NovelToon NovelToon
Babu Yang Dicintai

Babu Yang Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara

Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.

“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”

Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.

Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Jantung Celin mencelos. Ia menoleh ke arah Reja.

"Jangan bawa-bawa Kirei."

"Kenapa? Takut?" Reja menyeringai puas melihat perubahan ekspresi Celin. "Gue bisa aja bilang ke Papa kalau cafe itu tempat nggak bener, atau gue bisa minta Papa beli lahan itu dan gusur cafenya. Gampang banget buat gue."

Reja mengerem mobilnya mendadak tepat di depan gerbang sekolah, membuat tubuh Celin terdorong ke depan. "Pilihannya di tangan lo. Tetap jadi 'istri' penurut yang nggak banyak tingkah, atau lo lihat sahabat lo kehilangan segalanya karena keegoisan lo."

Celin turun dari mobil dengan kaki gemetar. Ancaman kali ini berbeda; Reja mulai menyerang orang-orang di sekitarnya. Saat ia berjalan menyusuri koridor, ia melihat Kirei melambai padanya dengan ceria dari jauh.

Hati Celin terasa perih. Ia tidak boleh membiarkan Reja menyentuh Kirei. Ia masuk ke dalam perpustakaan sebelum bel masuk berbunyi. Di sana, ia meminjam komputer sekolah. Tangannya yang terbalut kasa mulai menari di atas keyboard.

Celin teringat kata-kata Adrian tentang kecerdasannya. Jika Reja menggunakan kekuasaan untuk mengancam, maka Celin akan menggunakan otak untuk mencari perlindungan.

Ia mulai menyusun sebuah laporan kecil, mengumpulkan data tentang prestasi belajarnya dan rencana riset yang pernah ia buat. Ia juga mencari tahu tentang struktur perusahaan keluarga Bagaskara.

Ia butuh sesuatu yang membuat Adrian merasa bahwa Celin bukan sekadar menantu, tapi aset masa depan perusahaan yang berharga.

"Gue bakal bikin Papa nggak akan pernah mau ngelepas gue," batin Celin. "Dan saat posisi gue cukup kuat di mata Papa, lo nggak akan bisa nyentuh siapa pun di hidup gue lagi, Reja."

Celin menutup layar komputer tepat saat bel berbunyi. Ia berdiri, merapikan syalnya, dan berjalan menuju kelas dengan kepala tegak. Ia bukan lagi sekadar samsak tinju; ia adalah pemain yang baru saja memulai langkah pertamanya di papan catur ini.

Pagi itu di koridor sekolah, suasana terasa begitu kontras. Di satu sisi ada Reja yang memancarkan aura permusuhan, namun di sisi lain, ada Kirei yang berlari kecil menghampiri Celin dengan wajah yang nyaris menangis namun terlihat menggemaskan.

"Celin!" Kirei langsung menghambur dan memeluk lengan Celin erat, mengabaikan tatapan tajam Reja yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Celin, tolongin gue! Rumus fisika buat ujian jam terakhir nanti mendadak ilang semua dari otak gue. Kayaknya otak gue baru aja melakukan factory reset!"

Celin, yang tadinya tegang menghadapi ancaman Reja, perlahan melunakkan ekspresinya. Ia mengusap bahu sahabatnya itu. "Tenang, Rei. Lo cuma panik. Kita kan udah belajar bareng kemarin di cafe."

"Nggak bisa tenang, Celin sayang!" Kirei merengek sambil menggoyang-goyangkan lengan Celin, bibirnya dikerucutkan lucu. "Lo enak, otak lo isinya perpustakaan nasional. Nah gue? Isi otak gue cuma daftar menu cafe sama cara bikin latte art. Gimana kalau nanti gue dapet nilai merah terus nggak bisa lulus bareng lo? Celin, kasih gue mukjizat dong!"

Celin terkekeh pelan melihat tingkah sahabatnya yang selalu bisa mencairkan suasana. "Iya, iya. Nanti lima menit sebelum masuk, gue kasih rangkuman paling simpel. Jangan nangis gitu, malu diliatin orang."

"Beneran ya? Janji ya?" Kirei menatap Celin dengan mata berbinar-binar penuh harap, benar-benar seperti adik kecil yang sedang meminta permen. "Duh, emang cuma lo malaikat penyelamat gue. Sayang Celin banyak-banyak!"

Reja, yang menyaksikan interaksi itu dari kejauhan, mendengus sinis. Baginya, pemandangan itu adalah senjata. Ia berjalan mendekat, melewati keduanya dengan sengaja menyenggol bahu Celin.

"Nikmatin waktu lo sama malaikat penyelamat lo ini," ucap Reja dengan nada yang terdengar seperti ramalan buruk. "Siapa tahu sebentar lagi dia bakal terlalu sibuk buat ngurusin hidup orang lain."

Kirei mengerutkan kening, menatap punggung Reja yang menjauh. "Dia kenapa sih, Celin? Makin hari makin aneh. Kayak orang yang kebanyakan minum cuka, kecut banget mukanya."

Celin hanya tersenyum tipis, menyembunyikan rasa perih di hatinya. "Biasa, dia cuma lagi pusing sama urusan Papa. Yuk, ke kelas. Katanya mau mukjizat fisika?"

Setelah memastikan Kirei masuk ke kelas dengan tenang, Celin tidak langsung menuju kursinya. Ia kembali ke perpustakaan sebentar untuk mengirimkan email yang sudah ia susun tadi pagi kepada alamat email pribadi Adrian.

Isinya bukan pengaduan tentang kelakuan Reja—itu terlalu berisiko. Alih-alih, ia mengirimkan analisis strategi pengembangan untuk salah satu anak perusahaan Bagaskara Group yang sedang turun performanya. Di akhir email, ia menulis dengan sangat bijak:

"Pa, ini hasil riset kecil Celin. Celin sangat berterima kasih atas tawaran Papa agar Celin fokus belajar. Celin sedang mempertimbangkan dengan sangat serius untuk berhenti bekerja di cafe minggu depan agar bisa lebih fokus mendalami materi bisnis seperti ini untuk membantu Papa dan Reja di masa depan."

Setelah Celin berhasil mengirim teks tersebut, Celin resmi memasang jaring pelindung. Ia merelakan pekerjaannya demi mengunci posisi di mata Adrian.

Sore harinya, saat bel pulang berbunyi, Reja sudah menunggu di depan gerbang dengan wajah tidak sabar. "Ayo balik. Papa udah di jalan menuju cafe sahabat lo itu buat pemeriksaan. Siapa tau ada hal aneh di cafe sahabat lo itu."

Namun, baru saja Reja hendak menyalakan mesin mobil, ponselnya berdering. Itu dari Adrian. Reja mengangkatnya dengan wajah bingung yang perlahan berubah menjadi pucat, lalu merah padam. Ia melirik Celin yang duduk tenang di kursi penumpang sambil merapikan bekas kasa di tangannya.

"I-iya, Pa. Reja ngerti. Nggak jadi ke sana? Oke, Pa," ucap Reja pelan.

Reja menutup telepon dan membanting ponselnya ke dasbor. "Apa yang lo lakuin?!" bentaknya pada Celin.

"Celin cuma bilang ke Papa kalau Celin sedang mempertimbangkan buat berhenti kerja," jawab Celin datar. "Dan Papa bilang, karena Celin udah setuju, Papa nggak perlu lagi ngecek cafe itu sore ini. Papa justru minta kita langsung pulang karena Papa sangat tertarik sama 'analisis bisnis' yang Celin kirim tadi siang."

Celin memberikan smirk kecilnya. Reja tersentak. Ia baru menyadari bahwa gadis yang ia remehkan ini baru saja menggunakan otak encernya untuk membatalkan rencana jahatnya sendiri.

"Jangan pernah sentuh Kirei atau cafenya, Reja," bisik Celin dingin. "Karena satu gerakan salah dari lo, gue bisa bikin Papa makin nggak percaya sama lo selamanya."

Bersambung....

1
Nelson Sihombing
semangat celin
araaself
lanjutttt
Alia Chans: siap kak🔥🔥
total 1 replies
Nelson Sihombing
cerita yang seru lagi nih....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!