Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.
Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.
Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon mantu
Maya baru saja memarkirkan motornya di halaman rumah saat Bu Rika langsung menghampirinya dengan raut wajah tak sabar.
"Lama banget sih! Beli buah sama kue doang!" cecar Bu Rika galak sambil merebut parcel buah dari tangan Maya.
"Antre, Bu... Waktu beli pembalutnya Mbak Santi," sahut Maya tenang, memasang raut polos.
Mendengar nama menantu kesayangannya disebut, Bu Rika mengurungkan niat untuk memaki lebih lanjut. Ia langsung mengalihkan pembicaraan. "Ya sudah, mana kembaliannya?"
Maya lantas menyerahkan lembaran struk toko kue beserta sisa uang kembalian kue yang pas-pasan.
Bu Rika mengernyitkan dahi, menghitung uang di tangannya. "Kok cuma segini kembaliannya?! Sisanya kamu simpan?!" tuduh Bu Rika curiga.
"Ini struk kuenya, coba Ibu lihat sendiri. Maya beli kue yang paling mahal. Terus Ibu tadi menyuruh Maya beli buah yang bagus, kan? Jadi Maya ke toko buah besar. Struk buahnya tadi kececer, Bu," jawab Maya santai tanpa rasa gugup sedikit pun.
Bu Rika yang sebenarnya tidak begitu paham cara membaca detail angka di struk belanja hanya menatap kertas itu sekilas. Matanya kembali menatap Maya penuh selidik.
"Ayo, Bu... Maya bawakan kuenya ke dalam. Kasihan kan calon menantu kaya raya Ibu sudah menunggu lama," potong Maya cepat, sengaja memicu umpan sensitif mertuanya.
Begitu mendengar frasa calon menantu kaya raya, raut curiga Bu Rika seketika luntur. Senyumnya langsung merekah lebar. "Ah, iya! Cepat masuk!" serunya seraya berbalik jalan duluan.
"Huh... hampir saja," bisik Maya pelan seraya mengelus dadanya yang sempat berdebar. Ia lalu berjalan mengekor membawa bingkisan kue.
Di ruang tamu, Dimas tampak sudah berdiri.
"Nak Dimas, mau pulang sekarang?" tanya Bu Rika dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
"Iya, tadi Papa telepon menyuruh pulang," sahut Dimas singkat tanpa basa-basi.
"Ini, Nak Dimas... Ada sedikit oleh-oleh dari Ibu buat orang tua Nak Dimas, semoga suka ya," ucap Bu Rika penuh nada manis seraya mengulurkan parcel buah mahal itu.
Namun, bukannya menerima dengan sopan, Dimas hanya melirik parcel itu dengan tatapan malas.
"Bawa saja ke depan. Letakkan di bagasi," ucap Dimas dengan nada angkuh. Benar-benar tidak memiliki tata krama di depan orang tua.
Bu Rika sempat menarik kembali tangannya, wajahnya menunjukkan rasa canggung sekilas. Namun, rasa silau akan harta mengalahkan harga dirinya. Ia segera berbalik dan melemparkan tugas itu pada Maya.
"Maya! Cepat kamu letakkan buah sama kue ini ke mobilnya Dimas! Awas ya, jangan sampai lecet mobil mewahnya!" perintah Bu Rika tegas.
"Iya, Bu," sahut Maya singkat.
Maya langsung melangkah ke halaman depan untuk menyimpan bingkisan itu dengan rapi di dalam bagasi mobil mahal Dimas. Tak lama kemudian, Dimas keluar diiringi Rara yang bergelayut manja di lengannya, serta Bu Rika yang mengekor di belakang seperti pelayan menanti tuannya.
"Bu, Maya izin masuk ke dalam dulu, mau ngasih pembalut ke Mbak Santi," pamit Maya.
Bu Rika hanya mengibaskan tangan tanpa menoleh.
Maya melangkah masuk ke rumah, meninggalkan drama di halaman. Dari luar, suara Rara yang kegirangan terdengar samar.
"Sayang... hati-hati di jalan ya," ucap Rara dengan nada salting yang dibuat-buat.
"Iya," sahut Dimas dingin. Pria itu masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, lalu langsung menancap gas tanpa berpamitan lagi pada Bu Rika.
Sepeninggal mobil mewah itu, Bu Rika menatap asap knalpot dengan mata berbinar-binar. Ia merangkul bahu Rara erat-erat. "Rara... Kamu harus bisa nikah sama Dimas! Lihat mobilnya saja mewah begitu, pasti mahal sekali!"
Rara yang masih menatap jalanan tersenyum bangga, membusungkan dadanya. "Iya dong, Bu! Dimas juga sudah janji kok mau nikahin Rara!"
Kesombongan Bu Rika dan Rara pun semakin menjadi-jadi!