NovelToon NovelToon
The CEO'S Speed Limit

The CEO'S Speed Limit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Setelah melupakan sejenak obrolan tentang Elang, Raelyn segera mengangkat kartu hitam milik Alvarez tinggi-tinggi. Kilatan hitam berkilau dari Black Card tersebut langsung memancarkan aura kemewahan yang tidak main-main. Jiwa belanja Raelyn yang sudah tertahan selama tiga bulan penuh kini meledak tanpa sisa.

"Gue bawa kartu sakti kakek diktator. Yuk, kita kuras isinya!" seru Raelyn dengan cengiran jahilnya yang khas.

Tisha dan Angel langsung melompat dari kursi mereka dengan mata berbinar-binar. Detik itu juga, kafe mewah tersebut mereka tinggalkan demi berburu barang-barang bermerek di butik lantai bawah.

Raelyn benar-benar memanjakan kedua sahabatnya. Dari butik pakaian desainer Paris, toko kosmetik papan atas, hingga toko sepatu bots kulit yang harganya setara dengan biaya kuliah satu semester, semuanya digesek menggunakan kartu milik Alvarez.

Setiap kali mesin EDC mengeluarkan bunyi bip tanda transaksi berhasil, Raelyn hanya tersenyum puas. Pelayan butik berulang kali membungkuk hormat, memperlakukan mereka seperti putri bangsawan.

Setelah tiga jam penuh mengitari Mall, mereka akhirnya terduduk kembali di sebuah kedai es krim premium dengan belasan kantong belanjaan besar yang menumpuk di sekitar sofa.

Angel menyandarkan punggungnya dengan napas terengah-engah, namun wajahnya memancarkan kepuasan yang luar biasa.

"Gila... baru kali ini gue ngerasain belanja tanpa ada rasa nyesel sedikitpun di hati gue!" ucap Angel dramatis, memandangi tiga pasang sepatu baru yang baru saja didapatkannya secara cuma-cuma.

Tisha menyenggol lengan Angel sembari tertawa renyah.

"Iyalah gak nyesel! Orang lo dibayarin! Coba pakai duit sendiri, nangis darah lo berbulan-bulan!"

Raelyn terkekeh, menyesap es krim cokelatnya dengan santai. Dia meletakkan kartu hitam Alvarez di atas meja kaca.

"Tenang aja, selama ada kartu ini di tangan gue, kalian aman. Malam ini gue yang traktir semuanya!"

Mereka bertiga tertawa bahagia, menikmati momen kebersamaan yang sudah sangat mereka rindukan. Tawa lepas Raelyn menggema, membuktikan bahwa jiwa liarnya sama sekali belum mati, hanya sedang diredam oleh situasi.

...----------------...

Namun, kesenangan itu membuat Raelyn kehilangan orientasi waktu. Tanpa mereka sadari, jarum jam sudah bergeser dengan cepat, menunjukkan pukul sepuluh malam lewat lima belas menit.

Tepat ketika Raelyn sedang menertawakan cerita konyol Angel, ponsel di atas meja mendadak bergetar hebat. Layar digitalnya menampilkan nama yang sangat familiar: Alvarez.

Suasana ceria di meja itu mendadak hening seketika. Tisha dan Angel kompak menahan napas, menatap ponsel Raelyn seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak.

Raelyn mendengus malas, menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo."

"Di mana? Kenapa belum pulang?" tanya Alvarez di ujung telepon. Suaranya terdengar sangat berat, bariton, jernih, dan dipenuhi intonasi menuntut yang dingin.

"Lagi di kafe. Kenapa?" jawab Raelyn santai, mencoba menyembunyikan kegugupannya di balik nada suara ketusnya yang biasa.

"Sebentar lagi jam malam kamu, Raelyn. Pulang sekarang," ucap Alvarez mutlak. Tidak ada ruang untuk negosiasi dalam kalimatnya.

"Iya, bentar lagi," jawab Raelyn acuh tak acuh.

Dan tanpa menunggu balasan atau kepastian dari suaminya, Raelyn langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Klik.

Raelyn melempar ponselnya kembali ke meja dengan gaya cuek.

"Kulkas berjalan berisik banget, hobi banget nelpon," gerutunya.

Namun, yang sama sekali tidak diketahui oleh otak cerdas Raelyn adalah sebuah fakta tersembunyi. Sejak sore hari ketika dia melangkah keluar dari rumah, supir muda yang mengantarkannya sama sekali tidak langsung pulang ke kediaman utama atau kembali ke rumah.

Supir tersebut atas perintah rahasia langsung dari Alvarez tetap tinggal di area parkir mall, diam-diam mengikuti, memantau, dan mengawasi setiap pergerakan Raelyn dari jarak aman.

Alvarez sengaja melakukan panggilan telepon tadi bukan karena dia tidak tahu di mana istrinya berada. Melalui laporan GPS dan pesan teks dari supir privatnya, Alvarez tahu persis posisi koordinat Raelyn. Dia menelepon hanya karena ingin menguji satu hal: apakah Raelyn akan berbohong kepadanya atau tidak.

Begitu sambungan telepon diputus sepihak oleh Raelyn, Alvarez yang masih berada di ruang kerjanya langsung menyipitkan mata. Sifat bebal istrinya benar-benar menguji batas kesabarannya.

Alvarez kembali menekan sebuah nomor, menghubungi supir muda yang siaga di mall.

"Bawa dia pulang sekarang." perintah Alvarez dingin.

Bersambung......

1
Muchammad Shobris
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!