Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.
Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.
Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?
Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Kebohongan Kecil
"Kayak melati," jawab Liana setelah jeda yang terasa terlalu panjang. "Punya siapa?"
Angin laut meniup ujung rambutnya ke pipi. Ia menyelipkannya ke belakang telinga, berusaha membuat gerakan itu terlihat biasa.
Renard belum menurunkan tangan.
"Cuma melati?"
"Mungkin ada kayu di bawahnya. Cendana, tapi tipis." Liana mendekat sepersekian langkah dan mencium sekali lagi. "Kenapa? Ini sampel baru?"
Jawabannya cukup baik. Seorang peracik parfum memang seharusnya bisa membedah aroma seperti itu.
Masalahnya, Liana tidak menyebut teh putih.
Lapisan itu paling halus. Hampir mustahil ditangkap orang biasa, tetapi bukan bagi hidung yang beberapa jam sebelumnya mampu menyingkirkan air lemon dari ruang uji.
Renard menurunkan tangan. "Nggak. Tertinggal dari tadi pagi."
Wajah Liana menghangat. "Oh."
"Kamu yang membersihkan tanganku."
"Berarti dari antiseptik."
"Antiseptiknya beraroma alkohol."
"Mungkin sabun hotel."
"Sabunnya jeruk nipis."
Liana menatap laut. "Pak Renard menghafal terlalu banyak bau."
"Akhir-akhir ini aku punya guru yang bagus."
Ia tidak menyebut siapa guru itu. Liana juga tidak bertanya lagi.
Kebohongan kecil menggantung di antara mereka, lembut seperti aroma yang tidak mau hilang.
Renard membiarkannya.
Keputusan itu tidak terasa seperti kemenangan. Ia sudah menghabiskan bertahun-tahun membuat lawan bicara menjawab pertanyaan yang ingin mereka hindari. Dalam ruang rapat, diam adalah tekanan. Data adalah senjata. Celah sekecil apa pun bisa dipakai untuk membongkar pertahanan.
Namun Liana bukan lawan negosiasi.
Jika identitas itu benar, ia sudah masuk ke rumah Renard saat pria itu paling tidak berdaya, lalu menjaga semua batas yang mereka sepakati. Membalasnya dengan interogasi hanya akan membuktikan bahwa kepercayaan Liana salah alamat.
Renard mengepalkan tangan sebentar, menangkap sisa hangat dari jarak mereka tadi.
"Kita harus bersiap untuk makan malam," katanya.
Liana langsung mengangguk. "Saya sudah siapkan revisi anggaran di tablet."
Ia melewati Renard untuk masuk. Saat bahu mereka nyaris bersentuhan, Liana menahan diri agar tidak mempercepat langkah.
Renard memperhatikan punggungnya sampai pintu kamar mandi tertutup.
Ia setengah percaya pada jawaban tadi.
Setengah lainnya sudah tahu bahwa Liana sengaja meninggalkan satu nada aroma yang paling penting.
***
Dua hari berikutnya bergerak cepat.
Mereka mengunjungi dua spa, memeriksa kebun pemasok, dan menutup negosiasi awal dengan resort. Pada hari terakhir, perwakilan mitra membawa mereka ke sebuah bengkel penyulingan minyak atsiri di Gianyar.
Bangunannya sederhana, beratap tinggi dengan pipa-pipa logam yang memantulkan cahaya siang. Karung daun nilam tersusun di satu sisi. Uap hangat membawa campuran aroma tanah, rumput, dan kayu ke seluruh ruangan.
Pemilik bengkel, Pak Wayan, menyerahkan tiga botol kecil tanpa label.
"Kami sedang mencari pemasok tambahan," katanya. "Mungkin Mbak bisa bantu menilai."
Liana meneteskan masing-masing minyak pada blotter terpisah. Ia tidak langsung mencium. Ia menunggu beberapa detik, mengibaskan kertas perlahan, lalu memejamkan mata.
"Yang pertama bagus, tapi penyimpanannya terlalu panas," katanya. "Ada nada gosong di belakang."
Pak Wayan mengangguk.
"Yang kedua hasil penyulingan terlalu cepat. Bagian hijaunya kuat, dasar kayunya belum keluar."
Renard berdiri di samping meja, menyimak tanpa menyela.
Liana mengambil blotter ketiga. Alisnya langsung berkerut.
"Ini bukan murni."
Ia meminta gelas air, menetralkan hidung dengan menghirup udara dari lengan bajunya sendiri, kemudian kembali ke sampel ketiga. Kali ini ia menjelaskan setiap tahap agar penilaiannya tidak terdengar seperti tebakan.
"Nada atasnya menguap terlalu rapi. Minyak alami biasanya punya tepi yang lebih berantakan," katanya. "Lalu viskositasnya berbeda. Kalau botol dimiringkan, cairannya turun lebih lambat daripada dua sampel lain."
Pak Wayan memiringkan botol dan tertawa kagum. "Betul."
Renard mengambil foto catatan, bukan wajah Liana. Meski demikian, ada kebanggaan yang sulit ia sembunyikan saat para staf mulai mengajukan pertanyaan langsung kepada asistennya.
Liana tidak lagi berdiri satu langkah di belakang. Ia berada di tengah meja, menjelaskan suhu dan durasi distilasi seperti tempat itu memang disediakan untuknya.
Renard teringat ruang sampel di Jakarta dan dua jam akses setiap Jumat. Itu terlalu kecil untuk kemampuan seperti ini.
Ia diam-diam menambahkan satu agenda baru dalam pikirannya: memberi Liana jalur uji kompetensi formal yang tidak bergantung pada kedekatan mereka.
Salah satu staf bengkel tertawa kecil. "Padahal sertifikatnya bilang seratus persen."
"Ada minyak pembawa. Mungkin fraksi sawit yang sudah dimurnikan. Sedikit, sekitar sepuluh persen." Liana mencium ulang. "Dan ada bahan sintetis untuk mengangkat kesan segar di awal."
Pak Wayan membuka catatan uji laboratorium. "Dua belas persen minyak pembawa. Sampel ini kami buat untuk tes."
Liana tersenyum lega. "Berarti hidung saya belum rusak karena terlalu banyak sampel minggu ini."
"Hidung kamu baik-baik saja," kata Renard. "Yang perlu dikhawatirkan justru pemasok yang mencoba berbohong."
Tatapan mereka bertemu di atas tiga botol tanpa label.
Liana tahu ia tidak sedang bicara tentang pemasok.
Namun Renard tidak mengejarnya. Ia justru meminta Pak Wayan menjelaskan durasi penyulingan yang paling stabil dan memberi Liana ruang untuk mencatat.
Dalam perjalanan kembali ke hotel, Liana menatap sawah dari jendela mobil.
"Pak Renard."
"Hm?"
"Tentang aroma tadi pagi..."
"Nggak perlu dijelaskan kalau kamu belum siap."
Liana menoleh cepat.
Renard masih melihat jalan di depan. "Tapi jangan anggap aku akan berhenti memperhatikan."
Jantungnya berdebar dengan cara yang tidak menyenangkan sekaligus anehnya menenangkan.
"Baik," jawab Liana.
***
Penerbangan malam menuju Jakarta tinggal landas hampir pukul sembilan.
Setelah empat hari berkeliling, Liana hanya bertahan dua puluh menit sebelum kepalanya mulai terangguk. Ia mencoba membaca laporan bengkel di tablet, tetapi baris-baris angka berubah kabur.
"Tidur," kata Renard dari kursi sebelah.
"Saya harus menyelesaikan catatan."
"Besok."
"Besok ada rapat jam sembilan."
"Aku yang punya rapat. Aku juga yang memindahkannya ke jam sebelas."
Liana menutup tablet dengan enggan. "Bapak selalu menang karena punya akses kalender."
"Kamu asistennya. Seharusnya kamu juga punya akses."
"Kalau saya pindahkan tanpa izin, saya dipecat."
"Kalau kamu nggak tidur, itu baru kupikirkan."
Liana mendengus, lalu menyandarkan kepala ke kursi.
Beberapa menit kemudian, pesawat melewati turbulensi ringan. Tubuhnya miring. Kepala Liana jatuh ke bahu Renard.
Ia tidak bangun.
Renard menahan tubuhnya agar tidak bergerak. Dengan tangan bebas, ia menekan tombol lampu baca hingga padam, lalu menarik tirai jendela untuk menghalangi kilatan lampu sayap.
Seorang pramugari datang menawarkan minuman. Renard mengangkat telunjuk ke bibir, lalu menunjuk air putih tanpa suara.
Liana tidur sepanjang penerbangan dengan napas tenang.
Saat makanan ringan dibagikan, Renard menyimpan roti dan buah dari nampan Liana ke dalam tas kertas. Perempuan itu pasti akan bangun lapar setelah mendarat, lalu mengaku tidak butuh apa-apa. Ia sudah hafal kebiasaan tersebut.
Pesawat kembali bergetar. Dalam tidur, tangan Liana mencari pegangan dan berhenti di lengan kemeja Renard. Jarinya mencubit kain dengan ringan.
Renard menunduk. Seharusnya ia melepaskan tangan itu sebelum ada penumpang yang mengenali mereka. Tan Group tidak membutuhkan foto direktur utamanya tidur berdekatan dengan asisten pribadi.
Ia malah menutupi tangan Liana dengan selimut tipis dari kabin.
Renard menatap tangannya sendiri di atas sandaran. Ia tidak akan mengambil penutup mata Nona Terapis. Tidak akan memakai kamera. Tidak akan menjadikan kepercayaan sebagai perangkap.
Kalau ia ingin kebenaran, ia akan mendapatkannya dengan cara yang memberi Liana pilihan untuk tetap diam.
Sementara itu, ia akan menjaga perempuan ini tetap dekat.
Bukan untuk mengawasi.
Untuk memastikan bahwa saat Liana siap mengatakan kebenaran, ia masih ada di sisinya.