NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Nala Vs Sabotator

Mobil Nala melaju meninggalkan area penthouse, membelah jalanan pagi Seoul yang mulai padat. Lampu-lampu lalu lintas berganti dengan ritme yang teratur, kontras dengan pikirannya yang sama sekali tidak tenang. Di depan, sopir mengemudi sesuai protokol, sementara Nala berulang kali menghela napas pelan. Terlalu banyak hal yang harus dipikirkannya dalam waktu bersamaan.

Namun, ia tidak menangis karena emang bukan waktunya untuk itu. Nala jarang, bahkan hampir tidak pernah, menangis di hadapan siapa pun. Ada prinsip yang selama ini ia pegang erat: tidak boleh ada orang yang melihatnya menangis lalu menganggapnya lemah.

Gedung ORIONA Entertainment menjulang di hadapannya. Fasad kaca dan baja memantulkan cahaya pagi yang dingin, bersih, dan profesional. Bangunan itu tidak pernah bertanya tentang rumah, tentang anak, ataupun tentang janji. Ia hanya menuntut satu hal: hasil.

Begitu Nala memasuki lobi, atmosfer berubah drastis.

“Director Nala.”

Sapaan itu datang hampir bersamaan dari beberapa arah. Nala hanya mengangguk singkat. Langkahnya tidak melambat. Bunyi sepatu haknya berdenting ringan di atas lantai marmer, ritmis dan presisi seolah tidak ada celah untuk keraguan.

Pintu lift khusus eksekutif menutup di hadapannya. Saat angka lantai bergerak naik, ponselnya kembali bergetar.

Internal Writing Team – Emergency Channel

File Revision 3 ASTRAE tidak ada di server utama maupun backup lokal.

Sync terakhir tercatat normal. Kami butuh keputusan sekarang.

Nala membaca pesan itu sekali lagi sebelum mematikan layar.

Pintu lift terbuka.

Nala melangkah keluar dan langsung menuju ruang kerjanya, melewati koridor kaca yang memperlihatkan tim-tim bekerja dengan wajah tegang. Beberapa orang berbicara dengan suara rendah, sementara yang lain sibuk memeriksa layar masing-masing. Tidak ada yang benar-benar tenang pagi itu.

Begitu pintu ruangannya tertutup, Nala meletakkan tas di atas meja, membuka laptop, lalu menarik napas panjang. Hanya satu napas dan mungkin hanya itu yang ia izinkan untuk dirinya sendiri sebelum kembali menjadi Creative Director.

“Brief,” ucapnya singkat ketika beberapa staf inti memasuki ruangan.

Kang Yu-na, salah satu senior writer, berdiri paling depan. Wajahnya tampak pucat, tetapi sorot matanya tetap terjaga.

“File revisi ketiga hilang, Nala-ssi. Bukan terhapus secara manual. Metadata menunjukkan adanya akses internal, tetapi jejaknya berhenti di tengah proses sinkronisasi,” jelasnya.

Nala langsung duduk. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, membuka log sistem dan beberapa panel keamanan secara bersamaan matanya menyapu setiap baris informasi di layar, tidak ada gerakan yang sia-sia maupun kepanikan yang terlihat jelas, Nala berusaha untuk fokus meskinya di dalam kepalanya, satu pertanyaan mulai berputar: Jika file itu tidak dihapus, lalu siapa yang membuatnya menghilang?

“Jadi, bukan human error biasa?” tanya Nala. Pertanyaan itu langsung dijawab dengan gelengan kepala cepat.

“Tidak. Dan ini... terlalu rapi untuk disebut kecelakaan,” jawab Yu-na.

Nala memejamkan mata sejenak. Hanya sejenak.

“Panggil IT Core. Kunci akses ke folder ASTRAE. Tidak ada yang menyentuh apa pun tanpa log tertulis,” titah Nala.

“Kalau file-nya tidak ditemukan? Kita akan kesulitan, Nala-ssi,” tanya salah satu staf lain suaranya jelas menahan panik. Tetapi tidak dengan Nala, ia hanya menatap layar dengan sorot mata yang tajam dan dingin.

“Kalau tidak ditemukan, kita bangun ulang dari Draft 2. Aku ikut menulis. Libatkan Minjae, Seojun, dan Iseul,” katanya mantap.

Ruangan kembali hening untuk beberapa saat. Yu-na dan staf lainnya terdiam cukup lama, keputusan Nala bukan sekadar berani karena dalam dunia industri yang tidak pernah mengenal banyak kompromi, keputusan itu bahkan bisa dibilang nekat.

“Kamu yakin?” Yu-na menatapnya ragu. “Itu berarti—”

“Aku tahu artinya,” potong Nala tenang. “Dan aku tidak akan membiarkan satu tim tenggelam hanya karena satu kegagalan sistem.”

Ia berdiri.

“ASTRAE bukan proyek biasa. Ini bukan hanya album. Ini narasi, identitas, dan kepercayaan publik. Kita tidak menyerah hanya karena sebuah file menghilang.” Tatapannya beralih kepada seluruh orang di ruangan itu. “Ayo bergerak sekarang. Semuanya. Jangan buang waktu.”

Beberapa orang saling berpandangan. Ketegangan masih terasa, tetapi perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih stabil.

“Baik. Kita mulai ulang,” jawab Yu-na mantap.

Saat mereka mulai bergerak, Nala kembali duduk. Tangannya kembali ke keyboard, membuka Draft 2. Kalimat demi kalimat mulai ia susun ulang, lebih tajam, lebih jujur mungkin karena luka yang masih hangat di dadanya belum sempat benar-benar mereda.

Namun, di sela kesunyian ruang kerja itu, pikirannya kembali berkhianat bayangan kursi orang tua di aula sekolah, wajah Jun-seok yang mungkin sesekali menoleh ke arah pintu, mencari sosok yang dijanjikan akan datang, dan Junho dengan kekecewaan yang tidak sempat diperdebatkan.

Layar laptop tampak buram sesaat.

Nala menghela napas panjang, lalu mengedipkan mata beberapa kali berusaha mempertahankan fokus nya dengan mengetik lebih cepat. Karena jika ia harus terlambat sebagai seorang ibu pagi ini, maka ia tidak akan gagal sebagai seorang pemimpin.

Dan jika dunia memaksanya memilih, ia akan memastikan pilihannya tidak sia-sia.

Di luar ruangannya, jarum jam terus bergerak tanpa empati. Sementara di ORIONA, Nala tetap berdiri tegak di tengah semuanya—profesional, tenang, dan diam-diam berharap waktu mau sedikit berbelas kasih kepadanya.

Beberapa jam berlalu, suasana lantai Internal Creative ORIONA berubah menjadi medan tegang yang tidak kasatmata. Bukan riuh, bukan pula kacau secara fisik justru sebaliknya.

Ruangan itu dipenuhi kesunyian yang terasa berat, napas yang tertahan, langkah-langkah cepat, bunyi ketukan keyboard, serta tatapan yang terlalu sering saling mencari kepastian.

Beberapa staf duduk membungkuk di depan layar masing-masing. Sebagian lainnya berdiri dengan tablet di tangan, berpindah dari satu meja ke meja lain sambil menunggu instruksi berikutnya.

Di tengah semua itu, hanya dua orang yang tidak mengubah ritme mereka. Nala, yang duduk tegak di kursinya dengan jari-jari bergerak cepat, tetapi tetap terukur. Dan Lee Jeongin, yang bersandar di sisi meja rapat kecil sambil memperhatikan lebih dari sekadar layar di hadapannya.

“Ini bukan error,” ucap Jeongin akhirnya, memecah keheningan dengan suara rendah.

Beberapa kepala langsung menoleh.

“Metadata sinkronisasi memang terputus, tetapi jalurnya bersih. Tidak ada conflict log, tidak ada recovery attempt.” Jeongin menggeser beberapa data di tabletnya sebelum melanjutkan. “Itu artinya... seseorang tahu persis di mana harus memutusnya. Dan aku yakin ini bukan pekerjaan amatir.”

Nala berhenti mengetik, tetapi tidak langsung menoleh, dia hanya mengembuskan napas perlahan, seolah potongan terakhir dari teka-teki yang sejak tadi ia susun di kepalanya akhirnya menemukan tempatnya.

“Kapan terakhir kali file itu diakses sebelum hilang?” tanyanya.

“Sekitar pukul dua dini hari. Setelah jam kerja lembur terakhir selesai. Akses internal, level senior. Tapi memang tidak ada jejak penghapusan,” jelas salah satu staf.

Jeongin tersenyum tipis mendengar nya, bukan senyum senang, melainkan senyum pahit seseorang yang sejak awal sudah menduga ke mana arah angin bergerak.

Nala akhirnya mengangkat wajah dari layar.

“Berarti seseorang tidak ingin kita tahu bahwa file itu dihapus.”

Ruangan kembali sunyi. Namun kali ini, tidak ada seorang pun yang berani menganggapnya sebagai sekadar kerusakan sistem.

“Itu dia. Dan hanya ada satu orang di tim ini yang selalu tinggal paling malam, sering mengeluhkan sistem, dan terang-terangan tidak pernah menyembunyikan ketidaksukaannya kepadamu, Nala,” kata Jeongin.

Ruangan seketika kembali hening, karena tanpa menyebut nama siapapun semua orang sudah tahu siapa yang dimaksud.

Dae-kyung.

Pria itu telah bekerja hampir sepuluh tahun di ORIONA. Loyal, rajin, dan secara teknis sangat rapi. Namun, selama bertahun-tahun pula ia menunggu promosi yang tidak pernah datang.

Hingga suatu hari, seorang perempuan dari luar dengan rekam jejak internasional, reputasi bersih, dan visi yang tajam datang dan langsung menempati kursi yang selama ini ia incar.

Sejak hari itu, ketidaksukaannya terhadap Nala bukan lagi rahasia. Semua orang mengetahuinya. Namun, karena Nala tidak pernah menanggapi dan cenderung mengabaikannya, mereka menganggap semuanya baik-baik saja.

Tidak ada yang menyangka pria itu akan melakukan sesuatu senekat ini, bukan hanya nekat, tetapi juga sesuatu yang berpotensi merugikan perusahaan.

“Dia selalu bilang kamu punya orang dalam. Katanya, tidak mungkin seseorang langsung dipanggil ke posisi itu tanpa jalur eksekutif,” ucap salah seorang staf pelan, hampir seperti sedang mengakui sebuah kesalahan.

Nala akhirnya menoleh.

“Betul, Nala-ssi. Kami pernah mendengarnya mengatakan hal itu kepada kami,” Timpal staf, tampak ragu sebelum meneruskan. “Bahkan, dia pernah bilang kamu dan Ji-suk sajang-nim punya hubungan dekat. Dia juga pernah mengatakan bahwa kamu adalah wanita simpanannya.”

Beberapa kepala langsung menoleh. Ekspresi terkejut terlihat jelas di wajah para staf yang sebelumnya hanya mendengarkan dalam diam. Nala hampir membuka mulut. Bukan karena tersinggung oleh tuduhan itu, melainkan karena baru kali ini ia mendengar seberapa jauh Dae-kyung membawa kebenciannya.

Namun, sebelum sempat mengatakan apa pun, suara lain menyela, seorang pria dari timnya melangkah maju. Wajahnya tampak ragu, tetapi akhirnya ia menguatkan diri untuk bicara.

“Sebenarnya, Nala-ssi...” Ia berhenti sejenak, menelan ludah. “Ada satu hal lagi yang mungkin perlu Anda ketahui.”

Nala mengangkat alis.

“Apa?”

Pria itu tampak ragu. Namun, dari caranya menarik napas, jelas ia tidak ingin menyimpan informasi itu lebih lama.

“Saya sudah beberapa kali makan siang dengannya, dan dia bilang Anda mendapatkan posisi ini bukan karena kemampuan. Katanya, Anda punya hubungan khusus dengan Ji-suk sajang-nim. Bahkan...” Ia berhenti sesaat, tampak tidak nyaman mengucapkannya. “Dia menyebut Anda tidur dengan beliau untuk mendapatkan jabatan itu.”

Suaranya terdengar pelan, tetapi cukup jelas untuk membuat beberapa orang di ruangan itu menundukkan pandangan. Pria tersebut bahkan tidak berani menatap Nala setelah mengatakannya.

Belum sempat Nala menjawab, pria yang duduk di sebelah kirinya kembali angkat bicara.

“Beliau bahkan mengatakan punya rekamannya.”

Beberapa staf lain yang sebelumnya sudah memberikan keterangan mengangguk pelan.

“Aku juga pernah mendengarnya,” sahut salah seorang dari mereka. “Awalnya aku pikir dia hanya mengatakan hal itu kepadaku. Dia bahkan bilang punya video saat kalian bersama. Meskipun, selama ini dia tidak pernah sekalipun menunjukkannya.”

Ia menghela napas sebelum melanjutkan.

“Kalau benar ini ulah dia, aku yakin perusahaan akan mengambil langkah tegas. Bukan hanya karena dia sengaja menghilangkan file ASTRAE, tetapi juga karena pencemaran nama baik terhadap kalian.”

Beberapa staf kembali mengangguk, seketika ruangan menjadi hening tetapi wajah Nala tetap tenang untuk seseorang yang sedang dikejar waktu, berhadapan dengan sebuah sabotase, dan baru saja mendengar tuduhan menjijikkan tentang dirinya sendiri.

Sebenarnya, Nala sudah beberapa kali mendengar desas-desus dari para karyawan. Namun, ia tidak pernah menggubrisnya. Baginya, gosip akan selalu ada selama seseorang berada di posisi yang terlihat.

Ia hanya tidak pernah menyangka bahwa semua itu bermula dari satu orang.

Dae-kyung.

Ada satu hal yang membuat tuduhan itu terasa semakin absurd karena sebenarnya di ORIONA, tidak semua orang tahu bahwa Nala sudah menikah. Beberapa memang mengetahui status pernikahannya, tetapi tidak seorang pun mengetahui siapa suaminya.

Kecuali Jeongin, namun justru karena itulah, selama ini Nala tidak pernah merasa perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Ia tidak membawa kehidupan pribadinya ke kantor, begitu pula sebaliknya.

Namun, kini seseorang telah menggunakan kehidupan yang bahkan tidak mereka ketahui untuk menciptakan cerita versinya sendiri.

“Kompetensi memang sering terasa tidak adil, terutama bagi mereka yang menunggu lama tanpa pernah bertanya apa yang kurang dari dirinya sendiri,” katanya lembut, tetapi setiap katanya jatuh dengan presisi.

Jeongin menatap Nala sekilas. Ada kekaguman yang tidak perlu diucapkan. Perempuan itu tetap tenang di tengah semua fakta yang baru saja didengarnya, seolah tuduhan-tuduhan yang begitu personal tadi tidak cukup untuk menggoyahkan pijakannya.

Ruangan itu tetap hening selama beberapa detik setelah pengakuan-pengakuan tersebut terucap. Tidak ada yang berani bergerak lebih dulu, apalagi memotong pembicaraan Nala.

Nala berdiri perlahan. Gerakannya tenang, punggungnya lurus. Tidak ada perubahan berarti pada ekspresinya, tidak ada getaran dalam suaranya ketika akhirnya ia berbicara.

“Nama lengkapnya,” ucapnya singkat.

“Bae Dae-kyung.” Jeongin menjawab tanpa ragu.

Nala mengangguk kecil. Seolah nama itu bukan milik seseorang, melainkan sebuah berkas yang baru saja diberi label.

“Jeongin, tolong kumpulkan seluruh log akses ASTRAE selama tiga puluh hari terakhir. Fokus pada jam non operasional. Aku mau jalur akses lengkap, termasuk perangkat yang digunakan,” ucapnya.

Jeongin mengangguk.

“Sudah aku siapkan sebagian.” Ia mengangkat tablet di tangannya. “Dan satu hal lagi. Ada folder bayangan. Dia tidak menghapus file itu secara permanen. Dia memindahkannya ke local mirror sebelum memutus sinkronisasi.”

Beberapa staf langsung terhenyak.

“Itu berarti—” Yu-na mulai berbicara.

“Berarti niat,” potong Nala tenang. “Bukan panik, bukan impulsif.”

Nala mengembuskan napas perlahan. Tatapannya kembali menyapu layar di hadapannya.

“Aku senang kalian bisa bergerak cepat menyelidiki ini. Sekarang kita pastikan semua bukti tercatat dengan benar.” Nala menoleh ke seluruh ruangan. “Aku tidak mau ada satu pun spekulasi keluar dari lantai ini. Tidak ke tim lain, tidak kepada tim ASTRAE, apalagi ke luar perusahaan. Semua komunikasi melalui aku dan Jeongin.”

Ia berhenti sejenak. Kali ini suaranya turun sedikit, tetapi justru terdengar lebih tegas.

“Dan aku minta satu hal lagi. Jangan ada yang menghubungi Bae Dae-kyung.” Beberapa staf saling pandang sebelum kembali memperhatikannya. “Aku akan mencoba berbicara dengan Ji-suk sajang-nim. Semoga beliau bisa bertindak bijak dalam menangani masalah ini,” tambah Nala.

Satu per satu mereka mengangguk, tidak ada yang bertanya lagi. Bukan karena mereka tidak memiliki pertanyaan, melainkan karena dari cara Nala berdiri di hadapan mereka, semua orang tahu bahwa perempuan itu sudah mengambil alih kendali.

Pagi itu, Nala datang ke ORIONA dengan satu tujuan: menyelamatkan proyek yang terancam gagal. Namun sekarang, masalahnya sudah jauh lebih besar daripada sekadar satu file yang hilang.

Semua orang bekerja cepat mengumpulkan bukti. Tidak ada yang ingin dianggap menuduh seseorang tanpa dasar yang jelas. Begitu seluruh data yang dibutuhkan terkumpul, langkah berikutnya pun segera diambil.

Ruang rapat eksekutif ORIONA tertutup lima belas menit kemudian. Hadir secara langsung dan daring: Yu Ji-suk sebagai CEO ORIONA Entertainment, dua direktur operasional, kepala legal, dan IT Core. Nala duduk di sisi meja, bukan sebagai terdakwa, bukan pula sebagai pihak yang sedang membela diri.

Jeongin mempresentasikan kronologi secara runtut tentang log akses, timestamp, jalur pemindahan file, hingga ucapan-ucapan yang mengarah pada pencemaran nama baik dikumpulkan dari beberapa saksi internal, lengkap dengan tanggal dan konteks percakapannya.

Tidak ada emosi yang berlebihan di dalam ruangan itu. Hanya kesadaran bahwa persoalan ini sudah jauh melampaui konflik personal antara seorang karyawan dan atasannya.

“Ini merupakan sabotase internal terhadap intellectual property perusahaan sekaligus pencemaran nama baik terhadap Creative Director dan, tentu saja, Anda sendiri, Sajangnim. Dua pelanggaran berat yang menurut saya perlu ditindak tegas,” ujar kepala legal akhirnya.

Ji-suk menatap Nala cukup lama dari layar. Pria yang usianya mungkin sudah mendekati tujuh puluh tahun itu tetap tenang. Tidak ada perubahan berarti pada ekspresinya, bahkan setelah mendengar seluruh laporan yang disampaikan.

“Apa yang kamu minta?” tanyanya tanpa basa-basi.

Nala menjawab tanpa jeda.

“Suspensi efektif hari ini. Cabut seluruh aksesnya. Investigasi hukum internal berjalan paralel dengan laporan resmi.” Nala berhenti sejenak, memastikan setiap kata yang diucapkannya terdengar jelas. “Saya tidak meminta pemecatan instan. Saya meminta proses yang bersih dan tercatat.”

Tatapan Nala tetap tertuju pada layar.

“Dan, Sajang-nim... saya ingin nama saya kembali bersih di lingkungan ini.”

Ji-suk terdiam. Jari-jarinya saling bertaut di atas meja, sementara pandangannya tetap tertuju pada Nala dari balik layar, beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mengangguk.

“Semuanya diterima. Saya pastikan nama kamu bersih. Saya akan membuat keputusannya sore ini dan langsung mengumumkannya melalui laman internal ORIONA,” ucapnya tenang.

Nala menundukkan kepala sedikit.

“Terima kasih, Sajang-nim.”

Sambungan tetap terbuka beberapa saat setelah itu, tetapi tidak ada yang langsung berbicara. Ruangan kembali hening, kali ini bukan karena ketegangan, melainkan karena semua orang memahami bahwa keputusan resmi tinggal menunggu waktu.

“Itu berarti kasus ini bisa naik ke ranah pidana,” ujar salah satu direktur.

“Kalau bukti mengarah ke sana, perusahaan tidak boleh terlihat melindungi pelaku,” jawab kepala legal.

Rapat berjalan cukup cepat dan keputusan final pun segera diambil. Dalam waktu kurang dari satu jam, Bae Dae-kyung dipanggil oleh HR dan Legal. Aksesnya ditutup di tempat. Perangkat kerjanya disita. Surat suspensi diserahkan, sementara klarifikasi mengenai rumor yang beredar juga diumumkan melalui laman internal utama perusahaan.

Semuanya dilakukan tanpa keributan, dan juga tidak memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk memainkan peran sebagai korban.

Kembali ke lantai Creative, atmosfer perlahan berubah. Bukan sepenuhnya lega, tetapi setidaknya lebih stabil. Jeongin menghampiri Nala ketika para staf mulai kembali ke posisi masing-masing.

“File masih bisa kita pulihkan sebagian. Tapi Draft 3 tidak utuh,” katanya.

Nala mengangguk kecil.

“Tidak apa-apa. Draft 2 cukup. Kita mulai ulang besok. Hari ini aku hanya mau strukturnya disiapkan.” Ia melirik jam di pergelangan tangannya, ekspresinya seketika berubah seketika.

“Aku harus pergi,” ucapnya.

“Mau ke mana?” tanya Jeongin.

“Ke sekolah Seok. Seharusnya hari ini aku libur. Putraku ada acara di sekolah, dan aku hampir terlambat,” jawab Nala lembut.

Ia segera mengambil tasnya, menutup laptop, lalu berhenti sejenak di ambang pintu. Tatapannya menyapu ruangan, melihat orang-orang yang sejak pagi ikut berlari mengejar waktu bersamanya.

“Terima kasih sudah berdiri di sisi yang benar, semuanya. Aku pamit.” Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat suasana di ruangan itu terasa sedikit lebih hangat.

Beberapa staf mengangguk. Ada yang tersenyum tipis, sementara yang lain hanya menatap Nala pergi dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Di tengah semua tekanan sejak pagi, perempuan itu masih sempat mengucapkan terima kasih.

Nala kembali melewati koridor ORIONA dengan langkah cepat. Kali ini bukan beban yang menekan dadanya, melainkan waktu yang terus berjalan.

Di luar gedung, cahaya siang menyilaukan matanya. Ia segera masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi ke belakang.

Mobil mulai melaju meninggalkan ORIONA. Namun, baru beberapa menit berkendara, kendaraan yang ditumpanginya berhenti total. Deretan mobil memanjang sejauh mata memandang, klakson bersahutan tanpa arah, sementara panas siang memantul dari kaca gedung-gedung di sekitar jalan.

Nala menunduk, menatap jam di pergelangan tangannya, pukul sebelas kurang tiga puluh menit dan acara Jun-seok akan dimulai tepat pukul sebelas.

Sejak tadi ia tidak tenang. Pandangannya terus kembali pada jam di pergelangan tangan, seolah dengan terus melihatnya, waktu akan bersedia berhenti sebentar dan memberinya kesempatan.

Namun, waktu tidak pernah berbelas kasih, Nala mengembuskan napas panjang, kemudian menoleh ke depan. Sopirnya menggeleng pelan.

“Macet total, Samonim. Saya dengar ada pengalihan jalan. Mungkin—”

“Berapa lama?” potong Nala.

Suaranya tetap tenang, meskipun detak jantungnya mulai berpacu lebih cepat.

“Saya tidak berani memastikan. Bisa dua puluh lima menit, bisa lebih. Dan kemungkinan buruknya justru jauh lebih besar,” jawab sopir itu.

Nala kembali menatap ke luar jendela, bangunan sekolah itu masih beberapa blok lagi. Dari tempatnya berada, gedung tersebut tampak begitu dekat, seolah hanya perlu beberapa menit untuk sampai. Namun, deretan kendaraan yang tidak bergerak membuat jarak beberapa blok terasa seperti berkilo-kilometer.

Nala memejamkan mata sejenak, menimbang keputusannya lalu bayangan wajah Jun-seok yang kecewa melintas dalam pikirannya.

Ketika ia membuka mata keputusannya sudah bulat, Nala membuka pintu mobil.

“Saya turun di sini.”

Sopir itu langsung menoleh, terkejut.

“Samonim, jalan kaki—”

“Pulang saja. Saya lanjut sendiri.” Nala menutup pintu sebelum sopir itu sempat menyelesaikan kalimatnya. Tidak ada keraguan dalam langkah nya, ia hanya memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu mulai berjalan cepat.

Sepatu haknya mengetuk aspal yang panas. Langkahnya cepat, tetapi tetap terukur. Cardigan yang dikenakannya dilepas dan disampirkan di lengan. Rambutnya dibiarkan tergerai, bergerak mengikuti setiap langkahnya.

Napasnya mulai sedikit berat, tetapi Nala berusaha menjaganya tetap stabil. Trotoar siang itu padat. Orang-orang berjalan berlawanan arah, sebagian menoleh karena langkah Nala yang tergesa-gesa, sementara sebagian lainnya sama sekali tidak peduli. Nala menyusuri sela-sela keramaian tanpa menghiraukan tatapan siapa pun.

Keringat mulai terasa di tengkuknya, tetapi ia tidak berhenti. Tidak memperlambat langkah. Ia menyeberang ketika lampu pejalan kaki berubah, menyusuri jalan kecil yang ia ingat samar dari peta, memotong satu blok, lalu satu blok lagi.

Papan nama KIYOON International Arts School akhirnya terlihat di ujung jalan.

Nala mempercepat langkah hingga hampir berlari. Begitu tiba di gerbang, napasnya sedikit tersengal. Ia berhenti sejenak, merapikan kerah kemejanya dengan cepat, menyeka keringat tipis di pelipis, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum masuk ke dalam aula.

Di dalam aula presentasi, suasana sudah tertata rapi. Anak-anak duduk berjejer sesuai urutan giliran. Para orang tua memenuhi kursi di bagian belakang dan samping ruangan. Cahaya lampu panggung menerangi satu sudut kecil tempat karya seni dipresentasikan satu per satu.

Seorang anak sedang menyelesaikan presentasinya ketika Nala melangkah masuk perlahan, nyaris tanpa suara.

Dan di barisan depan, ia melihat mereka Junho duduk tegak dengan jas yang masih rapi tetapi ekspresinya datar, sulit dibaca. Sedangkan di sampingnya, sebuah kursi kosong.

Jun-seok duduk dua baris di depan bahunya sedikit menunduk, kedua tangannya menggenggam map berisi karyanya terlalu erat. Sesekali matanya melirik ke arah pintu, lalu kembali menunduk.

Hati Nala terasa mencelos ia mempercepat langkah, menundukkan kepala dengan sopan kepada beberapa orang yang dilewatinya, lalu duduk di kursi kosong di samping Junho.

Saat itu juga, Jun-seok menoleh seolah ada sesuatu yang dirasakannya lebih dulu sebelum benar-benar melihat siapa yang datang.

Matanya membesar wajah yang sejak tadi muram berubah dalam sekejap. Senyum kecil muncul di bibirnya awalnya ragu, seolah takut apa yang dilihatnya hanya bayangan. Namun, beberapa detik kemudian, senyum itu mengembang penuh.

Punggungnya yang semula sedikit membungkuk perlahan kembali tegak. Jemarinya yang sejak tadi mencengkeram map mulai mengendur. Ia menoleh ke depan, lalu kembali menoleh ke belakang, memastikan bahwa ibunya benar-benar datang.

Nala menatapnya dari tempat duduknya. Ia tidak bisa berbicara karena presentasi masih berlangsung, jadi ia hanya mengangguk kecil sambil mengangkat ibu jarinya pelan.

Jun-seok membalas dengan senyum yang terlalu jujur untuk disembunyikan, senyum seorang anak yang sejak tadi hanya menunggu satu orang.

Di samping Nala, Junho tetap diam dia tahu Nala datang. Bahkan sudah merasakannya sejak detik pertama perempuan itu duduk di sebelahnya. Namun, ia tidak menoleh sama sekali, tatapannya tetap lurus ke depan, sementara rahangnya mengeras tipis.

Kekecewaan itu belum sepenuhnya hilang. Bagaimanapun, Nala tetap datang terlambat, meskipun presentasi Jun-seok belum dimulai.

Nala tidak melakukan apa pun. Ia hanya duduk, menarik napas perlahan, lalu menatap panggung. Matanya terpejam sejenak, membiarkan lelah yang sejak pagi belum sempat ia rasakan sepenuhnya mengendap di tubuhnya.

Namun, beberapa detik kemudian, sudut bibirnya terangkat tipis.

Ia berhasil.

Dua kewajiban yang sejak pagi terasa saling berlawanan akhirnya dapat ia jalani tanpa benar-benar mengorbankan salah satunya. Ia masih datang terlambat, tetapi ia datang.

Tak lama kemudian, nama putranya disebut.

“Kim Jun-seok.”

Anak itu segera berdiri, dia melangkah ke depan dengan langkah kecil, tetapi mantap. Map berisi karyanya digenggam erat di kedua tangan, sementara langkahnya membawa dirinya semakin dekat ke titik presentasi.

Begitu sampai di depan, Jun-seok berhenti lalu menoleh sebentar ke arah deretan kursi orang tua nya, matanya kembali bertemu dengan mata Nala. Senyum kecil kembali muncul di wajahnya kali ini terasa lebih tenang, tanpa keraguan yang tadi sempat tersisa.

Nala membalasnya dengan senyum lembut.

Dan untuk pertama kalinya siang itu, Nala merasa napasnya benar-benar sampai ke paru-parunya. Jun-seok berdiri di bawah cahaya lampu, membuka map di tangannya, lalu bersiap mempresentasikan karya yang sejak tadi begitu ingin ia tunjukkan kepada ibunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!