NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: tamat
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu / Tamat
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Keesokan paginya….

Tubuh Cindy membaik dengan cepat seolah-olah ada kekuatan baru dalam dirinya yang membuat dia kini bisa berjalan-jalan mengelilingi rumah sambil mengendong Helena yang sedang mengoceh.

“Awshejejshswswhshws” suara Helena yang imut di sertai air liur yang berterbangan karena ocehan Helena membuat Cindy tersenyum kecil.

“Kamu sedang mengajak bunda berbicara yah? Aduuuhh manisnya putri bundaa…” gemasnya sambil menempelkan pipinya dengan pipi bulat Helena.

Saat kakinya menapak pada halaman depan bersamaan dengan sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di depan rumahnya.

Cindy mengernyit bingung melihat mobil yang baru pertama kali ia lihat. Makin terkejut lagi dengan kehadiran Pramono, paman Cindy yang sengaja datang sendirian.

“Cindy! B….bagaimana bisa kamu….“

Saat turun dari mobil dan tubuhnya menghadap pada Cindy. Pria tua itu terlalu di tempat melihat Cindy yang berdiri sambil mengendong seorang bayi. Untung saja rona merah Cindy perlahan muncul membuat Pria itu tidak terlalu curiga.

“Paman?!“ Cindy pun terkejut melihat kedatangan pamannya.

Perlahan kaki Pramono mendekat dan menatap pada sosok bayi yang di gendong Cindy. Terlihat Helena yang tadinya mengoceh membalas tatapan Pramono yang di layangkan padanya seolah-olah bayi itu tahu siapa yang datang berkunjung ke rumah ibunya.

“Kamu….sudah punya bayi?“ tanya pria itu terkejut dengan suara sedikit terbata-bata.

Cindy tersenyum kecil, “duduk dulu paman, pasti paman lelah usai perjalanan jauh.“ Cindy melangkah menaiki undakan teras depan rumah nya lalu duduk di sofa yang di sediaian di teras itu menunggu pamannya yang masih diam terpaku.

Pramono akhirnya melangkah dengan sisa-sisa rasa terkejutnya yang masih tertinggal di ujung kaki. Ia duduk di sofa teras yang berseberangan dengan Cindy. Tatapannya tertuju lurus pada lengan Cindy yang menimang Helena dengan begitu telaten dan tenang. Suasana teras pagi itu mendadak terasa hening, hanya menyisakan suara kicauan burung liar dan deru angin sepoy-sepoy yang mempermainkan rambut hitam Cindy.

Cukup lama Pramono terdiam, mencoba mencerna pemandangan di depannya. Pikirannya melayang pada obrolannya dengan Mahen di Jakarta dua minggu lalu. Mahen benar bahwa ada yang aneh dengan Cindy, tapi Mahen sama sekali tidak menyebutkan soal kehamilan, apalagi seorang bayi yang kini nyata berada di depan matanya.

"Cindy..." Pramono akhirnya membuka suara, membasahi bibirnya yang mendadak kering. Suaranya terdengar parau dan terbata-bata. "Paman... paman benar-benar bingung. Bagaimana bisa kamu... tiba-tiba sudah menimang anak? Seingat paman, dua tahun lalu saat paman terakhir komunikasi intens, kamu bahkan tidak punya pacar. Kapan kamu hamil, Nduk? Kenapa perutmu tiba-tiba... maksud paman, kenapa sekarang sudah ada bayi?"

Cindy tetap duduk dengan tenang, jemari lentiknya mengusap pipi gembil Helena yang kini mulai tenang dan balik menatap Pramono dengan manik mata birunya yang jernih dan menghipnotis. Pengaruh segel gaib di rumah itu membuat logika Cindy mengunci segala rahasia mistisnya dengan rapat, menggantinya dengan untaian kalimat yang terdengar sangat masuk akal bagi manusia awam.

"Semua berjalan begitu cepat, Paman," jawab Cindy dengan senyuman tipis yang sangat teduh. "Cindy bertemu dengan seorang pria yang sangat baik. Kami saling mencintai, dan karena kami merasa sudah sama-sama cocok, kami memutuskan untuk segera melangkah ke jenjang yang lebih serius."

Mendengar jawaban itu, rahang Pramono mengencang. Ada rasa tidak senang sekaligus kecewa yang mendalam menyeruak di dadanya. "Menikah? Kamu menikah tanpa memberi tahu paman, Cindy?! Paman ini satu-satunya saudara kandung dari mendiang ayahmu yang tersisa di keluarga ini. Kenapa kamu tidak meminta paman untuk menjadi wali nikahmu? Kenapa kamu seolah-olah menyembunyikan pernikahan ini dari paman?!"

Cindy mengembuskan napas pendek, menatap pamannya dengan pandangan penuh rasa bersalah yang dibuat se-realistis mungkin. "Bukan maksud Cindy untuk menyembunyikan hal ini, Paman. Cindy tahu betul betapa sibuknya Paman dengan proyek-proyek besar di Jakarta akhir-akhir ini. Paman bahkan sudah dua tahun tidak sempat menjenguk Cindy ke Jogja karena urusan pekerjaan. Cindy tidak mau merepotkan atau mengganggu jadwal Paman yang sangat padat."

"Tapi tetap saja, Cindy! Paman ini wali sah-mu!" potong Pramono dengan nada bicara yang sedikit meninggi karena egonya sebagai orang tua terluka. "Lalu kalau bukan paman, siapa yang jadi walimu saat akad?"

"Cindy menyewa wali hakim resmi, Paman. Proses akad nikahnya dilakukan secara sangat sederhana di rumah ini, hanya dihadiri oleh beberapa saksi dari lingkungan sini dan perangkat desa," urai Cindy dengan nada suara yang tetap stabil, lembut, dan tidak tersulut emosi sama sekali. "Kami tidak membuat pesta atau resepsi besar-besaran karena suami Cindy juga lebih menyukai kesederhanaan. Yang penting bagi kami adalah hubungannya sah di mata agama dan hukum. Maafkan Cindy kalau keputusan ini membuat Paman kecewa."

Pramono tertegun, kehilangan kata-kata. Penjelasan Cindy yang begitu runtut, tenang, dan pasrah membuat kemarahannya perlahan menguap, berganti menjadi rasa heran yang mendalam. Ia menatap sofa kuno di teras tersebut, lalu kembali menatap keponakannya yang tampak sangat bahagia dan tidak tertekan sama sekali.

Klek.

Suara engsel pintu utama yang dibuka dengan perlahan memecah keheningan di antara mereka. Pramono refleks menolehkan kepalanya ke arah pintu.

Dari dalam rumah, sesosok pria bertubuh tegap dan jangkung melangkah keluar. Pria itu memiliki wajah yang teramat tampan dengan garis rahang aristokrat yang tegas dan kulit putih bersih khas orang Belanda asli. Kali ini, Damian telah memanipulasi seluruh wujud gaibnya seutuhnya menjadi manusia biasa. Tidak ada lagi tanduk kecil di kepalanya, tidak ada sayap hitam raksasa, dan tidak ada kepulan asap bara api yang menyelimutinya. Bahkan, kedua kakinya kini menapak dengan sempurna di atas ubin tegel teras, melangkah dengan ritme yang sangat halus, konstan, dan memancarkan wibawa yang luar biasa tinggi.

Damian mengenakan kemeja katun berkerah berwarna biru dongker yang lengannya digulung hingga sebatas siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh namun tetap pucat. Sepasang mata birunya menatap Pramono dengan pandangan yang tajam namun penuh dengan sopan santun formal khas bangsawan Eropa.

"Selamat pagi," sapa Damian dengan suara berat dan parau yang terdengar sangat jantan dan berwibawa. Ia berjalan mendekat ke arah sofa tempat Pramono duduk, lalu mengulurkan tangan kanan pucatnya untuk menjabat tangan sang paman. "Saya Damian. Suami dari Cindy, dan ayah dari Helena."

Pramono tertegun sejenak melihat perawakan Damian yang begitu dominan dan berkelas. Ia bangkit berdiri, menerima jabatan tangan Damian yang terasa sejuk namun kokoh. "Pramono. Paman kandung Cindy."

Damian mengangguk kaku, sebuah senyuman formal terukir di bibir tipisnya saat ia melepaskan jabatan tangan mereka dan memilih untuk duduk di samping Cindy, secara instingtif merangkul pinggang mungil istrinya dengan gerakan protektif yang teramat ketat. "Cindy sudah menceritakan banyak hal tentang Anda, Tuan Pramono. Maafkan kami karena pernikahan yang terlampau mendadak ini tidak sempat melibatkan Anda secara langsung."

Pramono kembali mendudukkan dirinya perlahan, matanya bergerak bergantian menatap Damian dan Cindy yang kini duduk berdampingan. Ada keheningan yang sempat merayap selama beberapa detik, hanya diisi oleh suara napas halus Helena yang mulai terlelap di dada Cindy. Wibawa yang menguar dari tubuh Damian meski pria itu bersikap sangat sopan entah kenapa membuat Pramono merasa sedikit segan, seolah ia sedang berhadapan dengan seorang pejabat tinggi atau ekspatriat kelas atas.

"Jadi... Damian," Pramono berdeham, mencoba mencairkan ketegangan di dalam dadanya sendiri. "Kamu asli Belanda? Atau ada darah campuran? Logat bicaramu sangat fasih, tapi struktur wajahmu tidak bisa bohong."

Damian menyunggingkan senyuman tipis yang teramat rapi. "Keluarga besar saya memang memiliki garis keturunan Belanda yang sangat panjang di masa lalu, Tuan Pramono. Namun, saya sudah lama menetap dan mengurus beberapa aset di tanah Jawa ini. Sehingga bagi saya, tempat ini sudah seperti rumah sendiri."

"Lalu, pekerjaanmu apa kalau boleh paman tahu?" tanya Pramono lagi, menyelidik. Sebagai seorang paman, ia merasa tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan keponakannya tidak jatuh ke tangan pria yang salah. "Mahen, teman kerja Cindy di Jakarta sempat bercerita kalau Cindy belakangan ini agak sulit dihubungi. Dia khawatir sekali. Dan sekarang paman lihat Cindy tiba-tiba sudah punya bayi... paman hanya ingin memastikan semuanya jelas."

Mendengar nama Mahen disebut, kilatan dingin sempat melintas sangat cepat di bening mata biru Damian, namun dengan segera ia meredamnya sebelum Pramono sempat menyadari.

"Saya bergerak di bidang pengelolaan aset kuno dan beberapa bisnis properti privat," jawab Damian dengan nada suara yang halus namun tegas, memberikan penekanan yang tak terbantahkan. "Mengenai Cindy yang sulit dihubungi, itu sepenuhnya karena keinginan saya. Kehamilan Cindy berjalan dengan kondisi fisik yang sangat fluktuatif. Saya meminta Cindy untuk membatasi diri dari gawai dan fokus pada kesehatannya menjelang persalinan. Saya harap Tuan Pramono dan teman kerja Cindy bisa memaklumi proteksi yang saya berikan."

Cindy ikut mengangguk, memperkuat argumen Damian agar pamannya tidak curiga lebih jauh. "Iya, Paman. Mas Damian itu khawatir sekali sama kandunganku. Makanya kemarin-kemarin aku sengaja cuma balas chat yang penting-penting saja soal kerjaan. Sisanya aku taruh hp-ku."

Pramono mengembuskan napas panjang, bersandar pada sofa kayu teras sembari mengangguk-angguk pelan. Rasa curiga yang sempat menggunung di dadanya perlahan runtuh oleh ketenangan sepasang suami istri di depannya.

"Ya... paman paham. Apalagi di zaman sekarang, kesehatan ibu dan anak itu nomor satu," ujar Pramono, wajah parah bayanya melunak. Ia menatap ke arah Helena yang menggeliat kecil di dalam bedongan kain jarik. "Lalu, siapa nama putri cantik kalian ini?"

"Helena," jawab Cindy dengan binar mata yang penuh kebahagiaan murni. "Helena Van Der Ven, Paman."

"Nama yang sangat cantik," puji Pramono tulus. Ia menjulurkan jarinya yang berkerut, mencoba menyentuh jemari mungil Helena. Begitu kulitnya bersentuhan dengan kulit bayi itu, Pramono sempat tersentak kecil seperti ada sensasi dingin yang tidak biasa, namun langsung digantikan oleh rasa hangat yang nyaman, membuat pria tua itu tersenyum. "Mata birunya persis seperti ayahnya. Dia akan tumbuh menjadi gadis yang luar biasa nanti."

"Tentu saja," sahut Damian rendah, matanya menatap Helena dengan kilatan kepemilikan mutlak. "Dia adalah segalanya bagi kami. Dan saya akan memastikan dia mendapatkan perlindungan terbaik di dalam rumah ini."

"Paman menginap di Jogja berapa hari?" tanya Cindy mengalihkan pembicaraan, mencoba mencairkan suasana.

"Cuma tiga hari, Nduk. Ini paman langsung dari bandara sengaja mampir ke sini dulu sebelum ke hotel dan urus kerjaan besok senin," jawab Pramono sambil melirik jam tangannya. "Melihat kamu sehat, sudah punya suami yang bertanggung jawab, dan anak yang cantik... paman rasanya sudah sangat lega. Beban paman rasanya berkurang satu."

Damian bangkit berdiri dari sofanya dengan gerakan yang teramat anggun. "Jika Anda tidak terburu-buru, Tuan Pramono, silakan masuk ke dalam. Saya bisa meminta seseorang untuk menyiapkan teh hangat atau makan siang sederhana untuk Anda sebelum Anda menuju ke hotel."

Pramono mendongak, menatap keramahan Damian lalu tersenyum tipis sembari menggeleng pelan. "Terima kasih banyak, Damian. Tapi paman harus segera ke hotel di pusat kota untuk bersiap rapat nanti malam. Mungkin besok lusa sebelum paman balik ke Jakarta, paman akan mampir lagi ke sini untuk membawa beberapa hadiah untuk Helena."

"Pintu rumah ini selalu terbuka untuk Anda, Paman," ucap Cindy manis.

Pertemuan singkat di teras pagi itu akhirnya ditutup dengan jabat tangan perpisahan yang hangat antara Pramono dan Damian. Saat mobil Pramono perlahan bergerak membelah jalanan depan rumah dan menjauh, Damian kembali merapatkan tubuhnya pada Cindy, merangkul bahu istrinya dari belakang sembari menatap lurus ke arah jalan raya dengan tatapan yang kembali sedingin es.

"Dia orang yang baik, Damian. Jangan sakiti dia," bisik Cindy memohon, mendongak menatap rahang tegas suaminya.

Damian mengecup puncak kepala Cindy lama. "Selama dia tidak membawa ancaman bagi keabadian kita di rumah ini, dia akan tetap aman, mijn liefde," geram Damian rendah, mengunci kembali gerbang gaib rumah kolonial mereka dari dunia luar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!