Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Langit malam Jakarta di atas distrik elit Menteng tampak begitu angkuh, memamerkan pendar lampu gedung-gedung pencakar langit yang bersaing menembus awan.
Tepat di jantung kawasan eksklusif itu, berdiri sebuah menara apartemen megah dengan arsitektur modern berbalut kaca gelap yang memantulkan kemilau kota.
Motor sport Arka dan satu unit mobil anak buahnya yang mengangkut barang-barang Alea, meluncur mulus memasuki area basement parkir khusus VIP, langsung berhenti di depan lift pribadi yang terhubung ke unit penthouse di lantai paling atas.
Begitu pintu lift terbuka, hembusan pendingin ruangan yang sejuk langsung menyapa, membawa samar aroma sandalwood yang mahal dan elegan.
Alea melangkah masuk dengan mata mengerjap takjub. Interior lift berlapis kayu jati gelap dengan cermin kristal di sekelilingnya membuat bayangan mereka terpantul berkali-kali.
Namun, kekaguman itu tidak berlangsung lama. Begitu mereka tiba di lantai tujuan dan pintu lift terbuka lebar, langkah Alea terhenti. Mulutnya sedikit terbuka, matanya membulat tak percaya menatap lantai marmer putih yang mengkilap bersih.
"Wah... gue berasa jadi Cinderella yang nyasar di istana," gumam Alea tanpa sadar, berputar perlahan mengamati ruangan penthouse seluas lapangan basket tersebut.
Dari dinding kaca yang menjulang dari lantai ke langit-langit, pemandangan kota Jakarta terbentang luas bagai permadani permata yang berkilauan. Ruang tamunya diisi oleh sofa kulit berwarna kelabu arang berukuran besar, lampu gantung kristal bergaya kontemporer, serta sistem hiburan canggih yang tampak seperti markas besar agensi rahasia di film-film aksi.
Namun, alih-alih langsung merebahkan diri di sofa empuk atau berlari ke arah jendela untuk menikmati pemandangan, Alea justru memasang wajah penuh curiga. Ia menurunkan ranselnya, lalu berjalan mondar-mandir.
Ia menempelkan telapak tangannya ke dinding yang terasa dingin, mengetuk-ngetuk lantai marmer, dan memeriksa setiap sudut ruangan bak seorang inspektur pajak yang sedang mengaudit aset koruptor.
Arka, yang berjalan di belakang Alea, menghentikan langkahnya dan menatap gadis itu dengan sebelah alis terangkat.
"Apa yang sedang lo lakuin?" tanya Arka datar. "Lo terlihat seperti sedang mencari bahan peledak C4 di bawah karpet."
Alea berhenti mondar-mandir, lalu menuding tepat ke wajah Arka menggunakan telunjuknya dengan tatapan menyelidik.
"Bos, mending lo jujur saja sama gue deh!" ancam Alea galak.
"Apartemen semahal ini, dengan pemandangan seestetik ini, dan lobi marmer yang licinnya bisa bikin orang kepeleset... beneran nggak ada biaya tersembunyi?! Jangan-jangan nanti pas akhir bulan, tiba-tiba muncul tagihan service charge jutaan rupiah, dari biaya perawatan lift, iuran keamanan, sama pajak kemewahan gedung?! Kalau iya, gue bisa langsung cabut sekarang juga!"
Arka menghela napas pelan, menahan dorongan untuk memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut, lalu berjalan mendekati gadis itu.
"Bukannya gue sudah bilang sebelumnya, ini aset pribadi gue yang butuh penjaga," jawab Arka dengan suara paling meyakinkan yang bisa ia buat.
"Tidak ada tagihan, tidak ada service charge. Lo hanya bertindak sebagai penjaga fisik bangunan ini aja."
Alea menyipitkan matanya beberapa detik, memindai ekspresi datar Arka untuk mencari kebohongan. Namun, wajah Arka terlalu dingin dan sempurna untuk ditebak. Merasa penjelasan itu masuk akal dan yang terpenting... gratis, pertahanan skeptis Alea akhirnya runtuh.
"Oke! Gue pengang omongan lo. Kalau sampai akhir bulan ada surat tagihan nyasar atas nama gue, gue bakal tuntut lo pakai pasal penipuan konsumen!" seru Alea, lalu langsung menjatuhkan diri ke atas sofa mewah berukuran raksasa itu, membiarkan tubuh lelahnya tenggelam dalam keempukan bahan kulit impor yang menyejukkan kulit.
"Ahhh... nikmat mana lagi yang lo dusta kan Alea. Kasur hotel bintang lima aja kalah empuk sama sofa ini, jir. Apa kabar dengan kontrakan seng berkarat gue pasti langsung minder jika di satuin."
Arka memandangi Alea yang kini merebahkan diri dengan tidak tahu malunya di tengah penthouse jutaan dolar miliknya. Alih-alih merasa risi, sudut bibir Arka justru terangkat membentuk senyuman tipis yang hangat.
Kehadiran gadis itu, dengan segala kekonyolan dan kepolosannya menghadapi kemewahan, berhasil meruntuhkan atmosfer dingin dan angkuh yang selama ini mencekik ruangan tersebut.
"Kamar tidur lo ada di sebelah kanan," ujar Arka menunjuk sebuah pintu ganda berukir kayu mahoni di ujung koridor.
"Kamar mandinya juga sudah dilengkapi dengan bathtub air hangat. Lo bisa membersihkan diri sebelum beristirahat."
Mendengar kata bathtub dengan air hangat, mata Alea langsung berbinar-binar terang. Tanpa membuang waktu, ia menyambar ranselnya dan melompat berdiri.
"Terima kasih Bos! Lo memang the best deh! Laporan kebersihan lantai akan gue laporkan besok pagi jam enam!" seru Alea riang, lalu berlari kecil menuju pintu kamar tidur, meninggalkan Arka sendirian di ruang tamu yang luas.
Arka berdiri terpaku sejenak. Setelah memastikan gadis itu aman dan tenggelam dalam kenyamanan barunya, Arka berbalik dan melangkah menuju balkon pribadi. Angin malam kota yang membawa deru sayup kendaraan langsung menerpa wajahnya.
Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel terenkripsi, dan mendial satu nomor dari jaringan bawah tanah. Panggilan itu langsung tersambung pada dering pertama.
"Siap,Tuan Muda," suara berat dari sang kepala regu bayangan menyapa dari seberang.
"Kerahasiaan lokasi penthouse ini harus dijaga mutlak," perintah Arka dengan nada dingin yang langsung memancarkan otoritas seorang pimpinan tertinggi.
"Pasang sistem pengamanan berlapis di radius satu kilometer. Perketat penjagaan di sekitar lift dan lobi utama. Jika ada satu saja bayangan mencurigakan, bahkan jika itu anak buah Papa-ku sekalipun..."
Arka menatap tajam ke arah pantulan lampu kota di kejauhan, manik matanya memantulkan kilat hitam yang mematikan.
"...habisi mereka dengan senyap, dan pastikan jasad mereka tidak pernah ditemukan."
"Perintah dimengerti sepenuhnya, Tuan Muda."
Sambungan ditutup. Arka memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, menarik napas dalam-dalam menghirup udara malam kota Jakarta yang pekat.
Di dalam sana, di balik dinding kamar yang kokoh dan aman dari cengkeraman keluarga Adiwangsa, Alea mungkin sedang menikmati air hangat pertamanya di tempat yang layak.
Dan bagi Arka, mengetahui bahwa gadis itu bisa tidur dengan nyenyak malam ini adalah kemenangan mutlak yang jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan takhta sindikat bawah tanah yang berada di dalam genggamannya.
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂