Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 — Misi ke Netherys
Tiga hari berikutnya dihabiskan untuk membantu proses pemulihan awal Eldermere, kota yang telah menjadi tempat pertama Kael mengenal dunia Elyndra kini menunjukkan bekas-bekas luka dari serangan yang telah mereka hadapi bersama.
Bantuan datang dari berbagai arah—pasukan tambahan dari Grandis tiba untuk membantu keamanan dan pemulihan, sementara sumbangan bahan bangunan dan makanan mulai mengalir dari kota-kota sekitar yang mendengar tentang serangan tersebut. Bahkan Lyra mengirimkan permintaan kepada ayahnya untuk mengirimkan beberapa penyembuh Elf terbaik, yang kemampuan sihir alam mereka terbukti sangat efektif dalam merawat luka-luka parah akibat pertempuran.
"Kota ini akan pulih," Aldric berkata dengan nada yakin saat mereka mengawasi proses pembangunan kembali tembok kota yang rusak, "meski butuh waktu untuk benar-benar menghilangkan bekas luka dari serangan ini."
Kael menghabiskan waktu di sela-sela membantu pemulihan untuk merenungkan usulan yang telah dia sampaikan kepada Seraphina tentang menyerang basis kekuatan Dravos secara langsung di Netherys. Semakin dia memikirkannya, semakin dia menyadari bahwa rencana seperti itu membutuhkan persiapan yang jauh lebih matang dari sekadar tekad semata.
"Netherys bukan tempat yang bisa kita masuki begitu saja," Seraphina memperingatkan suatu malam, ketika mereka membahas rencana itu lebih detail bersama Aldric, Lyra, dan Selene. "Itu adalah wilayah kekuasaan penuh Demon, dengan pertahanan yang jauh lebih terorganisir dibanding benteng tersembunyi di pegunungan Aschen."
"Aku tahu," Kael mengakui, "tapi kita tidak bisa terus bereaksi terhadap serangan-serangannya. Setiap kali dia menyerang, dia mendapatkan informasi tentang perkembanganku, sementara kita hanya mendapatkan kerusakan yang harus kita pulihkan."
Aldric mempertimbangkan argumen itu dengan serius. "Ada kebenaran dalam apa yang kau katakan, Kael. Namun serangan langsung ke Netherys membutuhkan lebih dari sekadar keberanian—kita butuh informasi intelijen yang jauh lebih baik tentang pertahanannya, kekuatan pastinya, dan yang terpenting, lokasi spesifik di mana dia mungkin menyimpan fragmen-fragmen lain yang mungkin sudah dia kumpulkan."
"Shadow Sect mungkin memiliki informasi itu," Lyra menyarankan, mengingat bantuan yang telah diberikan Ren sepanjang perjalanan mereka.
"Aku akan menghubungi Ren," Kael memutuskan. "Jika ada seseorang yang bisa memberikan informasi detail tentang Netherys, itu adalah Shadow Sect."
Pesan dikirimkan keesokan harinya, dan tidak mengejutkan siapa pun, Ren muncul dalam waktu kurang dari dua hari, kali ini membawa gulungan-gulungan berisi peta dan catatan intelijen yang telah dikumpulkan Shadow Sect selama bertahun-tahun mengawasi pergerakan Dravos.
"Netherys terbagi menjadi beberapa wilayah kekuasaan," Ren menjelaskan, membentangkan peta detail wilayah Demon yang jauh lebih rinci dari apa pun yang pernah mereka lihat sebelumnya. "Dravos telah mengambil alih kendali atas Distrik Bayangan, salah satu area paling berpengaruh secara politik di Abyssal Empire, meski secara teknis dia masih harus tunduk pada otoritas Kaisar Demon yang sah."
"Apakah ada kemungkinan Kaisar Demon tidak mengetahui ambisi sesungguhnya Dravos?" Selene bertanya, memikirkan kemungkinan diplomasi alih-alih konfrontasi langsung.
"Kami tidak yakin seberapa banyak yang diketahui Kaisar Rhaazun," Ren menjawab. "Tapi ada rumor bahwa hubungan antara Dravos dan istana kekaisaran Demon semakin tegang belakangan ini, mengingat ambisi Dravos yang mulai dianggap mengancam stabilitas kekuasaan tradisional."
Informasi itu membuka kemungkinan baru yang belum pernah mereka pertimbangkan sebelumnya. "Jika Kaisar Demon sendiri mulai waspada terhadap Dravos," Kael berkata dengan penuh pertimbangan, "mungkin ada peluang untuk membangun semacam pemahaman, bukan aliansi formal, tapi setidaknya pengertian bahwa kita berbagi musuh yang sama."
"Itu akan menjadi langkah diplomatik yang sangat berisiko," Aldric memperingatkan. "Demon secara tradisional tidak mempercayai ras lain, dan sejarah konflik antara Netherys dan kerajaan-kerajaan permukaan sangat panjang dan penuh dengan luka lama."
"Tapi mungkin itu risiko yang perlu kita ambil," Seraphina menambahkan, mengejutkan semua orang dengan dukungannya terhadap ide yang berisiko itu. "Jika kita bisa memecah dukungan internal Dravos sendiri, itu bisa menjadi keuntungan strategis yang jauh lebih berharga daripada sekadar menyerang langsung tanpa persiapan yang cukup."
Diskusi berlanjut hingga larut malam, mempertimbangkan berbagai pendekatan dan risiko yang menyertainya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengambil pendekatan ganda—mengirimkan utusan diplomatik rahasia untuk mencoba membuka komunikasi dengan istana Kaisar Demon, sementara secara bersamaan terus mempersiapkan kekuatan militer sebagai cadangan jika diplomasi gagal.
"Aku akan menjadi utusan itu," Seraphina menawarkan diri. "Aku punya pengalaman bertahun-tahun berurusan dengan politik antar-ras, dan statusku sebagai vampir mungkin memberikan sedikit lebih banyak kredibilitas dibanding utusan manusia biasa dalam konteks ini."
"Aku tidak suka gagasan kau pergi sendirian ke wilayah berbahaya seperti itu," Kael berkata dengan kekhawatiran yang jelas terlihat.
"Aku tidak akan sendirian," Seraphina menjawab dengan senyum menenangkan. "Ren bisa membantu menyediakan jalur aman melalui jaringan Shadow Sect, dan aku akan membawa pengawal yang cukup untuk memastikan keamanan dasar."
Setelah perdebatan panjang, akhirnya disepakati bahwa Seraphina akan memimpin misi diplomatik rahasia ke Netherys, didampingi oleh dua kultivator senior Heavenly Sword Sect dan panduan dari jaringan Shadow Sect, sementara Kael dan yang lainnya tetap di Eldermere untuk menyelesaikan proses pemulihan sekaligus mempersiapkan kekuatan untuk kemungkinan konfrontasi besar di masa depan.
"Berhati-hatilah," Kael berkata kepada Seraphina malam sebelum keberangkatannya, menggenggam tangannya dengan erat penuh kekhawatiran yang tulus.
"Selalu," Seraphina menjawab, mencium keningnya dengan lembut. "Aku akan kembali kepadamu, aku janji."
Perpisahan dengan Seraphina terasa berat bagi Kael, meski dia memahami pentingnya misi diplomatik yang dia emban. Setelah kepergiannya bersama Ren dan dua kultivator senior menuju Netherys, Kael mengalihkan fokusnya untuk membantu menyelesaikan pemulihan Eldermere sambil terus mempersiapkan diri untuk tantangan yang akan datang.
Seraphina sendiri, dalam perjalanannya menuju Netherys, merasakan campuran kegugupan dan tekad yang kuat. Jalur yang digunakan Shadow Sect untuk membawa mereka melewati perbatasan sangat tersembunyi, melalui terowongan bawah tanah kuno yang menghubungkan Eternalis dengan wilayah utara Netherys tanpa harus melewati pertahanan perbatasan resmi.
"Istana Kekaisaran Demon berada di pusat Netherys," Ren menjelaskan sepanjang perjalanan melalui terowongan gelap itu, "dikelilingi oleh distrik-distrik kekuasaan berbagai bangsawan Demon, termasuk Distrik Bayangan yang kini dikuasai Dravos."
"Bagaimana kita bisa mendapatkan audiensi dengan Kaisar Rhaazun tanpa melewati wilayah Dravos terlebih dahulu?" Seraphina bertanya, menyadari tantangan logistik dari misi mereka.
"Shadow Sect memiliki kontak di dalam istana sendiri," Ren menjawab dengan nada misterius yang biasa. "Seorang penasihat senior yang telah lama skeptis terhadap ambisi Dravos. Dia akan membantu mengatur audiensi rahasia tanpa melibatkan pengaruh Dravos."
Setelah tiga hari perjalanan melalui jalur tersembunyi, mereka akhirnya muncul di permukaan dalam wilayah Netherys, pemandangan yang menyambut mereka benar-benar berbeda dari apa pun yang pernah Seraphina saksikan bahkan setelah hidup seribu tahun—langit yang selalu gelap dengan warna keunguan aneh, tanah yang dipenuhi formasi kristal gelap yang memancarkan cahaya redup, dan arsitektur kota yang dibangun dengan gaya yang mencerminkan estetika Demon—gothic, megah, namun juga menyimpan keindahan tersendiri yang sulit disangkal.
"Ini... berbeda dari yang kubayangkan," Seraphina mengakui, mengamati sekelilingnya dengan campuran kekaguman dan kewaspadaan.
"Netherys sering digambarkan secara tidak adil oleh ras permukaan," Ren berkomentar. "Ya, ada kekejaman dan konflik internal, tapi juga ada budaya yang kaya dan masyarakat yang kompleks, tidak jauh berbeda dari kerajaan mana pun di permukaan."
Mereka bergerak dengan hati-hati menuju istana kekaisaran, menghindari distrik-distrik yang diketahui berada di bawah pengaruh langsung Dravos. Kontak Shadow Sect di dalam istana, seorang penasihat bernama Zephyrin, menyambut mereka secara diam-diam melalui pintu masuk tersembunyi di sisi istana yang jarang digunakan.
"Kalian mengambil risiko besar datang kemari," Zephyrin berkata, sosoknya tinggi dan ramping dengan kulit keunguan gelap khas Demon tingkat tinggi, matanya yang kuning menyala menatap mereka dengan campuran kewaspadaan dan rasa ingin tahu. "Jika Dravos mengetahui kunjungan ini sebelum waktunya, konsekuensinya bisa sangat berbahaya bagi kita semua."
"Kami menghargai bantuan dan risiko yang Anda ambil," Seraphina menjawab dengan hormat yang tulus. "Informasi yang kami bawa sangat penting bagi stabilitas Netherys sendiri, bukan hanya bagi kerajaan-kerajaan di permukaan."
Zephyrin memandu mereka melalui lorong-lorong tersembunyi menuju ruang pertemuan pribadi, di mana Kaisar Rhaazun sendiri menunggu dengan beberapa penasihat terpercaya yang telah dipilih secara khusus untuk memastikan kerahasiaan pertemuan ini.
Kaisar Rhaazun adalah sosok yang mengesankan bahkan di antara standar Demon—tinggi besar dengan sayap raksasa yang terlipat di belakangnya, kulitnya berwarna hitam legam dengan urat-urat merah menyala yang mengalir seperti lava di bawah permukaan kulitnya, dan matanya yang merah menyala menatap tajam ke arah Seraphina dengan penilaian yang mendalam.
"Seorang vampir kuno, berani memasuki jantung kekuasaan Demon," Kaisar Rhaazun berkata dengan suara yang bergema berat, penuh dengan kekuatan yang tidak perlu ditunjukkan secara terbuka untuk dirasakan. "Kau pasti membawa informasi yang sangat penting untuk mengambil risiko sebesar ini."
"Yang Mulia," Seraphina memulai dengan hormat yang formal, "aku datang untuk membicarakan tentang Dravos, dan ambisinya yang mengancam tidak hanya kerajaan-kerajaan di permukaan, tetapi mungkin juga stabilitas Netherys sendiri."
Kaisar Rhaazun mendengarkan dengan seksama saat Seraphina menjelaskan secara detail tentang sejarah pengkhianatan Dravos, ambisinya untuk membangkitkan kekuatan Darah Primordial, dan bukti-bukti yang telah mereka kumpulkan tentang pembangunan pasukan dan pengaruh yang dia lakukan di Distrik Bayangan tanpa sepenuhnya melapor kepada otoritas kekaisaran yang sah.
"Aku sudah lama mencurigai ambisi Dravos melampaui batas yang seharusnya," Kaisar Rhaazun akhirnya berkata setelah mendengarkan laporan lengkap, nada suaranya menunjukkan kemarahan yang terkendali. "Dia telah membangun kekuatan militer yang signifikan tanpa izin resmi kekaisaran, menggunakan janji-janji kekuatan primordial untuk merekrut bangsawan-bangsawan muda yang ambisius."
"Apakah Yang Mulia bersedia mempertimbangkan tindakan terhadapnya?" Seraphina bertanya penuh harap.
Kaisar Rhaazun terdiam sejenak, mempertimbangkan implikasi politik dari keputusan semacam itu. "Tindakan langsung terhadap seorang bangsawan berpengaruh seperti Dravos membutuhkan bukti yang tidak terbantahkan, dan dukungan yang cukup dari bangsawan-bangsawan lain untuk mencegah perpecahan internal yang lebih besar."
"Tapi Yang Mulia tidak menolak kemungkinan kerja sama?" Zephyrin, yang sejak awal mendukung posisi Seraphina, menambahkan dengan hati-hati.
"Tidak," Kaisar Rhaazun menjawab setelah pertimbangan panjang. "Jika bukti yang kalian miliki benar, dan jika ambisi Dravos benar-benar mengancam untuk membangkitkan kekuatan yang bisa mengacaukan keseimbangan dunia, maka itu menjadi ancaman bagi Netherys sendiri, bukan hanya bagi kerajaan-kerajaan permukaan."
Dia melanjutkan dengan nada yang lebih tegas, "Aku akan mulai mengumpulkan bukti tambahan secara diam-diam, dan mempersiapkan dukungan dari bangsawan-bangsawan yang masih setia kepada otoritas kekaisaran yang sah. Namun ini akan membutuhkan waktu, dan kerahasiaan mutlak untuk mencegah Dravos menyadari bahwa kita sedang membangun oposisi terhadapnya."
Pertemuan itu berakhir dengan kesepakatan awal untuk kerja sama rahasia, sebuah langkah kecil namun signifikan dalam upaya mereka melawan ambisi Dravos yang terus berkembang—sebuah aliansi tidak resmi yang, jika berhasil dipertahankan kerahasiaannya, bisa memberikan keuntungan strategis yang sangat berharga ketika konfrontasi besar akhirnya tiba.