"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 15
Selama makan malam, Rhea terus menerus diam. Tubuhnya ada di sana, tapi agaknya pikirannya tidak. Bahkan ia hanya memainkan makanan yang ada di dalam piringnya dengan sendok.
Nayaka menatap ke arah Rhea, lalu mengalihkannya ke Tono. Ia mengangkat dagunya, dimana Tono langsung paham maksud sang atasan.
"Mbak Rhea, apa kali ini nggak bisa makan makanan ini lagi? Meski rasanya agak beda, tapi ini makanan Indonesia. Seharusnya aman kan ya?"
Eh?
Rhea meletakkan sendok, lalu menggerakkan tangan sambil menggelengkan kepala. Makanan yang tersaji di meja makan tentu sesuai dengan selaranya. Ia bahkan tidak menyangka bahwa di Prancis ada restoran yang memiliki menu makanan Indonesia.
"Ini enak kok," ucapnya.
"Lalu? Kenapa dari tadi cuma dimainin aja. Kenapa nggak dimakan? Kalau udah kelewat dingin nggak enak lho," sahut Tono.
"Itu~"
Rhea menghentikan ucapannya. Ia mengatur nafasnya lebih dulu sebelum melanjutkannya.
"Soal meeting tadi, bagaimana kalau tidak deal. Dan bagaimana kalau itu karena ternyata saya salah menyampaikan maksud?"
Aaaah
Tono langsung mengerti. Ternyata perilaku Rhea yang tidak segera memakan makanannya itu karena dia mengkhawatirkan tentang rapat tadi siang.
Rhea takut dan cemas terkait kemampuan dirinya.
"Kamu melakukannya dengan baik," ucap Nayaka sambil mengelap mulutnya.
"Benar kata Pak Bos, Mbak Rhea. Mbak sudah melakukannya dengan baik. Sangat baik malah. Saya sebenarnya nggak berekspektasi tinggi terhadap Mbak Rhea yang baru pertama kali mengenal dunia bisnis. Tapi faktanya Mbak bisa."
Perkataan Nayaka dan Tono membuat dadanya membuncah. Mata Rhea juga berkaca-kaca.
"Terlepas dari apapun keputusan mereka, semuanya memang sudah pengaturan dari Yang Maha Kuasa," jawab Ton. "Dalam perundingan bisnis, jadi atau tidaknya kerja sama itu sudah biasa," imbuhnya.
Rhea mengangguk cepat, dia tersenyum tipis.
"Saya izin ke toilet dulu, permisi."
Rhea bangkit lalu berjalan cepat menuju ke toilet. Sedangkan Nayaka dan Tono hanya menatap lurus lalu wajah mereka teralihkan saat desert yang berupa ice cream datang.
"Dia kelihatan takut banget, pak Bos," ucap Tonoo.
"Wajar, ini pertama kalinya," jawab Nayaka. Ia menghentikan tangannya menyuap ice cream.
"Oh iya, kok dia nggak masih belum juga ngenalin Pak Bos ya?"
Tono mengusap dagunya dengan satu jari-jari kanannya. Teringat kembali tentang kejadian waktu itu.
"Biarin, aku perlu diinget-inget kok."
Nayaka sama sekali tak melihat Tono, dia memeriksa pesan yang baru saja masuk. Bibirnya menyunggingkan senyum.
Pria itu kemudian berdiri dan menuju ke meja lain.
"Oh ada temennya," ucap Tono pelan. Meski pembicaraan soal Rhea yang tidak ingat itu telah berhenti, namun pikiran Tono masih terus bertanya-tanya.
Bagaimana Rhea tidak ingat dengan pria yang sudah menolong hidupnya? Namun Tono juga tak ingin mengonfirmasi kepada Rhea. Wanita yang ia lihat sekarang berbeda dengan saat itu. Dan Tono juga tak ada niat untuk menggali luka milik orang lain.
"Lho Pak, Pak Nayaka nya?"
"Tuuuuh lagi ketemu sama temennya."
Rhea baru saja kembali dari toilet, dia menanyakan keberadaaan Nayaka yang tidak ada di kursinya. Mata Rhea mengikuti arah wajah Tono. Di sana dia melihat Nayaka yang tengah berbincang dengan temannya.
"Ternyata wajahnya bisa begitu. Dia juga bisa tertawa ternyata," gumam Rhea lirih. Dengan cepat Rhea menarik pandangannya dan melanjutkan makannya. Kali ini dia bisa menikmati makanan jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
Sebuah keyakinan ia tanamkan dalam dirinya sendiri bahwa dia memang sudah sangat baik dalam melakukan pekerjaannya.
"Ton, balik. Udah kan?"
"Siap. Ayo Mbak Rhea."
Rhea mengangguk, ia segera bangkit dan mengenakan mantelnya.
Hari ini selain belajar tentang bahasa bisnis, dia juga bisa melihat perubahan ekspresi atasannya. Rhea menyadari bahwa Nayaka memilki sisi lain. Dia bukan hanya sekedar bos berwajah dingin.
Mobil melaju, sekarang mereka kembali ke rumah. Rhea merasa bahwa tubuhnya begitu lelah, padahal dia tak melakukan aktivitas fisik yang berat. Lehernya kaku pun dengan punggungnya.
"Tunggu," ucap Tono membuat langkah Rhea dan Nayaka terhenti.
"Mereka mengirim pesan, meminta pertemuan besok pagi."
"Alhamdulillah."
Rhea dan Nayaka mengucapkan rasa syukur bersamaan. Disusul dengan Tono. Senyum Rhea juga langsung menghiasi bibirnya.
"Kan, kalau emang rejeki nggak bakalan kemana. Mari kita tidur nyenyak malam ini," sorak Tono. Dia mengangkat kedua tangannya ke udara. Tono menghampiri Nayaka dan hendak merangkul tuannya, tapi Nayaka menghindar dan pergi dengan cepat. Alhasil ia hanya melakukan hi five bersama Rhea.
"Selamat ya Mbak Rhea, kamu berhasil."
"B-bukan saya, tapi kita semua."
hahahah
Tono tertawa, matanya berbinar cerah dan langkahnya menjadi sangat ringan.
Malam itu mereka semua tidur cepat dan juga lelap. Esok harinya, wajah Tono tampak begitu segar, terlebih Rhea, wanita itu benar-benar tak redup senyumnya mulai dari bangun tidur hingga ke meja pertemuan.
"Merci, senang bekerja sama dengan Anda."
"Merci, je vous en prie. Kami juga senang bekerja sama dengan Anda."
Pembubuhan tanda tangan dan juga jabat tangan merupakan bagian akhir dari resminya sebuah kesepakatan. Setelah melalui sedikit perundingan yang alot, akhirnya perusahaan milik Raphael setuju dengan syarat dan ketentuan yang diberikan oleh Linford Transportation.
"Merci, Mademoiselle Rhea. Anda benar-benar kompeten dalam bidang Anda. Saya yakin Anda banyak menghaluskan perkataan kami."
"Saya hanya melakukan tugas saya, Tuan Raphael."
Rhea menyambut uluran tangan Raphael. Dia tidak menyangka bahwa Rapahel menyadari bahwa terkadang ia menerjemahkan tidak sama persis dengan aslinya, dimana tentunya itu untuk tujuan baik.
"Mbak Rhea, coba tanyakan apa mereka akan melihat ke kapal kita lebih dulu. Semacam tour kapal," imbuh Tono.
Rhea menyampaikannya persis dengan apa yang dikatakan Tono, dan jawaban mereka adalah sangat mau. Malah itu tawaran bagus karena mereka bisa memastikan bahwa kapal yang akan digunakan untuk mengirim barang benar-benar sesuai.
"Kalau begitu, besok kita akan lakukan tou kapal itu," ucap Nayaka.
"Baiklah kalau begitu, saya setuju," jawab Raphael.
Setelah kesepakatan terjadi, mereka berbincang dengan santai. Di mata Rhea, Raphael juga terlihat sangat berbeda. Saat acara bisnis dan santai, aura yang dipancarkan juga terasa berbeda.
"Apa Anda menyukai bola Pak Nayaka?" tanya Raphael.
"Lumayan, saya menyukainya," jawab Nayaka. Dia tidak berbohong soal itu.
"Bagus, saya ada tiket pertandingan PSG (Paris- Saint German) melawan Aston Vila lusa. Kalau Anda belum kembali ke Indonesia, silakan datang bersama Pak Tono dan Nona Rhea."
Asisten Raphael memberikan tiga tiket, Tono mengambilnya mewakili Nayaka sambil mengucapkan terimakasih.
"Apa Mbak Rhea suka bola?"
"Nggak sih Pak, tapi kapan lagi kan bisa lihat stadium di Prancis."
Tono terkekeh kecil lalu mengangguk. Jawaban Rhea sama sekali tidak salah.
TBC
Rhea ga berhasil kekejar eeh yg kau dapat hanya penyesalan mendalam, lu kira kamu guanteng bangett gitu sampe2 mikir Rhea msh mau sm kamu?? percaya diri kali kau 😆😆
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭