NovelToon NovelToon
Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN

Namaku Kirana, 22 tahun.

Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.

Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.

"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.

Aku pikir hidupku sudah selesai.

Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.

Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:

"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."

Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?

Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: BAYANGAN DI BAWAH POHON MANGGA

Bayangan itu menghilang.

Hujan masih turun deras, petir masih sesekali menyambar, tapi halaman di bawah pohon mangga itu kini kosong. Hanya daun-daun pisang yang bergoyang kencang ditiup angin.

"Kirana? Kamu kenapa? Pucat sekali."

Suara Arga membuyarkan lamunanku. Tangannya masih menempel di keningku setelah doa ijab kabul tadi. Hangat dan kasar.

Aku menggeleng cepat, jantungku masih berdegup kencang seperti mau copot.

"Nggak... nggak apa-apa, Pak. Mungkin saya cuma... cuma halusinasi karena capek."

Tapi dalam hati, aku yakin itu bukan halusinasi. Siluet itu terlalu nyata. Tinggi badannya, cara dia berdiri dengan satu tangan di saku hoodie, itu kebiasaan Rendo. Rendo selalu begitu kalau sedang gugup atau sedang mengintai. Aku pacaran tiga tahun dengannya, aku hafal betul setiap gerak-geriknya.

Apa dia mengikutiku? Setelah dua bulan hilang tanpa kabar, setelah membuatku hamil dan diusir, kenapa dia muncul sekarang? Di desa terpencil ini?

Arga menatapku curiga, lalu mengikuti arah pandanganku ke jendela. Dia berjalan cepat ke jendela yang kacanya pecah itu dan menyorotkan senter HP-nya ke luar.

Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Hanya kebun karet yang gelap gulita dan suara jangkrik yang nyaring.

"Hanya bayangan pohon, mungkin," katanya pelan, tapi nadanya tidak yakin. Dia menutup jendela itu dengan triplek yang ada di sudut dan menguncinya dengan paku. "Rumah ini memang sudah lama kosong. Kadang warga lihat macam-macam. Kamu jangan takut."

Dia berkata jangan takut, tapi justru kata-katanya membuatku semakin takut. Macam-macam apa yang warga lihat?

Malam pertama sebagai suami istri — meski hanya di atas kertas — ternyata jauh lebih canggung dari yang kubayangkan.

Arga membaringkan Salsa di satu-satunya kamar yang atapnya tidak terlalu bocor. Kamar itu hanya berisi tikar pandan yang lebih tebal dan satu bantal kapuk yang sudah tipis. Tidak ada kasur. Tidak ada selimut.

"Kamu tidur di kamar sama Salsa," kata Arga sambil meletakkan koperku yang basah di dekat pintu kamar. "Aku tidur di luar, di ruang tamu. Kalau bocor, pindah ke tengah."

"Pak Arga tidur di luar? Dingin, Pak. Nanti masuk angin," kataku refleks. Aku tidak enak. Rumah ini rumahku, tapi dia yang mengalah.

"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa tidur di kebun kalau jaga karet. Kamu yang butuh istirahat. Kamu sedang hamil muda, tidak boleh kedinginan."

Kata "hamil" yang keluar dari mulutnya terdengar aneh. Tidak ada nada menghakimi, hanya nada khawatir. Tulus.

Aku masuk ke kamar itu dengan langkah ragu. Bau apek langsung menyergap. Aku menggelar tikar itu. Salsa masih tertidur pulas. Wajahnya yang mungil dan pucat terlihat damai. Bekas luka bakar kecil di lengannya itu terlihat jelas di bawah cahaya senter. Kasihan sekali anak ini.

Aku berbaring di sampingnya, memberi jarak. Perutku terasa melilit. Lapar, dingin, dan mual karena stres seharian.

Dari luar, aku mendengar Arga membereskan ember-ember yang menampung air hujan. Suara ember diseret, suara air dibuang ke luar. Dia bekerja dalam diam.

Sekitar setengah jam kemudian, pintu kamar diketuk pelan.

"Kirana?"

"Iya, Pak?"

Sebuah piring seng disodorkan dari celah pintu yang sedikit terbuka. Di atasnya ada nasi putih hangat, telur dadar, dan sambal terasi. Uapnya mengepul. Aroma yang sangat menggiurkan bagi perutku yang kosong.

"Aku masak di tungku sebelah. Makan dulu. Tadi kamu belum makan seharian, kan?"

Air mataku hampir tumpah lagi. Di saat keluargaku sendiri mengusirku tanpa memberiku makan, pria asing yang baru menjadi suamiku dua puluh menit yang lalu justru memasakkan nasi untukku.

Aku mengambil piring itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Pak..."

"Makan yang banyak. Buat anakmu juga."

Pintu ditutup lagi.

Aku makan dengan lahap di dalam kamar yang gelap itu, ditemani suara hujan dan napas teratur Salsa di sampingku. Nasi hangat itu terasa seperti makanan terenak seumur hidupku. Telur dadarnya sedikit keasinan, mungkin karena Arga tidak biasa memasak, tapi bagiku itu sempurna.

Saat sedang makan, Salsa terbangun. Matanya yang bulat besar menatapku bingung. Dia tidak menangis. Dia hanya menatap piring di tanganku, lalu menatapku.

"Mama lapar?" tanyanya dengan suara cadel khas anak 4 tahun.

Aku terkejut. Dia memanggilku Mama lagi.

"Bukan, Sayang... ini... ini Mama makan," jawabku gugup. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana pada anak kecil. Aku sendiri masih anak yang dimanja Ibu, sekarang tiba-tiba harus menjadi mama untuk dua anak sekaligus.

Salsa menggeser tubuhnya mendekatiku. Dia menyandarkan kepalanya di lenganku. Hangat.

"Mama jangan pergi lagi ya kayak Mama Mira," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.

Deg. Dadaku sesak. Jadi dia mengira aku adalah ibunya yang sudah meninggal? Atau dia memang merindukan sosok ibu sampai memanggil setiap perempuan yang baik padanya dengan sebutan Mama?

Aku mengelus rambutnya yang agak kusut itu dengan hati-hati.

"Iya, Sayang. Mama di sini."

Malam itu, aku tertidur dengan Salsa di pelukanku. Untuk pertama kalinya setelah seharian penuh menangis, aku merasa sedikit hangat. Sedikit aman.

Tapi rasa aman itu tidak berlangsung lama.

Sekitar jam dua dini hari, aku terbangun karena ingin buang air kecil. Kamar mandi rumah nenek ada di luar, terpisah dari rumah utama, dan harus melewati dapur yang gelap.

Aku keluar dari kamar dengan langkah pelan agar tidak membangunkan Salsa dan Arga. Arga tertidur di ruang tamu beralaskan karung goni, meringkuk kedinginan. Napasnya teratur. Kasihan.

Aku berjalan menuju dapur. Senter HP-ku sudah mati karena baterai habis. Hanya ada cahaya bulan yang masuk dari celah-celah dinding kayu.

Saat melewati jendela dapur yang tadi ditutup triplek oleh Arga, aku mendengar sesuatu.

Suara langkah kaki. Di luar. Menginjak daun-daun kering.

Kresek... kresek... kresek...

Langkah itu pelan, mengendap-endap, mengelilingi rumah.

Jantungku langsung berdegup kencang. Aku membeku di tempat. Tangan yang memegang perutku gemetar.

Bayangan itu. Dia kembali.

Kresek... kresek... Langkah itu berhenti tepat di depan jendela dapur. Tepat di balik triplek yang menutupi jendela.

Aku menahan napas. Aku bisa mendengar napas seseorang dari luar. Napas berat seorang laki-laki.

Lalu, sebuah bisikan. Sangat pelan, hampir kalah oleh suara hujan yang sudah mulai reda.

"Kirana... aku tahu kamu di dalam... Kir..."

Suara itu. Suara yang sangat kukenal. Suara yang selama dua bulan terakhir kurindukan, kubenci, dan kutangisi setiap malam.

Rendo.

Tubuhku lemas. Kakiku hampir tidak bisa menopang tubuhku. Itu memang Rendo. Dia benar-benar mengikutiku sampai ke desa ini.

"Kir, keluar sebentar. Kita bicara. Aku bisa jelasin semuanya. Aku... aku kangen kamu..."

Gila. Pria itu gila. Setelah menghamiliku dan kabur, setelah membuatku diusir dan harus menikah dengan orang lain demi menyelamatkan anakku, sekarang dia datang di tengah malam dan bilang kangen?

Amarah yang selama ini kutahan, meledak.

Aku membuka triplek itu dengan kasar. Di luar, di bawah cahaya bulan yang temaram, berdiri Rendo. Jaket hoodie hitamnya basah kuyup. Wajahnya yang dulu tampan kini terlihat kusut dan penuh rasa bersalah. Atau mungkin hanya akting.

"Kirana! Akhirnya—"

"Jangan panggil nama saya!" bentakku dengan suara tertahan, takut membangunkan Arga dan Salsa. Air mataku tumpah deras. "Buat apa kamu ke sini?! Buat apa?! Setelah kamu buat hidupku hancur?!"

Rendo terlihat panik. "Kir, dengar dulu. Aku bisa jelasin. Aku kemarin itu... aku itu dipaksa Ayahku ke Kalimantan. HP-ku dirampas. Aku baru bisa kabur—"

"Bohong! Kamu bohong, Rendo! Kamu kabur karena kamu tidak mau tanggung jawab! Kamu takut! Kamu pengecut!"

Aku terisak. Semua emosi yang kutahan sejak siang tadi tumpah di depan jendela dapur yang berderit itu.

"Aku hamil, Ren! Aku hamil anak kamu! Dan keluargaku mengusirku! Aku sekarang... aku sekarang sudah menikah! Kamu dengar?! Aku sudah menikah dengan orang lain!"

Wajah Rendo pucat. "Menikah? Sama siapa? Sama duda itu? Kir, jangan bodoh. Dia itu—"

"Dia lebih laki-laki daripada kamu!" potongku. "Dia mau tanggung jawab sama anak yang bahkan bukan anaknya! Sedangkan kamu? Ayah dari anak ini malah kabur!"

Saat itu, dari belakangku, sebuah suara berat muncul.

"Siapa di luar, Kirana?"

Aku menoleh. Arga sudah berdiri di belakangku, hanya memakai kaos oblong dan sarung. Wajahnya yang baru bangun tidur langsung berubah tegang saat melihat Rendo di luar jendela.

Rendo yang melihat Arga, langsung mundur selangkah. Wajahnya terlihat takut.

"Jadi... jadi kamu beneran nikah sama dia?" tanya Rendo dengan suara bergetar.

Arga berjalan mendekatiku dan berdiri di sampingku. Tanpa ragu, dia merangkul bahuku dari belakang. Rangkulan yang protektif. Rangkulan seorang suami.

"Ya. Dia sekarang istri saya. Dan anak yang ada di dalam perutnya, sekarang anak saya juga. Jadi kalau kamu masih punya sedikit harga diri sebagai laki-laki, pergi dari sini. Jangan pernah ganggu istri dan anak saya lagi."

Kata "istri dan anak saya" yang keluar dari mulut Arga dengan nada dingin dan mengancam itu membuat Rendo terdiam. Dia menatapku dengan tatapan memohon terakhir kali.

"Kirana, aku... aku masih sayang kamu..."

"Sayang kamu sudah terlambat dua bulan, Rendo," jawabku dingin, menirukan nada Arga. "Pulang sana. Anggap saja aku dan anak ini sudah mati. Sama seperti keluargaku menganggapku mati."

Rendo masih berdiri beberapa detik, lalu akhirnya berbalik dan berjalan pergi, menghilang ke dalam gelapnya kebun karet, meninggalkan jejak kaki di tanah becek.

Aku ambruk di lantai dapur. Menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Arga yang canggung.

Malam itu, aku tahu. Masalahku tidak selesai dengan pernikahan kontrak ini. Masalahku baru saja dimulai. Karena Rendo telah menemukan di mana aku diasingkan. Dan dari tatapan terakhirnya, dia tidak akan menyerah begitu saja.

Dan yang paling membuatku takut... kenapa Arga terlihat begitu tegang saat melihat Rendo? Seakan-akan... mereka sudah saling mengenal sebelumnya?

...---...

... ...

1
Hasan Basri
alur cerita gx jelas
Ve Love: wah dibagian mana ini, aku suka kritiknya 🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ve Love: makasih ya udah mau mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!