Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Sesaat setelah Luca mengusap peluh di pipi Ruby, suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecah ketegangan di ruang bawah tanah.
Pintu besi tebal terbuka lebar. Marco, pria kepercayaan sekaligus tangan kanan Luca, melangkah masuk dengan wajah tegang dan napas sedikit memburu. Melihat situasi tersebut, Luca langsung melepaskan tangannya dari pipi Ruby dan menoleh tajam.
"Ada apa, Marco?" tanya Luca dingin, menyandarkan ketegasannya yang biasa.
Marco mendekat dengan cepat, membungkuk sedikit lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga kanan Luca dengan suara yang sangat rendah.
*"Tuan... pria itu sudah muncul kembali dari persembunyiannya. Informasi dari jaringan kita mengonfirmasi keberadaannya di kota malam ini."*
Mendengar bisikan itu, seluruh tubuh Luca seketika mengeras. Manik matanya melebar sejenak sebelum berubah menjadi kilatan amarah yang amat pekat dan mematikan. Udara di dalam ruangan terasa membeku dalam hitungan detik.
Pria yang dimaksud Marco bukan sekadar musuh bisnis biasa. Dia adalah paman Luca sendiri—kakak kandung dari almarhum ayahnya. Pria kejam yang belasan tahun lalu, di hadapan mata Luca kecil yang bersembunyi di balik lemari, membantai kedua orang tua Luca secara tragis dan tanpa belas kasihan demi merebut takhta dan kekayaan keluarga Oliver.
Selama bertahun-tahun, Luca hidup dan merayap dari kegelapan hanya untuk satu tujuan: menunggu hari di mana monster itu menampakkan diri kembali, agar ia bisa mencabik-cabik nya dengan tangannya sendiri.
Ruby yang berdiri tak jauh dari mereka bisa merasakan perubahan aura Luca yang mendadak begitu mengerikan. Pria di depannya kini bukan lagi sekadar pelatih yang keras atau pelindung yang dingin, melainkan sosok iblis pemburu yang haus darah.
"T-Tuan Luca... ada apa?" cicit Ruby pelan, melangkah mundur satu pakan karena dorongan insting ketakutan.
Luca perlahan memalingkan wajahnya menatap Ruby. Sorot matanya yang biasanya terkendali kini dipenuhi oleh kegelapan dan bayangan masa lalu yang membara. Ia mengepalkan tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Marco," panggil Luca, suaranya sangat rendah, dalam, dan bergetar menahan dendam yang meledak-ledak. "Bawa Ruby kembali ke kamarnya. Perketat pengawasan lantai atas."
"Tuan Luca, apa yang terjadi?" desak Ruby, dadanya berdebar kencang melihat mata Luca yang memerah menahan amarah. "Siapa yang Tuan maksud?"
Luca melangkah mendekati Ruby, mencengkeram lembut namun kuat kedua bahu gadis itu. "Ini urusan darah, Ruby. Sesuatu yang sudah saya tunggu seumur hidup saya."
Luca menatap Ruby lurus-lurus, mencoba meredam gejolak amarah di dalam dadanya sebelum melontarkan perintah akhir.
"Tetap di kamar kamu. Latihan hari ini selesai. Jangan pergi keluar mansion tanpa di temani siapapun, mengerti?" bisik Luca dingin, lalu berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruangan bersama Marco, meninggalkan Ruby yang berdiri terpaku dengan sejuta pertanyaan dan rasa cemas yang membakar dada.
"Baik tuan."
Ruby hanya menurut mengekor di belakang Marco, ia tidak berani bertanya-tanya apapun. Atmosfer di setiap langkahnya menuju kamar terasa dingin, rasanya seperti berada di dalam Medan perang.
"Nona... Tetaplah di kamar anda. Turuti aturan dan perintah dari tuan Luca." Ucap Marco di depan kamar Ruby, setelah mendapatkan respon anggukkan tanda mengerti dari Ruby, Marco membalikkan badannya cepat untuk menyusul tuannya. Meninggalkan Ruby yang bingung dan ketakutan, berharap Luca tidak apa-apa.