatnya jam pelayanan seolah menguap begitu saja, digantikan oleh kehangatan luar biasa yang menjalar hingga ke poros hatinya.

"Makasih ya, Kevin... buat semuanya. Buat ilmunya, kepercayaannya, dan karena selalu percaya sama aku bahkan di saat aku ragu sama diri sendiri," bisik Valen lembut.

Kevin menunduk, menatap dalam mata manis Valen sebelum mendaratkan satu kecupan lembut dan lama di dahi perempuan itu, membiarkan desir angin pantai menjadi saksi keheningan yang penuh makna di antara mereka.

"Sama-sama, Dokter Valen," balas Kevin berbisik di dekat telinga Valen. "Perjalanan kita di sini baru dimulai. Dan aku tidak sabar untuk melewati setiap harinya bareng kamu."

Di atas tanah pesisir yang jauh dari kemewahan kota, di bawah naungan langit senja yang berangsur gelap, dua Dokter muda itu saling menggenggam jemari erat-erat. Tantangan penugasan medis hari-hari berikutnya mungkin akan lebih berat, namun mereka tahu, tak ada medan yang terlalu tangguh untuk ditaklukkan selama mereka melangkah bersama.

1
Intan Wiwi
sangat cocok untuk pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!