NovelToon NovelToon
Najin

Najin

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri / Penyelamat
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

​Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.

​Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.

akankah Bella menemukan sang Ibu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Pagi hari menyapa kawasan Kota Tua dengan keriuhan lalu lalang warga. Di sepanjang jalan, kuncup-kuncup bunga sakura tampak berderet mengering, tinggal menunggu waktu untuk mekar sempurna.

“Mas Gilang!” panggil Aska dari balik pagar besi yang mengunci pintu masuk.

Di pelataran Griya Harta Emas, Gilang melangkah masuk dengan lunglai. Setelan jas abu-abunya tampak kusut, sepadan dengan wajah murung dan memar luka robek yang masih segar di sudut bibirnya.

Aska dan Ujang yang baru saja selesai membersihkan ruangan menghentikan aktivitas mereka. Keduanya melongo, menyaksikan sang majikan pulang dalam keadaan babak belur.

Tanpa mengalirkan sepatah kata pun, Gilang melangkah mendekati meja, menuangkan air ke gelas kaca, lalu meminumnya hingga tandas.

Dari belakang, Bibi Sinta menghampiri dengan raut cemas. “Memangnya ada masalah apa, hmm?” tanyanya memastikan. Namun begitu Gilang membalikkan badan, Bibi Sinta membelalak kaget. “Ya ampun! Siapa yang memukulmu sampai seperti ini?”

Gilang mengabaikan pertanyaan itu dan mengitari meja. “Bibi Sinta, berapa banyak uang tunai yang kita miliki saat ini?”

“Uang tunai?” ulang Bibi Sinta kebingungan.

“Jika rumah, properti di Kota Tua, dan Griya Harta Emas ini dijual, berapa lama sampai semuanya laku?” cecar Gilang pelan. Ia menyibak sedikit gorden dan mengintip kuncup bunga sakura di luar. “Apakah sebulan cukup?”

Bibi Sinta menyusul ke samping bahunya. “Ada masalah apa sebenarnya? Katakan padaku, ada apa?” bisiknya panik.

Gilang berbalik menghadap Bibi Sinta lalu meletakkan gelasnya. Tepat saat itu, Aska dan Ujang menyusul masuk ke ruangan.

“Tampaknya...” Gilang menggantung kalimatnya, menatap tiga bawahannya satu per satu, lalu menyunggingkan senyum tipis. “...aku ini sudah tamat.”

Beberapa menit berlalu. Gilang terduduk termenung di kursinya, mengutak-atik pikiran untuk mencari jalan keluar. Bagaimana cara menemukan wanita yang dicari Komisaris Ichikawa? Jika sampai bunga sakura gugur dan ia gagal, seluruh harta bendanya akan disita tanpa sisa.

Pak Ujang menepuk tangannya mencoba memecah keheningan. “Sudahlah, lupakan saja dulu. Jangan terlalu khawatir,” bujuknya. Ujang melangkah mendekat, sempat-sempatnya menyenggol kaki Aska yang melamun di dekat dinding. “Hei, jangan muram begitu! Ayolah, siapa Mas Gilang? Sumber informasi utama di Jayakarta! Hubungi semua informanmu dan temukan dia. Mudah, kan?” sarannya enteng. “Pikirkan di mana kira-kira Emma berada. Bisa saja dia kawin lari dengan pria lain..”

“Di Jayakarta ini, memangnya ada yang berani membawa lari simpanan Ichikawa?” potong Bibi Sinta cepat.

Ujang bertolak pinggang, tak mampu membantah kenyataan itu.

“Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kasus wanita hilang yang lagi heboh itu?” celetuk Aska tiba-tiba. “Orang-orang di Bogor dan Kota Tua sedang ramai membicarakannya. Wanita-wanita di sana terus saja menghilang... apa mungkin Emma salah satunya?”

Gilang terpaku. Wajahnya seketika berubah kian serius mencerna perkataan Aska.

Ujang mendekat ke tepi jendela di samping Gilang. “Astaga, kalau benar begitu, ini masalah besar! Bagaimana ini?” gumamnya panik.

Ia lalu membungkuk dan berbisik tepat di telinga Gilang. “Dengar, Mas Gilang. Kenapa kita tidak jual saja semuanya sekarang, lalu kabur dari Nusantara? Hmm? Aku punya kenalan di Osaka.”

“Ujang! Hentikan omong kosongmu itu!” bentak Bibi Sinta sengit.

“Kenapa aku tidak boleh bicara, oh? Kenapa kau selalu membentakku setiap kali aku membuka mulut?” balas Ujang tak mau kalah.

“Karena kau selalu bicara asal jeplak tanpa berpikir!” tegas Bibi Sinta.

“Aku juga berpikir sebelum bicara! Aku memikirkan masa depan kita, tahu!” bela Ujang.

“Anggap saja Mas Gilang menjual cepat seluruh real estat miliknya. Rumor itu pasti akan langsung menyebar di Jayakarta,” potong Bibi Sinta pelan.

Ujang menatap Bibi Sinta serius. “Kenapa kalau ada rumor? Apakah seburuk itu?”

“Ichikawa pasti akan mendengarnya. Kalau sampai dia tahu kita bersiap kabur, apa dia akan membiarkan Mas Gilang hidup?” tegas Bibi Sinta.

Mulut Ujang seketika menganga. Bibi Sinta menatapnya tajam, membuat Ujang tertunduk merasa bersalah. “Maafkan aku... aku tidak memikirkan sampai ke sana,” gumamnya pelan.

Beberapa detik kemudian, Gilang bangkit dan menyibak gorden jendela. Pandangannya menyapu keriuhan jalanan. Di antara warga yang sibuk membaca koran dan berjualan, tampak pria berpakaian serbahitam berdiri tegap di samping mobil jeep hitam, serta sebuah sepeda motor terparkir mencurigakan.

“Ichikawa benar-benar mengawasiku,” gumam Gilang dingin, lalu menoleh. “Ujang!”

“Iya, Mas? Katakanlah,” sahut Ujang cemas.

“Tolong hubungi semua sumber dan koneksimu. Cari petunjuk sekecil apa pun tentang Emma dan cari tahu apa yang dia lakukan sebelum menghilang,” pinta Gilang tenang namun penuh penekanan.

“Baik, Mas! Kita lakukan semua yang kita bisa,” jawab Ujang mantap, lalu bergegas pergi.

Sadar pelataran gedungnya sudah dikepung, Gilang membagi tugas dengan cepat.

“Lalu kau, Aska, cari Raden Soewondo,” perintah Gilang seraya meraih selembar kertas kosong.

“Memangnya ada apa dengannya?” tanya Bibi Sinta penasaran.

Gilang mengambil pensil dan menorehkan beberapa baris kalimat. “Satu-satunya pria yang cukup nekad untuk melarikan wanita simpanan Ichikawa hanyalah dia. Temukan dia dan suruh menghadapku sekarang,” sahut Gilang, lalu menyodorkan kertas itu ke Aska.

“Siap, Mas!” Aska menyambar kertas tersebut dan berlari keluar.

Kini tinggal Bibi Sinta yang tersisa. Gilang menatapnya dengan sorot mata amat serius. “Lalu Bibi Sinta, jualah seluruh aset dan barang berhargaku. Mulai dari yang termahal sampai yang paling murah. Lakukan setenang dan secepat mungkin. Terima pembayaran dalam bentuk emas atau uang tunai, lalu amankan semuanya.”

Gilang jeda sejenak, menarik napas panjang. “Oh iya, cari tahu juga jadwal kapal yang akan berlayar sebulan dari sekarang. Ini untuk jaga-jaga... jika pada akhirnya kita memang harus angkat kaki dari Jayakarta.”

Bibi Sinta mengangguk mantap. “Baik, Mas.”

1
Tri Rahayu Amoorea
jos
Coco: Terima kasih kakak 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!