NovelToon NovelToon
Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Wanita perkasa / Selingkuh / Sekretaris / Office Romance / Tamat
Popularitas:159
Nilai: 5
Nama Author: Beatriz novaes

Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.

Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.

Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.

Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.

Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.

Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.

Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

PIETRA PETROVSKY

Setelah mengenakan gaun sederhana, aku mengambil ponselku dan kembali ke ruang tamu.

Aku duduk di sofa sambil menuang lebih banyak anggur ke gelas.

Kudekatkan gelas ke bibir dan menyesap sedikit.

"Marco D'Amato..."

Aku mencicipi namanya di bibirku, seolah sedang menikmati sesuatu.

"Kau begitu angkuh dan picik waktu kita pertama bertemu... Kenapa kau berubah begitu saja?"

Aku bertanya sambil menatap langit-langit.

Yang paling parah, aku bisa mengabaikan semua ini di kantor, tapi begitu keluar dari sana, kenangannya kembali tanpa permisi...

Aku menyalakan televisi, dan sebelum sempat membuka Netflix, ponselku berdering.

NOMOR TAK DIKENAL

Tak ada yang punya nomor ponselku selain Vitória, Ricardo, dan Marco.

Aku mengangkatnya dan mendengar suara Ricardo di seberang.

"Pietra... Kau di mana?"

"Bukan urusanmu!"

"Sebaiknya kau pulang! Karena kalau aku sudah menemukanmu, kau tidak akan suka dengan apa yang akan kulakukan! Kau meninggalkanku sendirian!"

"Dan kau mengkhianatiku selama 3 tahun, masih pula mempermalukanku dan memukuliku! Kurasa meninggalkanmu adalah hal paling ringan yang pernah kulakukan!"

Aku berkata sambil memutus panggilan dan memblokir nomornya.

Kusandarkan kepala ke sofa dan menarik napas dalam-dalam.

Aku harus melenyapkan Ricardo untuk selamanya, dan harus melupakan apa yang terjadi antara aku dan Marco.

"Marco..."

Aku bergumam sambil mengusap bibirku dan mengingat ciuman itu.

Ciuman itu datang dengan tenang, tapi sarat hasrat yang seakan sudah tak sanggup lagi ia tahan.

Beberapa menit kemudian, interkom berbunyi.

"Halo..."

Aku menjawab, sudah tahu itu penjaga pintu.

"Nona Pietra... Pengantar makanan sudah di lobi... Boleh saya izinkan naik?"

"Ya..."

"Baik kalau begitu..."

"Terima kasih."

Aku berkata sambil meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya.

Kulepas rambutku dari sanggul yang tadi kubuat dan kuikat menjadi ekor kuda tinggi.

Beberapa menit kemudian, kudengar ketukan di pintu.

Saat kubuka, seorang kurir sekitar 21 tahun mengucapkan selamat malam dan menyerahkan pizzanya.

"Ini," kataku sambil menyerahkan uang berikut tipnya.

"Terima kasih banyak, selamat menikmati pizzanya," ucapnya sambil beranjak pergi.

Aku menutup pintu dan berjalan ke ruang tamu, meletakkan pizza di meja tengah.

Kuhabiskan sisa anggur di gelas lalu menuang sedikit lagi, membuat botolnya nyaris kosong.

Aku membuka kotak pizza dan aromanya menyebar ke seluruh apartemen. Kuambil sepotong.

Aku bersandar ke lengan sofa sambil menyesap anggur dan memakan sepotong pizza.

Aku menggigit sepotong pizza, lalu menatap langit-langit.

"Aku benar-benar baru lepas dari satu masalah dan malah dapat masalah lain..."

Aku berkata pada diriku sendiri.

"Apa sih masalahnya? Kenapa dia tidak bisa cuma jadi bosku saja dan tidak lebih?"

Aku bertanya-tanya sambil mengingat cara ia membelaku saat Irina hendak mempermalukanku. Dan pertanyaan berikutnya melintas di kepalaku.

Apa mereka pernah punya hubungan?

Aku bertanya dalam hati.

"Pernah atau tidak, itu bukan urusanku."

Aku bangkit sambil menghabiskan anggur, lalu menyimpan kotak pizza di dalam oven.

Aku berjalan ke kamar, mengganti pakaian dengan yang lebih nyaman untuk tidur, dan merebahkan diri di ranjang. Awalnya Marco menguasai pikiranku, tapi seiring waktu kantuk datang dan aku pun tertidur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!