NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Telepon yang Membuka Luka Lama

Kabut masih menyelimuti lereng ketika Reza mengeluarkan ponsel dengan tangan yang sedikit kaku. Aira duduk di kursi yang sama, selimut sudah diganti dengan jaket tebal milik Raka. Keenan memeriksa perimeter lewat jendela dengan wajah tegang. Raka berdiri di dekat pintu belakang, senjata siap, mata tidak pernah lepas dari gelap di antara pohon.

Reza menekan nomor yang sudah dia hafal sejak kecil. Nada panggil hanya berbunyi dua kali sebelum diangkat. “Kakek.”

Suara di seberang langsung waspada. “Reza. Ada apa? Dokumen sudah sampai?”

“Sudah. Tapi ada yang lebih penting.” Reza menarik napas dalam, menatap Aira sejenak sebelum melanjutkan. “Pria itu datang. Arya. Dia masuk ke rumah, berbicara langsung dengan Aira, lalu pergi. Dia bilang dulu Aira memanggilnya Paman Arya. Dia juga bilang merekalah yang menghapus ingatan Aira.”

Keheningan di seberang telepon berlangsung terlalu lama. Begitu lama sampai Reza sempat mengecek apakah sinyal masih tersambung. Lalu suara kakeknya meledak. “Apa? Arya datang ke sana? Dia mendekati Aira?” Suara pria tua itu bergetar, bukan karena takut, melainkan karena marah yang sudah lama ditekan. “Reza, dengarkan baik-baik. Jauhkan Aira dari pria itu sejauh mungkin. Sekarang juga. Jangan biarkan dia berbicara lagi dengan Aira. Jangan biarkan dia melihat Aira. Apa pun yang terjadi, Aira tidak boleh jatuh ke tangan Arya.”

Reza menegakkan tubuh. “Kakek mengenalinya?”

“Lebih dari mengenal.” Napas kakeknya terdengar berat. “Arya adalah alasan kenapa ayah Aira mati. Kenapa anak itu harus disembunyikan. Dan kenapa kita kehilangan jejaknya bertahun-tahun. Dia bukan sekadar anggota organisasi. Dia otak di balik semuanya. Dan dia datang sendiri berarti dia sudah tidak sabar.”

Aira yang mendengar sebagian percakapan dari kursi menatap Reza tajam. Raka dan Keenan juga mendekat.

Reza menelan kasar. “Dia menawarkan Aira untuk membuka aset ayahnya. Katanya Aira adalah kunci.”

“Jangan biarkan Aira membuka apa pun di depannya!” Suara kakeknya semakin tinggi. “Arya tidak akan membiarkan Aira hidup setelah kunci itu terbuka. Dia akan mengambil semuanya, lalu menghapus saksi terakhir. Saya sudah kehilangan terlalu banyak orang karena pria itu. Saya tidak akan kehilangan Aira lagi.”

Reza melirik ke arah jendela yang masih diselimuti kabut. “Mereka pasti sudah mengepung, Kakek. Arya bilang memberi waktu sampai matahari naik, tapi itu tipuan.”

“Saya tahu.” Ada bunyi kertas dan perintah samar di latar belakang telepon. “Saya kirim helikopter sekarang. Koordinat rumah bukit sudah saya berikan pada pilot. Tunggu di lahan terbuka di belakang rumah. Lima belas menit paling lambat. Bawa Aira naik. Apa pun yang terjadi, dia harus keluar dari sana hidup-hidup.”

“Kakek—”

“Jaga dia dengan nyawamu, Reza. Ini bukan lagi soal wasiat atau perjodohan. Ini soal utang darah yang belum terbayar.” Telepon terputus.

Reza menurunkan ponsel. Wajahnya lebih pucat dari biasanya. “Helikopter akan datang,” katanya singkat pada yang lain. “Lima belas menit. Kita harus ke lahan terbuka di belakang.”

Aira berdiri pelan. “Kakekmu sangat marah. Dan sangat takut.”

“Dia bilang Arya adalah alasan ayahmu mati dan alasan kamu disembunyikan.” Reza menyimpan ponsel. “Dan alasan kita tidak boleh menyerahkanmu.”

Raka sudah mengambil jaket Aira dan menyampirkan di bahunya. “Kalau helikopter datang, Arya pasti tahu. Mereka akan menyerang sebelum kita naik.”

“Saya tahu,” jawab Reza. “Makanya kita bergerak sekarang.”

Keenan menutup tas medis dengan cepat. “Aira, kalau nyeri terlalu hebat saat berlari, bilang. Saya bisa suntik pereda sementara.”

Aira menggeleng. “Simpan. Nanti saja. Saya masih bisa jalan.”

Mereka keluar lewat pintu belakang. Kabut pagi membuat jarak pandang hanya beberapa meter. Tanah basah menempel di sol sepatu. Raka berjalan di depan Aira, Reza di samping, Keenan menutup belakang.

Lahan terbuka itu sebenarnya hanya tanah lapang kecil yang dulu dipakai helikopter keluarga untuk mendarat saat musim panas. Sekarang rumputnya tinggi dan basah. Angin berembus lebih kencang di sana, membawa bau tanah dan pinus.

Reza terus mengecek waktu. “Sepuluh menit.”

Aira menekan sisi tubuhnya yang masih terbalut perban. Napasnya pendek, tapi stabil. “Kalau helikopter tidak datang tepat waktu?”

“Akan datang,” kata Reza. “Kakek tidak bercanda soal ini.”

Raka menatap kabut di sekeliling. “Mereka sudah dekat. Saya mencium bau bensin.”

Belum sempat siapa pun menjawab, bunyi tembakan pertama memecah kabut. Bukan ke arah mereka. Ke arah langit, seolah peringatan. Reza langsung menarik Aira turun ke balik tumpukan kayu bakar yang sudah lapuk. Raka dan Keenan menyusul.

“Mereka tahu,” desis Raka.

Tembakan kedua dan ketiga datang lebih dekat. Serpihan kayu beterbangan. Keenan melindungi kepala Aira dengan tubuhnya sebentar sebelum Reza menarik mereka lebih ke belakang. Di kejauhan, suara rotor helikopter mulai terdengar samar, masih jauh di balik kabut.

Aira menggigit bibir. “Lima menit lagi?”

“Kurang,” jawab Reza sambil membalas tembakan ke arah bayangan yang bergerak. “Tahan.”

Raka menembak dua kali. Satu bayangan jatuh. “Mereka tidak menembak mati. Masih berusaha menangkap.”

“Karena Arya ingin Aira hidup,” kata Keenan serak. “Kunci tidak berguna kalau mati.”

Helikopter semakin dekat. Bunyi rotornya sekarang sudah jelas, memecah kabut di atas lahan. Lampu pendaratan menyala, membuat bayangan lawan terlihat lebih jelas.

Reza berteriak di tengah bising, “Sekarang! Lari ke arah tangga!”

Mereka bangkit. Aira berlari sekuat yang dia bisa, Raka memegang lengannya agar tidak tergelincir di tanah basah. Peluru berdesingan di sekitar mereka, beberapa mengenai badan helikopter yang baru saja mendarat.

Pilot berteriak dari dalam, “Cepat naik! Saya tidak bisa tunggu lama!”

Reza mendorong Aira naik lebih dulu. Keenan menyusul. Raka masih menembak dari bawah, menutupi. Reza menariknya masuk terakhir.

Pintu helikopter ditutup kasar. Pilot langsung menarik kontrol. Badan pesawat terangkat goyah di tengah tembakan yang masih datang.

Aira duduk di kursi dengan sabuk yang belum sempat dikunci, napasnya memburu. Di bawah, kabut dan pohon semakin mengecil. Bayangan orang-orang Arya masih terlihat menembak ke atas sia-sia.

Reza duduk di seberangnya, wajah tegang. “Kita menuju rumah aman kakek di luar kota. Lebih jauh. Lebih dijaga.”

Aira menatapnya. “Kakekmu bilang Arya alasan ayah saya mati.”

“Ya.”

“Dan dia sangat marah hanya karena pria itu mendekati saya.”

Reza mengangguk. “Lebih dari marah. Dia takut.”

Aira memalingkan wajah ke jendela helikopter yang masih berembun. Di bawah, dunia yang baru saja mencoba menangkapnya semakin jauh.

Kali ini dia merasa bahwa bahaya yang mengejarnya bukan hanya soal uang atau warisan. Melainkan sesuatu yang lebih tua, lebih dalam, dan jauh lebih pribadi.

Helikopter mendarat di lahan yang lebih luas dan lebih dijaga. Dua unit pengamanan sudah menunggu dengan senjata siap, wajah mereka datar di bawah topi hitam. Begitu bilah rotor berhenti berputar, pintu dibuka dari luar. Angin pagi yang lebih bersih langsung masuk, membawa bau tanah basah dan rumput yang baru dipotong.

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!