NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 PEMBUKAAN DAN PENYATUAN

Malam pembukaan tiba lebih cepat daripada yang Maya duga.

Galeri seni itu tampak sempurna. Dinding-dinding putihnya memajang karya-karya yang dipilih dengan penuh kesungguhan: lukisan, patung, foto, dan instalasi karya seniman-seniman muda yang Maya temukan di sanggar dan studio terpencil di seantero kota. Tata cahaya yang diatur dengan cermat menciptakan suasana yang intim sekaligus berkelas. Di atas sebuah meja panjang berlapis taplak linen, tertata gelas-gelas sampanye dan nampan-nampan kanape hasil racikan koki pribadi Bara.

Maya berdandan dengan kehati-hatian yang luar biasa. Gaun panjang berwarna ungu tua, dari sutra selembut cairan yang jatuh membalut tubuhnya bagai sebuah belaian. Rambutnya tergerai, sedikit bergelombang, jatuh di atas bahunya yang terbuka. Perhiasannya sederhana: kalung mutiara yang dulu dipinjamkan Bara padanya, kini telah menjadi miliknya meski Bara tak pernah mengatakannya, dan sepasang anting berlian yang ia hadiahkan pagi tadi, tanpa alasan khusus apa pun.

"Kamu cantik," ucap Bara, muncul di ambang pintu kamarnya.

Maya berbalik ke arahnya. Bara pun sudah berdandan rapi: setelan hitam yang sempurna, kemeja putih, dasi abu-abu. Di bawah cahaya lampu, bekas luka di alisnya tampak tak lagi mengancam. Nyaris berwibawa.

"Kamu juga," sahut Maya. "Tapi kamu memang selalu tampil rapi."

"Cuma itu satu-satunya cara supaya orang tidak menghakimiku sebelum mengenalku."

Maya mendekatinya dan merapikan dasinya, meski sebetulnya tak perlu.

"Malam ini tidak ada yang akan menghakimimu. Malam ini mereka akan melihat suami dari pemilik galeri. Titik."

Bara tersenyum.

"Sesuai perintah, Nyonya."

* * *

Para tamu mulai berdatangan lewat pukul delapan.

Maya menyambut mereka di pintu dengan senyum yang sudah dilatihnya, senyum yang perlahan-lahan berubah menjadi tulus. Sebab melihat galerinya penuh sesak oleh orang, oleh percakapan, oleh tatapan penasaran dan jari-jari yang menunjuk ke arah karya-karya, membuat dadanya dipenuhi kebahagiaan yang rasanya tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Bramantyo dan Ratna adalah yang pertama tiba. Ibunya, yang sudah pulih meski masih rapuh, mengenakan gaun biru pucat yang seolah mengembalikan tahun-tahun mudanya. Ia melangkah menggandeng lengan suaminya dengan langkah mantap, dan begitu melihat Maya, matanya berkaca-kaca.

"Nak," bisiknya sambil memeluk Maya. "Ini indah sekali. Nenekmu pasti bangga."

"Terima kasih, Mama."

Bramantyo, yang lebih irit bicara, hanya mengangguk.

"Lumayan," ujarnya. "Untuk percobaan pertamamu."

"Papa."

"Itu pujian. Di duniaku, itu sudah termasuk pujian."

Di belakang mereka, para kolektor pertama berdatangan, disusul kritikus seni dan wartawan rubrik sosialita. Maya menyambut mereka satu per satu, dengan keanggunan seseorang yang tumbuh besar di ruang-ruang pesta kalangan atas. Bara, di sisinya, adalah bayangan yang sempurna: ia tersenyum, menyapa, menjabat tangan, tetapi tak bicara lebih dari yang diperlukan. Ia membiarkan Maya bersinar. Dan Maya memang bersinar.

Menjelang pukul sepuluh, Maya melihat sebuah wajah yang ia kenal di tengah kerumunan.

Mahendra.

Bukan Mahendra dalam wujud aslinya, tentu saja. Omnya itu masih buron, bersembunyi di suatu tempat yang bahkan tak berhasil dilacak oleh anak buah Bara. Namun bayangannya hadir di sana, dalam sosok seorang pria berstelan abu-abu yang menatapnya dari ujung galeri dengan senyum sedingin es. Seorang pria yang dikenali Maya: dialah pengacara Mahendra. Orang yang menyusun surat-surat untuk pengkhianatan itu. Orang yang membantu omnya merampas segalanya dari ayahnya.

Maya merasa darahnya membeku. Bara, di sampingnya, langsung menangkap perubahan itu.

"Ada apa?" bisiknya.

"Pria itu," jawab Maya tanpa menggerakkan bibirnya. "Dia pengacara Om Mahendra."

Bara mengikuti arah pandangnya. Rahangnya mengeras.

"Jangan lakukan apa pun," katanya. "Serahkan padaku."

"Bara..."

"Percaya padaku."

Maya percaya. Namun ia tak bisa menahan diri untuk melirik diam-diam saat Bara menghampiri pria itu, membisikkan sesuatu di telinganya yang tak bisa Maya dengar, lalu mengiringinya ke arah pintu keluar. Wajah sang pengacara memucat. Ia menggagap. Bara meletakkan sebelah tangan di bahunya, sebuah gerakan yang bisa saja terlihat ramah andai jari-jari Bara tidak mencengkeram kain setelan itu dengan kekuatan yang menjanjikan rasa sakit.

Pria itu keluar dari galeri. Bara kembali ke sisi Maya seolah tak terjadi apa-apa.

"Apa yang kamu katakan padanya?" tanya Maya.

"Bahwa kalau dia berani mendekatimu lagi, dia akan menyesal. Dan supaya dia menyampaikan pada Mahendra bahwa kota ini milikku. Pergilah sebelum aku menemukannya."

"Dan kalau dia tidak pergi?"

Bara menatapnya. Di dalam matanya yang kelabu dan dingin itu, tersimpan sebuah janji yang tak terucap.

"Kalau begitu, akulah yang akan menemukannya."

* * *

Sisa malam itu berlalu tanpa insiden. Para tamu pulang satu per satu, para kritikus memuji pilihan karyanya, tiga lukisan dan sebuah patung terjual. Maya menutup pintu galeri lewat tengah malam, dengan hati yang penuh dan tubuh yang letih.

Bara bersandar di dinding, memandanginya.

"Sukses besar," ujarnya.

"Sukses besar," Maya mengulanginya, seakan tak percaya. "Aku menjual tiga lukisan?"

"Empat. Satu kubeli sendiri."

"Yang mana?"

"Badai yang cantik itu. Yang bernuansa biru dan emas."

Maya tersenyum.

"Yang itu tidak dijual."

"Segala sesuatu bisa dibeli. Hanya perlu tahu berapa harga yang pantas ditawarkan."

Maya menggeleng sambil tertawa. Ia mendekat, meletakkan kedua tangannya di dada Bara, dan menatap matanya.

"Bawa aku pulang," katanya.

"Ini rumahmu," sahut Bara sambil menunjuk galeri.

"Bukan. Rumahku adalah tempat kamu berada."

Bara menciumnya.

Dan kali ini, ciuman itu terasa berbeda.

Bukan ciuman singkat seperti pagi tadi, bukan pula ciuman penuh syukur seperti malam sebelumnya. Ini ciuman yang panjang, dalam, yang bermula di bibir lalu turun menyusuri leher, tulang selangka, bahu yang terbuka. Sebuah ciuman yang bertanya dan menjawab dalam waktu yang sama.

"Maya," bisik Bara, suaranya serak. "Kamu yakin?"

"Aku belum pernah seyakin ini akan apa pun," jawab Maya, jari-jarinya menyusup ke sela rambut Bara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!