Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Tapi Menjaga Rahasia 27.
Mesin Honda Civic hitam milik Langit masih menyala halus, tapi atmosfer di dalam kabin mendadak seolah kehilangan seluruh oksigennya.
Di kursi belakang, Ulfa mati-matian menahan napas. Matanya menatap lurus ke depan, menyaksikan sebuah adegan yang sukses meremukkan dadanya secara perlahan.
Mobil mereka baru saja berhenti di depan pagar rumah megah bergaya minimalis di kawasan komplek perumahan elitis tempat Zara tinggal.
"Makasih ya, Lang. Udah anterin aku pulang, makasih juga untuk makanan dan minuman nya, cepet sembuh ya buat kaki terlikirmu," suara Zara terdengar manja, formal, khas seorang pacar yang sedang kasmaran.
Langit tersenyum. Senyum tipis yang tulus, jenis senyuman yang hampir tidak pernah dia berikan pada Ulfa di rumah. "Iya, sama-sama. Langsung istirahat, besok jangan telat ke sekolah."
Sebelum membuka pintu mobil, Zara tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Langit.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat manis di pipi kiri Langit. Langit tidak menghindar. Dia membeku total setelah menerima ciuman ganas dari Zara.
"Dah, Langit! Dah juga ya, Ulfa! Makasih udah mau nemenin di belakang!" Zara melambaikan tangannya ceria ke arah Langit, lalu menoleh sekilas ke arah Ulfa dengan senyum tanpa dosa, sebelum akhirnya turun dan melangkah riang menuju pintu rumahnya.
Ulfa hanya bisa memaksakan senyum tipis yang lebih mirip ringisan, lalu melambaikan tangan dengan kaku. Begitu pintu pagar rumah Zara tertutup, senyum di wajah Ulfa lenyap seketika. Dadanya terasa sesak, seperti dihantam besi berat tak kasat mata.
Ulfa tahu ini adalah konsekuensi yang harus dia terima. Pernikahan rahasia yang digagas oleh kedua keluarga karena sebuah amanah mendiang kakek mereka memaksa Ulfa dan Langit hidup dalam dua dunia.
Di sekolah dan di depan publik, Langit adalah cowok populer, ketua tim basket yang berpacaran dengan Zara, si cewek aktif dan ceria. Sementara Ulfa? Dia hanyalah ketua osis yang kebetulan menumpang di mobil Langit karena ajakan Zara.
Mobil kembali melaju membelah jalanan kota yang mulai redup oleh senja.
Di dalam kabin mobil, keheningan mendadak terasa mencekam. Langit sesekali melirik spion tengah, mencoba membaca ekspresi istrinya yang kini sengaja membuang muka, menatap keluar jendela memandangkan lampu-lampu jalan yang mulai menyala.
"Fa," panggil Langit memecah kesunyian. Suaranya terdengar agak canggung.
Ulfa diam. Dia pura-pura sibuk memperhatikan jalanan, mengabaikan panggilan cowok yang secara sah adalah suaminya di atas kertas, namun terasa seperti orang asing di dunia nyata.
"Ulfa, lo denger gue enggak?" Langit menghela napas panjang. "Soal yang tadi... Zara cuma refleks. Lo tahu sendiri dia orangnya gimana. Nggak usah dimasukin ke hati. Gue gak tau kalau dia bakal cium gue"
Kata-kata Langit justru seperti garam yang ditaburkan di atas luka yang masih basah. Refleks? Ulfa menolak menerima pembelaan itu. Mau bagaimanapun, melihat laki-laki yang berbagi atap dan janji suci dengannya dicium oleh perempuan lain di depan matanya sendiri adalah sebuah siksaan mental.
Namun, ego Ulfa menolak untuk terlihat lemah atau mengemis perhatian. Dia memilih mengunci mulutnya rapat-rapat.
Langit mencoba meraih ponselnya di dekat tuas transmisi, lalu menyalakan radio untuk mencairkan suasana. Lagu pop melankolis mengalun, tapi malah membuat suasana makin ironis.
Sepanjang sisa perjalanan menuju rumah mereka, Ulfa tetap tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Dia menutup rapat akses komunikasinya, membiarkan keheningan itu menjadi dinding pembatas yang tebal di antara mereka.
Begitu mobil berbelok masuk ke halaman rumah bernomor C dua belas yang sepi—rumah yang dibelikan orang tua mereka untuk ditempati berdua agar mandiri— Langit bahkan belum sempat mematikan mesin dengan sempurna.
Cklek.
Ulfa langsung membuka pintu mobil. Tanpa menunggu Langit, dia turun dengan sentakan yang sangat kasar.
Pintu mobil Honda Civic itu ditutupnya kembali dengan bunyi BRAK! yang cukup keras hingga menggema di garasi yang sunyi.
Langit tersentak di kursi kemudi. Dia segera mematikan mesin, mencabut kunci, dan bergegas turun mengejar langkah Ulfa. "Fa! Tunggu dulu, kita perlu ngomong!" Panggil Langit sambil menyusul masuk ke dalam rumah.
Namun, langkah kaki Ulfa terlalu cepat dan penuh dengan emosi yang meledak-ledak. Begitu sampai di dalam rumah, Ulfa tidak menuju ke kamar utama yang sempat mereka tempati bersama, meski tidur satu ranjang pembatas bantal di tengah ranjang.
Ulfa berbelok tajam menuju kamar tamu yang terletak di bagian belakang rumah.
BLAM!
Pintu kamar kedua itu ditutup dengan bantingan keras tepat di depan wajah Langit yang baru saja sampai di ambang pintu. Terdengar bunyi klik dari dalam—Ulfa mengunci pintunya rapat-rapat.
Langit terpaku di depan pintu kayu berwarna putih tersebut. Tangan kanannya terangkat, hendak mengetuk, namun tertahan di udara.
Dari dalam kamar, samar-samar dia mendengar suara isakan kecil yang tertahan. Suara tangis yang sengaja diredam menggunakan bantal agar tidak terdengar keluar.
Langit menurunkan tangannya dengan lemas. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding di sebelah pintu, lalu perlahan merosot hingga duduk di lantai dingin.
Bayangan mata Ulfa yang sembap dan memerah menahan tangis saat turun dari mobil tadi mendadak berputar-putar di kepalanya. Ada rasa bersalah yang teramat besar yang mendadak menghantam ulu hatinya.
Dia tahu dia brengsek. Dia tahu dia menyakiti perasaan Ulfa. Namun, di sisi lain, kepalanya yang dipenuhi logika remaja SMA mengingatkan sebuah realita pahit: semua sandiwara ini, semua rasa sakit ini, harus tetap dipertahankan demi menjaga agar status pernikahan rahasia mereka tidak terbongkar ke pihak sekolah dan teman-teman mereka.
Jika rahasia ini runtuh, masa depan mereka berdua yang dipertaruhkan.
Langit memejamkan matanya rapat-rapat dalam kegelapan koridor rumah, sementara di dalam kamar yang terkunci, Ulfa menangis memeluk lututnya, meratapi statusnya sebagai istri yang tak pernah dianggap ada.
......................
...****************...
Tbc
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳